Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Rasa Yang Nyata


__ADS_3

Keesokan harinya, mata Mia tampak sembab dan bengkak. Kebetulan hari itu, Willia yang bertugas menjaga dan melayani Mia. Gadis muda itu terkejut melihat nonanya keluar kamar dengan wajah memerah seperti itu.


"No-, Nona, apa yang terjadi?" tanya Willia, dilihatnya Finn ada di atas ranjang Mia tanpa pakaian. Willia segera memapah Mia dan membantunya untuk duduk di sofa panjang.


"Temani aku ke taman belakang dan tolong katakan kepada pengawal untuk melarang siapa pun masuk kesana," titah Mia, tatapan matanya kosong.


Malam itu, perasaan Mia campur aduk. Dia takut kepada Finn tetapi di lain sisi, ada sesuatu yang membuat dia terus ingin mengenal lebih jauh tentang Finn Walter.


Semua ciuman dan sentuhannya sangat berbeda dari saat mereka berhubungan. Bahkan dengan lembut, Finn menyebut namanya dalam bisikan.


Satu hal yang membuat Mia kesal dan menangis adalah Finn melakukan itu hanya karena dia ingin, bukan berdasarkan cinta. Namun, kembali lagi dia disadarkan oleh kenyataan, kalau dia hanyalah sebuah barang dagangan.


Air matanya kembali mengalir jika dia mengingat itu. Ada rasa sakit dalam hatinya yang tak bisa dia jelaskan. Mia mengusap air matanya dan kembali memandang pohon dan rerumputan yang membentang luas di hadapannya.


"Nona, Anda butuh sesuatu?" tanya Willia. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat Mia sedang bersedih hati seperti ini.


Mia menggeleng. "Tidak, aku hanya ingin kau tetap disini dan menemaniku, Willia,"


"Apa saya harus memanggil Tuan Winston?" tanya Willia lagi, biasanya jika Mia ingin ada seseorang disisinya, maka dia akan senang hati jika Josh bersamanya.


Namun, lagi-lagi Mia menggeleng. "Tidak perlu, Willia. Tetaplah disisiku dan tolong jangan katakan kepada siapa pun tentang kondisiku pagi ini. Berjanjilah!"


"Baik, Nona," jawab Willia pasrah.


Ingatan Mia kembali pada Finn malam tadi, dia tampak marah sekali saat Mia dekat dengan Josh. Oleh karena itu, Mia tidak ingin melihat Finn marah lagi seperti tadi malam.


Akan tetapi, kenapa Finn harus marah? Dia seharusnya tidak perlu sampai semarah itu hanya karena Mia dekat dengan Josh? Selagi Mia asik dengan pikirannya, seorang pria yang dia pikirkan datang menghampirinya.


"Mia, temani aku makan!" tanpa basa-basi, Finn menarik tangan Mia dan setengah menyeretnya.


"Kau tidak perlu sekasar ini, Finn!" protes Mia, dia menghentakkan tangannya supaya terlepas dari cengkraman tangan Finn.


Finn melepas tangan Mia. "Baiklah, Nona. Sudikah kiranya kau menemaniku untuk makan?"


Wajah Finn menjadi semerah strawberry yang siap petik dan dia merasakan suhu tubuhnya meningkat. Tak hanya Finn yang merasakan perubahan ini, Mia yang mengira Finn sedang sakit segera menempelkan telapak tangannya di dahi dan pipi Finn, dan justru membuat wajah Finn seakan berasap.

__ADS_1


"Kau demam? Kau sakit? Sini kuperiksa," ucap Mia. Bahkan dia menempelkan keningnya di kening Finn. "Kau baik-baik saja, tapi kenapa wajahmu memerah?"


"Bodoh!" umpat Finn pelan dan dia berjalan mendahului Mia ke meja makan.


Seorang pelayan membantu Mia untuk menarik kursi makan dan seorang yang lain menghidangkan berbagai macam roti serta aneka selai dan minuman, mulai dari susu, kopi, teh, bahkan anggur merah. Setelah semua tersaji di meja, para pelayan itu menutup pintu ruang makan.


"Makanlah yang banyak. Tadi malam kau lelah," ucap Finn, wajahnya masih bersemu merah.


Tak hanya wajah Finn yang memerah, Mia pun merasakan suhu panas tubuhnya merambat naik. "A-, aku tidak lelah. Kau selalu memaksaku!"


"Baiklah, malam ini aku akan bertanya kepadamu lebih dulu," kata Finn lagi dengan singkat.


"Eh, la-, lagi?" kata Mia terkejut, wajahnya yang sudah merah menjadi sangat merah lagi.


Finn mengulum senyumnya. Dia masih tidak ingin Mia melihatnya tersenyum seolah menikmati tingkah lucu gadis itu.


Sepanjang hari itu, sikap Finn menjadi lebih hangat dan lebih ramah. Dia mengajak Mia untuk sarapan bersama, berjalan di taman, bahkan menemaninya berbincang-bincang di atas dinding yang biasa dia panjat bersama Josh.


"Kau benar-benar menyiksaku, Mia! Baru kali ini aku berjemur di matahari, apalagi memanjat seperti ini! Hanya kau yang bisa membuatku seperti ini!" keluh Finn terengah-engah saat memanjat pohon untuk sampai ke atas.


Benar saja apa yang dikatakan Mia, beberapa kelompok ibu-ibu mendongak ke atas dan melambaikan tangannya ke arah Mia. "Selamat pagi, Mia. Bagaimana kabarmu hari ini?"


"Selamat pagi, Nyonya. Kabarku baik, terima kasih. Semoga hari Anda menyenangkan," balas Mia dengan senyum lebarnya yang manis.


"Oh, ada Tuan Walter. Selamat pagi, Tuan," kata seorang ibu yang lain.


Finn membalas mereka dengan senyum canggung yang sedikit dipaksakan.


"Tersenyumlah yang tulus, Finn. Mereka dapat merasakannya," ucap Mia lagi.


"Sudah. Itu senyum terbaikku, seharusnya mereka mengucapkan terima kasih! Kenapa dengan Mia? Kenapa tidak Nyonya Walter?" tuntut Finn. Entah kenapa, sulit sekali bagi Mia untuk menyematkan nama Walter di belakang namanya.


Mia mengerutkan keningnya. "Namaku memang Mia, 'kan? Aku belum resmi menjadi istrimu,"


"Begitu? Lalu, kalau belum resmi mengapa tadi malam kau sangat menikmati pelepasan kita? Bisa coba dijelaskan?" goda Finn sambil mengunci kedua manik biru Mia.

__ADS_1


Semburat merah muncul lagi di wajah Mia yang cantik. "I-, itu ka-, karena, ... Sudahlah, tidak perlu dibahas!"


Walaupun kesal, tetapi Mia tetap tersenyum dalam hati. Mia kembali mengingat pelepasan mereka tadi malam dan jantungnya kembali berdebar-debar saat mengingat itu, wajahnya pun memerah.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Finn yang menyadari perubahan di wajah Mia. "Oh, kau pasti berpikir macam-macam, 'kan? Terlihat jelas di wajahmu, Mia. Hahahaha!" Pria pucat nan tampan itu tidak bisa menahan tawanya melihat gadis yang ada disisinya itu salah tingkah.


"Cih! Berhenti menggodaku!" tukas Mia tersipu malu.


Finn menautkan jari-jarinya di telapak tangan Mia. "Biarkan aku seperti ini sebentar,"


"Kau tidak mencari Josh?" tanya Finn lagi.


Mia menggeleng. "Kau melarangku, 'kan? Lagipula, kau sudah menemaniku disini, jadi terima kasih,"


Finn memandang wajah Mia. Dia memperhatikan setiap gerak gerik yang gadis itu lakukan. "Pernahkah aku mengatakan kepadamu kalau kau cantik?"


"Entahlah, aku tidak memikirkan itu. Aku hanya berpikir bagaimana aku bisa membayar hutang kedua orang tuaku," jawab Mia.


"Anggap saja orang tuamu tidak pernah menjualmu dan kau tidak perlu memikirkan hutang-hutang itu," ucap Finn. Ada sebuah harapan baru yang ingin dia sampaikan kepada Mia, tetapi dia sendiri masih belum yakin dengan harapan itu.


"Aku tidak bisa seperti itu. Kau telah mengeluarkan uang lebih dari yang seharusnya kau keluarkan," kata Mia. Gadis itu pun tidak tau apa yang akan dia lakukan setelah hutang itu terbayarkan semuanya.


Sebersit rasa pedih saat Mia membayangkan harus meninggalkan Finn nantinya. Dia belum memahami rasa rumit apa yang kini mneguasai hatinya.


"Jangan pernah terpikirkan untuk pergi dari sini karena aku sudah membelimu, Mia." kata Finn tajam.


"Ti-, tidak!" Mia bertanya-tanya, darimana Finn mengetahui apa yang dipikirkannya?


"Karena aku sudah membelimu, maka kau menjadi milikku!" tukas Finn lagi, dia menatap bola mata berwarna biru yang menari-nari di hadapannya dan perlahan, dia mengecup bibir kemerahan yang seakan terus memanggil namanya meminta untuk disentuh. "Kau milikku selamanya, Mia."


Mia membalas kecupan manis itu dengan memejamkan kedua matanya. Tanpa mereka tau, di bawah mereka ada seseorang yang melihat mereka dengan penuh kebencian.


"Finn Walter, kau telah menabuhkan genderang perang kepadaku!" gumam orang itu sambil berlalu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2