
Perlahan Azam membuka pintu kamar dan menutupnya kembali, Azam tersenyum melihat istrinya berbaring di atas ranjang dengan seluruh tubuhnya di telan selimut. Azam naik keatas kasur " Dek... " panggil Azam tapi Rahma tidak menyahut sama sekali.
Azam menarik selimut yang menutupi seluruh badan sang istri tapi di tahan oleh Rahma.
"Jangan di buka Mas.. " cicit Rahma dibawah selimut.
" Emang kenapa? " goda Azam.
" Pokonya jangan di buka" kekeh Rahma sambil mengeratkan selimutnya.
" Yasudah..." ucap Azam pasrah dan berbaring membelakangi Rahma kedua matanya mulai terpejam.
hening.....
Perlahan Rahma menurunkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya sampai sebatas dada, Rahma melirik kesamping suaminya tertidur sambil membelakanginya dengan pelan Rahma menggeser tubuhnya mendekat kearah Azam dan menyibakan selimut nya menyelimuti sang suami.
cup...
Rahma mencium pipi Azan perlahan Rahma memeluk pinggang Azam dari belakang dan menempelkan kepalanya di punggung Azam.
" Terimakasih atas kebahagiaan yang Mas berikan pada Ade" gumam Rahma sambil memejamkan kedua matanya.
"Sama-sama sayang"
Deg....
Jantung Rahma berdetak sangat kencang mendengar kata sayang dari bibir sang suami apa Azam belum tidur. Rahma membuka kembali kedua matanya hal pertama yang dia lihat kini wajah ganteng Azam yang sedang tersenyum entah kapan Azam membalikan badannya.
Rahma hanya menatap Azam tampa berkedip membuat Azam terus melebarkan senyumnya, di tariknya kepala Rahma menyimpannya di dada bidang Azam.
cup..
Azam mengecup rambut Rahma" selamat tidur sayang.. " gumam Azam mengeratkan pelukannya ,Rahma hanya terdiam selalu saja di buat jantungan jika sang suami memanggilnya sayang tak lama Rahma tersenyum dan mendongkak kan kepalanya melihat wajah Azam yang kedua matanya terpejam. Rahma kembali menempelkan kepalanya di dada bidang Azam dan mengeratkan pelukannya.
" selamat malam juga Mas" gumam Rahma ikut memejamkan kedua matanya" suami tercinta" batin Rahma dan akhirnya dua inshan itu terlelap dalam tidurnya sambil berpelukan.
Adzan subuh berkumandang membangunkan gadis yang sedang tidur nyenyak dibawah selimut. Perlahan kedua matanya mengerjap menyesuaikan cahaya di liriknya kesamping tempat tidur, matanya langsung melebar tidak mendapati sang suami.
" Apa Mas Azam sudah bangun, kenapa gak bangunin Aku" gumam Rahma dan langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Sesudah sholat subuh Rahma masih bingung kenapa tidak ada Azam, kalaupun pergi kemasjid pasti kan sudah pulang.
Rahma membereskan tempat tidur dan keluar menuju dapur dilihatnya sang Bunda sedang meracik bumbu dengan cekatan.
__ADS_1
"Bun kemana semua orang? " tanya Rahma, merasa ada yang bertanya bunda Fatimah memberhentikan kegiatannya dan berbalik kearah putrinya sambil tersenyum.
" Tadi malam sudah pada pulang "ucap bunda Fatimah.
"Ko Rahma gak tau" ucapnya polos membuat bunda Fatimah terkekeh.
" Bagai mana tidak tau orang putri Bunda semalam merajuk" mendengar ucapan sang Bunda membuat Rahma malu sendiri.
"Trus Bunda lihat Mas Azam tidak, perasaan dari tadi Rahma gak melihatnya"
" Oh iya tadi sebelum subuh suamimu berangkat ke kantor katanya ada urusan penting"
" kenapa tidak bangunin Rahma"cicit Rahma.
" Udah dibangunin, tapi kata Azam kamu nya yang susah di bangunin"
"Masa sih Bun"
"Mana Bunda tau... udah jangan cemberut suamimu kan kerja mungkin memang ada pekerjaan yang mengharuakan Azam berangkat pagi buta, mening sekarang bantuin Bunda masak"
Rahma hanya diam tidak bertanya lagi mungkin iya suaminya lagi ada urusan Rahma harus positif tingkink tidak boleh berpikiran buruk.
Sedangkan di tempat lain apertemen yang ditempati Dinda sangat berantakan seperti kapal pecah, seorang laki-laki duduk di atas shofa dengan wajah yang sudah babak belur sedangkan dua orang lagi masih pingsan.
Tidak lama suara ketukan pintu terdengar, laki-laki itu berjalan menuju pintu perlahan membukanya.
" Assalamualaikum " ucap Azam dan Fandi langsung menerobos masuk.
" Waalaikumsalam " jawab dokter Ilham.
Azam dan Fandi membelalak kan kedua matanya baru menyadari muka sahabatnya yang babak belur dan kedua penjaga masih pingsan.
" Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi" ucap Azam.
" Tadi malam kami di serang oleh sepuluh orang entah itu siapa saya tidak tahu dan mereka membawa paksa Dinda" ucap dokter Ilham kewatir sama keadaan Dinda.
" Bagai mana kalian diserang sedangkan hotel ini sangat ketat oleh penjaga" timapal Fandi.
"Mungkin ini sudah direncanakan, bahkan tadi saya sempat kebagiaan keamanan cicitv namun sayang semua cicitv mati" tutur dokter Ilham.
Azam hanya diam masih mencerna obrolan sahabatnya dan sambil melirik sekeliling ruangan apertemen.
" Apa motip meteka menculik Dinda bukanya gadis itu sebatang kara " timpal Fandi tidak habis pikir ucapan Fandi membuat Azam mengingat sesuatu yang tidak Fandi ketahui.
__ADS_1
" Saya tau siapa dibalik ini semua" ucap Azam membuat Fandi dan dokter Ilham menatap Azam .
"Cepat lacak keberadaan Dinda, bukannya Dinda memakai gelang yang sudah di tempel pelacak" seru Azam membuat Fandi teringat karna memang Fandi memaksa Dinda memakai gelang yang sudah dipasang pelacak karna Fandi takut Dinda akan lari dari tanggung jawab.
Dengan cepat Fandi langsung membuka ponselnya karna memang pelacak itu terhubung dengan ponselnya, Fandi mengutak-ngatik ponselnya kedua matanya pokus menatap layar ponsel.
"Mereka membawa Dinda kejalur Bogor" ucap Fandi. Ternyata benar dugaan Azam pelakunya adalah Pamannya sendiri yang haus akan kekuasaan . Paman Dinda tidak dapat menguasai perusahaan M.k Gruf sepenuhnya karna perusahaan itu harus jatuh kepada ahli waris bukan wali.
"Dinda sedang dalam bahaya kita harus cepat" ucap Azam membuat Fandi dan Ilham mengikuti Azam yang sudah keluar walau sedikit heran dan banyak pertanyaan kenapa Azam bisa bilang kalau Dinda dalam bahaya.
Fandi menyetir dengan kecepatan penuh karna Fandi sudah ahli dalam mengemudi mobil sedangkan Azam pokus melihat layar ponsel Fandi yang menunjukan GPS keberadaan Dinda sedangkan dokter Ilham duduk di bangku kemudi.
" Sebenarnya siapa Dinda,kenapa ada orang yang ingin mencelakakannya? " tanya dokter Ilham sendari tadi penasaran bahkan Fandipun belum tau semuanya.
" Dinda adalah anak satu-satunya dari keluarga Muzaky, sebenarnya yang mempunyai perusahaan itu adalah kakeknya. Kakek nya mempunyai tiga anak, satu tiri dan yang dua kandung yang tidak lain ayah Dinda sendiri dan Fauzi, empat tahun lalu Fauzi dan keluarganya meninggal karna kecelakaan, hingga perusahaan jatuh ketangan Ayah Dinda .Tepat sesudah kelulusan Dinda pergi ke Bogor karna Ayah Dinda mau memperkenalkan Dinda kehadapan Publik karna dari dulu memang jati diri dinda di sembunyikan oleh ayahnya sendiri. Tapi sayang belum sempat mereka sampai ketempat acara mobil yang Dinda dan kedua orang tuanya tumpangi di hadang Dan terjadilah pembunuhan tepat di depan mata Dinda dari peristiwa itu hanya Dinda yang selamat ,kejadiaan mengenaskan itu semua karna ulah paman Dinda sendiri tepatnya Anak tiri Kakek Dinda" ucap Azam panjang lebar. Penjelasan Azam benar-benar membuat Fandi dan Ilham tercengang.
Sekarang Fandi paham kenapa Azam melarang Fandi melaporkan dinda ke penjara.
Sedangkan Ilham termenung Fauzi adalah sahabat dirinya dan juga Azam, ternyata keponakan yang selalu Fauzi ceritakan yang selalu membuat dia jengkel karna kejahilannya adalah Dinda. Orang yang sudah tiga Minggu Ilham rawat karna jiwanya terguncang " Zi Ente tenang saja di alam sana Ane janji akan menjaga keponakan ente" batin Ilham.
"Belok kiri Ka" ucap Azam karna titik merah posisi Dinda menuju kesana. Fandi hanya menurut membelokan mobilnya.
"Berhenti"ucap Azam lagi.
Di luar berjejer bangunan yang kosong kelihatannya seperti bekas sebuah pembangunan proyek yang tidak selesai dan dibiarkan mungkin karna kekurangan dana.
" Di bagiaan mana Dinda berada? " tanya Ilham.
Azam hanya menunjuk kedepan bangunan yang paling pojok dan mereka bertiga turun dari mobil tapi sebelum turun Azam menyuruh Fandi memarkirkan mobilnya agak jauh dari lokasi karna takut ketahuaan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1