
Benua Tengah.
Seminggu lagi telah berlalu, di pesisir pantai wilayah barat Benua Tengah terlihat seorang pemuda sedan memainkan seruling dengan sangat merdu. Tapi ada yang janggal dari permainan seruling pemuda itu, karena setiap lantunan selalu memicu pergerakan rantai yang ada di pergelangan tangannya. Rantai itu meliuk-liuk layaknya ular yang tengah mengejar mangsa. Pemuda itu adalah Qin Tian.
Beberapa saat kemudian permainan seruling nya terhenti. "Sudah saatnya," ucapnya dengan senyum tipis.
Dia lalu bergerak kearah timur laut, arah yang dituju nya adalah tempat dimana Sekte Bunga Api berdiri.
Sekte dengan wilayah kecil, namun dengan kekuatan individu yang luar biasa. Bahkan, seorang Kaisar pun tidak akan berani untuk berbicara dengan nada tinggi dihadapan Tetua terlemah disana.
Berbicara tentang kekuatan, tingkat kultivasi tertinggi penduduk Bintang Biru adalah di tingkat Half Saint tahap puncak.
Kebanyakan dari mereka adalah kuktivator aliran hitam yang ada di Benua Barat. Tapi, karena tingkat kultivasi Pemimpin Sekte Bunga Api lebih tinggi dari mereka. Mereka pun membuat sebuah rencana untuk melenyapkan Pemimpin Sekte Bunga Api terlebih dahulu.
Kesalahan yang pernah mereka buat dulu tentu sangat mempengaruhi kekuatan Aliansi Aliran Hitam. Mereka menganggap remeh Pemimpin Sekte Bunga Api hingga terpaksa mengorbankan lebih dari 100 kultivator tingkat Half Saint pada saat itu. Tetapi itu juga membuat luka pada Pemimpin Sekte Bunga Api, Qin Jian.
Bukan luka pada tubuh maupun jiwa nya, tetapi Qin Jian harus merelakan istrinya yang terkena kutukan salah satu kuktivator tingkat Half Saint yang mengkultivasikan teknik kutukan. Belum lagi anaknya yang kedua menghilang dari Benua Tengah, dan anak pertama nya harus kehilangan nyawa untuk menyelamatkan sang adik.
Sehingga pada saat itu Qin Jian tidak sempat melenyapkan mereka. Dia lebih memprioritaskan keselamatan orang-orang terdekatnya terlebih dahulu.
Kesempatan itu di manfaatkan oleh Aliran Hitam untuk mundur dari medan peperangan. Tetapi, sejak saat itu, Qin Jian dengan gencar memerintahkan para anggota sekte untuk memberantas Aliran Hitam.
Dia kecewa karena dirinya yang dianggap paling kuat di Benua Tengah, bahkan Bintang Biru harus kehilangan kedua anaknya. Kecewa karena merasa paling superior hingga akhirnya menelan kenyataan yang sangat menyakitkan.
Sejak saat itu juga dia meningkatkan standar untuk memasuki Sekte yang dia buat lebih dari seratus tahun yang lalu. Dia tidak ingin kesalahan yang sama terulang kembali.
Dan juga, karena istrinya yang terkena kutukan itulah yang membuat Qin Jian tidak pernah pergi dari Sekte Bunga Api, sekalipun itu untuk mencari keberadaan anak kedua nya.
Dia yakin anak kedua nya itu bisa selamat. Karena anak kedua nya adalah seorang jenius yang penuh dengan pertimbangan. Beberapa kali memenangkan pertarungan hanya dengan strategi. Itulah yang membuat Qin Jian sangat yakin terhadap anak kedua nya.
Untuk anak pertama, Qin Jian memakamkan jasad anaknya tepat disebelah kediamannya, karena disana lah tempat berlatih yang paling disukai anak pertama Qin Jian.
...• • • • •...
__ADS_1
Qin Tian yang dengan kecepatan sedang terbang di ketinggian langit tidak berniat untuk berhenti, karena tujuan nya hanya Sekte Bunga Api yang berada disebelah Ibu Kota Kekaisaran Ming. Sekte Bunga Api dan Kekaisaran Ming memang bersebelahan. Itu karena pada saat Qin Jian berniat membuka Sekte, Kaisar Ming terdahulu memberikan tanah yang ada di sebelah Istana Kekaisaran Ming.
Qin Jian adalah menantu dari Kekaisaran Ming. Tapi, meski seperti itu, Qin Jian tidak pernah sekalipun menjamin bahwa keluarga Kekaisaran Ming dapat menjadi murid di Sekte Bunga Api jika tidak memilik Kualifikasi untuk menjadi murid.
Tepat pada sore hari nya, Qin Tian pun sampai di dekat gerbang barat Ibu Kota Kekaisaran. Qin Tian turun di hutan sekitar setengah mil dari pintu gerbang. Meski sudah sore hari, antrian masih tetap panjang.
'Sangat berbeda dengan Benua Timur, disini penduduknya tidak hanya padat, tetapi juga tingkat kultivasi nya lebih tinggi. Bahkan prajurit penjaga gerbang pun memiliki kultivasi di ranah Raja Surgawi, itu setara dengan Tuan Kota jika di Benua Timur,' Qin Tian membatin melihat keadaan sekitarnya.
Antrian disini dibagi menjadi tiga. Bangsawan dan Saudagar kaya, Kukltivator diatas tingkat Raja Surgawi dan satu untuk orang biasa.
Qin Tian mengambil antrian yang paling sedikit, yaitu untuk Bangsawan dan Saudagar kaya. Karena hal itu lah dia sempat mencuri perhatian hampir seluruh orang yang mengantri.
"Hei nak. Apakah kau tahu bahwa jalur yang kau ambil itu hanya untuk Bangsawan dan para Saudagar kaya saja?" tanya seorang pria paruh baya dibarisan terakhir yang melihat Qin Tian hendak berjalan di jalur antrian Bangsawan.
"Tidak. Apakah itu masalah," jawabnya santai.
"Tentu, jika aku tidak salah dulu pernah ada yang ingin memasuki lewat jalur itu. Tetapi, dia tidak bisa masuk karena pajak yang dikenakan sangat tinggi..."
"... Kota ini tidak seperti kota yang lain, yang akan menyanjung para orang kaya maupun bangsawan, karena Kaisar yang lama telah menetapkan aturan untuk hal ini," ujar pria paruh baya itu.
'Jadi seperti itu... Sistem disini sangat hebat, Kaisar terdahulu pasti orang yang sangat bijaksana,' batin Qin Tian sambil mengangguk mendengarkan perkataan pria paruh baya itu.
Dia pun berjalan kearah antrian penduduk biasa di belakang pria paruh baya itu.
"Apakah ini pertama kali nya kau memasuki kota ini anak muda?" tanya pria paruh baya itu.
"Benar, ini yang pertama," jawabnya singkat.
"Kau harus mengetahui jika Kota ini memiliki dua pelindung yang sangat mengerikan. Itulah mengapa para Bangsawan dan Saudagar kaya yang biasanya sangat sombong harus menundukkan kepala jika memasuki kota ini," ujarnya dengan semangat saat mengatakan para orang kaya tidak bisa berbuat semena-mena didalam kota.
"Benarkah? Lalu siapa dua orang pelindung Kota ini?" Qin Tian bertanya dengan penasaran.
"Mereka berdua adalah individu yang sangat mengerikan. Kaisar terdahulu Ming Tao dan Pemimpin Sekte Bunga Api Qin Jian," jawabnya.
__ADS_1
'Ah, ternyata benar apa yang kupikirkan,' batin Qin Tian.
"Lalu siapa Kaisar yang sekarang?" tanya Qin Tian lagi yang membuat pria paruh baya itu mengerutkan keningnya.
"Kau tidak tahu hal ini! Apakah selama ini aku tinggal kedalaman hutan anak muda?" ucapnya yang merasa bingung karena ada orang yang tidak tahu siapa Kaisar Kekaisaran Ming yang sekarang.
"Ya, kau bisa menganggapnya seperti itu."
"Aih, lain kali kau harus berhati-hati jika ingin menanyakan hal seperti itu. Bisa saja kau dianggap sebagai mata-mata dari Aliran Hitam," ucapnya.
"Baiklah, lain kali aku akan berhati-hati," ucap Qin Tian.
"Kaisar yang sekarang adalah Ming Dao, adik dari istrinya Pemimpin Sekte Bunga Api, Ming Yifei," ungkap pria itu.
"Terima kasih, Paman," ucap Qin Tian seraya menangkupakan tangannya.
"Tidak masalah, jika kau ada waktu luang, kau bisa ikut ketoko milikku. Aku yakin kau kesini karena mendengar kabar Sekte Bunga Api akan mencari murid baru, Anakku juga akan menjadi salah satu peserta disana nanti," ucap pria paruh baya itu.
"Siapa namamu anak muda?" Dia bertanya karena sedari tadi berbincang tapi tidak tahu nama Qin Tian.
"Kau bisa memanggilku Tian, Paman..."
"Wu Shan, itu namaku," ucapnya mengenalkan diri.
"Baiklah Tian, kau harus ikut denganku. Anakku pasti sangat senang jika ada pemuda yang seumuran dengannya," pinta Wu Shan.
Qin Tian hanya mengangguk menanggapi permintaan Wu Shan yang akan mengajaknya kerumah sekaligus toko yang didirikannya itu. "Baiklah Paman, aku akan ikut denganmu,"
Wu Shan yang mendengar jawaban Qin Tian merasa senang, dan berharap anaknya bisa menjalin hubungan pertemanan dengan pemuda yang menarik perhatiannya sejak awal itu.
Lalu mereka memasuki Kota dengan tenang tanpa ada kendala sedikitpun.
•••
__ADS_1
Selamat Membaca.