Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Rencana Beth


__ADS_3

Siang hari itu, Josh tidak bisa melepaskan pandangannya dari Mia. Sejak Beth Parker datang dan mengumumkan kehamilannya, energi Mia seakan menguap dan menjadikan dia sekecil kutu.


"Aku saja belum mengandung," ucap Mia dengan suara pelan sampai nyaris tak terdengar.


Josh menahan tawanya. Dia senang sekali melihat Mia jika gadis itu sedang merajuk. "Tahukah kau, kalau kau itu menggemaskan,"


Mia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, tapi kenapa si Beth itu datang kembali dan berkata kalau dia mengandung anak Finn? Ah, rasanya kebahagiaan kami masih jauh sekali,"


"Hahahaha! Ehem! Ehem! Maafkan aku," Josh segera merubah tawanya menjadi serius saat dia melihat kedua mata biru Mia berkaca-kaca. "Mudah saja menurutku, panggilkan dokter kandungan untuk mengecek Parker, setelah itu kita akan lihat hasilnya bersama-sama. Lembar pemeriksaan yang dia bawa bisa saja hasil manipulasi,"


"Jadi, dia pura-pura mengandung? Ish! Jahat sekali!" tukas Mia penuh kebencian.


"Saranku hanya satu, Mia. Bertahanlah kalau perlu tempatkan dirimu pada posisi menyerang. Jangan tinggalkan Finn sedetik pun dari sisimu!" usul Josh penuh semangat. Setelah kata-kata itu terucap, dia kembali menyesal. Padahal ini kesempatan bagus untuknya untuk bisa merebut hati Mia.


Mia terdiam, alisnya menyatu, dan bibirnya mencebik, tanda gadis itu sedang berpikir. "Hmmm, aku paham. Baiklah! Terima kasih, Josh,"


Mia pun menghampiri Finn yang saat itu sedang bersama Beth, dan Mia mendengar pertengkaran hebat dari dalam ruangan Finn.


"Itu bukan anakku! Malam itu aku akui aku menyentuhmu tapi aku tidak melakukan pelepasan denganmu! Setelah melihat Mia masuk ke dalam dan pergi, aku menyudahi acara kita saat itu! Jangan coba-coba menipuku, Parker!" tukas Finn panas.


Beth mempertahankan pendapatnya. "Kau mabuk dan tidak sadarkan diri, Walter! Kita melakukan itu!"


"Buktikan! Buktikan bersamaku! Kau bersedia?" tantang Finn.


Beth mengambil kertas putih yang tadi dia bawa dan dia kembali tunjukkan kepada Finn. "Apa ini belum cukup untuk sebuah bukti? Bukti apalagi yang kau inginkan?"


Finn merebut kertas itu, merobeknya menjadi beberapa bagian, dan dia melemparkannya ke wajah Beth. "Sekarang, kau tidak hamil lagi!" kemudian Finn meminta pelayan wanita untuk mengeluarkan Beth dari rumahnya. Tak hanya itu, dia juga meminta pengawal untuk melarang Beth Parker masuk ke dalam rumah.


Tentu saja dia juga sangat marah kepada pengawal yang mengizinkan Beth masuk saat itu. "Siapa tugas berjaga hari ini?"


"Antonio, Tuan," jawab salah seorang pengawal.


"Panggil dia kesini! Minta dia untuk datang ke ruanganku, sekarang!" titah Finn kesal. Dia segera memasuki ruangannya kembali, tentu saja setelah dibersihkan oleh para pelayan. Dia tidak ingin jejak Beth Parker menempel disana.


Tak beberapa lama kemudian, seorang pria kekar dan tegap masuk ke dalam ruangan Finn.

__ADS_1


"Kau Antonio?" tanya Finn tajam.


Pria yang bernama Antonio itu pun mengangguk. "Ya, Tuan. Saya Antonio,"


"Mulai besok, kau tidak perlu datang lagi kesini! Kau telah melakukan kesalahan besar, Antonio. Kau berkontribusi dalam menyebabkan huru hara pagi ini. Pergilah!" tukas Finn lagi.


Antonio seperti hendak menangis. "Ma-, maafkan saya, Tuan. Saya tidak, ...."


"Kau bertahun-tahun bekerja bersamaku, kenapa bisa melupakan setiap tamu yang datang ke sini? Pergilah!" jawab Finn tanpa memandang sedikit pun pada Antonio.


Semenjak kejadian itu, hari-hari Finn Walter jauh lebih tenang dan damai. "Mengerikan, ini terlalu damai! Aku merasakan firasat tidak baik saat ini,"


"Jangan berbicara yang buruk, nanti akan kejadian. Pikirkan dan bicara saja yang baik-baik supaya semuanua juga baik," kata Mia mengingatkan.


Finn mengecup lembut kening istrinya itu. "Semoga, Mia. Semoga,"


Sementara itu di suatu tempat yang cukup jauh dari tempat Finn, Beth Parker sibuk menyusun rencana tentang bagaimana mendapatkan Finn Walter.


"Ck! Kenapa Walter sulit sekali untuk kudapatkan? Biasanya dia luluh dengan permainan tanganku, tapi kali ini dia sama sekali tidak berpengaruh. Aargghh! Mengesalkan sekali!" tukas Beth pada dirinya sendiri. Dia terus memutar otaknya, supaya dia mendapatkan apa yang dia inginkan.


Tiba-tiba saja wajahnya menjadi cerah, secerah sinar mentari pagi. Dia segera mencari sesuatu dan meminta orang utusannya untuk menyelidiki.


Pria itu mengangguk. "Ya, Nyonya. Dia tinggal di kota sebelah utara. Anda bisa kesana untuk mengecek kebenarannya,"


Beth tersenyum miring. "Baiklah, aku akan menyuruh orangku untuk mengecek kesana, kalau informasi yang kau berikan ini benar, maka, aku akan menbayarmu. Tapi sebaliknya, jika informasi ini salah, bersiaplah! Hukuman akan menantimu!"


"Baik, Nyonya," jawab pria itu dengan suara bergetar.


Sambil tersenyum puas, Beth menghubungi salah seorang pelayannya untuk pergi ke kota sebelah utara. Dia meminta foto dan berbagai macam bukti yang menyertakan kalau orang yang dia cari memang tinggal disana.


Jarak dari kota tempat Beth tinggal dan kota sebelah utara, cukup jauh dan memakan waktu sekitar tiga sampai empat jam.


Beth menunggu dengan tenang sambil mematangkan rencananya. "Kau kenal Colton? Dari desa?" tanya Beth kepada orang yang tadi diperintahnya.


Orang itu berpikir sejenak. "Colton? Yang anak gadisnya cantik sekali itu?"

__ADS_1


"Cih! Seterkenal itukah Gadis Colton itu?" tanya Beth kesal.


Pria itu mengangguk. "Ya, dan orang tuanya memberikan kabar saat itu kalau gadis mereka masih tersegel. Anda pasti tau maksud dari kata tersegel, 'kan?"


"Aku tau. Itukah sebabnya dia terkenal?" tanya Beth. "Hanya karena itu?"


"Tentu tidak. Dia cantik sekali, Nyonya. Dan karena pasangan Colton berasal dari keluarga yang pernah kaya, pendidikan Gadis Colton itu tinggi dibandingkan dengan budak lainnya. Dia terkenal pintar dan cantik," jawab pria itu lagi, wajahnya berseri-seri senang.


Bibir Beth mencebik. "Cih! Apa bedanya denganku? Apa yang Finn Walter cari pada gadis macam Colton itu? Aneh sekali,"


"Andaikan saya bisa membeli Gadis Colton, saya akan memilih dia dibandingkan Anda, Nyonya," kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut pria itu tanpa dia sadari.


Beth membelalakan kedua matanya. "Kurang ajar, kau!"


Setelah hampir seharian menunggu, akhirnya Beth mendapatkan kabar gembira dari pelayannya. "Oke, kembalilah! Aku yang akan kesana!"


Kemudian, Beth memberikan dua ikat uang kepada pria itu. "Bayaranmu, aku kurangi seikat karena kau telah merendahkanku!"


Keesokan harinya, Beth pergi ke kota sebelah utara. Tak perlu waktu lama baginya karena supir yang dia pakai sudah pernah kesana sebelumnya.


"Selamat sore," sapa Beth dengan sopan.


Seorang pria tua dengan memakai tongkat untuk membantunya berjalan menghampirinya sambil membenarkan letak kacamatanya. "Siapa?"


Karena Beth ingin menampilkan sosok wanita sopan yang berpendidikan, maka dia mengenakan gaun panjang yang manis dan rambut terikat kuncir kuda dengan pita yang menghiasi rambut pirangnya. "Saya Beth Parker, Tuan,"


"Masuklah." kata pria tua itu sambil mempersilahkan Beth untuk masuk dan duduk. "Ada perlu apa, Nona muda seperti Anda datang kesini?"


"Saya kekasih putra Anda, Finn Walter. Saat ini, putra Anda sudah menikah dengan seorang budak yang dilelang di pasar di desa dekat situ. Karena hal itu juga, Walter memutuskan hubungan kami, padahal, ...." kalimat Beth terputus karena dia memutuskan untuk berpura-pura terisak. "Aku se-, sedang mengandung anaknya,"


"Benarkah? Dia menikah dengan budak? Ka-, kau hamil anak Finn?" tanya Tuan Walter.


Beth mengangguk lemah sambil menutulkan sudut matanya dengan selembar kain sutra yang lembut.


"Terlalu! Antar aku ke sana! Aku akan memberikan pelajaran kepada anak kurang ajar itu!" tukas Tuan Walter kesal. "Panggil aku dengan Ronald. Namaku, Ronald,"

__ADS_1


"Baik, Tuan Ronald. Saya akan antar Anda ke tempat Finn Walter," jawab Beth tersenyum puas penuh kemenangan.


...----------------...


__ADS_2