Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Rindu


__ADS_3

Kemunculan perdana Mia sebagai seorang pole dance, menyita hampir sebagian besar pria-pria yang tinggal di kota itu. Begitu nama Mia muncul di banner iklan rumah Luigi keesokan harinya, ramai orang-orang berbondong-bondong hanya untuk menyaksikan Mia menari.


Tentu saja di mata Luigi, Mia bertambah istimewa karena dapat mendatangkan keuntungan yang banyak padanya. Belum ada satu bulan Mia bekerja sebagai penari Luig tetapi pria itu sudah menempatkan Mia setara dengan Gwen dan Pat serta senior-senior kesayangan Luigi.


Beruntunglah karena para senior itu tidak begitu mempedulikan penempatan lantai. "Aku tidak peduli dia menjadi kesayangan Luigi, aku hanya ingin mencari uang yang banyak setelah itu, aku akan keluar dari sini," sahut salah seorang penari senior.


Mia pun tampak tidak peduli karena yang ada dalam otaknya kini adalah, dia mendapatkan tempat tinggal untuk sementara serta, sama seperti para senior lainnya dia akan mengumpulkan uang yang banyak setelah itu dia akan keluar dari rumah itu.


Gadis itu juga menolak jika ada seorang tamu yang memintanya untuk ikut dan melayani mereka. Untuk sementara ini Luigi selalu membelanya dengan alasan dia termasuk gadis yang baru dan belum terlalu banyak belajar.


"Dia tidak akan menjualmu kepada siapapun, Mia. Percaya saja kepadaku. Karena dia belum mencobamu," ucap Gwen. "Kau boleh mengikuti saranku, silakan saja kau menolak para pria hidung belang itu. Namun kau harus siap melayani Luigi kapanpun dia mau. Kalau aku, lebih memilih untuk melayani Luigi daripada aku harus ikut dengan para pria brengsek itu!" katanya lagi menambahkan.


Mia pasang ekspresi jijik saat mendengar ucapan Gwen. "Berarti Luigi sudah bermain dengan beberapa orang wanita, dong?"


Gwen menggeleng. "Dia pemilih, Mia. Dia tidak akan menyentuh wanita yang tidak sesuai dengan seleranya. Tapi, jika dia benar-benar tertarik pada satu orang wanita maka wanita itu akan disimpannya dan tidak akan pernah dipertontonkan untuk orang lain. Hanya dipamerkan, kau paham maksudku?"


Mia mengangguk. "Tapi semua wanita di rumah ini, dipertontonkan untuk orang lain. Halo siapa yang wanita dia simpan untuk saat ini?"


Pat mendengus. "Huh! Mantan suamimu adalah teman dari Luigi. Kau mantan istri Finn Walter, bukan? Kelakuan mereka sama, Mereka senang mengoleksi wanita dan jika mereka sudah bosan mereka akan kembali membuang wanita itu. Apa kau tahu siapa simpanan mantan suamimu sekarang?"


Sesuatu yang tajam seperti menembus jantung Mia. Mengingat Finn membuat hatinya serasa teriris. "Aku tidak peduli dengan mantan suamiku. Lagi pulang Kami tidak bisa disebut sebagai suami istri karena dia membeliku,"


Kedua bola mata Gwen dan Pat membulat sempurna. "Oh yah? Jadi dia membelimu sebagai budak atau sebagai seseorang yang harus melayaninya?"


Mia terdiam sesaat. Perkiraan kedua seniornya itu semuanya salah. Bagaimanapun Finn dan Mia pernah mengalami momen yang manis. Masih jelas dalam ingatan Mia kalau Finn pernah mengatakan supaya Mia terus berada di sisinya dan jangan pergi meninggalkan dia. Akan tetapi pada kenyataannya, Finnlah yang melepasnya.


"Aku tidak menjadi budaknya dan aku juga tidak melayaninya dia hanya membeli ku untuk menjadi pajangan di rumahnya," jawab Mia tegas.


Baik Gwen dan Pat saling berpandangan dan pada akhirnya mereka berdua memeluk Mia. "Kau bertemu dengan orang yang tepat Mia. Kami berdua pernah sama-sama patah karena cinta dan saat ini, sudah saatnya bagimu untuk bangkit dan mengembalikan hatimu seperti semula,"

__ADS_1


"Kau pasti kuat dan bisa melewati ini semua," hibur Pat.


Berkat bantuan kedua teman barunya itu, biar menjadi semangat dalam menjalani hari-harinya terutama saat dia harus bekerja menjadi penari.


Suatu hari, Luigi memanggil Mia saat gadis itu sedang menari bersama Pat. Luigi tidak menunggu hingga Mia menyelesaikan tariannya.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi, saya ingin berbicara sebentar dengan penari saya," ucap Luigi kepada pria yang menonton Mia sambil menyerahkan beberapa lembar uang.


Dia melambaikan jari-jarinya kepada Mia dan meminta gadis itu untuk segera turun dari panggung. Dengan tergopoh-gopoh, Mia menuruni panggung kecil itu. "Ada apa?"


"Ikut aku!" ucap Luigi.


Mia memandang kepada Pat dan Gwen sebelum dia meninggalkan hingar-bingar ruangan itu. "Ke mana?"


Luigi tidak menjawab, tetapi dia mengajak Mia menaiki tangga spiral menuju ruangannya. Setibanya mereka di atas, Luigi mengunci pintu serta menutup tirai jendela.


"A-, apa yang akan kau lakukan?" tanya Mia ketakutan.


Sampai akhirnya, Mia terpojok pada sebuah dinding. Luigi mengurungnya. Tangan pria itu membelai wajah Mia yang halus. "Aku menginginkan dirimu saat ini, Mia,"


Ketika Luigi mempertipis jarak mereka, Mia memalingkan wajahnya. Namun, Luigi mengangkat dagu Mia dan mendaratkan ciumannya di bibir gadis itu.


Sesaat, dia melepaskan ciumannya dan mengusap lipstik di bibir Mia. "Aku tidak suka rasa pemerah bibirmu. Aku suka rasa bibirmu, Mia. Benar kata Walter, bibirmu lembut dan manis," ucap Luigi, dia kembali mengambil alih bibir Mia.


"Hmmph!" Mia berusaha melepaskan diri dari kungkungan pria maskulin itu. Akan tetapi, dia mengingat nama Finn disebut, kenapa Finn memberitahukan hal itu kepada Luigi? Kapan mereka bertemu dan kapan?


Segala keberaniannya, Mia menggigit bibir bawah pria itu.


"Aaw! Apa yang kau lakukan, Mia!" sentak Luigi.

__ADS_1


"Di mana kau bertemu dengan Finn? Dan kapan kau bertemu dengannya? Apa yang kau katakan kepada Finn sampai dia bisa berkata seperti itu tentangku?" tuntut Mia bertubi-tubi.


Luigi tersenyum. "Aku senang dengan gadis muda yang sedang jatuh cinta."


Entah kenapa melihat Luigi tersenyum, wajah Mia memerah dan dia menginginkan pria itu untuk menciumnya kembali. "Aku tidak senang!"


"Izinkan aku bermain denganmu, Mia. Setelah itu, aku akan menjawab semua pertanyaanmu tentang Finn," ucap Luigi.


Seharusnya Mia tau kalau dia sedang berada di kandang seekor buaya dan seharusnya dia menolak Luigi. Namun, rasa sakitnya terhadap Finn mengajak otaknya untuk menjawab sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya. "Hanya menyentuh, Luigi! Kuizinkan kau menyentuhku tapi tidak memasukiku!"


Luigi tersenyum puas. "Deal. Kau benar-benar licik, Mia. Aku suka itu,"


Luigi pun melahap bibir Mia dengan rakus. Dia mengangkat tubuh gadis kecil itu ke dalam pelukannya dan membaringkan Mia di ranjang miliknya tanpa sedetik pun dia melepaskan ciuman panasnya.


Tangannya berkeliaran di sepanjang tubub gadis mungil itu. Membiarkan Mia menggelinjang hebat di bawah kendalinya. Tak hanya itu, Luigi sanggup memberikan Mia sensasi menyenangkan saat lidahnya bermain di lembah Mia. "Ups, ternyata kau menikmati permainan kita, Mia."


Luigi pun menenggelamkan wajahnya di antara kedua kaki Mia sambil jarinya tak henti bergerak maju mundur di bagian bawah liang Mia.


"Aahh! F-, Finn!" dessah Mia tanpa sadar.


Akan tetapi, Luigi mendengar itu dengan baik. Dia merayap ke atas dan menyesap pucuk bukit Mia kuat-kuat sampai gadis itu mengerang kesakitan.


"Aahhh, sakit!" ucap Mia sambil meringis.


"Sebut namaku dengan benar, Sayang! Namaku bukan Finn!" tukas Luigi kembali memagut bibir Mia dengan kasar. Tak lama, dia sudah sibuk kembali di antara kedua kaki Mia.


Entah kenapa, Mia mengingat Finn dan nama Finn terlontar begitu saja dari mulutnya. Tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, Mia menggigit bibir bawahnya untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


Ingin sekali rasanya dia berteriak dan memanggil nama Finn dengan lantang saat Luigi asik bermain di bawahnya. Apakah ini rasanya merindu? Mia tidak tau.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2