Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Semakin Dekat


__ADS_3

Sejak kejadian percobaan melarikan diri itu, Finn sama sekali tidak membiarkan Mia untuk keluar kamar. Tentu saja hal ini membuat emosi Mia memuncak.


"Biarkan saja! Aku akan mati berlumut disini dan hantuku akan senang melihat Finn mendekam di penjara. Hahaha!" kata Mia puas dengan imajinasi liarnya.


Pelayan yang saat itu menjaga kamar Mia tersenyum kecil. "Anda lucu sekali, Nona,"


"Siapa namamu? Pelayan yang menjagaku ada tiga orang, tapi aku bahkan tidak tau nama kalian. Buruk sekali aku," ucap Mia lagi sambil memberengutkan bibirnya.


"Nama saya, Willia, Nona." jawab pelayan wanita itu tersipu malu. "Semenjak saya bekerja disini, baru Anda yang menanyakan nama kami,"


"Kita berteman, bukan? Kalau Tuan Finn baik, aku ingin bernegosiasi dengannya. Aku ingin Tuan Finn yamg congkak itu melepasku dan membiarkanku membayar hutang kedua orang tuaku dengan menjadi pelayannya. Aku biasa bekerja," sahut Mia bersungguh-sungguh.


"Hanya dengan Nona, Tuan Walter bisa berbicara banyak seperti itu. Tuan Walter irit sekali kalau bicara dan sorot matanya sangat tajam." tutur Willia.


Mia mengibaskan tangannya. "Dia bukan orang yang ramah, iya, 'kan? Pantas saja dia selalu mengurung diri seperti ini. Menyeramkan!"


"Apa yang menyeramkan?" Finn tiba-tiba masuk ke dalam. Dia meminta Willia untuk pergi hanya dengan tatapan matanya, dia membawa baki makanan berisi semangkuk sup, kentang tumbuk, daging iris, serta segelas jus jeruk segar.


Willia pun menundukkan kepalanya dan segera keluar dari kamar mewah itu.


Finn meletakan baki itu di atas nakas yang berada di sebelah ranjang Mia. "Makan, buka mulutmu!"


"Tidak! Aku makan sendiri!" tolak Mia.


Finn mengambil kedua tangan Mia yang terikat dan mengangkatnya. "Dengan tangan seperti ini? Tunjukan padaku bagaimana kau makan!"


Mia mengutuk kebodohannya. "Buka!"


"Tidak! Kau akan menendangku atau bahkan lebih parah dari itu! Jadi, tidak!" tolak Finn kejam.


"Ya, sudah. Aku tidak akan makan! Aku juga tidak lapar!" ucap Mia mengalihkan pandangannya dari baki makanan. Tepat pada saat itu, perutnya berbunyi dengan riang.


Wajah Mia menjadi sangat merah dan untuk pertama kalinya, dia mendengar seorang Finn Walter tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Baru kali ini aku menemukan seseorang yang unik. Antara tubuh dengan ucapannya selalu tidak sesuai! Hahahaha!"


Mia semakin menjauhkan wajahnya dari Finn. Dia sangat malu dan merutuki perutnya, kenapa berbunyi di saat yang tidak tepat.

__ADS_1


Finn mengambil semangkuk sup dan menyuapi Mia. "Buka mulutmu! Tidak usah membelakakan matamu kepadaku, marah juga butuh energi!"


Mia bersikeras. Dia menggelengkan kepalanya. "Lepaskan tanganku, aku akan makan!"


Finn kembali meletakan mangkuk sup ke dalam baki dengan kesal dan mendekati Mia lagi. "Kau mau kulepaskan?" tanyanya di depan telinga Mia.


Lagi-lagi, wajah Mia memerah. "Ti-, tidak perlu dekat-dekat seperti ini, 'kan?"


"Aku mau. Kau yang minta dilepaskan, bagaimana caranya aku membuka kunci borgol itu kalau tidak berdekatan denganmu?" balas Finn, timbul niatnya untuk menggoda Mia.


Deru napas Finn kini terdengar jelas di telinga Mia saat pria itu semakin mendekat ke arahnya. Mia memejamkan kedua matanya sambil berharap dalam hati, jantungnya tidak melompat keluar.


Suara klik pelan, membuat Mia membuka matanya dan saat itu pula, Finn memperhatikannya. Kedua manik mereka kini bertemu dan bersitatap. Finn kembali mempersempit jarak di antara mereka, dia memiringkan kepalanya dan membuat Mia kembali menutup mata.


Sebuah sensasi aneh yang menyenangkan dirasakan oleh gadis itu saat Finn mengecup ceruk lehernya dan meninggalkan bekas merah disana.


"Ternyata kau menikmati bibirku," bisik Finn di telinga Mia. Perlahan, dia bangkit dan membantu Mia untuk berdiri menuju baki makanannya. "Makanlah, pelayan akan masuk kembali. Jangan berpikiran untuk kabur, Gadis Kecil!"


"Kau! Kau benar-benar pria tidak sopan dan tidak punya aturan! Aku benci padamu, Finn Walter!" tukas Mia sambil melemparkan bantal kepada Finn.


Finn terkikik geli dan menutup pintu kamar Mia. Sejak Mia menunjukkan sifat aslinya di rumah itu, beberapa pelayan memperhatikan perubahan sikap Finn. Kadang dia tertawa atau tersenyum sendiri, kadang wajahnya memerah tanpa sebab, dan dia menjadi lebih banyak berbicara dibandingkan sebelumnya.


"Baik, Tuan!" jawab si Pengawal.


Finn dengan cepat memerintahkan pelayan Mia untuk menyiapkan gaun terbaik yang pernah dia belikan untuk tawanan cantiknya itu.


"Tuan, Nona Mia sudah siap," ucap pelayan. Fin pun mengangguk dan kemudian bergegas masuk ke dalam kamar Mia.


"Hey, orang tuamu menunggumu di luar. Kalau kamu ingin bebas, maka aku akan membiarkanmu untuk tetap berada di sini dan bekerja di bawah perintahku dengan syarat, kamu harus melayaniku, apa pun yang kuperintahkan kepadamu kau harus menurutinya!" titah Finn.


Mia menimbang-nimbang tawaran dari Finn tersebut. Kalau dia pulang bersama kedua orang tuanya, maka dia akan kembali bekerja pada Tuan Rufus dan dia bisa saja dijual lagi ke pasar budak sebagai janda Tuan Walter. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri saat membayangkan hal itu. "Baiklah aku akan tetap di sini dan aku akan menjadi pelayan setiamu!"


"Gadis Pintar," Finn menawarkan lengannya kepada Mia dengan serta merta, Gadis itu memasukkan lengannya ke dalam lengan Finn. "Anggap saja kita sepasang suami istri sungguhan."


Mia mengangguk. "Oke," bisiknya. Mereka pun keluar kamar dengan posisi seperti itu.

__ADS_1


"Ayah, Ibu," Mia memeluk kedua orang tuanya. Masih ada rasa sakit dan sesal saat dia memeluk mereka, orang tua yang jahat dan kejam karena telah tega menjual Mia hanya karena hutang.


"Oh, Mia. Kau cantik sekali, Sayang," ucap Nyonya Colton memeluk anak gadis kesayangannya. Sedangkan Tuan Kalteng menjabat erat tangan Finn sambil tertawa penuh basa-basi.


"Ahahaha, apa kabar, kalian? Hahaha," katanya.


Fin mempersilahkan pasangan Colton untuk duduk dan berbeda dengan tuan kaltan yang penuh basa-basi, Finn segera menanyakan maksud dan tujuan pasangan Colton datang ke rumahnya. "Apa maksud kedatangan kalian ke sini?"


Tuan dan Nyonya Colton saling berpandangan. Mia sudah menangkap yang tidak baik dari tatapan kedua orang tuanya itu. Dan benar saja dugaan Mia, ayahnya meminta uang lagi kepada Finn. "Begini, kami ingin bertanya bagaimana pernikahan kalian? Apakah Anda puas dengan pelayanan anak kami?"


"Ayah, apa maksudnya bertanya seperti itu?" tanya Mia kesal.


"Apa yag kau minta?" tanya Finn tanpa basa-basi.


Tuan Colton tersenyum salah tingkah. "Tidak salah aku menilaimu, Finn. Kau memang selalu dapat diandalkan. Begini, biasanya Mialah yang bekerja untuk kami dan memenuhi semua kebutuhan kami Tapi semenjak Mia menikah denganmu, kami kehilangan sosok tulang punggung. Jadi, kami ingin Anda sebagai suami Mia memberikan kami, katakanlah seperti uang jaminan setiap bulannya," pinta Tuan Colton tanpa malu.


"Ayah!" tukas Mia. Gadis itu sangat sungkan dan merasa tidak enak hati kepada Finn karena permintaan ayahnya yang dianggapnya tidak tahu malu itu.


"Itu benar, Mia. Kami sudah terlalu tua untuk bekerja dengan Rufus dan kau tahu sendiri, perusahaan yang dibangun ayahmu dengan memakai uang James Arthur tidak berkembang. Kau di sini enak, bisa makan dan pakaianmu bagus-bagus tapi tidak dengan ayah dan ibumu, 'kan?" ucap Nyonya Colton lemas.


"Ta-, tapi, ...."


Finn mengangkat telapak tangannya meminta Mia untuk berhenti bicara. "Berapa yang kalian minta setiap bulannya kepadaku dan apa yang bisa kalian berikan sebagai gantinya?"


"Ah, kami tidak meminta banyak. Berapa pun yang akan kau berikan kepada kami, kami akan menerimanya dengan senang hati. Dan untuk bayarannya, Anda bisa memakai anak kami untuk melakukan apa pun yang anda inginkan." jawab Tuan Colton menatap Mia.


"Tidak! Ayah jahat! Apa salahku sampai ayah menjualku seperti ini!" tangis Mia. Cairan bening lolos dari kedua pelupuk mata Mia dan bergulir membasahi kedua pipinya.


Finn meminta salah seorang pelayan untuk mengantarkan Mia ke dalam kamar dan dia juga meminta kepada James Arthur untuk memberikan sejumlah uang kepada pasangan Colton. "Anak buahku akan mengurus kalian, setelah itu pergilah!"


Setelah mengurus semuanya, Fin menghampiri Mia di dalam kamar dan kemudian Dia mendekati gadis itu. "Hei, semuanya sudah jelas, 'kan? Orang tuamu sudah menyerahkanmu kepadaku, jadi kau benar-benar harus tunduk pada perintahku, Mia,"


"Aku tidak akan mengurungmu lagi di dalam kamar. Kau boleh pergi ke mana saja selama masih berada di dalam rumah ini. Aku tahu ini berat untukmu tapi aku berharap hal ini tidak menjadikanmu sebagai gadis yang lemah." kata Finn tanpa bermaksud menghibur.


Mia merenungkan kata-kata Finn sembari menghapus air matanya. "Lalu, apa yang aku bisa lakukan untukmu?"

__ADS_1


"Ini," Finn memagut benda kenyal berwarna merah ceri di hadapannya. Dan entah karena faktor apa, Mia membalas pagutan Finn. Pagutan yang semakin panas dan menuntut. "Lihat, 'kan? Kau ternyata menyukai ciumanku," bisik Finn di sela-sela ciumannya.


...----------------...


__ADS_2