
Azam menatap manik mata istrinya mencari kebohongan dengan apa yang barusan dia dengar tapi nihil tidak satupun Azam temukan.
" Ade tidak bercanda kan" ucap Azam serius.
" Emang Ade kelihatan bohong" Azam hanya menggeleng.
Rasanya Azam tidak menyanggak ,pertama Azam sangat takut sang istri mendendam dan terpuruk seperti sebelumnya. Nyatanya dugaan Azam semuanya salah. Sang istri tidak mendendam ataupun terpuruk seperti sebelumnya.
Yang ada sekarang Rahma memohon supaya Azam mempertemukan dirinya dan Dinda. Sungguh takdir tuhan yang kita tidak bisa baca, mudah baginya membulak balikan hati manusia seperti allah telah membalikan hati Rahma dengan menerima semua keadaannya.
Dan sekarang Rahma sedang merajuk kepada Azam hari ini untuk mempertemukan dirinya dan Dinda.
Tapi Azam menolak karna Dinda masih di Bogor belum pulang ke Bandung karna masih dalam perawatan.
Kejadiaan itu membuat Dinda ketakutan lagi dan sering marah jika suster memaksanya untuk makan padahal Suster niatnya baik tapi karna mental Dinda terganggu lagi membuat Dinda berbeda memandang Suster, seakan suster itu ingin membunuh Dinda.Apalagi kalau Dokter memegang suntikan membuat Dokter dan Suster harus siap kena ngamuk Dinda.
Tapi Dinda akan menurut kalau yang datang adalah dokter Ilham tidak dengan yang lain.
Seharusnya Dinda di bawa ke tempat Rehabilitas tapi dengan kekuasaan dokter Ilham Dinda masih tetap di rawat di Rumah Sakit.
"Mas cepetan" ucap Dinda kesal pasalnya Azam masih saja sibuk dengan ponselnya entah siapa yang Azam hubungi.
" Sebentar Dek.. " ucap Azam santai.
"Tutup dulu yah teleponnya istri saya sedang merajuk" ucap Azam kepada orang yang di serbang telepon.
"Iya, saya tunggu kedatangan nya"
" Assalamualaikum "
"Waalaikumsalam "jawab orang di serbang sana.
Azam langsung mematikan ponselnya dan berjalan keluar.Dilihat nya sang istri sedang cemberut mukanya ditekuk karna kesal.
" Ayo Dek" ucap Azam sambil menggandeng tangan sang istri. Rahma tidak menjawab karna masih kesal, tapi dia menurut saja mengikuti langkah kaki Azam.
"Mas perjalanan Bandung - Bogor kira-kira berapa jam" tanya Rahma .
"Mungkin tiga jam-an Dek itu pun kalau ngebut"
"Kalau udah sampai bangunin Adek" ucap Rahma dan langsung memejamkan kedua matanya.
Azam melirik sang istri " kirain udah gak ngambek taunya cuma nanya" batin Azam cemberut.
Dan pokus mengemudi lagi.
Azam pasrah menuruti sang istri hari ini berangkat ke Bogor kalau tidak entah mau sampai kapan istrinya diam tidak merespon ucapan Azam sama sekali.
Bahkan di takut-takuti " Dosa loh kalau istri gak nurut sama suami" tetap saja tidak mempan, dan pada akhirnya istrinya yang menang.
Mungkin Azam akan sampai ke Bogor waktu isya karna tadi Azam dan Rahma berangkat sudah asyar.
"Dek bangun" ucap Azam.
"Emmmz "Rahma hanya bergumam perlahan kedua matanya terbuka.
"Sudah sampai bukan Mas" ucap Rahma semangat.
" Belum Dek masih satu jaman lagi "
"Terus kenapa Mas bangunin Ade.. Ade bilangkan kalau udah sampai bangunin" protes Rahma mengerucutkan bibirnya.
"Solat magrib dulu Dek" celoteh Azam tersenyum gemas melihat istrinya masih merajuk.
"Astagfirullah" ucap Rahma sambil menepuk jidatnya dan kelaur menyusul Azam yang sudah turun duluaan.
Sepuluh menit Azam dan Rahma keluar Masjid dari arah yang berbeda.
__ADS_1
"Mas" ucap Rahma bergelayut manja memegang tangan Azam, membuat Azam mengerutkan kening bingung pada tingkah istrinya. Tadi merajuk sekarang manja entah ada apa pada sang istri.
"Kenapa Dek" jawab Azam lembut sambil tersenyum di buat semanis mungkin membuat siapa saja yang melihat akan meleleh hatinya.
"Lapar" cicit Rahma
Ha.. ha....
Azam malah tertawa mendengar permintaan sang istri untung tawa Azam di dalam mobil kalau masih diluar mungkin jadi bahan tong-tonan.
"Ih... kenapa Mas malah tertawa" kesal Rahma.
"Iya.. iya maaf Mas lucu aja"
Hening....
Rahma tidak menjawab tapi malah memalingkan wajahnya membuat Azam berhenti tertawa.
"Sayang" panggil Azam, masih tidak ada sahutan.
"Sayang" sekali lagi Azam memanggil.
"Mas cepetan jalankan mobilnya hik... Ade lapar"
Jder...
Azam terkejut istrinya malah menangis membuat Azam serba salah sendiri, heran ada apa dengan istrinya.
"Iya Mas jalankan tapi Ade berhenti nangisnya" ucap Azam dan langsung melajukan mobilnya. Benar saja tangisan Rahma langsung berhenti membuat Azam menghela nafas pelan.
"Ade mau makan apa?, di Lestoran atau di Rumah Makan biasa? " tanya Azam.
" Bakso"
Jlep...
Azam memberhentikan mobilnya tepat di depan tukang bakso" Ayo dek turun " ucap Azam. Dengan semangat Rahma langsung turun.
"Pak baksonya dua porsi" ucap Rahma pada penjual bakso.
"Iya Nenk, silahkan tunggu "
Rahma dan Azam langsung duduk di kursi yang sudah tersedia,tak lama pesanan datang.
"Silahkan Nenk Mas " ucap penjual bakso ramah.
"Terimakasih Pak"
"Bismillahirahmannirahim"
Azam dan Rahma pun menikmati bakso yang masih mengepul ,Azam sesekali tersenyum melihat Rahma makan benar-benar seperti orang kelaperan ,bakso masih panas terus dimakan habis sampai dengan kuahnya tampa sisa.
"Alhamdulilah " ucap Rahma sudah selesai makannya sedangkan Azam sedikit lagi.
"Berapa semuanya Pak" ucap Azam ketika sudah makan.
"Dua puluh ribu Mas"
Azam langsung mengeluarkan uang pas pada penjual bakso dan berjalan menuju mobil di ikuti Rahma.
Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang tidak ada pembicaraan Rahma dan Azam sama-sama diam. Sebentar lagi sampai tujuan.
Azam memarkirkan mobilnya di parkiran Rumah Sakit tempat Dinda dirawat.
"Disini Mas?"tanya Rahma yang dari tadi diam.
"Iya.. ayo turun" Rahma hanya mengangguk dan turun dari mobil.
__ADS_1
Seseorang melambaikan tangan kepada Azam,Azam pun membalasnya, sedangkan Rahma bingung karna memang dia tidak kenal.
"Assalamualaikum sob" ucap Azam.
"Waalaikumsalam..." balas Ilham sambil tersenyum.
"Kenalkan ini istri Ane namanya Rahma" ucap Azam pada Ilham.
Rahma hanya menangkupkan kedua tangannya di dada begitupun dengan dokter Ilham.
"Ilham"
"Rahma"
Mereka pun berjalan masuk kedalam Rumah Sakit, Rahma hanya mengikuti dua orang peria di depannya yang tidak lain suami dan teman suaminya.
"Bagai mana sekarang keadaannya? "tanya Azam.
"Memburuk " ucap dokter Ilham.
"Dinda selalu menjerit dan marah kalau ada orang yang masuk terkecuali pada Ane dia tidak akan marah.Mungkin kejadiaan penculikan itu membuat Dinda ketakutan lagi"
Deg...
Ada rasa nyeri di dada Rahma mendengar keadaan sahabatnya. Sungguh sahabat macam apa Rahma tidak tau rasa sakit yang sahabatnya alami.
Sekarang Rahma semakin paham kenapa Dinda selama dua tahun tidak ada kabar, mungkin dia hidup di dalam ketakutan sungguh malang nasib Dinda.
Dan Rahma ingat waktu pertama Dinda datang dimana Rahma begitu bahagia dengan kedatangan Dinda membuat Rahma langsung memeluknya erat tapi tidak dengan Dinda dia bersikap biasa saja.
Rahma mendudukan bokongnya di salah satu kursi tunggu dadanya begitu sakit, sungguh Rahma begitu menyayangi Dinda seperti saudaranya sendiri, walau Dinda membuat hati Rahma kecewa dan marah tapi jauh dilubuk hatinya Rahma begitu sedih.
Azam dan Ilham terus mengobrol tampa mereka sadari kalau Rahma tidak ada di belakangnya.
Perlahan Ilham akan membuka knop pintu ruangan Dinda tapi Ilham tidak mendapati istri dari sahabatnya.
"Zam dimana istri ente"ucap Ilham membuat Azam langsung berbalik.
"Astagfirullah" ucap Azam membelalakan kedua matanya benar istrinya tidak ada.
"Ane cari dulu" ucap Azam.
"Ane ikut" Azam hanya mengangguk.
Rasa kewatir menghantui Azam kenapa tidak menyadari kalau istrinya tidak ada dasar bodoh.
Azam berlari terengah-engah mencari sang istri di ikuti Ilham.
Ilham menarik kerah baju Azam dari belakang.
"Zam itukan istri ente" ucap Ilham sambil menunjuk kearah wanita yang duduk sendiri sambil menangis.
Azam langsung berlari kearah Rahma tampa memperdulikan sahabatnya.
"Sayang"ucap Azam langsung duduk dan menarik Rahma dalam pelukannya.
Rahma semakin terisak di pelukan sang suami.
"Kamu kenapa nangis" ucap Azam kewatir sedangkan Ilham hanya jadi penonton dari kejauhan dan tersenyu.
Rahma tidak menjawab hanya terus terisak.Azam membiarkan istrinya tenang dulu.
Tidak lama isakan Rahma berhenti dan mendongkak menatap Azam.
"Ade ingin bertemu Dinda tampa di dampingi" ucap Rahma memohon membuat Azam sedikit kewatir pasalnya takut Dinda tidak mengenali Rahma.
"Ade mohon" lilir Rahma membuat azam terpaksa mengangguk setuju.
__ADS_1