
Rahma terus mondar mandir antara pergi atau tidak kalau pergi Rahma masih sakit membayangkan datang pas masuk Azam sedang dirawat oleh wanita lain sesak sekali itu cuma membayangkan saja bagai mana kalau beneran dan kalau pun tidak pergi masalah ini akan semakin runyam tak terkendali.
Disaat seperti ini jalan satu-satunya harus Rahma mengalah menurunkan egonya karna tak mungkin menunggu Azam datang kerumah sedangkan dia lagi sakit.
Rahma menarik nafas dalam dan membuangnya kasar "huhhfff" dia mengambil kunci mobil,tas dan dompet melangkah keluar. Sudah Rahma putuskan apapun yang terjadi dia harus bisa kuat.
Dengan perasaan campur aduk Rahma membelah jalan yang cukup ramai oleh kendaraan entah apa yang sedang Rahma pikirkan hingga Rahma tak melihat ada yang mau menyebrang jalan alhasil.
Cittttt......
Rahma menginjak rem jantungnya berdetak sangat kencang karna terkejut dan buru-buru keluar memastikan bahwa wanita yang ada di depan mobil Rahma baik-baik saja atau tidak.
"Astagfirullah bak gak papah... " ucap Rahma panik menghampiri wanita yang menunduk menahan perutnya yang membuncit mungkin wanita itu juga kaget..
"Saya gak papah bak.. " ucap wanita itu.
"Sini biar saya ban.... "
Deg....
Jantung Rahma yang belum normal kini berdetak lebih kencang melihat wajah wanita yang hampir dia tabrak wanita itu juga sama matanya melotot sempurna melihat wanita yang hampir menabraknya entah apa yang harus Rahma perbuat Rahma hanya mematung tak bergeming sama sekali.
"Ah... "jerit wanita itu ketika mau melangkah kakinya terasa ngilu memang mobil Rahma berhenti tidak mengenai kakinya tapi karna terkejut wanita itu keseleo.
Rahma yang mendengar ringisan wanita hamil yang ada dihadapannya langsung tersadar dalam lamunannya dia begitu ngilu melihat ibu hamil yang kesusahan berjalan.
Rahma bingung apakah dia harus membantu atau membiarkan saja wanita yang membuatnya sakit hati.
"Bak... mari saya bantu" pada akhirnya Rahma membantu wanita itu walau hatinya teriris tapi Rahma berusaha membuang amarahnya.
"Emmmz bak.... "ucap wanita sedikit tersentak karna Rahma membantunya berjalan dan menuntun nya duduk di sebuah kursi di pinggir jalan perlakuaan Rahma yang lembut membuat wanita itu tidak enak hati "sepertinya bak ini baik hati"batin wanita itu.
Kenapa Rahma membantunya? membantu wanita yang membuat rumah tangga dirinya hancur,bahkan Rahma melerakan tangannya memijit kaki wanita itu yang sakit walau wanita itu awalnya menolak tapi Rahma memaksanya karna kasihan, Rahma hanya mengikuti nalurinya membantu sesama manusia.
Sesudah memijit mata Rahma menatap perut buncit wanita itu tiba-tiba dadanya kembali sakit, kedua matanya sudah mengeluarkan cairan bening tampa izin dari pemiliknya sungguh Rahma tidak kuat dia langsung berdiri melangkah meninggalkan wanita itu .
Baru satu langkah Rahma melangkah dan langsung memberhentikan langkahnya kembali karna tangan kanannya di cekal erat.
" Maaf bak... "ucap wanita itu gemetar.
" Apa yang bak lihat waktu itu... semuanya... tidak benar.. maafkan saya bak... say... "
"Apa maksudnya tidak benar... " potong Rahma sambil berbalik menatap tajam wanita yang ada dihadapannya itu membuat wanita itu langsung diam karna ketakutan dia langsung menunduk gemetar.
" Jelaskan apa yang terjadi" ucap Rahma dingin tak ada kelembutan lagi .
Wanita itu memberanikan diri mendongkak melihat Rahma kedua matanya dari tadi sudah berair Rahma duduk di sebelah wanita itu dengan tatapan lurus kedepan menunggu apa yang wanita itu akan katakan.
" Sebenarnya saya tidak kenal suami bak.. maafkan saya yang sudah membuat bak salah faham sungguh saya terpaksa bak...karna saya butuh uang untuk biyaya oprasi ibu saya dan biyaya cekup kandungan saya... sekali lagi saya minta maaf bak.... "
"Sungguh saya terpaksa bak.... "
__ADS_1
Rahma memejamkan kedua matanya, tanganya mengepal erat mencengkram baju gamisnya,hatinya begitu sakit seperti ada ribuan pisau tumpul yang menyayat-nyayat hatinya.
Dari tadi cairan bening terus bermunculan tak henti-henti pikiran Rahma begitu linglung tak tau kemana mendengar kenyataan yang ada.
Rahma langsung mengusir wanita itu ketika sudah menceritakan semuanya karna tak mau meluapkan emosinya walau sebenarnya Rahma ingin marah pada wanita itu yang sudah merenggangkan tali rumah tangganya tapi Rahma juga sedikit terenyuh karna kondisi wanita itu.
Dengan berat hati wanita itu pergi meninggalkan Rahma yang mengepalkan tangannya erat hingga memutih membuat wanita itu sedikit takut.
"Mas.. " gumam rahma pada dirinya sendiri.
Seketika membuat Rahma tersentak mengingat bahwa suaminya lagi sakit Rahma langsung berlari kearah mobil dan menyalakannya.
"*D*ek... Mas mohon jangan marah pada Mas... soal pekerjaan Mas bisa jelasin semuanya.... tapi kalau tuduhan Ade mengatakan kalau Mas selingkuh... itu tidak benar... Mas sungguh kecewa Dek... ketika Ade mengatakan itu.... "
" Ingat... dek... apa yang kita lihat atau dengar tentang keburukan seseorang... itu belum tentu kebenarannya.... Tabayyun lah.. "
" Sekali lagi Mas minta maaf... sungguh Mas tidak melakukan perbuatan keji itu... Mas.. pamit kekantor dulu..Mas mencintai ade karna Allah.... "
"Mas bisa jelaskan semuanya... Dek... "
"Jangan mendekat.... "
"mlMas mohon..Ade.. percaya sama Mas... mmas tidak mungkin berbuat perbuatan keji itu...Ade percaya kan.. "
"Maafkan Ade mas.. " gumam Rahma dengan isakannya mengingat ucapan sang suami yang terus berputar di kepalanya.
"*B*agai mana Aku bisa percaya... Ka... apalagi berita itu sudah tersebar luas..."
"*I*tu... tidak seperti yang Ade pikirkan....Mas.. "
*P*lak....
"Apa yang ku lakuka dengan tangan ini" teriak Rahma "Ah... "
" *J*ika kakak tak mau pergi.. biarlah Adek yang pergi.... "
"*J*angan... "
Ucapan Azam terus terngiyang-ngiyang di telinga Rahma bayangan Azam yang terus berusaha menjelaskan selalu Rahma tolak karna tersulut emosi hingga sampai pertengkaran,hinaan dan tamparan Rahma berikan pada Azam.
"Apa yang telah Aku lakukan ya robb" jerit batin Rahma sambil membekam mulutnya sendiri saking sesaknya.
"*B*aik lah... Mas akan pergi... satu hal yang perlu Adek ingat.... apa yang kita lihat atau dengar itu belum tentu... yang sebenarnya.. dan mas... hanya mencintai ade... jika allah sudah menunjukan kebenarannya jangan cari... Mas.. "
Air mata Rahma terus bercucuran ketika Rahma mengingat kata-kata terakhir yang Azam ucapkan.
"*J*ika Allah sudah menunjukan kebenarannya jangan cari... Mas.. "
"Tidak Mas... tidak.... " jerit Rahma sambil menyetir dari tadi Rahma menyetir hampir saja membuat kecelakaan karna pikirannya melayang kemana-mana.
Sesekali Rahma menyeka air matanya karna menghalangi tatapan arah jalan.
__ADS_1
"Maafkan kesalahan Adek Mas... Mas pasti sakit atas tindakan Ade... "
"mlMaaf Aas ah.... bodoh.. bodoh... Astagfirullah ya robb"
Rahma berlari seperti orang gila kedalam rumah sakit mata sembab, baju kusut, jilbab sudah tak berbentuk menghampiri sang revsesionis.
"Maaf bak pasien atas nama Muhamad Khoerul Azam dimana? "tanya Rahma tak sabaran.
"Bentar bak.. " jawan revsesionis sedikit tersentak melihat penampilan Rahma.
"Ruang melati No 122 bak dari sini belok aja bak.. "
"Rerimakasih Bak" ucap Rahma langsung berlari.
Seketika Rahma langsung berhenti melihat mamah dan ayah Azam menangis sambil berpelukan.
Dada Rahma kian berdetak memakin kencang sungguh sesak sekali.
Deg....
Rahma seolah-olah disihir mematung tak bergeming sama sekali mendengar teriakan dokter dan suster wajah pucat tak berdaya keluar ruangan didorong melewati Rahma membuag jantung Rahma berhenti berdetak karna saking sesaknya sekedar mengucap pun susah seperti tercekik.
Kedua matanya yang berair mulai berkabut tebal hingga kegelapan menyerang.
"Bruk...."
"Rahmaaa.... "
"Astagfirullah.."
jeng... jeng... jeng.......
bersambung............
...----------------...
ok.. ok.....
udah dulu yah up nya
jangan lupa kasih
**like
komen
vote
ok
terimakasih**......
__ADS_1