Takdir Illahi

Takdir Illahi
#62


__ADS_3

Hoek...


Hoek...


Suara orang mual membangunkan Azam dan mendapati sang istri tidak ada di sampingnya. Azam langsung meluncar dari ranjang berlari kearah kamar mandi walau sebenarnya Azam sangat ngantuk tapi demi sang istri apapun Azam lakukan.


"Astagfirullah Dek" ucap Azam panik langsung masuk dan meraih lengan sang istri yang ingin mengambil handuk kecil untuk mengelap mulutnya. Azam dengan sayang membantu mengelap mulut sang istri dengan handuk kecil itu.


"Apa masih mual " ucap Azam yang kasiaan melihat muka sang istri yang sangat pucat, Rahma hanya menggeleng lemah. Azam perlahan memapah sang istri keluar kamar mandi dan menuntunnya ke arah ranjang.


" Tidur lagi yah" Rahma hanya mengangguk saja.


Perlahan Azam menyelimuti sang istri dan tubuh dirinya sendiri,tangan besar Azam mengelus-elus perut Rahma " jagoa'an jangan nakal ya kasiaan umi" gumam Azam pelan masih terdengar oleh Rahma.


Usapan Azam benar-benar membuat Rahma nyaman,Rahma memegang tangan besar Azam yang ada di atas perutnya dan membelitkannya ke belakang leher dirinya hingga tangan kekar Azam menjadi bantal Rahma.


Rahma menyusupkan kepalanya di dada bidang Azam mencari kenyamanan sedangkan Azam langsung memeluk tubuh lemas sang istri dengan sayang.


" Ma'af merepotkan Mas " ucap Rahma merasa bersalah selalu mengganggu tidur nyenyak Azam demi membantunya.


" Suttt... Mas tidak merasa di repotkan . Ini sudah menjadi tanggung jawab Mas " balas Azam sambil menyimpan dagunya di rambut Rahma dan sesekali mencium nya.


Posisi ini yang selalu membuat Rahma nyaman dan terlindungi berada di sisi Azam.


" Ayo tidur lagi " ucap Azam kepada Rahma yang masih belum memejamkan kedua matanya kembali tapi malah mengusap-usap dada bidang Azam.


" Gak bisa tidur Mas " cicit Rahma masih mengelus-elus dada Azam. Azam hanya diam sungguh sangat kasiahan pada sang istri yang harus bergadang sampai subuh dan tidak tertidur lagi, terkadang Azam akan ketiduran karna kelelahan bekerja dan tidak bisa menemani sang istri dan paginya malah Azam sendiri yang membuat repot Rahma karna bagiaan Azam yang harus merasa mual sungguh hormon sickness yang aneh.


"Yasudah Mas temenin " ucap Azam.


" Kalau Mas ngantuk tidur aja Ade tidak apa-apa" cicit Rahma kasihan pada Azam jika harus menemaninya terus. Entah sampai kapan hormon ini akan berlangsung.


" Tidak apa-apa "


" Kan besok Mas harus ke kantor"


" Emmmz besok Mas gak ke kantor karna tidak banyak pekerjaan, ada satu tapi udah di urus sama Fandi"


Giliran Rahma yang terdiam tapi tidak dengan tangannya yang tidak bisa diam terus mengelus dada Azam hingga turun ke perut Azam membuat Azam harus menahan sesuatu.


"Mas" ucap Rahma pelan.


" Hemmmz"


" Pengen "


" Astagfirullah pengen apa Dek " ucap Azam sambil memegang tangan nakal Rahma.

__ADS_1


" Nasi goreng.. "


Jlep..


Azam menelan ludahnya kasar di kira pengen apa nyatanya nasi goreng membuat Azam harus merendam sesuatu supaya tidak menyakiti sang istri.


" Yasudah Mas buatin yah " ucap Azam langsung bangun dan turun dari ranjang.


" Ikut" cicit Rahma,Azam hanya mengangguk dan berjalan duluaan.


" Gendong "


Membuat Azam berhenti melangkah Azam lupa istrinya sedang manja, dengan senyuman Azam berbalik dan menghampiri sang istri yang sedang merentangkan tangan membuat Azam jadi terkekeh istrinya benar-benar menjelma jadi anak kecil. Azam menggendong sang istri seperti koala menuju dapur.


Azam mendudukan sang istri di meja dekat kompor karna Rahma merengek minta di dudukan di situ.


Dengan cekatan Azam meracik semua bumbu dan sayuran,Rahma hanya memerhatikan cekatannya Azam dalam memasak sesekali tersenyum " Suami idaman" batin Rahma.


Tidak lama nasi goreng ala chef Azam pun sudah jadi Rahma pun memakannya dengan lahap sesekali menyuapi Azam walau Azam tidak mau tapi Rahma tetap memaksanya terpaksa Azam menuruti dari pada istrinya cemberut.


"Alhamdulilah " ucap Rahma sudah kenyang dan langsung minum.


" Sekarang Ade mau apa lagi" ucap Azam menawarkan takutnya istrinya pengen apalah. Mendengar Azam menawarkan sesuatu membuat Rahma tersenyum dan berjalan ke arah kursi yang di duduki Azam.Rahma langsung mendudukang bokongnya di pangkuaan Azam kedua tangan Rahma memeluk pinggang Azam sedang kan kepalanya Rahma senderkan di dada bidang Azam. Membuat Rahma bisa merasakan detak jantung Azam yang tidak karuaan karna menahan sesuatu.


"Mm Dek" geram Azam badannya merasa panas.


" Tadi katanya nawarin Ade pengen apa lagi, yah Ade ingin begini " ucap Rahma lagi.


" Emmz maksud Mas Adenya jangan duduk begini Mas tidak nyaman" ucap Azam menjelaskan sungguh dirinya dibuat panas dan pusing oleh tingkah istrinya Azam hanya takut ke bablasan dan menyakiti anaknya.


"Tapi ini yang Ade mau " sergah Rahma sedikit kesal karna Azam tidak peka sama sekali.


" Tapi Dek Mas tidak mau... "


" Yasudah kalau tidak mau jangan tidur sama Ade" potong Rahma benar-benar kesal dan memilih meninggalkan Azam di ruang makan.


Deg...


Azam di buat melongo ada apa dengan sang istri kenapa tingkahnya sangat nakal " apa ini juga termasuk ngidam" batin Azam menerka-nerka sebelum menyusul sang istri dengan senyum seringai.


Azam perlahan mendekat ke arah ranjang melihat istrinya ngambek sampai seluruh tubuhnya di telan selimut.


"Dek.. "panggil Azam pelan.


"Pergi jangan dekat-dekat Ade " bentak Rahma di bawah selimut membuat Azam malah terkekeh istrinya sedang merajuk.


" Kalau Mas tidak mau gimana " tantang Azam masih terkekeh .

__ADS_1


"Mas hua.. hua.. hik.. " teriak Rahma menangis sambil membuka selimut menatap tajam Azam. Membuat Azam di buat terkejut kenapa istrinya malah menangis.


" Ade kenapa menangis.. " ucap Azam panik.


" Hik... kenapa Mas tadi tidak mau Ade dekat-dekat dan sekarang Mas deketin Ade.. hik.. ah.. pergi... Ade tidak mau dekat lagi sama Mas.. " Teriak Rahma sambil mengdorong dada Azam membuat Azam terjatuh karna memang posisinya Azam sedang duduk di sisi ranjang.


Bruk....


Tapi sayangnya Azam tidak jatuh sendiri melainkan bersama Rahma karna Azam memegang tangan Rahma yang mendorong dadanya kuat alhasil tubuh Rahma berada di atas Azam.


Mata mereka saling mengunci satu sama lain menembus ke dalam mata masing-masing menginginkan cinta di antara mereka.


" Maafkan Mas... Mas tidak bermaksud begitu, Mas hanya takut menyakiti jagoaan " ucap Azam lembut masih mengunci mata Rahma.


" Bohong.. " balas Rahma masih sama menatap mata Azam.


" Mas tidak bohong " ucap Azam menyakinkan tangannya sudah membelit pinggang sang istri dan menekannya supaya lebih dekat lagi karna Rahma menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Hingga tangan Azam terus naik ke punggung dan terakhir sampai di belakang leher Rahma dan menekannya hingga membuat benda kenyal tipis dan mungil itu bertemu .Membuat Rahma melebarkan kedua bola matanya sempurna.


"Hmmm Mas" ucap Rahma protes sambil ngos-ngosan karna hampir kehabisan nafas suaminya ganas sekali.


" Mau nganggap Mas bohong lagi.. hemmm" ucap Azam lembut sambil mengelus pipi sang istri membuat Rahma menggeleng.


"Mau di lanjutin hemmmm"


Entah kenapa Rahma malah mengangguk setuju.Azam menangkup kedua pipi sang istri dan menariknya supaya mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa inchi lagi dan benda kenyal itu kembali.


Allahu akbar.... Allahu akbar....


"Adzan Mas " ucap Rahma langsung bangun dari atas tubuh Azam. Membuat Azam memejamkan kedua matanya dan mengusap mukanya kasar.


"Sabar Azam kecil " batin Azam menggeram frustasi.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2