
Keluarga kecil Azam kini kembali utuh membuat mereka semakin romantis di setiap harinya apalagi sekarang sikaf Rahma benar-benar berubah.Kadang manja, romantis, nakal dan merajuk. Tapi tidak membuat Azam menatap berbeda justru sikap Rahma yang seperti itu membuat Azam bahagia karna Rahma sekarang benar-benar sangat mencintainya.
Berbeda di lain tempat.Di sebuah apartemen seorang gadis memeluk kedua lututnya sambil menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya,tubuhnya bergetar karna menangis menyesali apa yang telah dia perbuat.
Gadis itu pasrah tidak bisa keluar apertemennya dengan bebas karna Azam menyuruh fandi mencarikan seorang dokter untuk menyembuhkan keadaan Dinda karna bagai manapun Dinda adalah sahabat sang istri.
Trauma psikologis yang Dinda alami membuatnya mudah emosi, ingatan, dan kecemasan yang mengingatkan kepada peristiwa kematian kedua orang tuanya hingga mengganggu pikiran Dinda Bahkan,Dinda mungkin juga menjadi tidak bisa percaya lagi kepada orang lain.
Seiring berjalannya waktu kini Dinda dapat menerima keadaanya dengan bantuaan Dokter Ilham yang menangani Dinda.
"Dinda... " panggil Dokter Ilham.
Mendengar ada yang memanggil namanya Dinda langsung mendongkak sambil menghapus cairan bening yang membasahi wajahnya.
deg....
Jantung Dokter Ilham berdetak tak karuan menatap sendu gadis yang ada di depannya.
"iya Dok.. " cicit Dinda pelan.
"gimana keadaan kamu sekarang? apa masih mengalami mimpi buruk itu..? " Dinda hanya menggeleng sebagai jawaban bahwa sekarang mimpi buruk itu tidak lagi datang.
"allahamdulillah "
Dinda memang selalu menjerit ketakutan jika bermimpi tentang kejadiaan dimana kedua orang tuanya meninggal.
"Dok apa Saya seburuk itu" tutur Dinda dengan air mata yang masih mengalir.
Dokter Ilham sudah tau semuanya apa yang dialamai Dinda karna Azam dan Fandi sudah menceritakannya.
"Tidak, kamu tidak buruk ko... " ucap Dokter Ilham.
"Tapi....Saya sudah menghancurkan sahabat saya sendiri.... " tutur Dinda gemetar mengingat dia sudah menghancurkan rumah tangga sahabatnya dan parahnya dia menyuruh orang untuk menggugurkan kandungan Rahma. Waktu itu Dinda diselimuti amarah tidak mau melihat orang bahagia diatas penderitaannya orang itu harus sama,harus merasa kehilangan seperti yang Dinda rasakan.
"Kalau begitu perbaiki... "
hening....
Dinda tidak menjawab dia malah terisak membuat Dokter Ilham semakin kasihan ditariknya Dinda dalam pelukannya" Jangan putus asa Saya yakin sahabatmu orang yang baik, dia pasti mau memaafkanmu.. " Lagi-lagi Dinda tidak menjawab dia terus terisak cukup lama sampai-sampai ketiduran di pelukan Dokter Ilham karna kelelahan dari tadi menangis.
Perlahan dokter Ilham menggendong Dinda ke atas kasur, dibaringkannya dengan hati-hati.
Dokter muda berdarah Indonesia-Turki menyandang gelar Dokter Psikolog yang menangani Dinda sudah dua minggu lalu karna permintaan Azam sang sahabat.
Lama dokter Ilham memandang Dinda yang tertidur nafasnya sedikit tidak teratur karna masih ada sisa-sisa isakan kecil, Tatapan yang sulit diartikan entah apa yang dokter itu rasakan.
dret...
dret....
__ADS_1
Suara ponsel dokter Ilham berbunyi tanda ada panggilan masuk SOB AZAM itulah nama yang tertera. Dokter Ilham langsung menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum sob" ucap dokter Ilham.
"Waalaikumsalam ...gimana perkembangan Dinda? " tanya Azam di serbang telepon.
"Alhamdulilah perkembangannya bagus, sekarang dia bisa menerima keadaannya... "
"Alhamdulilah kalau begitu... "
"Ente dari dulu selalu saja begitu.. "
"Begitu gimana sob"
""Selalau baik hati"
"Ha... ha.... ente bisa aja... yasudah kalau begitu anna tutup dulu teleponnya.. ***... "
"Eh... tunggu... " cegah dokter Ilham ketika Azam akan menyudahi pembicaraannya.
"Ada apa!?"
"Eh... gak jadi nanti aja... " ucap dokter Ilham sedikit canggung.
"Yasudah... assalamualaikum Dokter Ilham Fahrudin Mahmoed"
Obrolan pun di tutup, dokter Ilham menghela nafas pelan sambil melirik Dinda yang tertidur.
Sedangkan Azam melihat ponselnya yang sudah beres menanyakan kabar Dinda yang sudah membaik.Tapi mengingat terakhir dokter Ilham bicara seperti ada sesuatu yang harus disampaikan.Azam menghela nafas karna tau bagai mana sifat sahabatnya yang satu itu,di samping itu Azam juga bahagia karna Dinda sudah sembuh "alhamdulilah semoga Allah membukakan hatinya" gumam Azam mendoakan Dinda.
Indah ketika kita saling memaafkan walau memang hatinya terluka, tapi dengan memaafkan itu jauh lebih baik dari pada mendendam.Itulah yang dirasakan Azam ketika mengikhlaskan sesuatu yang sangat menyakitkan.
Ditinggal buah hati yang belum sempat melihat dunia,mungkin luka itu masih membekas tapi harus bagai mana lagi Allah berkehendak lain dengan cara nya sendiri. Kita sebagai manusia mau apa? yang bisa kita lakukan ikhlas dan sabar.Ingat dibalik itu semua Allah menghadiaahkan hadiah yang jauh istimewa, tinggal tunggu dan lihatlah kuasanya.
"Mas.... udah belum.. " teriak Rahma dari luar.
Membuat Azam tersadar dalam lamunannya "iya Dek.. bentar.. " teriak Azam tah kalah kencang.Langsung keluar kamar menuju sang istri yang sudah menunggu.
"Kenapa lama Mas...? " tanya Rahma ketika Azam sudah dihadapannya.
"Tadi telepon dulu teman "
"Oh... "
Azam menghela nafas pelan bersyukur istrinya tidak banyak bicara "maafkan Mas Dek belum bisa cerita semuanya, Mas takut Adek akan jauh lebih sedih.Mas janji kalau waktunya sudah tepat Mas akan kasih tau Ade semuanya"batin Azam menatap sang Istri yang sedang memasukan tas kedalam mobil.
Kalau masalah pekerjaan Azam sudah menceritakan semuanya pada Rahma, dan alhamdulilah Rahma mengerti dan menerima penjelasan sang suami walau ada sedikit kecewa karna Azam tidak membagi bebannya dengan dia.
"Ayo Mas" ucap Rahma Azam hanya tersenyum melihat keceriaan sang istri yang akan berkunjung kerumah bunda Fatimah.Azam langsung mengangguk.
__ADS_1
Hari ini jalan kota Bandung begitu padat oleh kenadaraan.Sudah biasa memang kalau hari wikend banyak anak muda yang berkencan,nongkrong atau hanya sekedar keliling kota Bandung.
Membuat Azam tersenyum membayangkan jika dirinya dan sang Istri berkencan layaknya anak muda jaman sekarang atau sekedar jalan-jalan.Membayangkan itu semua membuat Azam sadar bahwa selama menikah Azam belum pernah mengajak sang istri liburan.
"Mas kenapa senyam-senyum" ucap Rahma menatap heran sang suami yang tersenyum sendiri. Celotehan sang istri membuat Azam semakin tersenyum.
"Aduh Mas jangan bikin Ade takut.... "
"Takut kenapa Dek... " goda Azam.
" Mas gak kerasukan kan... " cicit Rahma sambil bergidik ngeri melihat sang suami terus tersenyum padahal tidak ada yang lucu.
" Iya Mas lagi kerasukan" ucap Azam sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Mas jangan gitu dong... Ade kan takut" cicit Rahma semakin menggeserkan duduknya ke sisi jendela kaca mobil.
Melihat tingkah sang istri membuat Azam menepikan mobilnya, dan berbalik mendekat sang istri membuat Rahma semakin takut dan memejamkan kedua matanya erat.
"Mas lagi tersenyum bukan lagi kerasukan Dek... tapi sedang mengingat Istri Mas yang nakal tadi malam" bisik Azam di telinga Rahma. Seketika membuat Rahma melototkan kedua matanya. Kedua pipinya memanas menahan malu sang suami mengingatkannya pada tadi malam.
"Mas... " teriak Rahma malu.
" Kenapa pipi Ade merah" goda Azam.
Awwwwww......
Azam meringis karna sang istri mencubil lengannya kencang "aduh Dek kenapa cubit lengan Mas.. "
"Habis Mas ngeselin... " Ucap Rahma cemberut.
"Tapi Mas su.. "
"Udah Mas jangan dibahas lagi... " ucap Rahma memalingkan wajahnya melihat keluar jendela. Suaminya minta ampun kenapa membayangkan aktifitas tadi malan membuat Rahma malu sendiri.
Tingkah sang istri yang merajuk membuat Azam semakin gemas saja.
"cup"
Azam mencium pipi Rahma.
"Mas.... " ucap Rahma melotot kearah Azam yang di tatap malah melebarkan senyum.
"Manis" batin Azam.
.
.
.bersambung......
__ADS_1