
Finn kembali mengunci Mia di dalam kamar. Kali ini Mia tidak memberontak, dia masuk dengan pasrah ke dalam kamar.
Finn memandang wajah Mia dan dia menahan senyumnya. Dia tidak akan membiarkan Gadis Colton yang sombong itu melihatnya tersenyum. "Makan siang akan segera datang. Diam dan jangan berisik!"
"Huh!" Mia membuang wajahnya dengan kesal dan memandang ke luar jendela. Baru kali ini dia merasakan hatinya sakit karena dikhianati. "Josh Pengkhianat! Pantas saja dia menawariku macam-macam!" umpatnya setelah Finn pergi.
Sementara itu, Finn meminta kepada pelayan untuk bertanya kepada tawanan cantiknya, makanan apa yang dia sukai dan meminta pelayan itu untuk memberitahukan kepada juru masak, makanan favorit Mia. "Apa tidak sebaiknya, Tuan saja yang bertanya?"
"Tidak. Aku tidak ada waktu untuk mengurus hal sepele seperti itu. Aku ada rapat penting, jangan ganggu kecuali penting sekali!" perintah Finn.
"Baik, Tuan," sahut pelayan itu dengan hormat.
Setelah mengurus Mia, Finn menghampiri Josh yang sudah menunggu di ruangan kerjanya. Tanpa basa-basi, Finn segera mendekati Josh dan berbisik kepada pria itu dalam jarak yang cukup dekat, "Kuperingatkan kau untuk tidak ikut campur dalam hubunganku dengan Gadis Colton itu!"
"Dia bukan milikmu, Finn. Berapa pun kau membelinya!" balas Josh dengan berbisik juga.
Finn menyalakan cerutu dan menghisapnya. "Omong kosong, Josh! Di dunia ini, barang yang telah kau beli berarti barang itu secara langsung akan menjadi milikmu! Kau paham sistem jual beli seperti ini, 'kan? Apa kau mendadak bodoh hanya karena seorang Gadis Colton?"
"Kurasa kali ini kau sungguh-sungguh jatuh cinta pada seorang gadis, Finn. Tak kusangka, hatimu kau serahkan untuk seorang gadis desa. Berikan dia untukku dan panggil tunanganmu untuk segera menikahimu!" ucap Josh gusar. Hanya Josh seorang yang mengetahui tentang Finn dan tunangannya.
"Berani kau menyebut nama itu, aku tidak akan segan membunuhmu! Gadis Colton itu tetap milikku dan menjauhlah darinya, Josh!" ancam Finn sambil mengibaskan tangannya, meminta Josh untuk keluar dari ruangan kerjanya.
"Bebaskan Mia, hanya itu pintaku!" bisik Josh tajam, setelah itu dia keluar dari ruangan Finn.
Keesokan harinya, seorang pelayan menemani Mia untuk berjemur pagi. "Mari Nona, saya antar,"
Mia mengikuti pelayan itu. Sampai dia menemui Josh yang tampak sedang bergurau dengan James Arthur. Mia melihat Josh dari sudut matanya. Tatapannya penuh kebencian kepada pria itu.
"Boleh aku bertanya?" tanya Mia, tak bisa menahan rasa ingin tahunya.
Pelayan itu mengangguk. "Silahkan, Nona."
"Siapa pria yang sedang berbicara dengan James Arthur?" tanya Mia. Dia pun heran, kenapa James belum pergi dari rumah Finn. Tempat macam apa sebenarnya rumah Finn Walter ini?
__ADS_1
"Oh, itu Josh Winston, Nona. Tuan Winston adalah tangan kanan Tuan Walter. Konon katanya, mereka adalah teman sedari kecil," jawab sang pelayan.
Mia kembali melihat ke arah Josh. Sekali lagi, dia merasakan jantungnya berdenyut menyakitkan. "Teman kecil? Berarti selama ini Josh berada di pihak Finn?"
"Apa maksud Anda, Nona?" tanya pelayan itu tak mengerti.
Mia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Ah, tidak. Tidak apa-apa. Bolehkan kita berjalan sampai sana?"
Lagi-lagi pelayan itu mengangguk. "Silahkan, Nona,"
Mia dan pelayan itu pun mencari sinar mentari lebih dekat. Semenjak dia diizinkan keluar kamar setiap pagi, Mia selalu memanfaatkan waktunya dengan sebaik mungkin. Dia mengejar burung atau kupu-kupu yang hinggap di bunga, dis berbaring di atas rumput, melompat di atas patch taman, bahkan terkadang dia memanjat pohon hanya untuk melihat pemandangan di luar rumah.
"Bagaimana kondisinya hari ini?" tanya Finn kepada pelayan yang menemani Mia. "Kepalaku pusing melihatnya melompat kesana kemari."
Pelayan itu terkikik. "Nona Mia memang seperti itu, Tuan. Energinya banyak sekali. Kasihan kalau dia hanya terkurung di kamar seharian."
"Begitu?" hati Finn sedikit tersentuh saat mendengar hal itu dari pelayan Mia. "Aku takut dia melarikan diri atau mendekati Josh,"
"Pergilah, biar aku yang menemaninya dan siapkan air hangat serta gaun untuknya!" perintah Finn. Kemudian dia berjalan menghampiri Mia yang sedang bersiul sambil memainkan pucuk bunga.
Mia tidak menyadari kehadiran Finn, dia terus bersiul dan bergumam seolah menyanyikan sesuatu. Tangannya yang cantik menelusuri rerumputan. "Oh, hai kupu-kupu cantik," dengan perlahan dia mempersilahkan kupu-kupu itu untuk hinggap di jarinya. "Kau cantik sekali. Aku iri padamu, kau bisa bebas beterbangan kesana kemari, sedangkan aku terkurung di sini."
"Ehem!"
Suara dehaman berat dari Finn mengejutkan Mia serta kupu-kupu yang tadi hinggap di jarinya.
"Oh, kau! Kupikir kau vampire yang tidak akan keluar dan bermain di bawah sinar matahari," sindir Mia pedas.
Finn menatapnya tajam. "Sesukamulah!"
"Dimana temanku?" tanya Mia.
Pertanyaan itu membuat Finn mengerutkan keningnya. "Temanmu? Apa kau punya teman disini?"
__ADS_1
"Tentu saja! Dia tadi ada di belakangku. Apa kau menjualnya? Atau menguliti dan memotong-motongnya? Selalu ada saja yang dilakukan oleh Tuan Besar seperti kau, 'kan? Contohnya, membeliku," protes Mia, kedua maniknya membalas tatapan Finn.
"Yang jelas aku tidak menjualnya. Dia tidak akan menghasilkan banyak uang untukku. Mungkin akan berbeda kalau aku menjualmu. Kau akan laku keras di pasaran, apalagi dengan status barumu, Janda Walter." cemooh Finn dingin.
Mia memincingkan kedua matanya dan menendang tulang kering Finn dengan kencang. "Sialan!"
"Ouch! Kau!" Finn meringis kesakitan sambil memegang kakinya, sedangkan Mia sudah kabur sedari tadi. "Tangkap dia! Tangkap Gadis Colton itu!"
Josh dan James yang sedang berbincang-bincang mendengar teriakan Finn dan segera berpencar. Sekelebat gaun Mia terlihat oleh mata Josh yang tajam dan pria itu segera mengikuti Mia. "Mia! Mia!"
Bukannya berhenti, Mia justru mempercepat larinya. Apalagi saat dia melihat gerbang rumah Finn sudah ada di depan matanya.
Josh terus mengejar Mia. "Brengsek! Tutup gerbangnya! Tangkap gadis itu!"
Beberapa pengawal sudah bersiap menghadang Mia, pintu gerbang pun segera ditutup dengan cepat. Josh berhasil menangkap Mia dan membopongnya seperti membawa sekarung beras.
"Lepaskan aku! Aku mau turun! Lepas! Argh! Tolong, tolong! Tolong aku!" pekik Mia tak mau diam sampai Josh kembali menguncinya di dalam kamar dan memakaikan borgol kepadanya. "Pengkhianat! Kau menipuku, Josh! Kau lebih buruk dari Finn Walter! Aku benci kepadamu!"
Josh tampak terengah-engah, dia berusaha mengatur napasnya sebelum menjawab rentetan tuduhan dari Mia. "Aku bukan penghianat! Aku sedang memperjuangkanmu, Mia!"
"Oh yah? Dengan menangkap dan mengikat tanganku seperti ini! Apa yang kau perjuangkan, Josh!" tuntut Mia.
"Kau! Tidak ada cara lain selain menuruti perintah Finn! Bersabarlah, ketika aku sudah berjanji maka aku akan selalu menepati janjiku! Paham? Aku hanya butuh kepercayaan darimu, Mia!" tukas Josh.
Mia memandang pria dengan napas yang masih tersengal-sengal itu. Apakah dia bisa mempercayai pria itu setelah dia mendengar kenyataan kalau Finn dan Josh adalah teman sedari kecil? Apa alasan Josh ingin membantunya?
"Baiklah, aku percaya kepadamu," ucap Mia akhirnya.
Josh berkacak pinggang dan tersenyum lega. "Terima kasih, Mia. Kumohon bersabarlah,"
"Aku juga mohon, cepatlah," balas Mia memalingkan wajahnya. Dia berharap semoga kali ini, dia mengambil keputusan yang tepat.
...----------------...
__ADS_1