
..."Ku coba berusaha...
...untuk menerima takdir"...
...*Rahma qolayuby*...
...*****...
Prov Rahma.
Sayup-sayup terdengar orang yang menangis, membuat Aku terbangun dari tidurku suara itu terdengar pilu di telinga ku entah siap orang nya .Aku berusaha menetrakan pendengaran dan penglihatan ku di sekeliling kamar .
Deg….....
Rasanya sesak di uluh hati ku mendengar jeritan suamiku dengan sang pencipta hingga membuat sekujur tubuh nya bergetar menandakan begitu rapuh hatinya hingga rasanya sulit untuk Aku sekedar bernapas, tak terasa air mataku juga mengalir dalam diam.
Melihat dia sudah selesai buru-buru Aku Tarik selimut lagi takut ketahuan,ku hapus sisa air mataku sambil memejamkan ke dua mata ku,hingga ku dengar suara kakinya berjalan bukan ke tempat tidur dengan penasaran ku buka sedikit ternyata dia sudah duduk di kursi meja belajar di mana di situ berjajar-buku-buku besar entah apa yang dia kerjakan Aku tak bisa melihat karna terhalang oleh punggung nya.
Sudah hampir satu setengah jam dia duduk di situ hingga dia beranjak keluar kamar membuat Aku terbangun entah mau kemana dia? pikirku, lebih baik Aku mengambil air wudhu lalu tersimpu di atas sejadah .
Aku keluhkan isi hatiku yang sering membuatku resah tak beraturan kepada sang pencipta seperti yang di lakukan suami ku,"ya robb ma'afkanlah hamba yang belum bisa menjadi istri yang baik buat dia hamba mohon berikanlah cinta di hati hamba untuk bisa menemani perjalananya menuju ridho mu",sudah selesai ku curhatkan isi hati ini tak lama adzan subuh berkumandang
Deg..deg…
Lagi-lagi membuat hati ku bergetar entah apa yang terjadi kepada ku suara ini selalu membuat ku bergetar lebih kencang dari yang Aku rasakan ke pada ka Fauzi. Siapa sang pemilik suara ini sudah lama semenjak banyak kejadian yang terjadi baru pertama kali ku dengar lagi "ya robb kenapa dengan hati ku"batinku.
Tidak banyak berpikir lagi Aku langsung melaksanakan panggilan sang pencipta sudah selesai ku lipat mukena dan sejadah di tempat biasa dan ku rapihkan tempat tidur lalu beranjak ke bawah,Aku tersenyum melihat mamah mertuaku sudah berada di dapur.
"Assalamualaikum" ucapan ku membuat mamah berbalik dan tersenyum.
"Waalaikumsalam nak.. "
"Boleh Rahma bantu mah"
"Boleh sayang"
Ku lihat mamah begitu cekatan memegang pelalatan masak, Aku hanya membantu mengupas bawang dan menggoreng tempe sesisanya mamah mertuaku yang lakukan, mamah bilang tempe dan sejenis sayuran adalah makanan kesukaan ka Azam dan papah mertuaku, berarti ka Azam mirip dengan papah mertua tapi sikapnya berbeda mungkin ke mamah nya kali ,ku teringat ada sedikit yang mau Aku tanyakan ke pada mamah
Aku begitu gugup, takut-takut mamah salah paham tapi rasa gugup ku kalah sama rasa penasaran ku, ku menarik napas dalam dan membuangnya pelan"huppp" ku beranikan bertanya..
"Mah..boleh Rahma bertanya,,"
Mamah hanya tersenyum
" Boleh sayang "
"Emmmzz.. anu .. mah apa mamah tau siapa yang mengumandangkan adzan "ucapku sepontan menahan malu, mamah mertuaku terdiam sebentar apa ucapan ku salah tak lama mamah tersenyum kembali membuatku sedikit lega.
Deg......
Jawaban mamah mertua membutku terdiam entah kenapa getaran ini datang lagi
"Suami mu nak.."
"Jadi ka a…"
Mamah mertuaku tersenyum kembali mungkin melihat keterkejuatan ku hingga Aku berusaha bersikap biasa.
"Apa kamu mau mendengar sedikit cerita" ucap Mamah,Aku hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Dulu sampai sekarang mamah mencintai papah Azam walau dulu sikap papah Azam tidak seperti sekarang…" ucap mamah.
Ku lihat mamah dengan santai bercerita seperti tidak ada beban, padahal cerita mamah sukses membuat Aku terkejut pasalnya papah mertua bersikap kasar jauh berbeda dengan sekarng hingga membuat Aku penasaran dan bertanya.
"Terus apa yang membuat papah sekarang sangat mencintai mamah.." ucapku sepontan.
__ADS_1
"Karna sebuah kecelakaan yang membuat mamah koma selama satu minggu hingga hampir membahayakan nyawa Azam "
Deg....
Begitu pilu perjalanan yang mamah alami ternyata apa yang Aku alami belum sebarapa dengan yang mamah alami yang harus berjuang seorang diri demi mendapatkan cinta sang suami, sangat menyakitkan walau nyawa adalah taruhan nya. Apa sama yang ka Azam rasakan berjuang seorang diri.
Lamunanku terbuyar oleh seseorang yang mengucap salam Aku berbalik mata kami saling bertemu .
Deg..deg..
Kenapa getaran ini kembali lagi bahkan lebih kencang dua kali lipat dari sebelum nya
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam nak" jawab mamah entah ada angina di mana menbuatku sepontan berjalan kearah nya dan mencium punggung tangannya yang begitu hangat.Sambil ku rasakan irama yang bergemuruh di hati ku, cukup lama hingga ku angkat kepalaku ada yang aneh melihat ka Azam dirinya seperti orang yang terkejut .
Ku beranikan diri bertanya walau sebenarnya Aku begitu gugup apa lagi gemuruh ini terus menjadi.
"Mau..makan apa mandi dulu Mas" sebuah ucapan lolos begitu saja di bibir ku entah ada apa dengan diriku tiba-tiba ingin memanggil nya dengan sebutan "Mas "bukan kakak lagi.
Ku tatap netranya dengan seksama dia seperti patung yang tak bergeming entah apa yang terjadi padanya, ku coba untuk menyentuh tangan nya tapi malah kabur.
"Mas…. "
"Mandi dulu…."teriak ka Azam.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya seperti anak kecil sikapnya membuat Aku sedikit bisa menetralkan jantung ku yang bergemuruh.
Aku melangkah lagi mendekati mamah menyiapkan makanan di atas meja makan tak lama ku lihat ka Azam menuruni tangga dengan gaya coolnya, dia duduk di sebelahku lagi-lagi entah ada angin di mana Aku langsung mengambilkan nasi untuk nya.
"Sudah cukup" ucap ka Azam,membuatku berhenti Aku hanya tersenyum dan memberikan piring yang sudah terisi penuh oleh nasi di atasnya ada telor ceplok,sayur kangkung,tempe dan sambal semuanya kesukaan ka Azam.
"Gimana enak gak makanan nya …."suara mamah mertua ku mememecahkan keheningan
"Tapi sedikit berbeda…"
"Beda gimana Pah" tanya mamah mertua lagi,sedangkan Aku hanya menunduk takut-takut.
"Maksudnya enak banget mah" ucap Azam dan papah mertua sambil nyegir sepertinya sudah berhasil mengerjai mamah sedangkan Aku hanya tersenyaum.
”Alhamdulillah” ucap mamah mertua Aku melirik mamah mertua mengisaratkan jangan memberi tau . Mamah hanya pasrah oleh permintaan Aku .
''Mah papah berangkat dulu yah" ucap papah mertua sambil mencium kepala mamah ka Azam membuat Aku jadi malu sendiri bagai mana tidak papah mertua begitu romantis walau sudah tidak muda lagi sedangkan diriku belum.
Aku sekarang sudah siap-siap dengan Ka Azam meluncur kerumah bundaku, tidak memakan waktu lama mobil yang di kendarai ka Azam sudah terparkir di halaman ruhma ku lalu Aku langsung mengetuk pintu.
Tok
Tok...
"Assalamualaikum…"ucapku
"Waalaikumsalam sebentar "jawab orang yang di dalam sanah
"Cklek…"
Suara pintu terbuka nampaklah seseorang yang sangat cantik walau sudah dimakan umur. Aku langsung memeluknya erat sedangkan ka Azam hanya menyaksikan saja.
"Apa kabar bunda ….?"tanyaku
"Alhamdulillh baik nak gimana kamu sama Azam"
"Alhamdulillah baik bun.."
"Yah sudah ayo masuk…"
__ADS_1
Aku dan bunda masuk di ikuti ka Azam dari belakang sambil menjingjing tasku.
"Dhek tasnya di taroh dimana "ucap ka Azam
Deg..
Aku hanya melongo apa tadi ka ..eh..mas Azam bilang apa? Adek membuat Aku tersenyum sendiri membuat Azam bingung di buat nya.
"Dek "ulang ka Azam lagi membuat Aku tersadar sedangkan bunda nya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Aku yang masih seperti bocah.
"Anu.. Mas di kamar .."
"Yah sudah Kakak ke kamar dulu nya"
Kenapa coba ka Azam bertanya ! mungkin saja dia sedikit canggung belum terbiasa. lalu ka Azam melangkah kan kakiya ke arah kamar.
Sedangkan Aku bersama bunda sedang di dapur berperang dengan alat-alat yang di pegang nya Aku dan bunda mau bikin pudding kesukaan Aku dan ayah .Mengingat itu semua membuat Aku sesak dan meneteskan air mata,buru-buru Aku hapus karna kaget mendengar suara ka Azam.
"Dek,bunda Azam keluar sebentar nyah…."
"Iya nak.." jawab bundaku ,sedangkan Aku hanya tersenyum mengangguk sebagai jawaban.
Di sisi lain bunda merasa curiga apa yang sedang Aku rasakan bunda mengusap-usap punggung ku setelah kepergian ka Azam .
"Jangan sedih nak….ikhlaskan…"
Bruk….
Aku memeluk bunda erat"Bunda…Rahma hik…hik…"Aku tak bisa meneruskan ucapanku, saat ini hatiku rapuh hanya bunda yang selalu mengerti akan perasaan ku bunda mengendorkan pelukan ku dan bunda menghapus sisa air mata ku.
"Nak lihat bunda" Aku menurut saja melihat netra bunda, di situ juga Aku melihat ada kesedihan mendalam hanya saja di tutupi oleh senyuman.
"Setiap manusia akan kembali dan mempunyai takdirnya masing-msing kita sebagai hamba harus ikhlas dan menerima semua takdir nya..kamu mengertikan nak.."lanjut bunda.
Aku hanya mengangguk, apa Aku boleh marah kepada takdir tiga bulan di tinggal ayah di susul oleh calon imamku dan sekarang harus berusaha menerima aliran takdir lain menjadi istri dari Muhamad Khoerul Azam, berusaha membuka hati yang terkubur.Akankah Aku bisa memberikan hatiku di pelabuhan yang berbeda, yang salalu menungguku datang di setiap sujud malamnya yang panjang menanti kehadiran sang kekasih halalnya atau penantian itu hanya harapan palsu halnya pohon di tengah gurun yang gersang menanti tetesan hujan untuk membuatnya bangkit kembali.
Itulah aliran takdir yang tak kita ketahui semuanya seperti aliran air yang mengalir begitu saja walau bercabang jalan nya dan berbeda alurnya tapi tetap akan kembali di mana muara berasal,karna hidup kita tak tau kapan kita kembali kesisinya sebelum itu kita harus mempersiapkan amal terlebih dahulu supaya tak malu berhadapan dengan sang pencipta supaya ketika ajal menjemput kita sudah siap.
...********...
...“*Dimanapun hatimu berada...
...Aku tetap disini menunggu mu...
...sampai tuhan berkata sudah cukup penantian mu...
...di situ Aku akan menyerah...
...karna ...
...Aku yakin kamu pasti pulang...
...ketempat dimana aliran takdir itu berada*”...
...*Muhamad Khoerul Azam*...
...----------------...
ok sudah yah bacanya
jang lupa like
komen
vote ok
__ADS_1