Takdir Illahi

Takdir Illahi
#43


__ADS_3

Hujan semakin deras membasahi kota Bandung teriakan hujan sangat nyaring terdengar mengusik tidur seorang gadis yang dari tadi tidur seolah-olah memberi isyarat untuk bangun lihatlah aku yang menunggu kamu bercerita kepada setiap aliran air hujan yang mengalir supaya beban yang ada pada diri gadis itu hilang terbawa aliran hujan tampa menyisakan jejak.


Perlahan gadis itu mengerjap-ngerjap kedua matanya yang hazel menyesuaikan cahaya yang terang karna terlalu banyak menangis membuat sang gadis berat membuka mata dengan sempurna di tambah lagi rasa pusing berputar dikepalanya.


Matanya menyipit megelilingi seluruh ruangan tidak ada satupun manusia yang ada di dalam ruangan itu kecuali gadis itu sendiri dan beberapa benda yang ada diruangan itu.


"Bunda sama bang Farhan kemananya? " tanya gadis itu lilir pada dirinya sendiri.


Tangan mungil itu perlahan menyibakan selimut gadis itu turun dari ranjangnya berjalan perlahan kearah jendela melihat rintikan hujan yang sangat banyak menghapus jejak-jejak langkah kaki dan para kendaraan yang lalu lalang tampa sisa.


" maafkan aku mas" gumam gadis itu menatap sendu karah luar jendela yang masih hujan seolah curhat pada hujan bahwa gadis itu meminta tolong hanyutkan dia supaya tak terbelenggu dengan rasa bersalah dan penuh penyesalan.


Gadis itu tidaklah sadar bahwa yang dia perbuat atau inginkan hanya akan menyakiti dirinya sendiri dan orang yang sangat menyayanginya.


" Mas.. pantas mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari Adek... " gumam gadis itu lagi seakan berbicara pada sosok yang dia sebutkan padahal gadis itu hanya menatap kosong rintikan hujan yang mulai mereda.


" Nak... "


Rahma berbalik sambil tersenyum menutupi kepahitannya mendengar suara lembut memanggilnya siapa lagi kalau bukan sang Bunda tersayang.


" iya Bun... " ucap Rahma mendekati brankar yang dimana ada sang Bunda.


"sedang apa disitu sayang... "


"emmmz Rahma cuma lihat hujan jadi kangen hujan-ujanan Bun... "


Bunda Fatimah diam sejenak melihat exfresi anaknya yang berusaha tersenyum seolah-olah dia mau menunjukan bahwa dia baik-baik saja.


Tapi gadis itu lupa bahwa seorang ibu tidak bisa dibohongi karna kepekaan dan ikatan batin seorang ibu sangat kental.


"Kamu bisa aja.. ha.. ha... " timpal bunda Fatimah sambil tertawa merusaha bergurau mengikuti apa yang anaknya lakukan.


"Rahma mau pulang Bun... " kini ucapan Rahma berubah jadi dingin dan tegas kembali membuat bunda Fatimah menghentikan tawanya dan menatap lekat putri kesayangannya.


" kenapa Nak ?... padahal bunda punya kejutan.. " ucap bunda Fatimah antusias.

__ADS_1


"emang apa Bun kayanya senang banget.. "


" suamimu sudah sadar Nak... ayo ibu antar kekamarnya.. " bunda Fatimah begitu semangat mengatakannya dan memegang tangan Rahma supaya ikut dengannya.


Tapi yang di tarik malah diam membuat bunda Fatimah mengerutkan keningnya " kenapa Nak.. apa kamu tidak senang suamimu sadar.. " bunda Fatimah bertanya lembut.


" bukan itu Bun.. justru Rahma senang mendengar mas Azam sudah sadar... malah senang banget... "


" trus kenapa putri Bunda tidak mau Bunda ajak... itukan yang mau Rahma dari kemaren bertemu Azam... "


Kini Rahma diam tak menjawab ucapan bundanya ingin rasanya Rahma berlari menuju sang suami dan memeluknya erat seolah takut kehilangan menyalurkan rasa rindu yang menyesakan tapi apalah daya semuanya hanya angan dirinya tidak pantas dengan apa yang dia lakukan.


Dia hanya memberi luka dan kekecewaan pantaskah dia bersanding lagi dengan Azam sudah banyak kesalahan yang dia perbuat sungguh istri yang tak pantas di sebut istri.


" Rahma gak bisa bun.. " akhirnya ucapan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Rahma.


"Astahfirullah Nak.. apa yang kamu katakan.. "


"Tolong Bunda mengetri.."


" Tidak Bun Rahma tidak pantas mendapatkan maafnya.. hik.. " lolos sudah air mata yang sendari tadi Rahma tahan sangat sakit mengatakan itu tapi apalah daya dia juga sungguh merasa malu menampakan wajahnya.


Deg...


Bunda Fatimah sangat terkejut ternyata frediksinya salah dikira anaknya akan sangat senang mendengar kesembuhan Azam dan ingin bertemu tapi ini malah sebaliknya Putrinya menyiksa lagi dirinya sendiri dengan menghindar.


Bunda Fatimah melupakan apa yang terjadi saking senangnya mendengar Azam sudah memaafkan dan kini harus bagai mana? .


"Jangan siksa dirimu lebih dalam lagi Nak.. " bunda Fatimah memeluk erat anaknya.


"Hik... Bun bawa Rahma pulang... tolong mengertilah hik.... hik.... "


Kalu Rahma sudah membuat keputusan membuat bunda Fatimah jadi bingung bagai mana lagi cara membujuk anaknya kalau dipaksa takut Rahma akan nekad bunda Fatimah tau bagai mana watak anaknya yang keras kepala.


Genangan air dijalanan sisa dari air hujan yang menggenang membuat para kendaraan lambat melajukan mobilnya karna banyak orang pejalan kaki yang lalu lalang.

__ADS_1


Rahma hanya menatap kearah luar jendela kaca mobil yang Farhan kemudikan.Kosong itulah tatapan Rahma entah apa yang sedang dia pikirkan hanya dia dan tuhan yang tau.


Sesekali Rahma menyeka air matanya yang keluar membuat bunda Fatimah menatap sendu Putri kesayangannya.


Karna terpaksa akhirnya bunda Fatimah menyetujui anaknya pulang walau dengan berat hati tapi mau bagai mana lagi bunda Fatimah juga tidak mau terjadi apa-apa pada anaknya mungkin sekarang anaknya lagi butuh sendiri untuk menenangkan pikirannya dengan syarat Rahma harus pulang kerumahnya bukan kerumah Bundanya.Farhan hanya diam tak mau mengeluarkan sepatah katapun takut salah bicara .


Sedangkan Zam-zam dia sudah pulang kejakarta lagi karna banyak pasien yang menunggu tidak bisa lama-lama meninggalkan rumah sakit.


Mobil yang di kendarai Farhanpun berhenti tepat di depan rumah Azaml" jangan dibangunkan Bun biar Abang saja yang gendong.. " ucap Farhan pelan mencegah bundanya membangunkan sang adik yang tertidur bunda Fatimah hanya mengangguk saja.


Dengan pelan Farhan menggendong adiknya tidak terlalu susah karna rumah Azam tidak memiliki tangga hanya rumah sederhana dengan gaya klasik tapi cukup luas tapi kalau di bandingkan rumah bernuasa modern yang berlantai dua tetap kalah dengan luasnya rumah Azam tiga kamar, satu ruangan kerja, satu dapur, ruang makan, ruang kelurga, ruang tv ,halaman yang luas,kolam renang dan sedikit taman tempat santai Azam dan Rahma.


Perlahan Farhan meletakan adiknya pelan takut terbangun.Farhan menarik selimut guna menyelimuti adiknya karna cuaca sangat tiding sehabis hujan.


"Bun Farhan pulang dulu yah... " ucap Farhan menghampiri bundanya yang sedang ada di dapur.


" Iya Nak hati-hati... salam sama istrimu katakan pada azka Nenek kangen.. " Farhan mencium punggung tangan bunda Fatimah dengan khidmah.


"Assalamualaikum "


"Waalaikumsalam... " .


Bunda Fatimah meneruskan lagi kegiatannya membuat bubur untuk anaknya sesekali bunda Fatimah membuang nafas kasar " yah... maafkan Bunda tidak bisa menjaga anak kita..." batin bunda Fatimah sambil menyeka air mata yang keluar.


"Andai ayah ada tentu Rahma akan mendengarkan perkataan ayah... maafkan Bunda yah... "


Itulah seorang ibu selalu menyalahkan diri sendiri dengan apa yang terjadi pada anaknya padahal itu bukan salahnya.


Menjadi ibu yang baik adalah keinginan semua orang hanya saja tidak semua orang beruntung.


.


bersambung......


kalau suka ceritanya dukung dengan like, komen, vote yah....

__ADS_1


__ADS_2