Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Adios!


__ADS_3

Pagi hari itu tampak mendung. Seakan langit berduka dan ikut mengantarkan kepergian Luigi. Suara isak tangis memenuhi ruangan itu.


Finn kembali melihat Luigi untuk terakhir kalinya. "Kuakui dia pemberani. Dia berinisiatif untuk maju tanpa perlindungan untuk menyelamatkan Mia. Orang gila, Luigi ini,"


Mia terus memegangi tangan Luigi, begitu pula dengan Pat dan Gwen. "Kenapa harus dia yang tertembak? Kenapa bukan aku saja?"


Finn dan Grant mengusap lengan Mia. "Sudah jalannya seperti itu, Mia," ucap Finn.


"Ya, benar. Bersyukurlah kau selamat," sahut Grant tak mau kalah.


Tak lama, peti pun ditutup. Semua penari Luigi berteriak histeris. "Tuan Luigi, jangan pergi!"


Luigi pun pergi. Namun, dia tidak pergi sendiri. Semua penari, teman-teman, kerabat dekat, termasuk kawan-kawan barunya, seperti Mia, Finn, serta Grant, ikut menemaninya. Rintik hujan pun seakan menangis melihat kepergian seorang pria pemberani yang mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan seorang gadis yang baru saja dia kenal.


Setelah proses pemakaman selesai, mereka kembali ke rumah penari Luigi. Sepi sekali rasanya di sana tanpa adanya aktifitas seperti yang biasa mereka lakukan.


"Halo, aku adik Luigi. Namaku Harvey," sapa Harvey kepada beberapa orang yang belum dia kenal. Harvey mengenali Mia, sehingga bergitu mereka bertemu, mereka berpelukan dan saling menguatkan.


"Aku hanya ingin mengatakan, kakakku memang sudah pergi, tapi bukan berarti ikatan di antara kita ikut pergi. Rumah ini, aku tidak ingin menutup rumah ini. Kalau aku yang mengelolanya seorang diri, aku tidak bisa karena aku juga memiliki kedai makanan yang tak mungkin aku tinggali. Bagi semua penari kakakku, kalau kalian masih mau tinggal di rumah ini, silahkan. Setauku, kakakku tidak pernah memungut biaya untuk itu, bukan?" tanya Harvey. Yang dikhawatirkan oleh Harvey hanyalah semua orang yang bekerja dengan Luigi.


"Kami yang akan menjaganya. Itu janji kami kepada Luigi, kami tetap akan membuka rumah penari ini seperti biasanya. Tidak akan ada yang berubah, Harv." ucap Gwen, dan Pat segera menyetujui hal itu.


Wanita itu mengangguk-angguk. "Kau tidak perlu khawatirkan rumah ini. Kami akan tetap baik-baik saja," ucap Pat menambahkan.


Sebutir air mata Harvey jatuh dan menetes membasahi pipinya. "Aku tidak menyangka dia pergi begitu cepat, kakakku itu,"


Mia menggenggam tangan Harvey dan mengusap punggung pria itu, menyalurkan energi dan kekuatan yang dia miliki kepada Harvey. "Ya, aku juga tidak menyangka, Harv. Baru kemarin dia mengajakku naik ke tangga spiral itu dan menawariku bekerja sebagai penarinya,"


"Terakhir kali dia mampir ke kedaiku dan dia mengatakan dia bersyukur sekali bertemu denganmu karena berkatmu, rumah ini menjadi dua sampai tiga kali lipat lebih ramai dari biasanya," kata Harvey lagi.


Seharian itu, rumah Luigi tak henti dari pengunjung. Mereka terus berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa kepada Harvey dan yang lainnya.


Malam itu, mereka menginap di rumah Luigi hingga keeesokan harinya, Grant mengajak Finn untuk berbicara.


"Kami akan berangkat siang ini, menyesuaikan dengan jadwal yang sudah disiapkan oleh Luigi," ucap Grant.

__ADS_1


Finn tersenyum kecut. "Kami?"


"Ya, aku dan Mia. Kau masih ingat, 'kan kalau kami harus segera pergi," jawab Grant. "Selama Parker dan kroni-kroninya masih hidup, mereka tidak akan berhenti memburu Mia dan membuatnya celaka."


"Aku tau, tapi bukankah kita harus menghadapinya? Bukan malah kabur dan lari? Apakah ada alasan lain yang mendasarimu untuk melakukan hal itu? Menjauhi Mia dariku, misalnya?" tanya Finn, membanjiri Grant dengan segala tuduhan.


Grant mendengus. "Kenapa sih kau tidak bisa menghargai kehadiran orang lain di hidupmu? Kalau kau bersikeras dan membiarkan Mia tetap di sini, dia bisa saja mati, Walter! Sudah berapa banyak orang yang tidak berdosa mati di tangan Parker?"


Ucapan Grant benar dan ini merupakan tamparan keras bagi Finn. Bisa saja Mia yang berikutnya mati. Namun, dia juga tidak mau Mia pergi jauh darinya.


"Kami akan tetap berangkat siang ini, aku tidak peduli kau suka atau tidak," ucap Grant sambil melengos pergi.


Finn terdiam. Setelah kejadian kemarin, dia belum siap melepas Mia pergi. Dia benar-benar lupa kalau gadis itu dan Grant akan meninggalkan kota siang ini. Tetapi apakah mereka tetap harus pergi setelah kepergian Luigi?


"Bukankah kalau seperti ini, lebih baik aku saja yang tertembak dan mati?" tanya Finn. Pertanyaan itu tadinya dia tujukan kepada dirinya sendiri. Namun, seseorang menjawabnya.


"Aku pasti akan menangis berhari-hari, Walter," kata Pat yang tiba-tiba datang. Wanita yang tampak cantik dalam balutan gaun berwarna putih itu duduk di samping Finn.


Finn tertawa kecil. "Hehe, benarkah? Kau memang penghibur ulung, Pat,"


Finn mengambil batang tembakau itu dari tangan Pat dan menghisapnya dalam-dalam. "Kenapa kau menjadikanku penopang hidupmu? Apa jasaku kepadamu?"


"Kau membuatku merasa sebagai seorang wanita, Walter. Kau memperlakukanku dengan sangat baik di hari itu. Kau tau? Itulah pertama kalinya aku meningkatkan nilai harga diriku, hahaha! Lucu, bukan?" jawab Pat.


Jawaban jujur dari Pat membuat Finn tergelak salah tingkah. "Hahaha! Kau orang kedua yang mengatakan itu. Mia pernah mengatakan itu padaku dan kupikir karena dia belum pernah seorang pria dewasa sebelumnya."


Nada suara Finn terdengar muram dan sepi. Tatapan matanya kosong, seolah jiwanya tidak ada di dalam raganya.


"Kau masih mencintainya?" tanya Pat.


"Selalu," jawab Finn. Dia mengangkat wajahnya dan meringis. "Sepertinya aku terkena karma. Aku sering bermain dengan wanita dan kali ini aku sulit sekali menggapai wanita yang kucintai. Aahhhh! Menyedihkan sekali,"


Pat kemudian beranjak dari kursinya dan duduk di pangkuan Finn. Dia mengangkat wajah Finn, sehingga kedua mata mereka saling bertemu. "Tidak bisakah kau melupakan Mia?"


Tanpa aba-aba, Finn melummat bibir Pat dan memagutnya dengan liar. Tanpa perintah, Pat pun membuka mulutnya dan menerima ciuman Finn dengan panas.

__ADS_1


Sayangnya, adegan saling memagut itu dilihat oleh Mia. Tadinya, dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Finn sebelum dia pergi, tetapi begitu dia melihat Finn dan Pat, hatinya seakan tertusuk sebilah pedang yang sangat tajam.


"Grant, kita jalan sekarang saja," pinta Mia.


Grant mengerenyitkan keningnya. "Apa kau yakin?"


Mia mengangguk. Grant pun segera bersiap-siap. Mereka hanya membawa sedikit barang dan pakaian. "Kita bisa membeli sisanya di sana nanti,"


"Ini kartu identitasmu dan sebelumnya, aku minta maaf karena Luigi membuat kita sebagai sepasang suami istri," kata Grant.


Bayangan Finn dan Pat yang saling memagut, membuat Mia tidak peduli apa pun status dirinya dengan Grant nanti. Dia hanya mengangguk pasrah.


Grant tau ada sesuatu yang terjadi, karena tidak mungkin Mia berubah menjadi seperti ini. Akan tetapi, dia kembali berpikir, apa pun pikiran Mia saat ini, tidak ada hubungannya dengan dia.


Dengan bantuan Harvey, mereka memakaikan rambut palsu pada Mia dan mengubahnya menjadi seorang putri bangsawan yang cantik. Kulitnya yang bersih membuat Mia benar-benar terlihat seperti seorang keturunan bangsawan sejati.


"Kau cantik sekali, Mia. Jaga dirimu di sana dan kalau memungkinkan, kabari aku," ucap Harvey sambil mengecup kening Mia.


"Terima kasih, Harv. Kau juga harus menjaga dirimu dan tunggu aku kembali," kata Mia menahan tangisnya.


Mereka pun sudah siap dan berpamitan kepada seluruh penghuni rumah. Dia melihat Finn dan Pat berdiri berdampingan.


Finn merengkuhnya dalam pelukan. "Mia, aku akan merindukanmu. Cepatlah kembali,"


Mia hanya mengangguk, dia juga memeluk dan berpamitan dengan Pat. Tidak ada senyum di wajahnya. Bukan seperti ini cara dia ingin berpisah.


"Pastikan kau habisi Parker dan Arthur sebelum meminta kami kembali, Walter," bisik Grant.


Finn mendengus dan tersenyum meremehkan. "Aku akan mengirimkan kepala mereka kepadamu, Wilson. Tunggu saja,"


"Akan kutunggu!" seru Grant.


Mia dan Grant pun pergi meninggalkan rumah Luigi. Entah berapa lama lagi mereka akan bertemu dan apa yang akan terjadi ke depannya, Mia juga tidak tau.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2