
"Prang... "
Suara gelas terjatuh membuat bunda Fatimah terkejut"ya robb ada apa dengan perasaanku ini"batin bunda Fatimah lalu matanya menuju jam yang menempel di dingding.
"Astagfirullah sudah jam empat sore Rahma ko belum datang"gumam bunda Fatimah langsung mencari ponsel nya jari yang mulai keriput itu mengutak-ngatik mencari no anak nya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif"
Hanya suara oprator yang terdengar di telinga bunda Fatimah walau sudah beberapa kali mencoba menelepon tetap sama hanya suara oprator yang terdengar"kamu dimana nak"gumam bunda Fatimah gelisah.
Sedangkan di tempat lain Azam yang baru sampai tiba-tiba perutnya kesakitan "Ah.... Astagfirullah... ah.. sakit.. "ringis Azam.
Fandi yang melihat Azam kesakitan langsung panik tak perlu bertanya Fandi langsung membawa Azam kerumah sakit terdekat.
Suasana Jakarta yang padat oleh kendaraan membuat Fandi harus ektra bersabar apalagi terik matahari di siang hari yang menyengat tapi saat ini keadaan Azam jauh lebih penting dari pada dirinya sendiri.
Azam yang terus menjerit menahan sakit tapi bibirnya tak lepas dari kalaimat istigfar dari tadi membuat Fandi kagum dan bangga mempunyai sahabat, adik sekaligus bosnya.
Sudah satu jam menerobos kepadatan kendaraan Fandi sampai di rumah sakit langsung memarkirkan mobilnya buru-buru keluar kearah samping membantu Azam keluar.
Dengan susah payah Fandi membawa tubuh Azam kedalam di bantu oleh satfam yang melihat Fandi kesusahan langsung membawa brankar dan mendorongnya.
"Dokter... tolong Dok... Sus... "teriak Fandi.
Suster yang melihat itu langsung menghampiri Fandi "bawa keruang UGD" Fandi langsung mendorong brankar yang ditiduri Azam ke ruang UGD.
"Suster Santi cepat panggil dokter Zam-zam"surter Santi pun langsung keluar pucuk di cinta ulampun tiba dokter Zam-zam tepat sekali langsung masuk ketika suster Santi ingin memanggilnya langsung menghentikan langkahnya karna dokter Zam-zam sudah masuk.
Fandi yang diluar UGD terus mondar mandir kewatir dengan keadaan Azam yang sudah dia anggap adiknya sendiri.
Tiga puluh menit dokter Zam-zam pun keluar Fandi yang melihat dokter Zam-zam keluar langsung menghampirinya.
"Gimana keadaan Azam Dok"ucap Fandi panik.
"Ikut saya"bukannya menjawab dokter Zam-zam malah menyuruh Fandi mengikutinya tapi Fandi tak perotes.
Tibalah di ruangan dokter Zam-zam dokter Zam-zam mempersilahkan Fandi duduk.
"Kita sedang berdua jangan panggil saya sepormal itu"Fandi yang mengerti langsung mengangguk.
Zam-zam dan Fandi adalah sahabat waktu kuliah di ITB cuma mereka beda jurusan Zam-zam mengambil sekolah kedokteran dan Fandi manajemen bisnis dan Zam-zam juga adalah abangnya Rahma tepatnya kakak pertama Rahma. .
"Apa yang terjadi sama Azam " ucap Fandi.
"Sepertinya ada sesuatu yang terkadi pada adiku Fan"
"Maksudnya"Fandi benar-benar belum mengerti.
"Saya sudah periksa Azam tapi Azam tak mempunyai penyakit apapun dalam tubuhnya tapi melihat Azam meringis kesakitan sepertinya ini gejala Sindrom Couvade yang dimana kondisi ini dianggap sebagai bentuk simpatik ketika istri mengalami keguguran atau melahirkan dan kemungkinan besar adik saya.."
"Astagfirullah"ucap Fandi.
"Tapi saya harus memastikan dulu.. apa kamu tau sebelum kalian keseni Rahma ada dimana? "tanya Zam-zam.
"Kalau gak salah mau kerumah Bunda"zam-Zam pun langsung menelepon sang bunda.
"Assalamualaikum bun"ucap Zam-zam ketika teleponnya di terima langsung oleh bunda Fatimah.
__ADS_1
"*W*aalaikumsalam Nak"
"Gimana keadaan bunda? apa Rahma ada disitu"tanya Zam-zam hati-hati.
"*A*hamdulilah Bunda baik... itu dia nak Adikmu sampai sekarang belum datang katanya tadi mau nginap disini apalagi No nya juga gak aktif"
"Mungkin masih dijalan bun jangan kewatir"ucap Zam-zam menenangkang padahal jauh dihati Zam-zam kemungkinan dugaannya benar.
"Yasudah bun kalau gitu Zam-zam tutup dulu teleponnya... Assalamualaikum"
"*I*ya Nak Waalaikumsalam"
"Kalau Rahma belum sampai kerumah bunda kemungkinan terjadi sesuatu "batin Zam-zam.
"Gimana Zam?"tanya Fandi
"Rahma belum sampai ke rumah bunda saya takut perkiraan saya benar apalagi kata bunda No Rahma gak aktif"ucap Zam-zam gusar
"Allahu"ucap Fandi kaget
"Saya butuh bantuan kamu Fan"ucap Zamz-am seruis.
"Apa? "
"Kamu cari tau keberadaan Rahma saya akan tangani Azam sampai Rahma benar-benar ketemu dan baik-baik saja"
"Baik"
"Terimakasih sob"ucap Zam-zam tulus Fandi hanya tersenyum sahabatnya selalu saja sungkan.
Fandi langsung keluar dan menelepon anak buahnya "Assalamualaikum di"ucap Fandi ketika teleponnya sudah tersambunga.
"Caritau dimana keberadaan istri bos besar cepat dua jam saya tunggu"
"*B*aik bos"
Fandi langsung mematikan teleponnya "semoga kejadian ini memang takdir"batin Fandi.
Fandi melangkahkan kedua kakinya lagi keruangan dimana Azam berada dilihatnya Azam laki-laki yang sudah Fandi anggap adiknya sendiri berbaring lemah"semoga tidak terjadi apa-apa"gumam Fandi dan kerluar lagi banyak yang harus Fandi kerjakan apalagi keadaan Azam yang tidak memungkinkan menangani kantor cabang maka Fandi harus turun tangan menggantikan Azam.
Melihat sang sekertaris bos masuk ke kantor para setap membungkuk hormat Fandi langsung pergi keruangan rapat menggantikan Azam.
"Berikan saya rekapan pemasukan dan pengeluaran barang"ucap Fandi dingin.
"Baik tuan"ucap salah satu setap yang tidak lain bagian pengecekan barang.
"Rapat selesai saya tunggu di ruangan saya"Fandi langsung keluar dari ruangan miting
"Ternyata ada yang bermain cantik"batin Fandi menyinggingkan senyum penuh arti siapa saja yang melihatnya akan bergidik ngeri Fandi terus melangkah keruangannya.
Dret... dret....
Suara ponsel Fandi berdering Fandi langsung merogoh ponsel yang ada di saku jasnya.
"*A*ssalamualaikum Bos"suara di serbang sana.
"Waalaikumsalam gimana di"
__ADS_1
"*N*yonya mengalami kecelakaan perampokan dan sekarang nyonya berada di rumah sakit dan bos..... "suara di serbang sana menjeda takut.
"Kenapa di apa ada sesuatu lagi"
"*N*yonya keguguran"
Deg.....
Dugaan Zam-zam ternyata benar"pantau keadaan nyonya jika ada sesuatu mencurigakan laporkan segera dan satu lagi cari tau siapa pelakunya"
"*B*aik bos"
Fandi langsung bergegas pergi tapi tertahan ada salah satu staf yang masuk keruangannya.
"Kirimkan berkasnya ke email saya"tampa menunggu jawaban setaf Fandi langsung pergi keluar menuju rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit Fandi berlari menuju ruangan Zam-zam.
"Assalamualaikum Zam"ucap Fandi sambil ngos-ngosan.
"Waalaikumsalam Fan...ada apa? "
"Dugaan kamu benar"
"Astagfirullah.... "ucap Zam-zam kaget.
"Sekarang gimana keadaan Adik ku"
"Masih belum sadar tapi tenang anak buahku menjaganya"
"Saya harus kasih tau bunda dulu supaya bunda tidak kewatir "Fandi hanya mengangguk setuju dan undur diri mau melihat keadaan Azam.
"Assalamualaikum "ucap Fandi memasuki ruangan Azam tak disangka ternyata Azam sudah bangun dan menjawab salam Fandi.
"Waalaikumsalam"jawab Azam lemas.
"Sudah baikan"
"Alhamdulilah ka "tapi Fandi melihat perubahan wajah Azam yang berbeda entahlah.
"Kita pulang sekarang"ucap Azam dingin.
"Tapi... "
"Ka .... Aku takut terjadi sesuatu pada Rahma"ucap Azam melemas mungkin karna ikatan batin atau Azam mengetahui sesuatu mendengar penuturan Azam membuat Fandi bingung apa waktu yang tepat sekarang untuk memberitau Azam atau menunggu Azam membaik dulu tapi keadaan Rahma sekarang benar-benar membutuhkan Azam.
...**********...
**yuppppp. ......... kalau sudah baca harus.
.
like
komen
vote
__ADS_1
jangan lupa yah 😊😊😊**