Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Hari-hari Grant dan Mia tampak indah sekali. Terasa begitu ceria seperti berada di sebuah taman bunga yang dipenuhi dengan bunga bermekaran dan berwarna-warni.


"Apa kau harus pergi?" tanya Mia suatu pagi dengan nada suara manja.


Grant mencubit kecil hidung Mia dengan gemas. "Tentu saja. Memangnya apa yang ingin kau lakukan denganku?"


Mia mengedikkan kedua bahunya. "Aku juga tidak tau. Tapi, aku tidak ingin berpisah darimu,"


"Hahaha! Aku bisa terkena penyakit gula kalau kau terus-terusan seperti ini," ucap Grant tertawa.


"Kenapa seperti itu?" tanya Mia dengan ekspresi wajah lucu.


Grant mengecup bibir Mia lembut. Dia bergerak perlahan dan memagut benda kemerahan yang selalu menggodanya itu. "Karena kau terlalu manis, Mia,"


Mia yang sudah larut dalam pagutan Grant, kini memejamkan kedua matanya. Mia menarik ceruk leher Grant dan meminta kekasihnya itu untuk mencumbunya lebih dalam.


Hubungan mereka sudah sampai pada tahap berkencan. Menurut Mia, hubungannya kali ini dengan Grant terasa lebih manis dibandingkan saat dia bersama dengan Finn.


"Kalau Tuan Wilson berhasil membuat Anda melupakan Tuan Walter, tandanya dia bersungguh-sungguh mencintai Anda, Nona," kata Willia. Pelayan itu merasa senang jika tuannya senang, karena dia tau apa saja yang sudah dilewati oleh Mia dan menurutnya, sudah sepantasnya Mia mendapatkan kebahagiaan.


Wajah Mia tersipu dan dia sembunyikan wajahnya itu pada cangkir teh hangatnya. "Iya, 'kan? Aku juga bisa merasakannya, Willia dan aku semakin tidak ingin jauh darinya. Kalau ada lem super kuat yang bisa menempel tanpa bisa dilepas, aku akan membelinya,"


"Hahaha, Nona ada-ada saja. Oh iya, jam berapa Nyonya Clark akan datang nanti?" tanya Willia sambil melihat jam tangannya.


Siang itu, mereka mengundang Emily Clark ke rumah mereka untuk jamuan makan siang. Emily Florist selalu tutup di siang hari, untuk memberikan pemiliknya waktu istirahat. Apalagi seorang Emily Clark yang usianya sudah hampir menginjak 70-an tahun.


"Ah, hampir saja aku lupa. Untung kau mengingatkanku, Willia. Kemungkinan dia akan datang pukul dua belas. Oh, atau kita saja yang menjemputnya, bagaimana?" tanya Mia.


Willia mengangguk bersemangat. Akhirnya, setelah diputuskan seperti itu, mereka bersiap-siap untuk menyiapkan kedatangan Nyonya Clark di rumah mereka.


"Mia, nanti malam, aku ingin kau makan malam denganku. Nanti akan kukirimkan supir untuk menjemput kalian," sahut Grant.


"Kalian?" tanya Mia. Dia berpikir dan sudah berharap, malam itu dia hanya akan berdua saja dengan Grant. Hatinya sedikit kecewa saat Grant kata kalian keluar dari mulut pria yang disukainya.


Grant paham apa yang kekasihnya itu inginkan. "Sampai kita mendapat kabar tentang orang-orang itu, kita harus selalu waspada dan tidak boleh lengah. Aku hanya ingin melindungimu, Mia,"


"Aku tau," jawab Mia, dia mendekati laki-lakinya itu dan mengecup lembut bibir Grant. Mereka pun berpamitan dengan non verbal.

__ADS_1


Saat siang menjelang, Mia sudah menyiapkan segalanya bersama dengan Willia dan para pelayan lain di rumah itu. "Willia, temani aku untuk menjemput Nyonya Clark,"


"Baik, Nona," ucap Willia.


Dengan pengawalan ketat, Mia pergi ke tempat Emily Clark.


"Nyonya Clark, selamat siang," seru Mia ceria.


"Selamat siang, Tiffany Sayang. Aku sudah siap, ayo, berikan aku makan! Hahaha!" kata wanita tua itu sambil bercanda.


Tak lama, suara denting serta celoteh riang memenuhi rumah itu.


"Ah, tadi suamimu menitipkan sesuatu padaku dan harus kuberikan padamu saat supirmu itu menjemput," ucap Nyonya Clark lagi menambahkan.


Kening Mia berkerut. "Sesuatu? Apa itu?"


Nyonya Clark tersenyum. "Itu rahasia, hahaha! Pokoknya, aku ucapkan selamat kepada kalian dan semoga kalian selalu berbahagia,"


Mia pun bertanya-tanya dalam hati, apa yang dititipkan oleh Grant pada Nyonya Clark. Sore hari pun tiba, sesuai janji Grant, seorang supir datang menjemput Mia.


Supir itu mengarahkan kendaraannya ke tempat Nyonya Clark. "Tunggu sebentar, Nona,"


Nyonya Clark keluar sambil membawa buket bunga besar sekali. Di tengah bunga itu terselip sebuah amplop kecil berwarna putih dengan hiasan dandelion kecil di tengahnya.


"Tiffany Sayang, sekali lagi kuucapkan selamat untukmu. Semoga kau terus berbahagia," ucap Nyonya Clark, dia memeluk Mia dengan erat.


"Terima kasih, Nyonya Clark," jawab Mia.


Akhirnya, supir itu kembali melajukan roda besinya menuju ke sebuah restoran, tempat Grant menunggu. Mia bersama Willia membuka amplop putih itu yang ternyata isinya adalah nomor meja restoran mereka.


"Kenapa harus seresmi ini? Ada-ada saja, Grant ini," kata Mia, tetapi wajahnya bersemu merah.


Willia yang melihatnya tersenyum gemas. "Tapi, Anda suka, 'kan? Hehehe,"


"Tidak perlu seperti itu," ucap Mia lagi, tersipu.


Setibanya di restoran itu, Grant menyiapkan tempat pribadi untuk mereka berdua dan meja khusus untuk pelayan serta pengawal mereka.

__ADS_1


Mia memberikan amplop putih itu kepada seorang wanita di meja resepsionis. "Ah, apakah ini harus kutunjukan kepadamu?"


Wanita itu tersenyum dan mengarahkan Mia ke dalam ruangan tempat Grant menunggu. "Silahkan, Nona,"


Begitu Mia masuk, iringan biola menyambutnya. Ruangan yang dipenuhi lampu temaram serta kelopak bunga nawar merah di lantai menambah suasana romantis malam itu.


Grant berdiri di tengah kelopak bunga berbentuk hati. Wajah tampannya tampak bersinar. Mia terkejut saat Grant tiba-tiba saja berlutut di hadapannya.


"Grant, apa ini?" tanya Mia.


Grant membuka kotak kecil yang berikan oleh si pemain biola dan memberikannya pada Mia. "Mia, maukah kau menjadi pendamping hidupku?"


Mia berdiri mematung, "Grant, ini, ...."


"Aku tidak akan berdiri sampai kau menjawab pertanyaanku," ucap Grant setengah mengancam.


Setelah berpikir sekian lama, Mia memberikan jarinya kepada Grant. "Ya, aku mau,"


Grant memasukan cincin ke jari Mia dan memeluknya. "Terima kasih, Sayang,"


Malam itu menjadi malam yang sangat indah yang pernah terjadi dalam hidup Mia. Dalam pertama kali dalam hidupnya juga, dia memberikan segalanya untuk Grant tanpa paksaan.


Nun jauh dari tempat Mia dan Grant, seorang pria terbangun dari tidurnya dengan hati gelisah. Akhir-akhir ini, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kadang dia terbangun dengan air mata membasahi pipinya dan kadang dia berteriak-teriak dalam tidurnya karena mimpi buruk.


Hidup pria itu terasa begitu kosong dan sepi. Padahal saat itu, dia dikelilingi oleh pelayan dan pengawalnya. Kejadian yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini telah menorehkan luka yang sangat dalam hingga menyebabkan trauma.


Terkadang dia mabuk dan menangis seorang diri. "Kenapa tidak aku saja yang mati? Sialan!"


Dan pagi hari itu, seperti biasanya, dia terbangun dengan perasaan kosong dan sepi. Entah sejak kapan dia berubah menjadi semenyedihkan ini?


Pria itu meminta pelayannya untuk mengantarkan kopi ke ruangan kerjanya. Begitu kopinya tiba, dia duduk diam sambil sesekali menyesap kopi hangatnya. Terkadang juga dia memandang keluar jendela. Hatinya dipenuhi ribuan tanya yang ingin sekali dia cari tau jawabannya. "Selamat pagi lagi, Mia. Bagaimana pagimu hari ini?"


Pertanyaan itulah yang pria itu ucapkan setiap pagi dan setiap malam dengan suaranya yang lirih dan terdengar pahit itu.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2