
Kota Giok Biru.
Kekacauan terjadi dimana-mana dengan berpusat di Arena Colosseum. Tapi, itu hanya bagian kecil dari kekacauan yang sebenarnya akan terjadi.
Sekitar seratus tujuh puluh lima mil di sebelah selatan Arena Colosseum, tepatnya diluar wilayah Kota Giok Biru. Ratusan ribu atau bahkan jutaan kultivator Aliansi Aliran Hitam sedang bergerak menuju Sekte Bunga Api.
Meskipun Sekte Bunga Api menjadi pelindung di Kota Giok Biru, tempat berdirinya Sekte itu berada cukup jauh dari Kota.
Para petinggi Sekte yang kuat rata-rata ada didalam wilayah Kota Giok Biru, hanya tetua tingkat rendah yang saat ini menjaga wilayah Sekte.
Walaupun dianggap sebagai tingkat rendah, jika mereka masuk kedalam Sekte tingkat menengah, mereka sudah dapat dipastikan akan menjadi Tetua Agung ataupun Pemimpin Sekte itu sendiri.
Pasukan yang akan menyerang Sekte Bunga Api juga telah dikomandoi oleh lima orang yang berada ditahap Half Saint menengah, dengan satu orang di tahap Half Saint puncak.
Sementara itu, tiga pemimpin tertinggi Aliansi Aliran Hitam telah melebihi batas kultivasi di Bintang Biru, yaitu di ranah Saint bintang 3. Oleh sebab itu mereka baru mulai bergerak sekarang.
...• • • • •...
"Kakek, sepertinya serangan ini hanya pengalihan. Aku dapat merasakan banyak aura yang bergerak kearah selatan," ucap Qin Tian melalui telepati pada Qin Jian.
"Gawat... Nenekmu masih tidak sadarkan diri didalam Sekte," jawab Qin Jian dengan cemas.
"Apakah tidak ada formasi pelindung di Sekte Kakek?" Qin Tian bertanya saat sudah berpindah disebelah Qin Jian.
"Ada, tapi itu hanya bisa menahan serangan Half Saint tahap awal. Jika yang menyerang berada ditahap menengah sudah dapat dipastikan pelindung itu pasti akan lenyap."
"Kalau begitu, tidak perlu membuang waktu disini, Kakek. Aku akan membawa Kakek kesana dengan cepat," ujar Qin Tian yang langsung menyelimuti tubuh Qin Jian dengan energi spiritual nya tanpa menunggu jawaban Qin Jian. Lalu ia melesat dengan kecepatan tinggi, sehingga menimbulkan efek angin yang lumayan kencang.
Tidak sampai lima menit kemudian, mereka berdua sampai di gerbang Sekte. Dari kejauhan dengan jarak sekitar lima puluh mil, sudah mulai terlihat pasukan yang datang dengan jumlah yang sangat banyak.
Jumlah Murid serta Guru dan Tetua yang ada didalam Sekte tidak melebihi sepuluh ribu jiwa. Sedangkan yang menyerang hampir mungkin melebihi seratus kali lipat nya. Hampir sebagian Tetua dan Murid Inti berada di Kota Giok Biru.
Mereka disana karena memang ditugaskan untuk menjaga keamanan selama proses pencarian murid dilangsungkan. Dan ada yang sebagian memang sedang bertugas untuk menjaga Kota.
"Dimana keberadaan Nenek saat ini."
"Dia berada dikediaman Kakek, tidak jauh dari Aula Kultivasi."
"Baik, aku akan membuat array pelindung dan penyerang, agar tidak ada yang bisa menerobos kedalam Sekte. Kakek segera perintahkan semua orang untuk menyerang dari sini," ucap Qin Tian serius.
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah membuat susunan array pelindung dan penyerang, Qin Tian mengikuti arah pergerakan Qin Jian sebelumnya yang telah lebih dulu pergi kearah kediamannya.
Para murid lama serta tetua Sekte yang masih berada didalam terkejut karena melihat rupa Qin Tian yang sangat mirip dengan Qin Zhong.
Mereka sudah bisa menduga jika Qin Tian merupakan anak dari Qin Zhong.
Murid-murid yang baru terheran melihat senior serta tetua Sekte yang membiarkan seorang pemuda berjalan santai menuju kearah kediaman Pemimpin Sekte.
"Mengapa penyusup itu dibiarkan lewat, senior?" tanya salah seorang murid yang tidak mengenali Qin Zhong.
"Benar, kenapa penyusup itu dibiarkan lewat, bukankah hal ini akan membahayakan Sekte kita?"
"Tidak perlu, dia bukanlah penyusup, dari wajah nya aku sudah bisa menduga jika dia adalah cucu Pemimpin Sekte, anak dari Tuan Muda Qin Zhong," jawab seorang tetua yang berada disekitar mereka.
"Jika tidak dalam keadaan seperti ini, pasti Pemimpin sudah membuat pesta untuk menyambut dirinya disini," ujar yang lainnya.
Mereka yang mendengar jawaban dari tetua Sekte menjadi paham mengapa sebelumnya pemuda yang tidak dikenal dibiarkan berkeliaran dengan bebas untuk memasuki wilayah Sekte.
Lalu mereka kembali fokus dengan perintah Pemimpin Sekte untuk menyerang kuktivator Aliansi Aliran Hitam yang sedang menuju kearah Sekte.
...• • • • •...
"Chu, sepertinya penyerangan ini bukan yang sesungguhnya," ucap Tian Zhu.
"Ya, kau benar Zhu. Sepertinya ini hanya sebuah pengalihan," jawab Tian Zhu.
"Mungkinkah mereka menargetkan kehancuran Sekte Bunga Api?" ujar Tian Zhu yang tidak sepenuhnya salah.
"Bisa jadi, lebih baik kita menemukan Ibu Qin Tian untuk bertanya dimana lokasi Sekte Bunga Api berada dan kita mungkin bisa memeriahkan pesta jika yang kau pikirkan itu benar," ucap Tian Chu dengan semangat yang tinggi.
"Ayo Chu, jangan buang-buang waktu lagi," ucapnya kemudian menebas siapa saja yang ada didekatnya.
...• • • • •...
Disisi yang lain.
"Ibu, jangan berlebihan," ucap Tang Yue Lin yang memang sudah menganggap Ibu Qin Tian sebagai Ibunya sendiri.
Didalam dunia jiwa milik Qin Tian, Tang Yue Lin sering meminta arahan pada Yun Ling mengenai kultivasi, karena mereka berdua sama-sama kultivator yang memiliki elemen es.
Bukan hanya tentang kultivasi, dia juga meminta saran pada Yun Ling agar bisa menjadi seorang istri yang baik dimasa depan.
__ADS_1
"Ibu tau Lin'er, jangan khawatir," jawab Yun Ling menenangkan Tang Yue Lin.
"Tapi itu berlebihan, Ibu," ucapnya lagi sambil menunjuk kearah lesatan panah es milik Yun Ling.
Tanah disekitar arah lesatan itu seketika berubah menjadi beku, suhu disekitar pun turun drastis.
Yang ditakutkan Tang Yue Lin adalah, lesatan anak panah itu akan merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah.
"Tenanglah, anak panah yang Ibu lepaskan tidak akan berpengaruh pada orang-orang yang bersalah. Harusnya Lin'er sudah mengetahui jika pengendalian elemen Es Ibu sudah mencapai titik yang lumayan tinggi," ujar Yun Ling mengingatkan.
Tang Yue Lin yang mendengar itu menjadi sedikit malu, karena sikapnya yang mudah panik, dia melupakan tentang kekuatan Ibu Mertua nya itu.
"Hehe... Maaf, Lin'er sedikit lupa, Ibu," ucapnya yang sedikit tertawa karena malu.
...• • • • •...
Ditempat lain.
Pertempuran yang tidak seimbang masih terjadi, bahkan situasinya semakin memanas. Banyak orang-orang tidak bersalah menjadi korban.
Terlihat jelas disekitar Arena Colosseum seseorang dengan ganas menebas setiap musuh yang berdatangan. Dengan memegang senjata tombak yang ujungnya berbentuk golok, ia mengayunkannya seperti sedang menari ditengah rintik hujan.
Orang itu adalah Qin Zhong, yang sudah sangat lama tidak merasakan pertempuran seperti ini. Jadi kali ini dia ingin membunuh setiap dari mereka yang menyerang.
Dendam karena kehilangan seorang kakak, dan terpaksa berpisah dengan orang tua, lebih dari dua puluh tahun juga memulihkan diri karena basis kultivasi yang menurun membuatnya sangat bersemangat untuk membalas dendam itu dan melenyapkan orang yang telah membunuh kakaknya dengan kedua tangannya sendiri.
"Dimana kau Zhi Rong, pengecut sialan!" Qin Zhong meneriakkan sebuah nama yang memeliki aura familiar, karena dulu pernah dihadapinya. Seorang yang dicari Qin Zhong merupakan salah satu komandan yang dulu telah membunuh kakaknya.
Seseorang yang diteriakkan Qin Zhong juga kebetulan memimpin pasukan yang menyerang Kota Giok Biru kali ini.
Mendengar namanya diteriakkan dan diremehkan, Zhu Rong menjadi marah lalu menerobos pasukan untuk mencari sumber suara itu.
"Tidak kusangka... Ternyata kau masih hidup Qin Zhong. Apakah kali ini kau akan melarikan diri lagi seperti yang dulu kau lakukan," ucapnya dengan nada meremehkan.
"Julukkan sebagai jenius ahli strategi yang disematkan padamu ternyata hanya omong kosong belaka," ucapnya lagi.
"Jangan banyak bicara. Kali ini akan ku lenyapkan kau," ucap Qin Zhong.
•••
Selamat Membaca
__ADS_1