
Detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan terus berputar dan bergulir tidak terasa kini usia kandungan Rahma sudah menginjak delapan bulan dan sebentar lagi akan melahirkan.
Tubuh kurus Rahma semakin gembul bertambahnya usia kandungannya membuat Azam semakin gemas saja melihatnya dan selalu ingin mencubil pipi gemul itu.
Tapi ada juga rasa kasiaan melihatnya karna Rahma semakin kesusahan untuk beraktifitas apalagi kalau mau bangun tidur harus mencari posisi nyaman dulu baru bisa bangun. Membuat Azam harus extra hati-hati melihat jalan bumil kesusahan terkadang Azam selalu menggendong atau memapah Rahma.
Semua persiapan lahiran sudah Azam siapkan untuk menyambut jagoaan keduanya walau yang pertama Azam tidak bisa melihatnya.
" Ade mau pilih lahiran normal atau tidak? " tanya Azam sambil mengelus-elus perut buncit Rahma.
" Pengen nya lahiran normal karna Ade ingin merasakan bagai mana perjuangan seorang ibu walau katanya sih sakit tapi Ade ingin merasakannya. Tapi gimana kehendak Allah saja" balas Rahma panjang lebar sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Azam.
Mereka berdua sedang menikmati suasana sore yang sangat indah dengan langit yang berwarna jingga di taman belakang rumah Azam di temani dengan hamparan bunga yang bermekaran.Menambahkan kesan romantis tersendiri bagi pasangan itu.
Karna bahagia cukup sederhana dengan orang yang kita sayangi dan cintai tetap menggenggam erat satu sama lain jangan pernah melepas.
Bahagia juga tidak di nilai dari materi tapi dilihat bagai mana cara pasangan kita tetap membuat kita tersenyum dan bahagia. Jangan ada air mata.
" Semoga Allah menghendaki apa yang Ade inginkan" ucap Azam lembut sambil mengecup puncak kepala Rahma.
" Amin" balas Rahma.
" Sayang masuk yuk, sudah mau hampir magrib" ucap Azam Rahma hanya mengangguk setuju.
Dengan hati-hati Azam memapah Rahma karna langkah bumil itu semakin kecil karna kesusahan jalan.
" Mas langsung ke kamar mandi aja"
" Yasudah"
Rahma mengambil air wuhdu begitu pun Azam, mereka sholat magrib berjamaah.
Rahma sangat bersyukur sekali kepada Allah karna sudah menjodohkan Azam dengan dirinya. Awal Rahma yang belum terima oleh kehadiran Azam di hatinya karna ada hati lain yang sudah bersarang.Tapi nyatanya Allah berkehendak lain sesuatu yang kita inginkan belum tentu itu adalah yang terbaik untuk kita dan mungkin sesuatu yang kita tidak inginkan jutru itu hal yang terbaik untuk kita.
Halnya yang sudah Rahma alami kita hanya harus menjadikan conto ke jadiaan itu.
Begitupun Azam sangat bersyukur karna Allah sudah menyatukan kisah mereka berawal karna mengikhlaskan ternyata apa yang kita ikhlaskan justru Allah akan kembalikan dengan sangat sempurna.
Hati yang dulu membeku kini telah mencair karna kelembutan, kasih sayang, cinta dan tanggung jawab yang Azam berikan kepada Rahma. Membuat Rahma merasa nyaman dan terlindungi berada di dekat sosok Azam hingga Allah balikan hati itu menjadi utuh kembali untuk Azam miliki walau harus ada banyak rintangan yang harus mereka jalani.
Karna itulah hidup rumah tangga selalu ada bumbu-bumbu romantis, pertengkaran, ketidak percayaan, kesal, jahil, lelah dan seterusnya.
Maka jangan jadikan pertengkaran awal dari kehancuran jadikan pertengkaran awal mendewasakan diri untuk saling menghargai pasangan masing-masing.
"Aw.... " pekik Rahma memegang perut besarnya.,nafasnya naik turun menahan sakit. Semakin lama semakin sakit Rahma rasakan.
__ADS_1
" Mas...... " teriak Rahma karna Azam sedang kedapur mau memasak karna memang Rahma sulit untuk bergerak membuat Azam kasihan jika istrinya memasak.
"Hik... hua... Mas... sakit.. " teriak Rahma lagi tapi sayang Azam tidak mendengarnya,Rahma berusaha berjalan tapi sangat sulit karna sakit di perutnya sangat dasyat yang belum pernah Rahma rasakan sebelumnya ,keringat dingin sudah bercucuran membanjiri pelipisnya.
"Hik.. Mas.. tolong" suara Rahma melemah.
Sedangkan Azam tersenyum melihat hasil karyanya sudah beres dan menyajikannya di atas piring,lalu Azam tidak lupa menuangkan air kedalam gelas dan membawanya ke kamar.
"Cklek... "
Prang......
"Astagfirullah Ade" teriak Azam panik kedua matanya melotot melihat keadaan istrinya yang sangat lemah berusaha bangun. Azam langsung berlari tidak peduli sama piring dan gelas yang sempat Azam jatuhkan karna terkejut hingga menjadi pecah.
" Astagfifullah Dek, Ade kenapa? " Ucap Azam panik dan berusaha mengangkat istrinya.
" Hua... Mas sakit.. kayanya Ade mau melahirkan... Ade juga tadi kencing... hik.. " rancu Rahma tersendat-sendat menahan sakit tangannya mencengkram erat bahu Azam.
Azam dengan hati-hati menggendong istrinya menuju mobil. Azam merasakan ada cairan yang menembus ke tangannya mungkin itu ketubannya sudah pecah.
" Sabar ya Dek.. istigfar terus supaya tidak terlalu sakit" ucap Azam dan langsung menyalakan mobil nya dadanya naik turun melihat keadaan sang istri yang terus merancu menahan sakit.
" Astagfirullah... Astagfirullah.... Ah.... Mas sakit hik.. hik... " rancu Rahma.
Membuat Azam kala kabut karna kasihan pada sang istri. Tidak lama mobil Azampun sampai kerumah sakit. Azam menggendong sang istri lagi walau berat Azam tahan.
" Cepat bawa ke ruang persalinan" ucap Dokter yang menghampiri Azam di ikuti Suster. Azam mengangguk dan mengikuti langkah Dokter. Dengan hati-hati Azam menidurkan sang istri di atas brankar.
" Ah... Mas... " pekik Rahma memeluk leher Azam menyalurkan rasa sakit membuat Azam langsung menunduk sakit.
Sedangkan Dokter dan suster langsung mempersiapkan semuanya.
" Ibu.. tolong dengarkan intruksi dari Saya yah " ucap Dokter.
"Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan, coba ibu lakukan"
Rahma melakukan intruksi sang Dokter" huh.. huh.... Ah.... ah... sakit.. " jerit Rahma semakin mencengkram bahu Azam membuat Azam meringis darah segar keluar menodai baju kemeja Azam.
" Ayo Buk terus seperti itu tarik nafas keluarkan... "
" Huh.. huh.... Ah..... Ah..... "
"Sedikit lagi Buk..... "
" Ah.... sakit Dok.... "
__ADS_1
" Ibu santai yah... coba tarik nafas dalam-dalam lagi semakin dalam dan keluarkan... "
Nafas Rahma dari tadi memburu, cairan bening sudah membanjiri kedua pipi dan bahu Azam, keringat dingin juga ikut serta bercucuran menandakan betapa dasyatnya perjuangan seorang ibu melahirkan seorang bayi ke dunia.Memperjuangkan antara mati dan hidup supaya anaknya bisa selamat.
Kini Rahma paham begitu besar perjuangan sang Bunda untuk melahirkannya, mengurus, mendidik dan membersarkan dirinya hingga sampai sekarang Allah menghendaki Rahma merasakan perjuangan menjadi seorang ibu ,ada kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri bercampur sakit yang Rahma rasakan dan tidak pernah merasakannya seperti yang Rahma rasakan sekarang.
"Ma'afkan Rahma Bun" jerit batin Rahma mencengkram erat bahu Azam entah sudah seperti apa keadaan Azam sekarang bahunya semakin mengeluarkan darah karna cengkraman kuku Rahma yang menusuk kuat.
Seperti menyalurkan rasa sakit Azam bisa merasakannya dan tampa Azam sadari sendari tadi dia sudah melelehkan cairan bening di pelupuk matanya melihat, mendengan jeritan sang istri yang kesakitan membuat Azam membayangkan bagai mana sang Mamah memperjuangkan dirinya antara hidup dan mati sampai-sampai Mamahnya koma saat melahirkan dirinya.
" Hua.... Ah..... " pekik jerit Rahma.
"Oe... oe... oe.... "
Suara tangisan bayi terdengar nyaring di ruangan serba putih itu membuat Rahma melemas dan rasa haru menyelimutinya begitupun dengan Azam.
" Ada satu lagi yang harus di keluarkan " ucap sang Dokter.
Darrr....
Membuat Azam dan Rahma terkejut bukan main dikira anaknya satu dalam kandungan nya ternyata ada dua pasalnya Dokter yang selalu mengecek rutin Rahma setiap bulan tidak mengatakan bayinya ada dua dan ketika di USG juga bayinya ada satu.
Ternyata Allah berkehendak lain ternyata perediksi manusia terkadang tidak sejalan dengan takdir dan ketetapan Allah.Begitu murahnya Allah dalam kasih sayangnya memberikan berlipat ganda kebahagiaan bagi orang-orang yang mau ikhlas dalam jalan takdirnya.
Disaat Azam dan Rahma ikhlas atas kehilangan bayi nya ternyata Allah gantikan dengan kehamilan Rahma lagi dan di saat melahirkan ternyata Allah kasih kebahagiaan sekaligus dengan memberi bayi kembar.
Sungguh 'Fabiayyi allaairabikuma tukadziban "Nikmat tuhanmu yang mana yang telah kau dustakan"
Allah sudah menggantinya dengan yang jauh lebih baik lagi, terkadang apa yang kita inginkan belum tentu itu yang terbaik dan begitupun sebaliknya apa yang tidak kita inginkan terkadang itu yang baik untuk kita.
Maka bersabar dan ikhlaskan kunci terbaik menjalani hidup menuju ridho sang pencipta.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....