Takdir Illahi

Takdir Illahi
#52


__ADS_3

Rahma terdiam tidak ada kata yang di ucapkan menangispun tidak mungkin karna terlalu lelah membuat Azam bingung harus bagai mana.


Azam sesudah menceritakan semuanya membuat Rahma terus terdiam dan beranjak keluar kamar.Beberapa kali Azam memanggil tapi tidak dihiraukan Rahma hingga Azam terus membuntuti sang istri kemana sang istri berjalan,menghangatkan masakan malam, beres-beres, nyapu dan mengepel Azam terus membuntuti dengan terus mengucap kata " Maafkan Mas Dek sungguh Mas tidak berniat menyembunyikan kebenaran Mas hanya menunggu Ade pulih dari rasa sedih Ade.. " itulah yang sendari tadi Azam ulang-ulang namun sayang Rahma tidak merespon sama sekali.


Azam bagaikan anak ayam yang terus menguntit sang induk namun sayang sang induk tidak memperdulikannya sama sekali.


Bruk....


Rahma menutup pintu kamar tamu dengan kencang dan menguncinya membuat Azam tidak bisa masuk.


Marah, kecewa,sedih dan kasihan bercampur jadi satu di dada Rahma membuat Rahma dari tadi diam.


Marah mengingat apa yang diperbuat Dinda kepada dirinya hingga Rahma kehilangan bayinya dan hampir saja membuat rumah tangganya retak.


Kecewa. Kenapa Azam menyembunyikan kebenarannya dari dirinya walau Rahma tau Azam melakukan itu demi kebaikan Rahma sendiri mengingat keadaan Rahma yang saat itu drof seperti hilang akal.


Sedih.Kenapa harus Dinda yang melakukan itu? membuat Rahma mengingat kembali hal sangat menyakitkan itu menjadi sakit berkali lipat. Sahabatnya sendiri yang tega menyakitinya. Mungkin kalau orang lain Rahma tidak akan sesakit ini.


Ada sara kasihan mendengar terakhir cerita sang suami yang mengatakan kalau Dinda melakukan itu karna gangguan Psikolog dimana Dinda mengalami troma yang benar-benar sangat menyakitkan dan yang membuat Rahma sedikit tercengang bahwa fakta yang membuat dinda seperti itu adalah Pamannya sendiri dan lebih parahnya lagi Rahma baru tau kalau Dinda adalah keponakan Fauzi.


Laki-laki yang sempat mengisi hatinya.


Rahma tau bagai mana berada di posisi Dinda pasti itu jauh menyakitkan .Karna Rahma sendiri pernah merasakan di posisi itu. Bedanya Rahma masih ada orang-orang yang menyayanginya dan mendukungnya sedangkan Dinda dia hanya sebatang kara tidak punya siapa-siapa lagi dan bahkan Paman nya sendiri nyaris membunuhnya.


Membayangkan itu membuat dada Rahma sesak sekali ternyata rasa sakit yang pernah Rahma rasakan tidak sebanding dengan apa yang Dinda rasakan.


" Hik... hik.. ya Allah maafkan hamba yang sempat menyalahkanmu atas apa yang menimpa hamba ..sungguh maafkan lah hamba yang pernah putus asa dari rahmat mu, padalah apa yang engkau ujikan pada hamba itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan yang kau beri ujian pada orang lain.. " jerit batin Rahma sambil menangis pilu.


" Sungguh hamba ikhlas kehilangan Ayah, ka Fauzi dan calon anak hamba. Hamba ikhlas ya Allah.. "


Lama Rahma termenung memikirkan apa yang terjadi kepada dirinya dengan pelan Rahma menghapus air matanya yang sendari tadi mengalir dengan kasar.


Perlahan Rahma membuka pintu yang sempat dia kunci dan berlari mencari sang suami di meja makan,tidak ada.Di lihatlah makanan yang masih utuh tidak sedikitpun tersentuh. Rahma kira suaminya sedang makan karna memang mereka belum sarapan.


Rahma berlari kekamar utama mungkin Suaminya ada di sana.


Cklek...


Rahma membuka pintu kasar dilihatlah suaminya yang sedang duduk di sisi ranjang dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.Melihat itu membuat hati Rahma mencelos sakit sekali melihat sang suami menangis karna dirinya yang mendiamkan Azam. Apalagi sendari tadi Azam belum memakai bajunya terlihat jelas memar yang ada di tubuh sang suami apalagi bagiaan wajah.


Sepasang suami istri itu saling pandang satu sama lain mengunci kedalam netra masing-masing dengan air mata yang masih mengalir.


"Mas.."


"Dek"


Ucap mereka berbarengan, Rahma berlari "bruk... "

__ADS_1


Memeluk erat tubuh sang suami begitu pun Azam membalas pelukan sang istri tidak kalah erat.


"Maafkan Ade Mas" ucap Rahma gemetar karna isakan.


" Maafkan Mas juga Dek.. " ucap Azam bahagia istrinya tidak marah lagi. Sesekali Azam mengecup rambut Rahma dengan sayang.


Lama mereka saling berpelukan tak lama Azam mengendorkan pelukannya guna menatap wajah sang istri, mata mereka kembali bertemu memancarkan tatapan kasih sayang dan penuh cinta. Azam menghapus air mata yang ada di pipi Rahma begitupun dengan Rahma menghapus air mata yang ada di pipi suaminya.


" Ade tidak marah lagi" ucap Azam lembut, Rahma hanya mengangguk bak anak kecil.


" Sudah memaafkan Mas" ucap Azam lagi.Lagi-lagi Rahma mengangguk.


"Cup.. "


Azam mengecup kening sang istri dan kembali menarik sang istri dalam pelukannya.


" Terimakasih sayang" ucap Azam lembut dan mehujani kecupan di rambut,kening,kedua mata hidung dan terakhir di bibir mungil Rahma.


Deg....


Jantung Rahma berdetak sangat kencang setiap kali Azam memanggilnya dengan sebutan sayang .Rasanya hatinya seperti ada bunga-bunga yang bermekaran menenangkan kelerung hati.


"Mas" panggil Rahma ketika Azam menjauhkan bibir nya.


" Iya sayang"


Lagi-lagi Azam memanggilnya seperti itu membuat pipi Rahma memanas.


Rahma berjalan menuju laci mengambil kotak P3K dan membawanya kedekat Azam. Rahma mengeluarkan obat untuk mengoleskan kebagian memar yang ada di punggung, perut dan wajah Azam.


" Berbalik Mas" ucap Rahma azam hanya menurut berbalik hingga membelakangi sang istri. Perlahan Rahma mengoleskan obat itu.


" Berbalik lagi Mas" lagi-lagi Azam menutut kini dia berhadapan.


Rahma mengoleskan lagi salep ke bagiaan memar yang ada di bagiaan perut Azam dengan hati-hati lalu pindah kebagiaan muka dari mulai pelipis, pipi, hidung dan terakhir sudut bibir.


Sudah selesai Rahma langsung menyimpan kembali salep itu kedalam kotak P3K dan menyimpannya di tempat semula.


"Dan sekarang ayo makan" ucap Rahma menarik tangan Azam, jujur memang dari tadi Rahma menahan lapar apalagi tadi malam tidak sempat makan karna nunggu Azam hingga dia ketiduran.


Bukannya tertarik malah Azam menarik balik lengan sang istri hingga Rahma duduk tepat di pangkuaan Azam membuat Rahma membelalakan kedua matanya karna kaget.


"Mas" perotes Rahma.


Cup..


Azam malah mencium pipi sang istri.

__ADS_1


" Mas waktunya makan ini juga udah telat.. "


Cup...


Lagi-lagi Azam mencium pipi Rahma membuat Rahma kesal.


" M.....ahhhhh " Rahma menjerit kaget karna Azam menggendongnya membuat Azam tersenyum.


"Ih... Mas mau apa" ucap Rahma mengeratkan cengkramannya ke lengan Azam karna takut jatuh.


" Katanya mau makan" ucap Azam polos sambil melangkah keluar kamar.


" Tapi Ade bisa jalan sendiri Mas , turunkan.. " protes Rahma tapi sayang Azam tidak mendengar ucapan Rahma terus berjalan hingga sampai di meja makan.


Azam mendudukan sang istri di salah satu kursi " Diam biar Mas yang ambilin" ucap Azam tegas membuat Rahma mendudukan bokongnya lagi yang sempat mau beranjak.


" Mas itu kebanyakan, gak muat di perut Ade... " perotes Rahma melihat suaminya mengambil nasi dan lauk pauk yang begitu banyak.


" Siapa bilang gak muat di perut Ade, kan sebagiaan Mas transper ke mulut Mas" ucap Azam sambil menarik kursi mendekat kearah sang istri. Membuat Rahma terkekeh.


" Kenapa Ade tertawa? " ucap Azam polos.


" Ha.. itu Mas ada-ada aja pake bahasa transper emangnya uang " ucap Rahma geli.Azam hanya tersenyum saja melihat istrinya tertawa.


"Aaaaa.. " ucap Azam membuat Rahma berhenti tertawa.


"Ade bisa sendiri Mas"


" Biar romantis.. " celoteh Azam membuat Rahma tersipu.


Pada akhirnya mereka saling menyuapi satu sama lain dengan satu sendok saling berbagi menyalurkan kasih sayang dan cinta.


Bahwa mereka benar-benar saling mencintai, saling membutuhkan dan saling berbagi kehangatan yang romantis tidak bisa di jabarkan karna begitu nikmatnya.


Fabiayiallairabikuma'tukadziban " Nikmat tuhanmu yang mana yang telah kau dustakan"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2