Takdir Illahi

Takdir Illahi
#38


__ADS_3

..."*Jalan manakah yang harus Aku ambil...


...sungguh membuat Aku bingung...


...ujian ini membuat Aku buntu...


...untuk berpikir yang baik...


...ingin rasanya Aku menyerah...


...tapi hati kecilku berkata tidak"...


...*Rahma qolayuby**...


...****************...


Di sebuah kamar seseorang masih betah dengan tidurnya membuat sang ibu begitu cemas muka ceria yang selalu nampak kini begitu pucat seperti mayat,tak ada senyuman, tak ada tawa, tak ada ocehan, tak ada tingkah manja yang ada hanylah tubuh ramping tak berdaya.


"Emmmmz" gumaman kecil akhirnya keluar dari bibir mungil gadis yang sendari tadi tertidur tepatnya pingsan.


"Nak kamu sudah bangun.. "ucap bunda Fatimah terlihat dari raut wajahnya yang diliputi kekewatiran dan kesedihan .


Bunda Fatimah menbantu Rahma untuk bangun dang menyenderkannya di senderan ranjang.


"Minum dulu nak" bunda Fatimah menyodorkan air putih kepada Rahma dan langsung di sambut oleh Rahma.


"Terimakasih bunda... "ucap Rahma.


"Makan dulu yah... dari pagi kamu belum makan"ucap bunda Fatimah sambil mengambil mangkuk bubur yang sudah dari tadi bunda Fatimah buat.


"Terimakasih bun.. tapi biar Rahma aja... " Rahma tak enak merepotkan bundanya.


"Gak papah nak... biar bunda suapin... kan kangen bunda udah lama gak suapin kamu... " kekeh bunda Fatimah mau tak mau Rahma mengangguk pasrah.


"Aaaaa.... "


Suap demi suap Rahma telan walau sebenarnya rasanya pahit tapi tetap saja Rahma menelannya karna gak mau lihat bunda nya bersedih.


Akhirnya Rahma bernafas lega bubur nya sudah habis dia telan walau itupun harus menahan rasa pahit dan mual.


"Bunda Rahma ikut bunda pulang yah.... " cicit Rahma sambil menunduk takut.


Bunda Fatimah hanya menatap sayu anak bungsu nya ternyata dia masih anak manjanya.


"Tidak.. " tegas bunda Fatimah.


" Tapi bun Rahma ta... " Rahma menjeda ucapannya karna rasa sakit itu datang lagi ketika dia mengingat bayangan Azam sedang membantu wanita hamil itu.


Bunda Fatimah memegang kedua pundak anak nya lembuat membuat Rahma mendongkak melihat bunda nya yang sedang menatap nya serius.


" Apa kamu yakin nak... bahwa Azam melakukan perbuatan itu"

__ADS_1


Deg....


Rahma bingung harus menjawab apa karna dia rendiri pun masih bingbang antara percaya atau tidak.. tapi berita itu Rahma tau dari sahabatnya sendiri yang begitu Rahma percaya.


Melihat keterdiaman anaknya bunda Fatimah faham akan situasi ini"dengarkan bunda nak... kamu sudah menjadi seorang istri yang harus patuh pada suamimu, apapun ujian yang menimpa kalian kamu harus bisa menyelesaikan nya sendiri karna bunda tak bisa ikut campur kedalam masalah kalian... tapi bunda hanya menasehati... walau sejujurnya bunda marah dan sedih melihat anak bunda begini dan ingin bunda membawa pulang kamu tapi itu tidak mungkin sama saja bunda sudah membawamu kejurang dosa keluar tampa izin suamimu bunda tidak mau itu terjadi... selesaikanlah masalah kalian dengan baik-baik jangan dengan emosi karna itu tidak lah baik... apa pun keputusan kalian bunda akan menunggu.. jika masih bisa di perbaiki perbaikilah... tapi kalau tidak maka bunda akan menunggu kamu dirumah jika memang Azam mengembalikan kamu pada bunda... "


Rahma hanya bisa diam mencerna setiap kata yang bundanya katakan ada rasa damai dan sakit secara bersamaan namun Rahma enggan untuk mengeluarkan sebuah suara untuk membalas perkataan bundanya.


"...Emmmz.. tadi abang Farhan pamit karna harus kekampus" ucap bunda Fatimah mengalihkan pembicaraan ketika melihat anak nya hanya diam tak bersua.


Walau Farhan dosen di kampus Rahma tetap saja mereka jarang bertemu karna Farhan mengajar di gedung berbeda.


" Bunda harus pulang dulu yah.. "


"Tak bisakah bunda nginap di sini... " ucap Rahma memohon membuat bunda Fatimah tersenyum sikaf manjanya mulai keluar lagi.


"Ingat kata bunda harus selesaikan masalah kamu jangan terus emosi karna itu tidak bagus... " lagi-lagi bunda Fatimah tersenyum anaknya mengangguk patuh.


" Yasudah bunda pulang... jaga diri baik-baik... "


"Cup.. "


"Assalamualaikum... "


"Waalaikumsalam... " jawab Rahma.


Rahma hanya menatap nanar punggung bundanya hingga hilang di balik pintu.


Akankah Azam akan pulang untuk membujuk nya dan menjelaskan semuanya kini Rahma hanya akan menunggu dan berusaha mempersiapkan hatinya.


Sungguh Rahma tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia rindu akan dekapan sang suami, suasana canda, romantis, jahil dan semua yang ada di diri Azam.


Tapi lagi-lagi ego menguasai Rahma membuat Rahma enggan untuk mengakui .


Menit terus berputar menjadi jam, dan jam trus berputar menjadi hari hingga sudah satu minggu Azam masih belum kembali untuk menjelaskan membuat Rahma terus berpikir buruk tentang Azam " apa kamu benar-benar selingkuh Mas ? sudah satu minggu kamu gak pulang " batin Rahma menjerit membayangkan Azam tersenyum, bermesraan dan hidup bahagia bersama wanita lain membuat Rahma kian sesak .


Jika benar itu terjadi bagai mana nasib Rahma selanjutnya bohong jika Rahma tak menginginkan Azam pulang.


"Hik... sakit Mas... apakah Mas benar akan membuangku ? kenapa Mas tega lakukan itu padaku... apa Mas mau balas dendam karna dulu Rahma tak mencintai Mas.. hingga Mas mendua.. sakit Mas.... " rancu Rahma terus menangis dan memukul-mukul dadanya yang sesak.


Pikiran-pikiran buruk terus menjadi tentang Azam hingga suara ketukan pintu membuat Rahma terperanjat kaget dan buru-buru menghapus air matanya.


Rahma langsung berjalan kearah pintu siapa sore-sore yang bertamu mungkinkah Azam sang suami jika benar apa yang harus sikap Rahma tunjukan, langsung marah kah atau hanya memberi expresi biasa menunggu Azam menjelaskan nasehat sang bunda benar-benar mempengaruhi emosi Rahma.


"Cklek... "


Rahma mebuka pintu dengan hati waswas nampak lah seseorang tersenyum ramah yang sedang duduk di kursi roda dan orang yang berdiri di belakangnya membuat rahma melebarkan penglihatannya kedua matanya kembali berkaca-kaca tapi sangat sulit bagi Rahma menggerakan kedua kakinya .


"Wssalamualaikum sayang... "


"Waalaikumsalam M.. ma.. mah... " jawab Rahma sedikit tersentak dalam lamunannya oleh pegangan lembut di tangannya.

__ADS_1


"Bruk.... "


Rahma langsung memeluk mamah Zenab tepatnya sang mertuanya dan langsung mencium punggung tangan kedua mertuanya dan mempersilahkan masuk.


Suasana hening tiga manusia itu tidak ada yang berbicara mereka duduk di tempat masing-masing di ruang tamu.


" Nak mamah dan ayah sudah tau masalah kalian.. " ucap mamah Azam membuat Rahma mendongkap menatap mertuanya.


" Mamah sakit apa ? kenapa ada di kursi roda dan muka mamah pucat.. " ucap Rahma mengalihkan pembicaraan karna belum sanggup mendengar kenyataan bahwa Azam benar-benar! membuat mamah Azam mengerti.


" Mamah keserepot motor tapi.. tidak papah sebentar lagi sembuh"


"Astagfirullah... maafkan Rahma mah Rahma tidak tahu" ucap Rahma merasa bersalah.


"Tidak apa-apa nak... "


Hening.....


Kembali hening lagi karna Rahma bingung harus berkata apa lagi sedangkan ayah Azam hanya diam tak sedikitpun bicara.


" Mamah tau pasti kamu kecewa siapa suamimu sebenarnya begitupun mamah dan ayah kami berdua begitu kecewa sebagai orang tua karna baru tau kalau Azam mempunyai perusahaan yang cukup besar kami berdua tau pas ada berita di media"


Jleb....


Hati Rahma mencelos mendengar penuturan mertuanya bagai mana bisa orang tua sendiri tak tau pekerjaan anaknya sendiri ternyata Azam berbohong bukan pada dirinya sendiri tenyata termasuk dengan orang tuanya sendiri Azam bohongi,membuat perasaan Rahma kian menjadi sakit .


" Datanglah kerumah sakit Merlinda suamimu lagi sakit ...mamah sama ayah pulang dulu.. Assalamualaikum.. "


Deg....


"Waalaikumsalam " tinggallah Rahma seorang diri lagi ucapan mertuanya terus berputar ulang di memori otaknya Mendengar sang suami sakit dan dirawat membuat Rahma kewatir tapi kekewatiran itu hilang seketika diganti sesak dan sakit jika membayangkan yang merawat Azam bukan dirinya tapi orang lain.


Apa yang harus Rahma lakukan sekarang, apa menjenguknya atau membiarkan saja seolah-olah Rahma tak peduli sungguh Rahma benar-benar begitu perustasi.


Tapi Rahma juga sedikit bingung kenapa mamah dan ayah mertuanya tidak membahas masalah perselingkuhan Azam mereka berdua datang hanya memberi tahu kalau Azam sakit dan memintanya untuk menjenguk hanya itu tak lebih apa mertuanya tau masalah itu atau benar-benar tidak tau.


Sungguh banyak pertanyaan di kepala Rahma tapi tidak ada satupun yang terjawab.


...----------------...


sudah bacanya he...


jangan lupa


like


komen


vote


jangan lupakan itu yah..... ok

__ADS_1


terimakasih......


__ADS_2