Takdir Illahi

Takdir Illahi
#54


__ADS_3

Dengan helaan nafas Rahma memegang knop pintu ruangan Dinda perlahan dia masuk dan menutup pintu kembali dengan sangat pelan.


Ilham dan Azam menunggu di luar duduk di kursi tunggu. Terlihat jelas gurat kekewatiran di wajah Azam melihat istrinya masuk seorang diri takut terjadi apa-apa.


"Jangan cemas"ucap Ilham,Azam hanya tersenyum kecut.


Dengan langkah pelan Rahma berjalan mendekati Dinda yang sedang duduk sambil memegang lututnya cairan bening membasahi pipi gadis itu ,membuat hati Rahma terenyuh.


Kini Rahma tau apa dari kata ikhlas sesungguhnya adalah bersyukur.


Bersyukur dengan apa yang ada dalam hidup kita bahwa semua adalah titipan sewaktu-waktu akan kembali kepada sang pemiliknya.


Hingga kata ikhlas akan melekat di diri kita jika apa yang kita syukuri suatu hari di ambil dan disitu kita tidak akan kecewa karna kita tau bahwa itu bukan milik kita hingga timbul ikhlas yang bersih di hati kita.


"Dinda" ucap Rahma gemetar sangat tersayat hatinya melihat keadaan sahabatnya yang seperti mayat hidup. Rahma tau itu karna dia sendiri pernah merasakan berada di posisi Dinda.


"Dinda" ucap Rahma lagi.


Mendengar seseorang yang mendekat dan memanggilnya membut Dinda mengeratkan pelukan tangannya di lutut dan menatap tajam kearah Rahma.


Deg...


Rahma terenyuh tatapan itu bukan milik sahabatnya, siapa sekarang yang ada di hadapannya.


"Pergi" jerit Dinda sambil mundur.


"Pergi... Aku bukan pembunuh... tapi kaliaan adalah pembunuh.. pergi...kalian menghancurkan semuanya.. " jerit Dinda lagi menatap tajam Rahma dengan tubuhnya yang beringsut mundur terlihat jelas ketakutan yang terpancar dari sorot mata Dinda yang tajam.


Mendengar jeritan dari dalam membuat Azam panik langsung berdiri ingin menyusul ke dalam tapi langkah Azam di tahan oleh Ilham.


"Percayal lah semua akan baik-baik saja" ucap Ilham dingin.


"Tapi.. Dinda.. "


"Ingat yang istrimu katakan"


Membuat Azam bingung antara masuk atau tidak dan sialnya Rahma menbuat Azam harus berjanji jangan masuk kalau bukan Rahma sendiri yang berteriak memanggilnya membuat Azam pasrah dan kembali duduk dengan hati tidak tenang.

__ADS_1


Sedangkan Rahma berusaha tenang perlahan terus mendekat hatinya sakit mendengar jeritan Dinda.Rahma dapat menyimpulka sepertinya Dinda banyak menahan sakit, kecewa dan marah.


"Jangan takut ini Aku Rahma sahabatmu... " ucap Rahma.


"Pergi.... " jerit Dinda lagi.


"Aku Rahma sahabatmu apa kamu lupa" ucap Rahma hati-hati semakin mendekat membuat Dinda terus menatap tajam tangannya mencengkram erat bantal ingin melangkan ke arah Rahma.


Entah keberaniaan dari mana Rahma berlari memeluk tubuh Dinda erat sebelum Dinda berhasil melayangkan lemparan bantalnya.


"Jangan takut Aku Rahma sahabatmu" ucap Rahma sambil mengelus-elus punggung Dinda lembut.


"Aku Rahma.. " hingga Dinda menjatuhkan bantal yang dia pegang .Anehnya Dinda tidak memberontak seperti memberontak kepada Surter dan Dokter yang memegangnya.


Dinda hanya diam sekujur badannya jadi kaku entah kenapa elusan Rahma sukses membuat hati Dinda menghangat elusan ini seperti seseorang yang Dinda rindukan kehadirannya.


Tidak lama tubuh Dinda bergetar hebat hingga membuat Rahma juga ikut gemetar. Rahma meneteskan air mata mendengar isakan Dinda yang menyayat hati.


Walau sebenarnya kaki Rahma sudah pegal tapi Rahma berusaha menahan dan terus mengeratkan pelukannya.


"Tenanglah" ucap Rahma lembut terus mengusap-usap punggung Dinda.Dan benar saja Dinda kembali tenang tidak seperti tadi.


Perlahan Rahma mengendorkan pelukannya tapi Dinda tidak mau malah Dinda semakin mempererat pelukannya pada Rahma,membuat Rahma pasrah saja. Mungkin dengan cara ini Dinda akan tenang dan baik-baik saja.


Rahma tidak masalah walau Dinda menganggap Rahma adalah ibunya,disitu Rahma dapat merasakan apa yang Dinda Rasakan.


"Maaf kan Aku belum bisa jadi sahabat baik, walau Aku masih kecewa tapi Aku sangat menyayangimu Dinda" jerit batin Rahma bersamaan mengalir deras cairan bening membasahi kedua pipinya.


"Mamah jangan tinggalkan Dinda, Dinda takut mah. Dinda juga sudah jahat hik... hik.. " ucap Dinda di sela isakannya.


"Rahma Aku Rahma S-A-H-A-B-A-T mu.. " ucap Rahma berbisik lembut sambil menekankan kata sahabat. Karna Rahma tidak mau ketika Dinda sadar dia akan menjerit lagi karna bukan mamahnya yang ada dipelukan Dinda.


Seketika isakan Dinda berhenti dan melepaskan pelukannya menatap manik mata Rahma dengan derayan air mata begitupun Rahma meneteskan air mata dengan senyuman tulus diberikan kepada Dinda.


Mereka lama saling menatap dengan tatapan tidak bisa di artikan hanya mereka dan tuhan yang tau.


"Rahma" ucap Dinda pelan membuat Rahma menganggukan kepala "Iya" .

__ADS_1


"Rahma.... tidak... Aku sudah menyakitinya.. tidak... " jerit Dinda lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala membuat Rahma langsung menangkup pipi Dinda erat walau sedikit kasar .


"Aku sahabatmu.. Dinda tidak pernah menyakiti Rahma"


"Rahma sudah memaafkan Dinda " ucap Rahma penuh penekanan.


Dinda terdiam melihat Rahma yang meneteskan air mata bayangan kebersamaan dirinya dan Rahma berputar ulang di memorinya. Canda tawa, sedih, senang, jail, menjengkelkan dan saling melindungi terbayang di memori dia terlihat jelas bahwa Rahma bukan menganggap dia sebagai sahabat saja melainkan saudar yang menyayangi saudaranya.


Dinda sadar Dinda mengingatnya dan mengenali bukan sang Mamah yang ada dihadapannya melainkan sahabat yang sempat dia sakiti.


Bruk....


Dinda memeluk erat pinggang Rahma " hik... maafkan Aku.Maaf " ucap Dinda tangisannya pecah begitu saja .


Rahma membalas pelukan sahabatnya tah kalah erat " Aku sudah memaafkan dan melupakan kejadiaan itu" ucap Rahma gemetar berusaha mengikhlaska semuanya .


"Maaf Aku tidak ada disampingmu ketika kamu membutuhkan seseorang" ucap Rahma lembut.


"Tidak Aku yang salah, Rahma tidak pantas minta maaf.Maafkan Aku" ucap Dinda mempererat pelukannya.


Seketika senyuman Rahma terukir di bibir mungilnya,Rahma tau diri sahabatnya sudah kembali Rahma yakin itu.Dari cara bicara dan bahasa tubuh Dinda yang mulai berubah .


Ruangan serba putih itu kini damai tidak ada aura menakutkan lagi bagi Dinda semenjak kedatangan Rahma .


Sedangkan Rahma hatinya begitu damai seperti tidak ada beban yang dia rasakan sebelumnya.


Mengikhlaskan memang sakit tapi menyejukan bagi jiwa pengikhlas.Laksana musyafir yang berjalan di gurun pasir menemukan se-tetes air yang menghilangkan dahaganya.


Pada akhirnya mengikhlaskan sesuatu yang berharga itu mendamaikan hari yang Buruk seperti tidak ada beban sama sekali.


Bahwa sesuatu yang di titipkan akan kembali pada sang pemiliknya.


Mau itu harta, tahta, wanita, keluarga, teman dan bahkan nyawa kita sendiri akan kembali kepada pemilik yang sudah menunggunya.


Tidak ada kata indah selain kata persahabatan. Sahabat yang sangat penyayang, saling melindungi, menyayangi satu sama lain. Walau ada perdebatan kecil diantara mereka itu sudah biasa menjadi bumbu untuk mendewasakan diri. Selalu ada di saat terpuruk, berusaha memahami satu sama lain.


Karna sahabat yang baik dia yang selalu mengingatkan kita kejalan kebaikan,menegor kita jika apa yang kita lakukan salah. Karna itu sesungguhnya arti sahabat susah senang selalu ada.Tidak pergi atau menghianati.

__ADS_1


__ADS_2