Takdir Sang Pendosa

Takdir Sang Pendosa
31. Kekacauan


__ADS_3

Arena Colosseum, Kota Giok Biru.


"Hei.. hei.. kau tidak memberiku kesempatan untuk menunjukkan hasil latihanku selama ini, saudara Tian," ucap Wu Zhu dengan sedikit kecewa karena Qin Tian menyelesaikan pertandingan ini dengan cepat dan hanya perlu satu gerakan.


"Tunggulah sebentar lagi, pesta yang sesungguhnya akan segera dimulai," ujar Qin Tian dengan senyum yang terlihat misterius.


Ini pertama kalinya Wu Zhu melihat senyum misterius Qin Tian, dia tidak bisa menebak apa yang dimaksudkan olehnya.


'Apa yang dimaksud saudara Tian dengan pesta yang sesungguhnya itu,' Wu Zhu membatin.


"Tidak usah dipikirkan, karena kau akan tahu sebentar lagi," kembali Qin Tian mengatakan hal yang misterius pada Wu Zhu.


"Baiklah, lalu apa yang akan kau lakukan saat ini, saudara Tian?" Wu Zhu bertanya karena melihat Qin Tian seolah sedang menunggu sesuatu.


"Tetua pertama Sekte Bunga Api akan menemui ku sebentar lagi. Mungkin dia akan membawaku ke ruangan para petinggi Sekte serta Kekaisaran. Apakah kau ingin ikut?"


"Sepertinya menarik. Baiklah, jika diperbolehkan aku akan mengikutimu kesana," jawab Wu Zhu dengan tersenyum.


Tidak lama setelah mereka keluar dari Arena menuju kearah ruang tunggu peserta, Ming An menghadang mereka.


Kedatangan Ming An disana menimbulkan pertanyaan seluruh orang yang ada disana.


"Kau diundang untuk datang keruangan para Petinggi Sekte dan Kekaisaran," ucap Ming An tanpa basa-basi.


"Baiklah, tapi dia akan ikut denganku kesana," Qin Tian menjawab sambil menunjuk kearah Wu Zhu.


"Itu tidak masalah, karena ada hal lainnya juga yang ingin aku bicarakan dengannya," Ming An menyetujui ucapan Qin Tian, karena dia memang tertarik sejak saat pertama melihat Wu Zhu.


Ming An adalah seorang kultivator yang mengkultivasikan Teknik Tubuh Emas, yang berfokus pada peningkatan tubuh. Jadi saat pertama melihat tubuh fisik Wu Zhu yang tergolong sangat kuat, dia tertarik untuk menjadikan Wu Zhu sebagai muridnya.


Wu Zhu yang juga sangat mengidolakan Ming An tentunya tidak dapat menahan kegembiraan nya, itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang sangat gembira. Meski dia tidak sampai berpikiran untuk dijadikan murid langsung Ming An. Jika dia mengetahui apa yang akan dilakukan Ming An padanya, pasti saat ini dia akan berteriak dengan sangat senang.


Lalu setelah itu, mereka berjalan dengan santai menuju kearah ruangan Petinggi Sekte dan Kekaisaran.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai disana, karena jaraknya juga tidak jauh dari lokasi tempat para peserta menunggu.


Saat sudah sampai didepan pintu, Ming An mempersilahkan Qin Tian untuk memasuki ruangan. Sedangkan dirinya dan Wu Zhu akan menunggu diluar untuk membicarakan sesuatu.


"Masuklah, Pemimpin sudah menunggumu disana," ucap Ming An.


Qin Tian hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu memasuki ruangan itu.


Sementara untuk Wu Zhu, Ming An langsung bertanya padanya.


"Apakah kau ingin menjadi murid ku?" pertanyaan dari Ming An membuat Wu Zhu terkejut bukan main.


Segera dia berlutut dan menjawab pertanyaan Ming An. "Murid menyapa Guru," jawab Wu Zhu yang tanpa berpikir panjang menyetujui ucapan Ming An.

__ADS_1


"Bagus, mulai saat ini kau secara resmi menjadi murid ku, dan saat kembali ke Sekte aku akan mulai mengajarimu," ucap Ming An.


"Terima kasih, Guru," jawab Wu Zhu.


• • • • •


Qin Tian yang memasuki ruangan itu menjadi pusat perhatian dari seluruh orang yang ada didalamnya.


Masih terdiam tidak mengeluarkan suara satu kata pun, hingga suara Qin Jian yang serak memecah keheningan didalam ruangan.


"Selain Kaisar Ming Dao, kalian semua keluar," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan pada Qin Tian.


Lalu seketika belasan orang yang ada didalam keluar, tidak ada satupun dari mereka yang menentang ucapan Qin Jian.


"Aura yang keluar dari tubuhmu itu mirip dengan Qin Zhong. Apakah kau memiliki hubungan dengannya?" Qin Jian langsung bertanya setelah semua orang keluar dari ruangan itu.


"Dia Ayahku, Kakek Jian," ucap Qin Tian yang membuat Qin Jian bahagia karena apa yang dia pikir tentang Qin Tian sebelumnya adalah kebenaran.


"Salam hormat, Kakek," ucapnya lagi memberikan hormat pada Qin Jian.


"Ternyata Qin Zhong mengajarimu sopan santun juga," ucap Qin Jian menanggapi salam dari Qin Tian.


"Lalu, siapa namamu cucuku," lanjutnya lagi.


"Namaku Qin Tian, Kakek," jawabnya.


"Ayah dan Ibu sekarang berada ditempat yang aman, Kakek bisa menemui nya nanti, saat pesta yang akan terjadi sebentar lagi dimulai," ucap Qin Tian.


"Oh, pesta. Ternyata kau juga mempunyai firasat mengenai hal ini, Tian'er," ucap Qin Jian.


"Aku tidak mempunyai firasat seperti itu, Kakek. Tetapi, aku mengetahui nya secara langsung," jawab Qin Tian dengan senyum tipis.


Sementara Kaisar Ming Dao hanya diam mendengar percakapan antara cucu dan kakek yang baru saja bertemu itu.


"Tunggu, Kak Jian, pesta apa yang sebenarnya kalian maksud itu?" Kaisar Ming Dao tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Kau juga akan mengetahui nya sebentar lagi, saat ini kau hanya harus memberitahu pada Jendral Utama mu untuk mempersiapkan pasukan," ucap Qin Jian.


Kaisar Ming Dao yang mendengar hal itu langsung menangkap maksud dari percakapan mereka berdua. Dia lalu bergegas untuk menyampaikan hal ini pada Jendral Utama Kekaisaran.


Sekarang tinggal mereka berdua yang ada didalam ruangan.


"Jadi, Tian'er. Bagaimana kau bisa mengetahui akan ada penyerangan kali ini?"


"Aku mendengarnya langsung dari mereka saat di Benua Barat."


"Apakah itu tidak membahayakan dirimu, Tian'er?" ucapnya yang khawatir melihat cucu satu-satunya itu melakukan hal yang memiliki resiko yang tinggi.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Kakek. Aku bahkan sebenarnya bisa melenyapkan mereka dari Bintang Biru ini dengan cepat,"


"Lalu, mengapa tidak kau lakukan itu."


"Aku ingin mereka semua lenyap dari Lima Benua ini. Karena, yang hadir disana saat itu hanya Aliansi Aliran Hitam. Jumlah mata-mata mereka pun sangat banyak dan tersebar dimana-mana..."


"... Jadi, lebih baik melenyapkan mereka sekaligus daripada nanti ada tikus yang bersembunyi karena induk mereka telah ku musnahkan." lanjutnya.


Qin Tian tentu tidak membual dengan ucapannya, tetapi dia juga tidak memberitahukan alasan sebenarnya pada Qin Jian.


"Tetapi sepertinya penyerangan kali ini akan lebih parah daripada penyerangan yang dilakukan oleh Aliansi Aliran Hitam dua puluh tahun yang lalu," ujar Qin Jian.


"Kakek tidak perlu memikirkan hal itu," Qin Tian mencoba menenangkan Qin Jian.


"Kakek, apakah Nenek masih–," ucapnya lagi yang terhenti karena pertanyaan kali ini sangat sensitif.


"Nenekmu masih hidup, tetapi kondisi nya terus menurun sejak tidak sadarkan diri dua puluh tahun yang lalu," ucap Qin Jian sembari menghela nafas yang terasa sedikit berat.


"Bisakah aku menemuinya, Kakek."


"Tentu, setelah pertunjukan disini selesai kita akan langsung kembali ke Sekte."


"Tetapi, sebelum itu sepertinya kita memiliki pekerjaan tambahan," ujar Qin Jian lagi saat merasakan ledakan energi spiritual yang berasal dari banyak orang diluar Arena Colosseum.


Swoosh...


Seketika didalam ruangan itu muncul Qin Zhong, Yun Ling, Tang Yue Lin dan Si Kembar.


"Zhong'er, Ling'er," ucap Qin Jian dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah..."


"Ayah Mertua..."


Hanya itu yang keluar dari mulut mereka. Lalu terjadi sedikit reuni kecil disana.


"Kita tunda dulu pertemuan ini, karena diluar sudah terjadi sedikit kekacauan," ujar Qin Jian yang sedari tadi merasakan kekacauan diluar Arena Colosseum.


"Benar, Ayah. Kali ini aku tidak akan pergi lagi dari medan perang," ucap Qin Zhong.


"Ibu tidak usah ikut, aku mohon," ucap Qin Tian saat melihat Ibunya yang akan mengikuti langkah yang diambil Qin Zhong.


"Bagaimana Ibu bisa diam saja, sementara Istrimu juga ikut masuk kedalam perang kali ini."


•••


Selamat Membaca.

__ADS_1


__ADS_2