
Malam hari itu, Mia tidur bersama dengan Finn. Padahal, dia masih takut jika berdekatan dengan pria itu. Saat tidur, dia berbaring membelakangi Finn. Hatinya masih terasa sakit mengingat apa yang telah dilakukan oleh Finn siang tadi.
"Maafkan aku, Mia. Aku juga tidak paham dengan apa yang kulakukan siang tadi. Aku kesal karena kau hanya melihat dan mencari Josh," bisik Finn saat Mia terlelap, kemudian dia merapikan selimut Mia dan dia berjalan keluar dengan langkah sepelan mungkin supaya tidak membangunkan gadis yang sedang nyenyak itu.
"Josh,"
"Apa yang kau lakukan kepada Mia?" tanya Josh penuh selidik.
"Aku suaminya dan dia istriku, Josh. Sudah kukatakan berhentilah ikut campur urusan kami!" jawab Finn tajam.
"Tentu saja ini menjadi urusanku juga, Finn. Aku hapal betul sifatmu yang senang memainkan hati wanita," ucap Josh lagi.
Finn tidak menghiraukan ucapan Josh dan berlalu dari hadapan kawan kecilnya itu.
"Finn! Aku masih bicara denganmu!" panggil Josh. Namun, Finn benar-benar tidak mempedulikan panggilan Josh. Hatinya kini berkecamuk, dia merasa sangat bersalah kepada Mia karena telah memaksanya berhubungan dengannya tadi siang.
Akan tetapi, di sisi lain, egonya mengatakan kalau dia telah melakukan hal yang benar karena dia telah mengeluarkan uang yang cukup banyak hanya untuk membeli keperawanan gadis itu. Harusnya, dia dengan senang hati melayaninya tanpa harus dipaksa seperti ini.
Malam itu, dia memaksakan kedua matanya untuk terpejam walaupun sulit sekali. Dalam benaknya, masih terekam dengan jelas isak tangis Mia serta butiran air matanya yang berjatuhan dan yang sangat membuat hati Finn teriris adalah, rintihan memohon gadis itu. "Gadis Sialan!"
Keesokan harinya, Mia terbangun dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Namun dia tidak perlu bersusah payah untuk bangun karena dua orang pelayan sudah siap untuk membantunya.
"Apa yang bisa saya bantu, Nona?" tanya salah seorang pelayan kepada Mia yang tampak bingung dan mencari sesuatu.
"Di mana Finn?" tanya Mia.
"Tuan Walter tidur di ruangan kerjanya, Nona," jawab pelayan itu.
Mia mengerutkan keningnya. "Kenapa?" Gadis itu perlahan turun dari peraduannya dan berjalan menuju ruangan kerja Finn hanya dengan memakai mantel untuk menutupi gaun tidurnya.
Setelah sampai di depan ruangan kerja Finn, dia mengintip melalui jendela. "Ah, sial! Kenapa ditutup? Makhluk macam apa dia sebenarnya?" ucap Mia bermonolog.
Gadis berambut perunggu itu pun mengetuk pintu ruangan suami bayarannya. "Finn! Keluar kau! Kau harus bertanggung jawab atasku!"
Namun, tidak ada jawaban dari Finn. Mia terus mengetuk pintu itu tanpa lelah. Tetapi, tetap saja tidak ada jawaban dari pria yang senang menghisap cerutu itu. Sampai, seorang pengawal datang dan meminta Mia untuk segera makan pagi.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Tuan Walter sedang tidak ingin diganggu dan sarapan Anda sudah menunggu. Mari," ucap pengawal bertubuh kekar itu.
"Ck! Kemana pria itu?" tuntut Mia, tapi pengawal itu seakan tidak mendengar pertanyaan Mia.
Mia pun menghabiskan sarapan pagi itu dengan penuh tanda tanya. Apakah hanya itu fungsi istri Finn Walter? Gila, sungguh gila! Semua pikiran buruk Mia berlomba-lomba bermunculan di benak Mia.
"Josh! Aku harus mencari Josh untuk tau tentang Finn," gadis itu pun menghabiskan sarapannya dengan terburu-buru, setelah itu dia berlari mencari Josh.
Tiba-tiba saja langkahnya tersandung sesuatu. "Waaaa,"
Untunglah, seseorang menangkapnya dengan cepat. "Pernahkah kau berjalan dalam hidupmu?" tanya pria itu.
"Finn? Darimana saja kau?" tanya Mia terengah-engah.
"Terima kasih," sindir Finn kesal. "Tidak bisakah kau merenungkan apa yang pernah terjadi dalam hidupmu?"
Mia mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Tentu saja aku merenungkannya. Maka dari itu aku mencarimu. Kenapa kau tidak ada di sampingku saat aku terbangun tadi? Dan kata pelayan, kau tidur di ruang kerjamu,"
"Lalu?" tanya Finn santai.
Dia pun berlalu meninggalkan Finn, tetapi segera saja gadis itu mengubah keputusannya dan mengekori Finn.
"Kau sudah sarapan? Ayo, sarapan bersamaku," ajak Mia.
"Sudah," jawab Finn singkat. "Aku sibuk, pergilah!"
Tak patah arang, Mia datang lagi di siang hari. Dia membawakan makan siang untuk Finn.
"Aku saja yang membawa makanan ini. Ini untuk Tuan Walter, 'kan?" tanya Mia kepada pelayan. Dan pelayan itu mengangguk smabil menyerahkan baki makanan kepada Mia.
"Hai, ini makanan untukmu, tunggu sebentar, aku akan makan bersamamu juga. Jangan dimakan dulu, kita akan bersama!" ucap Mia. Karena fia bersikeras tidak mau dibantu untuk menyediakan makanan, maka dia harus rela bolak-balik hanya untuk membawa baki makanan.
Ketika, tiba saatnya dia membawa baki makanan miliknya ke dalam ruangan Finn, pria itu sudah menghabiskan makan siangnya. "Kau sudah selesai? Tanpa menungguku? Manusia macam apa yang bisa menghabiskan makanan banyak seperti itu dalam waktu 5 menit? Kenapa tidak menungguku?"
Finn menahan senyumnya. "Silahkan dimakan. Kau pasti tidak suka bau tembakau, 'kan? Aku keluar dulu," kata Finn sambil berlalu.
__ADS_1
"Aarrgghh!" tukas Mia kesal.
Setelah mengalami penolakan berkali-kali, Mia pun mencari tau tentang Finn Walter melalui para pelayan, para pengawal, juru masak, dan Josh.
"Ah, jadi selama ini dia senang sendiri. Lalu, untuk apa dia menikahiku?" tanya Mia kepada Josh.
"Finn dengan ketampanan dan kekayaan yang dia miliki, dia dengan mudah menarik para wanita hanya untuk dijadikan mainan untuknya. Kau paham kebutuhan biologis, 'kan? Itulah yang terjadi jadi. Dia tidak pernah serius dalam menjalani sebuah hubungan," jawab Josh menjelaskan. "Oh, tapi ada satu orang wanita yang berhubungan cukup lama dengan Finn, Beth Parker. Sebenarnya, aku tidak boleh menceritakan ini padamu tapi kau bertanya jadi, aku hanya menjawab,"
Mia menarik napas panjang. Jadi yang kemarin itu hanya sekedar kebutuhan? Apakah nasibnya akan sama seperti gadis-gadis lain, yang hanya dijadikan sebuah mainan oleh Finn lalu dibuang? Kemudia, Mia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak! Dia tidak boleh memiliki nasib semenyedihkan itu lagi!
"Ada apa denganmu?" tanya Josh melihat tingkah Mia.
"Tidak apa-apa," jawab Mia singkat. Hatinya masih terasa sakit dan perih kala mengingat kejadian dimana Finn merampas kehormatannya dengan kejam.
"Mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang Finn?" selidik Josh lagi.
Namun, kembali Mia menggelengkan kepalanya. "Aku hanya sedang berpikir, apakah ada yang lebih sakit dari ini?"
Josh menatap lekat manik biru Mia. "Apa maksudmu?"
Lagi-lagi Mia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak ada maksud apa-apa, Josh." gadis itu beranjak dari tempat dia duduk dan bergegas pergi.
Namun, Josh menarik tangan Mia dan memeluknya. "Mia, aku bersumpah aku akan melindungimu apa pun yang terjadi."
Mia mendorong Josh menjauh. "Terima kasih," katanya suram dan dia pun berlalu dari sisi Josh. Mia mendengus sesaat setelah Josh mengucapkan sumpahnya itu. "Bagaimana cara dia melindungiku kalau dia sendiri tunduk pada Finn?" tanyanya dalam hati.
Emosi dan amarahnya memuncak dengan cepat seperti gunung merapi yang sedang erupsi dan akan segera memuntahkan lava panasnya, Mia kembali mendatangi Finn di ruang kerjanya.
"Finn! Finn! Buka pintunya atau kudobrak pintu sialan ini!" ancam Mia sambil terus mengetuk dengan kedua kepalan tangannya.
Finn membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan Mia untuk masuk. "Kenapa kau selalu berisik?"
Dengan mengerahkan segala kekuatan yang dia miliki, dia menendang bagian sensitif Finn menggunakan lututnya dan membuat pria itu meringkuk dan mengerang kesakitan sambil memegangi senjata tumpulnya, "Brengsek, kena-,"
Lagi-lagi, Mia menyikut punggung Finn sampai pria itu tersungkur. "Kau bisa membuat para wanita bertekuk lutut kepadamu, tapi itu tidak berlaku kepadaku, Tuan Finn Walter. Dan ini, pembalasan untuk semua rasa sakit yang kau berikan kepadaku kemarin!" bisik Mia. Setelah puas, dia keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu.
__ADS_1
...----------------...