Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Sebuah Harapan


__ADS_3

Air mata Mia tak kunjung berhenti selepas kepergian Finn. Dia menyesal kenapa dia berkata kalau dia sudah tidak mencintai Finn lagi, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, rasa itu masih ada.


Penyesalan Mia yang kedua adalah dia menolak Finn untuk ikut dengannya. "Kenapa mulutku selalu mengatakan kebalikannya, sih?" isak Mia.


Grant tertawa kecil. "Kau sedang belajar melupakan dia, Mia."


"Tapi, aku tidak mau melupakan Finn. Aku cinta padanya, aku ingin ikut bersamanya. Tapi, kalau aku ikut dengannya, dia pasti akan diganggu oleh Beth Parker," kata Mia lagi, dia mengusap air matanya. "Ah, pipiku lengket,"


"Hahahaha! Mana ada orang menangis masih memikirkan pipi lengket? Hahaha!" tawa Grant meledak saat mendengar celotehan Mia.


Mia membasuh wajahnya dengan handuk kecil dan air hangat yang dibawakan oleh pelayan Grant. "Karena aku menangisi terlalu banyak, jadi air mataku banyak keluar."


"Untukku, mungkin untuk Walter, selama kau baik-baik saja, kami sudah sangat bersyukur, Mia." ucap Grant sambil menepuk pucuk kepala Mia. "Oh, katanya Luigi akan datang kesini, tapi aku juga tidak tau pasti jam berapa dia akan datang,"


"Aku berharap dia akan datang bersama Gwen dan Pat. Aku rindu sekali pada mereka," sahut Mia berharap.


Sementara Grant menanti kedatangan Luigi, di lain tempat Rufus mendatangi James. Dia datang lebih cepat dari waktu yang telah dia janjikan kepada James.


"Wow, lihat saudaraku ini, hahaha! Matahari masih bersinar cerah, tapi dia sudah datang kepadaku. Semoga ini kabar baik, yah? Hahaha!" tukas James, yang bersemangat begitu dia melihat Rufus datang menghampirinya.


Rufus menyeringai lebar. "Ahoi, Tuanku. Kau tidak akan kecewa jika percaya kepadaku, Arthur. Hahaha! Aku membawa yang kau inginkan,"


"Dia di rumah si penari?" tanya James. Dia ingin mencocokkan informasi yang telah dia dapatkan lebih dulu dari salah seorang suruhannya.


Pria tambun setengah botak itu tertawa. "Kabar itu sudah kadaluarsa, Tuanku. Aku membawa kabar terbaru, Mia disembunyikan di rumah salah seorang pengunjung rumah penari itu dan rumahnya berada di Utara. Hanya itu yang aku dapatkan,"


James tertawa mendengus. "Huhuhu! Hebat juga kau, Rufus! Dia di Utara? Aku akan berangkat sekarang, eh tunggu dulu! Karena kurasa kau lebih cerdas dari orang suruhanku, aku ingin bertanya padamu, apakah kau harus mengecek rumah penari itu?"


"Tentu saja. Mia kita masih bekerja di sana, Tuanku. Begitu yang kudengar. Bahkan dia menjadi kesayangan si pemilik rumah." jawab Rufus bangga. Baru kali ini ada orang yang menganggap dia pintar, apalagi cerdas. Self esteem -nya meningkat sejak saat itu. Raut wajahnya terlihat angkuh sekarang.


James mengangguk-angguk. "Benar juga usulmu itu. Kau mau ikut denganku? Akan kujadikan kau anak buahku, hahaha! Bagaimana?"


Rufus tergiur dengan ajakan James, apalagi dia memiliki dendam pribadi dengan Mia. Tangannya terkepal dan wajahnya tampak jahat, dia menbayangkan Mia yang berada digenggamannya nanti.


Di lain tempat, Luigi meningkatkan pengawalan di rumah penarinya. Semua penari hari itu diliburkan.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya kita beroperasi seperti biasa saja? Maksudku, akan terlihat mencurigakan kalau kita tutup tiba-tiba, 'kan?" tanya Gwen pada Luigi.


Pat mengangguk setuju. "Ya, aku juga setuju denganmu, Gwen. Hei, Luigi, kita tetap buka saja, bagaimana?"


Luigi mendekati mereka dan berbisik. "Aku akan menemui adik kalian di kalian-tau-dimana, dan aku khawatir terjadi sesuatu jika aku tak ada,"


"Tenang saja, ada aku dan Gwen," kata Pat. Siang itu, sebelum rumah penari dibuka dia berniat ingin menemui Vin dan meminta pertolongan kepada pria itu. Rencananya itu sudah ia beritahukan kepada Gwen, sahabatnya.


Luigi memandang mereka dengan penuh haru. "Kalian benar-benar gadis pahlawanku. Aku akan menaikkan bayaran kalian, aku bersumpah. Berjanjilah, kalian akan menunggu adik kalian itu sampai dia kembali lagi kepada kita,"


"Sampaikan salam kami padanya dan kau-tau-siapa," ucap Gwen dan Pat sambil tersenyum.


Akhir-akhir ini mereka memberikan kode sebagai pengganti nama Mia dan Grant supaya orang-orang tidak paham siapa yang sedang mereka bicarakan.


Selepas Luigi pergi, Pat segera mengajak Gwen untuk pergi mendatangi Finn di kediamannya. "Kau yakin?"


"Yakin sekali! Ayo, Gwen!" ucap Pat, dia memakai gaun yang ditutupi dengan cape jacket bertudung berwarna cokelat. Begitu juga dengan Gwem, dia memakai gaun yang sama seperti Pat.


Mereka pun segera menaiki delman untuk sampai ke Selatan, tempat Finn berada. Setiba mereka di sana, para pengawal menghadang kedatangan mereka.


Pengawal menanyakan nama mereka dan setelah itu mereka ke dalam untuk memanggil Finn Walter. Tak lama Finn datang dengan berlari dan meminta Gwen dan Pat untuk segera masuk ke dalam.


"Ada apa?" tanya Finn. Dia dapat mencium bau kepanikan dari mereka dan pasti ada sesuatu yang besar yang sedang terjadi.


"Parker sedang memburu Mia. Saat ini kami sedang menyembunyikan Mia di rumah Grant Wilson, da-,"


"Aku sudah bertemu dengannya, kupikir kalian menyembunyikan dia dariku. Ternyata Parker yang memburunya," ucap Finn. "Lalu, apa yang bisa aku bantu?"


Gwen dan Pat saling berpandangan. "Awalnya, Luigi memang menyembunyikannya karenamu, tapi begitu terdengar kabar Parker dan Arthur memburunya, Luigi sama sekali tidak membiarkan Mia keluar dari rumah itu seujung kuku pun!"


Finn tertawa. "Bos kalian mengincar Mia juga? Sainganku cukup banyak, Hahaha!"


"Tapi, Luigi pria yang baik dan ramah. Dia hanya tidak mau sesuatu terjadi pada Mia," sahut Gwen, membela pria flamboyan yang tampan itu.


"Aku tau dia baik, Gwen. Jadi, katakan padaku, bantuan apa yang kalian harapkan dariku? Aku juga harus berbuat sesuatu untuk Mia, 'kan?" tanya Finn lagi. Dia tidak mau berpangku tangan. Begitu tau Parker memburu Mia, otak Finn segera bekerja, dia sudah menyusun rencana.

__ADS_1


"Kami membutuhkan pengawalan ekstra untuk rumah kami dan kediaman Wilson." pinta Pat.


"Itu mudah, mulai malam ini, pengawalku akan kuberikan untuk kalian. Kalian tenang saja," jawab Finn lagi. "Aku hanya ingin kalian memastikan kalau Mia akan baik-baik saja,"


Pat menatap netra Finn. "Dia akan baik-baik saja. Luigi dan Wilson akan mengerahkan segala yang mereka bisa untuk melindungi Mia. Jangan khawatir,"


Finn mengangguk dan mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. "Aku antar kalian kembali, hari sudah mulai gelap,"


"Jangan, kemungkinan Arthur akan datang petang ini. Kami harus bersiap, kalau ada kau, dia pasti akan mengendus kalau kau tau di mana Mia," tukas Pat.


"Ah, benar katamu. Lalu, apa yang bisa kulakukan? Aku juga tidak bisa berdiam diri dalam kondisi seperti ini," tutur Finn. Tidak mungkin dia duduk tenang saat dia tau, wanita yang dia cintai sedang diintai oleh bahaya. Mia bisa saja terbunuh atau apalah? Dia tidak ingin kehilangan seseorang yang dia sayang untuk kedua kalinya.


"Ikut kami saja, setelah itu pergilah ke arah Utara dan berjagalah di depan rumah Wilson. Kabarkan pada kami segala sesuatunya!" titah Gwen


"Oke! Ayo, kita bersiap!" tukas Finn.


Setelah bersiap, mereka pun bergegas pergi ke tempat Luigi dengan membawa harapan semoga semua akan baik-baik saja dan tidak ada pertumpahan darah.


Harapan juga terjadi di tempat Wilson. Luigi yang saat itu menemui Mia dan Grant memberikan sebuah ide mencengangkan.


"Apa? Luar negeri?" tukas Mia. Dia belum siap pergi sejauh itu. Dengan kata lain, dia belum siap pergi jauh dari Finn.


"Demi kebaikanmu, Mia. Aku tidak tau lagi dimana harus menyembunyikanmu. Tempat ini sudah terendus oleh Parker dan Arthur. Aku takut terjadi sesuatu padamu, Mia. Aku terlalu menyayangimu," kata Luigi, akhirnya mengakui perasaannya.


Mia menggenggam kedua tangan Luigi. "Kau seperti kakakku, Luigi. Aku berterima kasih sekali atas segala yang telah kau berikan kepadamu. Tapi, itu terlalu jauh untukku dan aku belum siap,"


"Walter? Kau masih merindukan Walter?" tanya Grant dingin.


Mia tidak menjawab. Dan diamnya Mia sudah menjadi jawaban bagi Luigi maupun Grant. "Kuberikan kau waktu satu hari untuk bertemu dengannya. Tapi, aku tidak bisa berjanji padamu. Bagaimana?"


Mia mengangguk. "Baiklah, terima kasih, Luigi. Aku harap, semoga saat itu akan tiba. Aku hanya butuh satu hari. Tidak! Tidak! Setengah hari untuk melepas rinduku dengannya dan mengakui segalanya,"


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2