
Perjalanan yang sangat menyenangkan bagi Azam.Bagai mana tidak menyenangkan di sepanjang jalan Azam terus menggoda sang istri membuat Rahma malu setengah mati.
Walaupun Azam memang sudah tau luar dan dalamnya diri Rahma tetap saja Rahma malu .Begitulah kordat wanita berani di awal, suka malu di belakang.
"Alhamdulillah sudah sampai" ucap Rahma langsung turun dari mobil karna sudah tidak kuat dari tadi disepanjang jalan Azam terus menggodanya.
Azam hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri berlari seperti anak kecil.
"Assalamualaikum Bunda... " teriak Rahma semangat menerobos masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam eh anak Bunda sudah datang... " jawab Bunda menghampiri Rahma dari arah daput.
bruk...
Rahma memeluk erat bunda Fatimah, sang Bunda hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan putri manjanya.
"Rahma kangen... "ucap Rahma.
"Bunda juga sama... eh... suamimu mana? " tanya bunda Fatimah sedikit heran tidak melihat Azam,yang di tanya malah cengengesan.
"Assalamualaikum Bun"ucap Azam yang baru masuk sambil membawa tas sang istri.
Membuat bunda Fatimah dan Rahma melihat kearah Azam.
"Waalaikumsalam Nak... "
Azam langsung mencium punggung tangan bunda Fatimah.
Aww.....
Rahma meringis karna bunda Fatimah menjewer telinganya.
"Bun sakit... lepasin Bun... " rengek Rahma.
" Kamu tuh yah... masih saja kaya anak kecil, kamu sudah nikah masa membiarkan suami sendiri bawa barang, mana banyak lagi" cercah bunda Fatimah .Kasihan melihat Azam membawa tas Rahma, belum lagi parsel, sayuran dan cemilan.
Memang tadi di jalan bunda Fatimah memesan supaya beli sayuran dan cemilan kalau parsel itu buah tangan Azam khusus untuk mertua.
Yang di omel malah cengengesan membuat bunda Fatimah melotot.
"Gak papa Bun" ucap Azam kasihan melihat istrinya di jewer.
Bunda Fatimah langsung melepaskan jewerannya " yasudah kalian istirahat saja dulu, pasti cape" ucap bunda Fatimah.
" kalau begitu Rahma kekamar dulu yah Bun" di angguki oleh bunda Fatimah.
Azam mengikuti langkah sang istri yang sudah duluan berjalan menuju kamar.
"Mas tasnya taroh di shofa saja" ucap Rahma. Azam hanya menurut saja dan meletakan tas Rahma di shofa. Azam kendekati sang istri yang sedang duduk di sisi ranjang sambil memijit betisnya.
"Pegel Dek" ucap Azam mendejat Rahma hanya mengangguk sambil terus memijit betisnya.
" Mas pijitin yah" tawar Azam membuat Rahma menggeleng.
" Tidak usah Mas... "
Tapi Azam tidak menghiraukan perkataan sang istri " Ade tiduran biar Mas pijitin" tegas Azam membuat Rahma pasrah.Palagi memang kedua betianya pegal karna harus berkeliling pasar mencari tempat jualan sayuran yang adanya di pojok.
Dengan hati-hati Azam memijit betis sang istri, Rahma memejamkan kedua matanya karna merasa enak di pijit oleh Azam sampai tidak sadar ketiduran.
Melihat sang istri tidur membuat Azam tersenyum dan menghentikan pijitannya lalu menyelimuti sang istri.
Azam berjalan kearah kamar mandi guna membersihkan tubuhnya karna gerah,lima belas menit Azam keluar kamar mandi berjalan kearah shopa membuka tas yang tadi dibawa.
Azam membuka tas itu dan mengambil satu setel baju untuk Azam pakai,di liriknya sang istri yang masih tertidur senyuman terbesit di bibir tipis Azam.
__ADS_1
"Emmmmz" gumaman kecil terdengar dari bibir mungil Rahma,perlahan kedua mata lentik itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan bangun melihat ke sekeliling kamar tidak ada suaminya.
cklek....
Pintu terbuka mendapati Azam masuk dan tersenyum melihat sang istri sudah bangun.
" Mas dari mana? " tanya Rahma serak khas orang bangun tidur.
" Habis di dapur cari minum"
"Oh iya... sekarang jam berapa? " karna jam dingding di kamar Rahma harus ganti batre.
"jam 17:48 mungkin sebentar lagi adzan"
" Yasudah Ade ke kamar mandi dulu" ucap Rahma sambil menyibakan selimut beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Tak lama Rahma keluar lagi dengan keadaan seger mukanya basah karna air wudhu. Sudah Rahma keluar Azam masuk kedalam kamar mandi guna mengambil air wudhu.
Dengan khusu mereka sholat berjamaah,Azam berbalik sesudah selesai sholat, melihat Azam berbalik Rahma langsung mencium punggung tangan Azam lalu Azam mencium kening Rahma.
"Dek bisa bantu Mas" ucap Azam dengan wajah di buat memelas, melihat raut muka sang suami di tekuk membuat Rahma kewatir.
"Mas kenapa? "
" Kepala Mas sedikit pusing.. " alibi Azam
" Yasudah berbaring di ranjang Ade pijitin" ucap Rahma lembut Azam hanya mengangguk dan beranjak menuju ranjang.
Rahma duduk di sisi ranjang sambil mengulurkan kedua kakinya, Azam langsung berbaring dipangkuaan Rahma.Perlahan Rahma mulai memijit kepala Azam dengan penuh perasaan.
Azam memejamkan kedua matanya menikmati pijitan sang istri " Mas" ucap Rahma.
"hemmm" Azah hanya mendehem dengan kedua mata yang masih dipejamkan.
" Ade kangen Dinda.. "
Deg....
" Ya telepon" ucap Azam berusaha tenang.
" Udah tapi no nya tidak aktif.. "
"Mungkin Dinda lagi sibuk... "
" Gak tau sih Mas.. "
Azam terdiam entah apa yang harus dikatakan karna sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahasnya" maaf kan Mas Dek belum bisa jujur, Insyaallah kalau sudah waktunya Mas akan jujur pada Ade, dan semoga Ade menerima semuanya.. "batin Azam menatap sendu sang istri.
"Alhamdulilah sudah adzan isya Dek.. ayo sholat" ucap Azam ngengalihkan topik.
" Ini mijitnya kan belum beres Mas.. "
" Entar aja di lanjutnya pas mau tidur.. "
"Yasudah" Azam hanya tersenyum mendengar jawaban istrinya yang menurut.
tok..
tok...
"Nak... makan malamnya sudah siap"teriak bunda Fatimah diluar pintu.
"Sebentar Bun, kami nyusul" bukan Rahma yang menjawab melainkan Azam, tidak ada sahutan lagi.
"Astagfirullah Mas Ade gak bantuin Bunda masak" ucap Rahma merasa tidak enak pada sang Bunda.
"Gak papa Mas yakin Bunda pasti ngerti" ucap Azam sambil mengelus pipi Rahma.
__ADS_1
Rahma dan Azam langsung melipat sejadah dan mukena yang di kenakan Rahma dan menyimpannya di tempat biasa. Azam dan Rahma keluar menuju dapur sebelum kedapur mereka harus melewati ruang tamu, ketika keluar Rahma menyerngit bingung kenapa semua lampu padam.
"Mas kenapa di sini mati lampu.. di kamar kita mah engga" ucap Rahma sambil memegang tangan Azam.
" Mas juga tidak tau Dek" ucap Azam santai, dengan hati-hati Rahma dan Azam berjalan.
"Bunda.. "panggil Rahma tapi tidak ada sahutan
"Mas ko Bunda di panggil gak jawab" ucap Rahma sambil berjalan pelan bersama Azam, Azam hanya diam tidak menjawab ucapan Rahma.
"Surprise......"
Deg....
Rahma mematung berbarengan dengan lampu menyala.Rahma terkejut melihat semua orang berkumpul di ruang tamu ada Bunda,kudua orang tua Azam, bang Farhan dan bak Sindi.
"Mas... " cicit Rahma sambil melihat sang suami, Azam hanya tersenyum melihat wajah keterkejutan sang istri.
"Happy birthday aunty.."teriak Azka anak bang Farhan berlari kearah Rahma yang tadi bersembunyi.
Membuat Rahma berbalik kearah teriakan keponakannya.
bruk..
Azka memeluk Rahma karna Rahma langsung berjongkok .
cup...
Azka mencium pipi Aunty nya " kata Abi ini hari ulang tahun Aunty yang kelewat" celoteh Azka membuat semua orang tersenyum.
Berbagai ucapan dari semua orang Rahma terima, kembali sudah kebahagiaan Rahma, ternyata Azam sudah merencanakan ini semua dan keluarganya sungguh kompak membuat Rahma terkejut dan juga haru.
"Selamat ulang tahun Nak semoga cepat di beri momongan" ucapan selamat bunda Fatimah.
"Selamat sayang semoga keluarga kalian bahagia selalu" ucap mamah Azam mertua Rahma.
"Semoga Adek Abang tidak manja lagi" itu ucapan Farhan.
"Selamat Ade ipar sehat selalu " ucap Sindi, yang kurang hanya bang Zam-zam karna tidak bisa hadir terlalu sibuk bagi seorang Dokter.
Mereka sesudah memberi selamat bukan langsung memotong kue seperti acara ulang tahun pada umumnya tapi langsung makan malam besar semua keluarga.
Gelak tawa nyaring di rumah Qolayuby karna malam itu Rahma jadi bahan bulyan keluarga.
"Cie... yang sudah baikan " celoteh Farhan membuat Rahma menatap tajam Abangnya.
"Iya... mungkin bentar lagi kita akan dapat cucu lagi jeng.. " celoteh mamah Azam pada bunda Fatimah tapi matanya tertuju pada Rahma sambil mengedipkan kedua matanya.
Habis sudah Rahma menahan malu sedangkan Azam dan sang Ayah yang dari tadi hanya diam dan sesekali tersenyum melihat tingkah Rahma yang merajuk membuat Rahma pergi dari kumpulan keluarga itu.
"Dek kenapa kabur" teriak Farhan.
"Kayanya gak sabar tuh Ade ipar" timapal Sindi
ha.. ha...
Membuat semua orang tertawa..."Zam susul tuh istrimu merajuk" timpal Ayah Azam yang dari tadi diam diangguki sama Azam.
" Kalu begitu Azam kekamar dulu yah" ucap Azam. Di angguki semua orang.
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung.....