
Disebuah ruangan seorang gadis di ikat diatas kursi, mulutnya di lakban,kedua matanya bengkak karna lama menangis.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa semoga allah menyelamatkannya, entah siapa yang menculiknya gadis itu sendiri tidak tau.
Suara langkah kaki terdengar menuju kearahnya membuat gadis itu semakin takut tidak ada orang yang gadis itu harapkan untuk menolongnya selain teringat kepada Dokter muda yang merawatnya.
cklek....
Pintu terbuka membuat gadis itu semakin gemetar takut,tidak lama masuklah orang-orang yang bertubuh besar,kulit hitam, mata merah dan banyak Tato. Gadis itu bisa menghitung jumlahnya mungkin ada lima belas orang, dikeadaan begitu gadis itu masih saja sempat berhitung.
Orang-orang hitam itu berdiri sambil berjajar sangat rapih, tak lama terdengar lagi suara langkah kaki. Muncullah orang yang sedikit putih, memakai jas rapih berjalan kearah Dinda dengan gaya Arogant.
Seketika membuat Dinda membulatkan kedua matanya " paman"batin Dinda. Tidak menyanggka bahwa pamannya yang menculiknya. Karna Dinda belum tau siapa dalang dibalik pembunuhan kedua Orang tuanya.
Srek....
Paman Dinda melepas paksa lakban yang ada dimutut Dinda membuat Dinda menjerit.
Awww.....
Dinda meringis menahan sakit, sungguh tidak menyangka paman yang selama ini Dinda banggakan ternyata Dia tidak lebih dari seorang Iblis menjelma menjadi manusi, bahkan mungkin Iblis juga akan takut sama dia.
"Apa yang paman lakukan, cepat lepaskan Dinda" teriak Dinda menatap kebenciaan.
Ha... ha....
Paman Dinda tertawa siapa saja yang mendengarnya tawa itu terdengar menyeramkan bahkan para bodigar hitam itu juga bergidik ngeri mendengarnya.
brak....
Paman Dinda melempar dokumen keatas meja yang ada dihadapan Dinda.
"Tandatangan dokumen itu, jika Kamu ingin lepas" ucap Paman Dinda menatap tajam Dinda.
" Dinda tidak mau... " tolak Dinda
"Tanda tangan kalau tidak kamu akan sama seperti orang tua dan kakek sialan mu" bentak Paman Dinda.
Membuat Dinda melotot menatap tajam kerahan orang yang disebut Paman memancarkan api kebenciaan dan permusuhan, tangan Dinda terkepal erat, matanya memerah bayangan kedua orang tuanya ditembak berputar ulang di memori Dinda membuat Dinda teriak histetis.
"Ah..... ah.... tidak akan ku bunuh kau... Papah, Mamah ah.... tidak... ah..... "
brak.....
Pintu ruangan itu terbuka muncullah sosok yang dari tadi mengepalkan tangan erat,urat rahangnya menonjol, kedua matanya memerah menatap tajam orang-orang yang ada diruangan itu yang tidak lain adalah Ilham di susul oleh Azam dan Fandi.
"Lepaskan dia" bentak Ilham menatap tajam pada Paman Dinda.
__ADS_1
Ha... ha.....
Paman Dinda malah tertawa melihat tiga cecunguk telah mengganggunya tawa itu berubah menjadi dingin dan tersenyum menyeringai salah satu matanya mengedip beriayarat habisi cecunguk pengganggu itu.
Para bodigar langsung maju menghalangi Ilham yang akan berlari menuju Dinda yang sedang di ikat.
Akhirnya terjadi juga perkelahiaan Tiga lawan Lima Belas orang masing-masing di kepung oleh lima bodigar. Dokter Ilham yang memang sudah babak belur sebelumnya menjadi semakin parah sedangkan Fandi dan Azam masih terus menghadang serangan para bodigar walau Fandi dan Azam mempunyai sabuk hitam tapi lawan mereka lumayan cukup kuat hingga membuat Azam dan Fandi kewalahan.
Salah satu bodigar yang melihat Azam lengah langsung menendang Azam lewat belakang membuat Azam langsung tersungkur, melihat Azam tersungkur membuat Fandi tidak bisa pokus apalagi menghadang bodigar yang akan menghabisi Ilham.Keadaan semakin memburuk Fandi dan Azam mulai kelelahan.
Bruk...
Fandi tersungkur karna mendapat bogem dari salah satu bodigar membuat bodigar itu tersenyum dan berjalan kearah Fandi,bodigar itu akan menendang Fandi melihat itu Azam langsung berlari dan menendang bodigar hitam itu.
Ah....
Geram bodigar karna Azam menendang rahangnya membuat bodigar itu sedikit pusing tapi sayang di saat Azam akan membangunkan Fandi punggung Azam di terdang lagi membuat Azam tersungkur mengeluarkan darah kental dari mulutnya.
Tiga cecunguk itu sudah tidak berdaya bangunpun sedikit susah melihat Azam, Fandi dan Ilham babak belum membuat Dinda semakin menjerit menggoyang-goyangkan kursi yang mengikatnya. Melihat itu pembuat Paman Dinda geram.
Plak....
Tamparan manis mendarat di pipi mulus Dinda membuat Dinda tersungkur.
Bruk....
Dinda meringis kesakitan tapi dengan susah payah dia menahannya kedua mata Dinda berubah jadi gelap tidak ada cairan bening lagi yang keluar selain tatapan membunuh.
Dor....
Suara pistol terdengar nyaring di ruangan kotor itu,membuat Paman Dinda berhenti berjalan.Sedangkan para Bodigar begitu terkejut.
"Angkat tangan kalian" teriak polisi Menodongkan senjata membuat para Bodigar mengangkat tangan begitupun Paman Dinda.
Para tim langsung mengamankan lima belas bodigar hitam itu.
"Jangan mendekat... " teriak Paman Dinda menodongkan pistol kearah Dinda membuat salah satu tim polisi langsung berhenti, harus hati-hati karna lawannya sedang bermain-main.
Komandan polisi berjalan mendekat sambil menodongkan pistol kearah Paman Dinda.
"Jangan mendekat.. kalau tidak Gadis ini Saya tembak" teriak Paman Dinda sambil bersembunyi di belakang Dinda.
Komandan bukannya berhenti malah semakin melangkah membuat Paman Dinda menekan platuk.
Dor....
"Ahhhh.... " teriak Dinda memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
" Lepas... " Paman Dinda memberonta ketika tim menyeret Paman Dinda. Komandan menembak tepat sasaran mengenai bahu Paman Dinda, karna seseorang jika di gretak maka nafasnya tidak akan teratur otomatis akan naik turun karna itu membuat komandan mengarahkan pistolnya tepat di bahu Paman Dinda sehingga mengenainya.
Dengan jalan tertatih Ilham mendekati Dinda dan membuka tali yang mengikat gadis itu sontak dokter Ilham memeluk Dinda erat entah kenapa hatinya sakit melihat keadaan Dinda.
Gerakan Ilham membuat Dinda membuka kedua matanya Dinda kira dia sudah mati melayang entah kemana padahal itu tarikan dokter Ilham.
Seketika tangisan Dinda pecah" hik... hik... " di pelukan Ilham tubuhnya bergetar hebat.
Semua orang keluar meninggalkan gedung tua itu.
"Terima kasih pak sudah datang tepat waktu" ucap Azam kepada komandan polisi.
"Sama-sama pak Azam itu sudah menjadi tanggung jawab saya dan tim, dan saya juga minta maaf sedikit terlambat"
Para polisi pun membawa para bodigar itu kedalam mobil sedangkan Paman Dinda dibawa kemobil yang berbeda karna dia adalah ketuanya.
Sedangkan Ilham membawa Dinda kerumah sakit menggunakan mobil polisi karna takut mental Dinda terguncang lagi.
Azam dan Farhan kembali ke Bandung lagi mungkin mereka akan memahan waktu tiga atau empat jam untuk sampai ke Bandung apalagi dengan keadaan mereka yang tidak memungkinkan dan mungkin mereka akan tiba malam hari.
Azam dan Fandi gantiaan menyetir karna lelah sesekali berhenti untuk ngisi bensin, makan dan ke merjid atau istirahat sejenak karna takut terjadi apa-apa di jalan.
Dada Azam sedikit sesak tapi dia menahannya tidak mau membuat Fandi kewatir mungkin akibat tendangan bodigar tadi cukup keras membuat Azam muntah darah apalagi Azam baru tlanvusi ginjal.
Tepat jam sepuluh malam Azam sampai di kota Bandung langsung menuju rumah Fandi dulu karna memang menuju rumah Azam harus melewati perumahan tempat Fandi.
"Hati-hati Zam" ucap Fandi sudah turun dari mobil karna sudah sampai di rumahnya.
"Iya Ka" jawab Azam langsung melajukan mobilnya lagi sesekali Azam menguap rasa kantuk menghantuinya membuat Azam extra menahannya karna sebentar lagi sampai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.bersambung......