
Seorang gadis yang sedang menyender di ranjang rumah sakit kedua matanya menatap lurus kedepan jiwanya seperti melayang entah kemana dengan tatapan kosongnya.
Semua orang yang berbicara kepadanya seakan berbicara pada patung tak ada respon sama sekali membuat orang-orang menatap sendu.
Rindu yang sangat menyesakan bertumpuk di hati gadis itu tapi kenapa gadis itu enggan untuk beranjak dari tempatnya untuk sekedar melihat orang yang dia rindukan ada apa? kenapa?.
Berbagai bujukan sudah keluarganya lakukan bahkan mertuanya juga ikut turun tangan tapi tetap saja gadis itu tak merespon sama sekali sekedar mengangguk atau menggeleng sebagai jawaban iya dan tidak pun dia tetap diam membisu.
Karna sudah tidak sanggup lagi semua keluarga berangsur-angsur keluar satu persatu tinggallah mamah Azam seorang mendekat kearah menantunya .
" Nak.. jangan siksa dirimu sendiri kalau Azam sadar dan melihat keadaanmu seperti ini dia akan sangat sedih... jenguk lah Azam dia pasti merindukanmu Nak... Mamah sayang kamu.. "
" Rahma juga merindukannya mah.. tapi Rahma malu.. " jerit batin Rahma hanya sekedar membatin tidak berani berkata.
"Cup.. "
Mamah Azam menecup puncak kepala Rahma hatinya sakit melihat menantu satu-satunya seperti mayat hidup tak merespon sama sekali apa pun yang dia katakan dengan berat hati mamah Azam melangkah keluar meninggalkan rahma tinggal lah Rahma seorang diri.
Azam memang sudah melewati masa keritisnya sesudah oprasi ginjal dilakukan empat jam yang lalu, orang yang melakukan donor ginjal pada Azam adalah Andi sahabat Azam sewaktu kuliah dulu dia dengan ikhlas mendonorkan ginjalnya karna ingin menebus kesalahannya.
Dan sekarang Azam sudah dipindahkan keruangan inap tinggal menunggu Azam sadar.
Berita Azam sudah mendapat donor ginjal, pasca oprasi dan berhasil melewati masa keritisnya semua Rahma tau karna keluarganya memberitahu dan menceritakan perkembangan Azam tapi sayang sikap pertama yang mana Rahma bersikeras ingin ketemu Azam hilang sudah bak di telan bumi lihatlah sekarang Rahma sendiri yang seakan enggan untuk bertemu ada apa dengam gadis itu? membuat semua keluarga bingung dan takut apalagi Rahma tidak berkata apa-apa.
Perlahan Rahma menarik kedua kakinya dipeluk erat kedua lututnya dan kepala Rahma tenggelamkan diantara kedua lututnya, perlahan isakan kecil terdengar lama kelamaan menjadi isakan hebat hingga membuat seluruh tubuh Rahma bergetar semua keluarga yang ada di luar mendengarnya menitikan air mata sungguh pilu dan menyayat hati isakan gadis itu.
"..Mas Aku malu... dengan apa yang Aku perbuat... Ade sudah durhaka pada Mas... mampuhkah Ade... melihat wajah Mas.. dengan apa yang sudah Ade lakukan" gumam Rahma gemetar disela isakannya.
Rahma mengangkat tangan kanannya" lihatlah... tangan ini sudah berani menampar Mas... sungguh sakit Mas... Ade bukan istri yang baik... Ade jahat... hik... ade... hik.. " Rahma sungguh tidak kuat lagi sudah berapa besar Rahma menumpuk dosa dengan perbuatannya dadanya begitu sesak karna isakan Rahma terus memukul-mukuk dadanya " Ade malu mas... Ade gak pantes bersanding dengan mas lagi... hik... "
Sungguh isakan dan gumaman sangat menyayat hati siapa saja yang mendengar pasti akan terbawa suasana hingga membuat Rahma lelah karna dari tadi terisak perlahan Rahma menutup kedua matanya kembali.
Walau mata sudah terpejam suara isakan tetap masih terdengar di bibir mungil gadis itu lagi-lagi dia mengigau dengan air mata yang keluar.
" Maafkan Ade mas... "
__ADS_1
"Maafkan Ade.. mas... "
Hingga hilang tak terdengar lagi hati ibu yang mana yang akan kuat melihat anaknya begitu rapuh dan menyiksa dirinya sendiri cairan bening terus keluar dari pelupuk mata bunda Fatimah tangan yang sudah nampak keriput terangkat menarik selimut guna menyelimuti anaknya.
Bunda Fatimah menutup mulutnya dengan kedua tangannya menahan supaya tidak terisak melihat putri semata wayangnya seperti kehilangan arah dan hidupnya.
" Ya Allah buka kan lah hati anak hambamu ini... " jerit batin bunda Fatimah sungguh tak tahan lagi.
Rasa rindu yang begitu besar dia lera tahan karna ketidak berdayaan sebuah keadaan yang menjerat jiwa untuk tidak bertemu sungguh sakit dia menyiksa diri sendiri tapi lebih sakit Rahma mengingat kesalahan yang sudah dia lakukan.
Sungguh ujian cinta yang sempurna Allah takdirkan rencananya begitu mulus tidak ada yang gagal Allah hanya menguji sebesar apa keyakina dua inshan yang saling mencintai untuk bisa mempertahankan sebuah rumah tangga yang hancur karna ketidak percayaan.
Rumah tangga yang sebagiaan pondasinya rubuh karna kesalah pahaman mampuhkah dua inshan itu membangun kembali rumah yang sempat kokoh .
Sedangkan di ruangan lain mamah Azam mengusap tangan anaknya yang belum sadar dengan mata berkaca-kaca.
'Fabiayyiallairabikuma'tukadziban" Nikmat tuhanmu yang mana yang engkau dustakan" ketika seorang ibu ikhlas atas apa yang terjadi pada anaknya tapi lihatlah Allah menunjukan kasih sayangnya yang begitu besar pada hambanya yang ikhlas akan takdir yang dia hadapi Allah ganti dengan kebahagiaan yang tidak terhitung kini Azam bisa melewati masa yang menakutkan bagi seorang ibu.
" Nak.. cepat bangun kasihan istrimu trus menyiksa dirinya sendiri...mamah mohon nak... " ucap Mamah Azam bergetar sungguh tak tega melihat menantunya yang tak berdaya.
" Hanya kamu satu-satunya harapan yang bisa membuat istrimu kembali ceria... bangunlah... jangan siksa istrimu.... dia sudah sangat tersiksa menyalahkan dirinya sendiri... " Mamah Azam mengusap air matanya yang keluar sunggu ujian yang begitu berat bagi anak-anaknya.
"Cup.. "
Zenab memilih keluar karna sudah tidak kuat menahan sesak di dadanya cukup sudah penderitaan anaknya yang sudah banyak berkorban untuk keluarganya dia hanya memilih hidup sederhana dengan kenyamanan bukan bergelimang harta kalau hanya ada pepecahan dan permusuhan.
" Ma.. mah.. "
deg....
Zenab memberhentikan langkahnya mendengar suara anaknya memanggil dia langsung berbalik kedua matanya langsung berair kembalik.
"Mamah... " kini suara itu terdengar jelas di telinga Mamah Azam.
" subhanallah,allahu akbar, lahaula walakuwata illabillah" ucap Mamah Azam penuh haru melihat anaknya membuka kedua matanya.
__ADS_1
"Mamah.. " lagi-lagi Azam memanggil mamahnya dengan kedua mata yang sukses terbuka lebar.
" Allahamdulillah... kamu sudah sadar nak... " ucap Mamah Azam bahagia Azam hanya tersenyum.
"Sebentar Mamah panggilakan Dokter dulu.. " ucap Mamah Azam saking bahagianya langsung berlari keluar tampa menunggu jawaban anaknya.
" Dok.. Dokter.... Dokter.... "teriak Mamah Azam sang Dokter yang memang akan keruangan Azam untuk memeriksa langsung berlari mendengar Zenab memanggil.
" Ada apa buk" ucap sang Dokter takut terjadi apa-apa pada pasiennya.
" Anak saya sudah sadar Dok... "
"Kalau begitu saya lihat dulu buk perkembangannya " di angguki oleh Zenab dokterpun langsung masuk dan memeriksa keadaan Azam tak lama Dokter tersenyu.
" Alhamdulilah kondisi pasien sangat bagus tapi ingat anda harus banyak istirahat, minum obat teratur dan jangan dulu banyak pikiran karna itu akan mempengaruhi kondisi anda lagi.. " tutur Dokter.
"Alhamdulilah " ucap Azam.
"Terimakasih dok.. " ucap Mamah Azam tulus lagi-lagi dokter tersenyum melihat Mamah Azam yang begitu bahagia dan langsung mengangguk dokterpun langsung pamit keluar.
" Mamah telepon Ayah dulu Nak... "
Hanya di angguki oleh Azam " terimakasih ya Allah atas nikmat yang kau berikan pada hamba " batin Azam.
bersambunga......
...----------------...
aduh gereget bangettttttt
like
komen
vote. ok
__ADS_1
aku tunggu thor
dan terimakasih sudah setia up ceritaku hr...