
**Jangan lupa budidayakan vote
like
komennya..
selamat membaca... he.. he**...
_________
Entah kenapa hari ini begitu melelahkan, atau lelah karna tak bisa menggenggam rasa yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain, semuanya begitu cepat bagi Azam untuk menerima, dan menyakinkan hatinya. bahwa langkah yang dia ambil tidaklah salah.
Azam berjalan lunglay memasuki pekarang rumahnya, suasana nampak sepi.
"Assalamualaikum"ucap Azam memasuki rumah.walau para penghuni sudah terlelap, tetap saja Azam mengucap salam, itu ajaran islam yang di contohkan kanjeng nabi muhamad SAW.
Walaupun para penghuni rumah tidak ada sekalipun tetap kita harus mengucap salam, karna ada malaikat yang menjawab salam kita.
Perlahan Azam berjalan menaiki anak tangga, rasanya berat sekali hanya untuk sekedar melangkah. Azam mendudukan bokongnya disalah satu bangku yang ada diluar kamarnya. Pandangannya, Azam arahkan keatas menatap langit yang penuh bintang menjadi penghias di kegelapan malam sangat indah, tapi tak seindah hati Azam, dia memejamkan kedua matanya mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.....
Dimana ketika Rahma sudah pulang dari rumahnya, Azam mendapati telepon dari fauzi, menunggunya di kedai Coffe.Azampun langsung bergegas pergi membawa motornya. Ternyata benar Fauzi sudah ada di kedai Coffe, Azam pun langsung menghampirinya.
"Assalamualaikum.. Bro... "ucap Azam.
"Waalaikum salam... " jawab Fauzi sambil memainkan ponselnya.
"Pesan apa aja dulu"ucap Fauzi lagi, Azam langsung duduk di kursi sebelah Fauzi.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong ada apaan nih.. "ucap Azam penasaran. Fauzi langsung menyimpan ponselnya kedalam saku kemejanya. Fauzi menarik nafas pelan"huuuppp"menatap Azam serius.
"Zam aku ingin melamar Rahma.. "ucap Fauzi serius, lima kata sukses membuat Azam tersedak minumannya"uhuk...uhuk... "
Deg...
Azam terkejut bukan main tiba-tiba dadanya sesak sekali.
"Zam kamu gak papah"ucap Fauzi kaget atas respon Azam. dengan susah payah Azam menetralkan sikapnya supaya Fauzi tidak berpikir yang aneh-aneh.
"Gak papah Zi, Aku hanya kaget aja.. masa tiba-tiba he.... "ucap Azam bersikap seolah-olah yang diucapkan fauzi adalah lelucon padahal hatinya begitu sakit.
"Aku serius Zam, rencananya Aku akan melamarnya sudah wisuda.. "
"Kamu serius.. " ucap Azam kaget dengan keseriusan Fauzi, hanya dijawab anggukan oleh Fauzi sebagai jawaban keseriusannya. Ada rasa nyeri dihati Azam, kenapa ia harus kecolongan oleh sahabatnya sendiri, andai Azam mendengarkan kata-kata mamahnya,pasti Azam tak akan sesakit ini.
"Setuju gak.. "ucap Fauzi penuh harap dukungan dari sahabatnya. ucapan Fauzi membuyarkan lamunan Azam. Azam hanya mengangguk sebagai jawaban, takut kalau dia mengeluarkan suara tidak kuat membuat Fauzi merasa curiga.
Tidak lama merekapun menyudahi obrolannya. Fauzi pamit terlebih dahulu karna masih ada urusan .
Azam hanya menatap sayu kepergiaan Fauzi hingga hilang di telan kegelapan.
"Adak apa Nak... " ucap Zenab mamah Azam. Ucapan Zenab membuat Azam terperanjat kaget dan tersadar dalam lamunan nya apalagi mamah Zenab yang sudah ada disamping Azam sambil menyelimuti tubuh Azam.
"Angin malam gak baik"ucap mamah Azam lagi, karna Azam tidak kunjung menjawab ucapannya.
"Apa keputusan Azam sudah benar Mah.. "ucap Azam lilir.
__ADS_1
"Tentang... "
"Perasaan Azam"
"Apa kamu masih tak mau mencoba mengungkapkan perasaanmu" saran mamah Zenab. Azam hanya menggeleng sebagai jawaban membuat sang Mamah menghela nafas pelan.
"Apapun keputusan Anak mamah,Mamah mendukung, asal Azam akan tetap bahagia di sini"ucap mamah Azam sambil menunjuk dada Azam.
"Do'akan Mah"jawab Azam sambil memeluk lengan mamahnya. hanya mamahnya yang mengerti keadaan Azam saat ini, seorang ibu pasti tau apa yang anak-anaknya rasakan. Walau mamah Azam sedikit kecewa,kenapa tidak memperjuangkan malah semakin mundur sebelum melangkah,pada akhirnya dilangkahi orang.
Apa Azam menyesal ? pasti ada.Kecewa? pasti ada.Mungkin ini sudah aliran takdir dirinya yang harus melerakan orang yang ia sayangi bersanding dengan orang lain.
Walau sakit Azam berusaha menelannya yang terpenting persahabatan dengan Rahma tidak hancur. Itu salah satu alasan Azam kenapa tidak mau mengutarakan perasaannya. Terlalau takut akan di tinggalkan.
Azam lupa padahal masih ada Allah yang setia menemani kemana Azam melangkah, bahkan Allah tak cemburu melihat hambanya menyayangi salah satu mahluk ciptaannya. Tapi Allah akan cemburu kalau hambanya terlalu mencintai, hingga lupa pada sang pencipta.
Apa ini yang Azam alami"astagfirullah" batin Azam, hingga Allah menjauhkan Azam dengan orang yang disayanginya.
Azam terus beristigfar, dengan perasaan yang ada pada hatinya. "ya Allah maafkan hamba yang telah lancang menyimpan perasaan pada salah satu mahlukmu dan tampa ijin darimu, hingga hamba lupa siapa yang sebenarnya harus lebih hamba cintai..,mungkinkah jalan ini tegoran darimu.. karna hamba semakin jauh darimu... Astagfirullah maafkan kehilapan hamba ya Allah... "untayai kata, Azam ungkapkan kepada sang pemilik hatinya.Mengadukan segala keluh kesah yang dia rasakan.
Membuat azam sedikit tenang,dengan perasaan hatinya. tekad Azam sudah bulat, Azam akan merelakan perasaannya. Biarlah aliran takdir Allah yang menuntun hidupnya, siapa pun yang akan menjadi pendamping Azam menuju jalan ridho Allah. Azam akan menerima semua yang sudah di garis takdirkan.
......"*Rasa tidak bisa dipaksa......
...cukup rasakan, dan ikhlaskan"...
...*Aliran takdir**...
__ADS_1