Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Ronald Walter


__ADS_3

Kedatangan Ronald Walter, di kediaman Finn membawa suasana baru bagi penghuninya. Pria paruh baya itu senang sekali mengkritik cara Finn hidup dan memperlakukan pelayan serta pengawalnya.


"Santai sekali mereka. Pukul enam, seharusnya sudah ada makanan di meja. Baik itu untuk sarapan atau makan malam. Untuk makan siang, pukul sebelas, makanan pembuka juga sudah tersaji! Berantakan sekali rumah ini!" tukas Ronald ketika dia ingin sarapan pada pukul tujuh, tetapi di meja makan belum tersaji makanan apa pun.


"Di rumah ini, jam makan memang tidak harus selalu tepat! Kalau kau tidak suka, kau bisa kembali ke rumahmu!" jawab Finn ketus. Dia tidak suka ada ayahnya disana karena saat kecil ayahnyalah yang membuat dia menjadi sosok yang dingin dan tidak bisa berkomitmen.


Apalagi saat Finn kecil, ayahnya suka memukulinya karena mabuk. Sejak dia kabur dari rumah di usianya yang masih remaja, Finn memutuskan untuk tidak pernah lagi berhubungan dengan ayahnya.


Namun saat ayahnya semakin menua, dalam diam Finn mencari tau informasi tentang ayahnya itu. Bagaimanapun, Ronald adalah ayah kandungnya.


"Mana istrimu?" tanya Ronald. "Mengapa sudah siang belum bangun?"


"Dia sudah bangun sedari tadi dan biasanya dia mencari bunga atau sekedar berjalan di taman," jawab Finn singkat. "Sebentar lagi dia akan datang,"


"Apakah dia seorang budak?" tanya Ronald lagi. "Bisa-bisanya kau menikahi budak dan membuang tunanganmu, dalam kondisi mengandung pula! Ke mana hatimu, Finn!"


"Mia bukan seorang budak! Aku menyelamatkan dia dan ternyata semakin lama aku mengenalnya aku semakin jatuh cinta padanya. Tenang saja, aku tidak akan sepertimu. Aku tidak mabuk-mabukan, aku tidak bermain dengan wanita, dan aku tidak memukuli istriku," ucap Finn tajam.


Ronald mengepalkan tangannya dan menatap Finn tajam. "Kau ungkit lagi kesalahanku, huh? Apa kau tidak bisa memaafkanku? Umurku mungkin tidak panjang lagi, Finn. Aku hanya menasihatimu untuk tidak menikah dengan budak atau orang desa! Ingat ibumu? Dia berasal dari desa dan di mana sekarang dia berakhir?" Ronald mengayunkan kepala dan mengangkat telunjuknya ke atas.


Wajah Finn memerah, dia menggebrak meja dengan keras. "Itu karena ulahmu, Pria Tua! Kau yang menyia-nyiakan dia dan memukulinya sampai dia tak berdaya! Saat itu, hatimu tidak berfungsi, bahkan semua inderamu seakan tertutup oleh alkohol sampai kau tidak bisa mendengar tangis dan rintihan ibuku! Sialan!" suara Finn tercekat. Dia kemudian beranjak dari kursi makan dan mengurung diri di dalam ruangannya.


Ronald memilin jari-jarinya, mengingat masa lalu. Dia menundukan kepalanya sesaat. Tadinya dia ingin bersedih, sampai dia melihat Mia dengan membawa seikat bunga hibiscus merah yang cantik. Gadis itu melompat-lompat dengan riang dan mengganti bunga di atas meja makan dengan bunga yang baru saja dia bawa.


"Selamat pagi, Tuan Walter," sapanya dengan ceria. Wajahnya bersemu merah karena terik matahari.


"Huh! Budak Tak Tau Diri!" umpat Ronald memalingkan wajah, dia pun mengangkat tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam kamar.


Mia memberengutkan bibirnya. "Ada apa dengan pria itu? Galak sekali wajahnya?" tanya Mia kepada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, suara gelak tawa ceria dari Ronald terdengar. "Ah Anak Cantik, selamat pagi. Masuklah dan mari sarapan bersamaku,"

__ADS_1


Mia menjulurkan kepalanya. "Hai, Nyonya Parker,"


"Heh, kau! Siapakan makanan untukku dan istri Finn ini! Berikan dia makanan yang bergizi dan sehat! Jangan lupa, susu! Dia sedang mengandung cucuku!" titah Ronald kepada Mia.


Willia yang saat itu berada di ruang makan, memberanikan diri untuk mengambil alih tugas yang diperintahkan oleh Ronald.


"Maaf, Tuan. Itu tugas kepala koki dan juru masak, bukan Nyonya Walter. Saya akan memberi-,"


Ronald memberikan telapak tangan keriputnya pada Willia. "Aku mau gadis desa yang ini melayani kami! Anakku sudah membayar dia, 'kan? Kalau sampai juru masak atau pelayan yang mengerjakannya, aku akan memecat kalian!" ancam Ronald.


Beth terkekeh senang melihat bagaimana Mia diperlakukan. "Sudah selayaknya seorang budak berada di dapur. Ya, 'kan, Ayah?" ucap Beth dengan nada manja.


"Itu sudah hukum alam, tidak boleh ada yang menggangu gugat hukum itu! Cepat laksanakan!" titah Ronald kembali pada Mia.


Dengan anggun, Mia tersenyum dan merendahkan tubuhnya kepada Ronald dan Beth. "Silahkan menunggu, Tuan,"


Tak lama, Mia sudah berganti pakaian dengan pakaian pelayan. Dia melarang semua yang ada di dapur untuk membantunya. Beruntunglah dia, karena dia biasa bekerja saat masih bersama orang tuanya, jadi, tidak sulit bagi gadis itu untuk membuat hidangan dan menyajikannya.


"Panggil Finn dan temannya untuk makan bersamaku! Sudah lama aku tidak makan bersama mereka!" perintah Ronald. Lagi-lagi, dia memerintah Mia.


"Baik, Tuan," ucap Mia patuh. Dia berjalan ke ruangan Josh diikuti oleh Willia.


"Nyonya, biar saya saja," sahut Willia. Dia tak tega melihat majikannya bekerja dengannya. "Silahkan Anda berganti pakaian, Nyonya. Ayo, ikut dengan saya,"


Namun Mia menggeleng. "Tidak apa-apa, Willia. Tuan Walter belum mengenalku jadi paling tidak aku harus bisa mengambil hatinya, 'kan?" ucap Mia tersenyum.


"Tuan Winston, sarapan sudah siap dan Anda ditunggu oleh Tuan Ronald Walter," kata Mia sambil mengetuk pintu ruangan Josh. Senyum iseng dan menggoda terukir di wajahnya.


"Ya, mohon tunggu!" sahut Josh dari dalam. Tak lama dia keluar, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Mia dengan pakaian seperti itu. Semburat merah menjalar di wajah putihnya. "Mia! Apa yang kau kenakan! Astaga! Pakai jaketku! Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian seperti itu?"


Mia menyeringai lebar. "Aku pantas tidak?"

__ADS_1


Josh mengibaskan tangannya dan masuk lagi ke dalam. Beberapa menit kemudian, pria itu sudah keluar dengan membawa jaket bertudung. Dengan cepat, dia memakaikan jaket pada Mia untuk menutupi tubuhnya. "Entah siapa yang menyuruhmu memakai pakaian seperti itu?"


"Tuan Ronald Walter, Tuan," jawab Willia berbisik.


Sementara Mia, dengan riang setengah berlari ke ruangan Finn untuk memanggil Finn. "Finn, ayo sarapan! Ayahmu sudah menunggu,"


Finn pun membukakan pintu untuk Mia. Sama seperti Josh, dia terkejut melihat penampilan Mia. "Kemana gaunmu? Dan, demi Tuhan, apa yang kau pakai?"


"Jaketku. Ayahmu yang baik itu memperlakukan Mia sebagai pelayan," jawab Josh seketika. "Willia, pakaiakan dia gaun yang benar-benar gaun. Rapikan rambut dan segalanya. Saat ini, dia menyandang status Nyonya Walter,"


"Baik, Tuan," Willi menyahut dengan patuh.


Namun, Finn mengambil lengan Mia. "Aku saja! Aku ingin lihat bagaimana reaksi ayahku dan, tunggu dulu, apakah dia bersama dengan seorang wanita?"


Josh paham sekali siapa yang dimaksud dengan 'dia' disini. Josh mengangguk. "Aku berani bersumpah, ayahmu sedang bersama Parker. Wanita licik itu sudah merencanakan ini semua dan ayahmu terpengaruh dengan embel-embel, kau membeli Mia dari Pasar Budak,"


"Shitt! Kau duluan, aku akan pergi bersama Mia. Willia tolong siapkan gaun dan sebuah pita cantik untuk Mia," ucap Finn sopan.


"Baik, Tuan," jawab Willia patuh. Dia pun bergegas pergi untuk mengambil apa yang diperintahkan oleh tuannya itu.


Tak lama, Finn sudah menggandeng tangan Mia untuk makan bersamanya. "Ayah, maafkan aku karena sampai detik ini, aku masih membencimu. Luka yang kau torehkan di hidupku terlalu sakit dan sulit untuk kesembuhkan. Saat ini, ada seorang gadis yang sanggup merekatkan kembali hatiku dan menata hidupku. Dia bukan sekedar budak seperti bayanganmu, dia gadis dengan attitude yang baik. Dia memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Dia tidak melihat kekayaanku. Itu yang membuatku jatuh cinta padanya." ucap Finn panjang, dia merangkul Mia dan mengecup bibirnya merah gadis itu.


Ronald menatap Finn dan Mia dengan tatapan tajam. "Budah tetaplah budak, Finn. Dia tetap akan berada di tempatnya dan tidak layak berada di sini!"


"Baiklah, kalau begitu pandanganmu. Aku pun merasa tidak layak duduk bersama kaum bangsawan seperti kalian, karena aku hanyalah anak dari seorang budak. Silahkan nikmati hidangan Anda, Tuan Walter," jawab Finn tersenyum.


Mia mengeratkan genggaman tangannya pada pria itu dan mengikuti Finn masuk kembali ke dalam ruangannya.


"Anak kurang ajar! Ini pasti karena pengaruh dari gadis budak itu! Aku akan mengusir dia dari sini dan membuatnua bertanggung jawab untuk anakmu, Beth," kata Ronald sengit.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2