
..."*S*ungguh berperan dalam kebohongan...
...sangat sakit...
...tapi apalah daya...
...*A*ku jauh lebih sakit yang menciptakannya"...
...**R*ahma qolayuby*...
...*******...
Dari kejadian itu hubungan Azam dan Rahma semakin ada perubahan mereka sudah saling mengungkap rasa yang ada di hati mereka, tepatnya Rahma yang melakukan itu karna sering sekali Rahma bermimpi buruk akan ditinggalkan, membuat Rahma sedikit trauma akan kata "Ditinggalkan".
Dua orang yang sangat berarti bagi Rahma mereka telah pergi menghapus jejak tapi kenangan mereka tetap melekat di dalam lubuk hatinya, membuat Rahma harus melawan rasa takut seorang diri dari kejadian itu Rahma selalu bermimpi akan ditinggalkan membuat dia kian takut .Sehingga membuat Rahma berusaha membuka hatinya untuk Azam dengan cara bersikap hangat.
Tidak ada yang tau apa yang Rahma rasakan, dia berjuang seorang diri untuk menghilangkan trauma dan rasa takutnya. Rahma pikir itu tak perlu di ceritakan dia tak mau membuat bundanya sedih apa lagi membuat Azam kecewa yang sudah menaruh banyak harapan besar padanya.
"Dek.. pulang kampus jam berapa?"
Ucapan azam membuat Rahma memberhentikan gerakannya yang akan keluar dari mobil dan berbalik lagi menatap sang suami.
"Jam tiga Mas.. memang kenapa? "
"Ma'af.... Mas tak bisa jemput Adek,Mas harus lembur hari ini"ucap Azam dengan nada lemah.
"Gak papah Mas, Adek bisa naik naksi"
"Yasudah semangat belajarnya"
"Terimakasih Mas"
Rahma pun langsung turun dari mobil berjalan masuk kedalam dikejauhan sudah ada Dinda melambai-lambaikan tangan sambil tersenyum.
Sedangkan Azam langsung melajukan mobilnya lagi keperusahaan yang dia bangun hasil jerih payahnya sendiri.Hari ini pekerjaan Azam begitu numpuk, perusahaan Azam memang tidak terlalu besar seperti perusahaan lain, tapi bagi seorang pengusaha wajib memberikan jempol kepadanya sudah lima tahun dia merintis dan hasilnya memuaskan banyak Insvetor yang ingin kerja sama dengan perusahaan Azam.
Apa lagi skil Azam yang sangat bagus,sikapnya yang ramah membuat semua pembisnis menyukainya apalagi Azam selalu merendah dan tak membeda-bedakan karyawannya mau itu muslim atau non muslim.
Tapi tak sedikit juga yang sinis atau iri karna keberhasilan Azam. Begitulah dunia bisnis bersaing harus kuat mental 100% jangan setengan-setengah.
Sudah memasuki jam pulang kampus benar saja Azam tak bisa menjemputnya membuat Rahma berdiri menunggu taxsi lewat.
"Rah nunggu jemputan yah"Rahma berbalik keasal sumber suara dan tersenyum.
__ADS_1
"Nunggu taxi Din"membuat Dinda mengerutkan kening bingung.
"Mas Azam ngabarin Aku, katanya gak bisa jemput pekerjaannya banyak"
Penjelasan Rahma membuat Dinda mengerti "emang ka Azam kerja apa? "
Jlep.....
Rahma menelan selavinanya sendiri dia bingung harus jawab apa jujur saja Rahma tak tau apa pekerjaan suaminya sendiri Rahma hanya cengengesan menunjukan deretan giginya yang putih, tingkah Rahma membuat Dinda langsung mengerti.
"Aw... "ringis Rahma keningnya di sentil Dinda.
"Kamu jadi istri masa gak tau suami mu kerja apa? ada-ada aja"
"He... he... "
"Yasudah bareng Aku aja, sekalian pengen main he... "
Merekapun meninggalkan kampus sambil tertawa, tepatnya Dinda menertawakan tingkah gugup Rahma.
Tidak lama merekapun sampai di rumah Azam.
"Wow....amazing rumahmu klasik banget Ma"ucap Dinda berbinar.
Dinda adalah manusia pecinta bunga jadi wajarlah dia akan bahagia walau sekedar lihat bunga yang sedang bermekaran.
"Wow... Rah ka Azam tau aja desain rumah yang bagus"Rahma hanya tersenyum sesekali geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Dinda.
lama mereka berbincang akhirnya Dinda memutuskan pulang karna hampir magrib. Sudah jam sembilan malam Azam belum pulang membuat Rahma cemas.
"Ah... "
Rahma memegang perutnya yang terasa melilit, dia berusaha berjalan kearah sofa tangannya masih memegang perut "apa sakit maag ku kambuh"gumam Rahma pada dirinya sendiri.
Derung mobil Azam terdengar tapi Rahma enggan beranjak perutnya semakin sakit membuat Rahma menangis.
Perlahan Azam membuka gagang pintu sambil mengembang kan senyum di bibir nya.
"Assalamualaikum" ucap Azam tapi tidak lama membuat Azam mengerutkan kening bingung karna tak ada jawaban "kemana Rahma"batin Azam. Perlahan Azam berjalan sayup-sayup Azam mendengar suara isakan membuat langkah Azam melebar menuju arah sofa dan kemudian mata Azam melotot.
"Astagfirullah Dek.. "ucap Azam panik dan langsung menjatuhkan benda yang ada ditangannya lalu berlari memdekap Tahma yang tengkurap dengan isakan dan tubuhnya bergetar.
"Kamu kenapa Dek,apa yang terjadi" ujar Azam lagi, Azam langsung mengangkat tubuh Rahma dan membawanya kekamar.
__ADS_1
"Ah... Mas perut Ade sakit... hik... sakit sekali"rancu Rahma sambil terus memegang perutnya, membuat Azam kalang kabut rasa kewatir menggerogotinya.
Dengan cepat Azam berlari mengambil air hangat dan mengomperkannya di atas perut Rahma, sudah setengah jam Azam melakukannya perlahan rasa nyeri yang menyerang perut Rahma berkurang isakan nya pun sudah berhenti. Azam memberhentikan gerakan tangannya dan menyimpan botol yang sudah dimasukan air hangat kedalamnya.
Azam menarik selimut sampai atas dada Rahma diusapnya kepala Rahma dengan lembut "kenapa Ade bisa kaya gini,apa Ade makan yang pedas-pedas di kampus?"ucap Azam dengan cepat Rahma menggeleng.
"Emmmz... tadi.. Adek makan mie sama Dinda"
"Sudah tau punya maag kenapa berani makan mie" gerutu Azam.
"Pengen"membuat Azam tak bicara lagi malah memerhatikan istrinya yang masih sedikit menahan nyeri.
"Jangan diulangi lagi"Rahma hanya mengangguk merasa bersalah sudah merepotkan Azam padahalkan Azam pasti lelah.
"Ma'af"
"Harusnya Mas yang minta ma'af gak bisa jaga Ade"
Rahma semakin bersalah pada dirinya sendiri, didalam keadaan apapun Azam selalu minta ma'af dan menyalahkan diri sendiri walau itu bukan kesalahannya seperti apa yang di ucapkan Azam tadi, kelembutan dan ketulusan Azam begitu terpancar bahwa Azam sangat menyayangi dan memcintai Rahma.
Sikap Azam yang di tunjukan membuat Rahma kian bersalah apalagi sampai sekarang dihatinya tetap sama, masih berada di jurang masalalu dada Rahma sesak kenapa sulit sekali membuka hatinya walau Rahma sudah berusaha bersikap hangat tetap saja Azam belum bisa merobohkan ding-ding hati yang terkunci.
Sungguh cinta pertama memang selalu kuat, apalagi didalamnya tak ada rasa sakit kalau didalamnya ada rasa sakit mungkin dengan mudah Rahma bisa melupakannya, apalagi sikap Azam yang selalu lembut tak pernah memaksa setiap wanita pasti ingin di perlakukan begitu.
Tapi beda dengan Rahma semakin Azam bersikap lembut semakin Rahma bertumpuk rasa bersalah kalau Azam tau tentang rasa yang sebenarnya apakah Azam akan mema'af kan nya membayangkan saja Rahma merinding.
"*Y*a rabb mudahkanlah hati ini untuk menerima, dan mencintainya jangan kau buat hamba selalu merasa bersalah, hamba sudah gak sanggup menyakitinya, hilangkanlah rasa yang terbawa pergi hadirkan dengan yang baru,hamba tau engkau mudah melakukannya"
Itulah yang setiap sujud panjang Rahma adukan kepada sang pencipta penggenggam hatinya . Rahma tau apa yang dia lakukan kalau Azam tau akan menghancurkan hatinya tapi sungguh bukan maksud Rahma begitu padahal jauh dilubuk hati Rahma dia juga sakit.
Rasa trauma yang sulit ditinggal dan sulit membuka hati membuat Rahma terus terjerat sendiri . sungguh sakit yang Rahma rasakan, dia juga tak mau seperti ini dia juga mau memberikan sepenuh hatinya kepada Azam namun entah apa? seperti ada sesuatu yang menghalang dihatinya yang Rahma belum mengerti.
...******...
**ok jangan lupa
follow
like
komen
votenya ok
__ADS_1
dukungan kalian membuat athor jadi semangat nulisnya**