Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Perjanjian


__ADS_3

Luigi memijat lembut pelipis kanannya saat Grant mengatakan permohonanmya. "Apakah tidak ada wanita lain selain Mia? Dia milikku, Wilson,"


"Aku tau dan seperti yang tadi telah kukatakan, aku akan membayarnya berapa pun kau mau, Luigi. Ayolah, aku membutuhkan dia. Hanya dia yang bisa, bukan wanita lain secantik apa pun mereka," kata Grant lagi.


Saat ini, memang dia belum menyukai Mia. Dia hanya berdebar melihatnya dan menurut pria bermata biru itu, hal seperti itu belum dapat dikategorikan sebagai bentuk cinta.


Entah mengapa, hanya dengan Mia dia tidak pingsan. Grant Wilson seorang pria tampan, mapan, dan memiliki segalanya. Namun sayang, dia memiliki alergi yang unik. Yaitu, alergi kepada wanita. Dia akan berdebar-debar hebat, berkeringat dingin, mual, dan bahkan tak sadarkan diri saat dia berhadapan dengan wanita. Akan tetapi, tidak dengan Mia. Itulah yang membuat Grant penasaran, ada apa dengan gadis itu? Apakah mungkin gadis itu akan menyembuhkan alerginya?


"Dia sangat berharga di mataku, Wilson. Aku tidak akan memberikannya kepadamu walaupun kau memberikan dunia ini kepadaku!" tegas Luigi. Kemudian dia masuk ke studio tempat Mia menunggu dan mengajak gadis itu pulang. "Kau sudah selesai, 'kan? Ayo, kembali!"


Grant memandangi Mia, dia belum akan menyerah. Apa pun akan dia lakukan untuk mendapatkan gadis cantik itu. Entah bagaimana caranya?


"Apa yang kau lakukan tadi bersama Wilson?" tanya Luigi, penuh selidik.


Mia menggeleng. "Tidak ada, kami hanya mengobrol. Kasihan, dia punya penyakit,"


Kedua mata Luigi membesar. "Siapa? Orang kaya itu?"


Mia mengangguk. "Yup dan sepertinya sulit disembuhkan,"


Luigi mengusap-usap dagunya. Otak liciknya mulai bekerja. 'Kalau penyakitnya sulit disembuhkan, apa berarti dia akan mati?' pikirnya dalam hati.


Senyumnya terpatri di wajahnya. "Hei, Mia. Kau mau menikah dengan Wilson?"


"Tidak! Aku sudah pernah menikah dan itu tidak enak! Aku tidak mau mengulang pernikahanku lagi!" tukas Mia.


Luigi menghembuskan napasnya perlahan. Dia berusaha sabar saat menghadapi Mia, bukan hanya karena gadis itu masih sangat muda tetapi Mia juga keras kepala. "Lalu, kalian tadi tidak melakukan apa pun di dalam? Sama sekali?"


Mia mengangguk. "Kau tidak mempercayaiku?"


"Aku percaya, hanya saja saat ini memiliki banyak pikiran," jawab Luigi. Pria itu beringsut mendekati Mia dan menyandarkan kepalanya ke pundak gadis itu dengan manja. "Kau membuat nyaman, Mia. Finn Walter bodoh sekali karena melepasmu,"


Mia mengedikkan pundaknya dan membuat kepala Luigi terjatuh sedikit. "Tidak usah membahas tentang Finn Walter! Aku tidak ingin lagi mendengar namanya!"


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian, tapi aku bersyukur karena dia melepasmu." ucap Luigi lagi. Pria itu mengangkat dagu Mia sehingga berhadapan dengannya dan mengecup benda kenyal kemerahan yang ada di depannya itu dengan liar. "Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapapun, Mia!"


Mia mengusap bibirnya. "Ya, aku juga tidak mau ke mana-mana. Aku sudah puas bersama denganmu,"

__ADS_1


Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah menari Luigi. Pria itu melihat wajah puas di kedua penari kesayanganny, Pat dan Gwen.


"Hehehe, lihat kakak-kakakmu, mereka pasti baru saja mendapatkan sesuatu yang besar. Itulah mengapa aku sayang pada mereka," ucap Luigi. Pria itu pun keluar dari roda besinya dan menjumpai Pat dan Gwen.


Pat dan Gwen segera saja menarik tangan Luigi dan menbawa laki-laki kaya dan tampan itu untuk masuk ke sebuah ruangan. Bilik, lebih tepatnya. "Finn Walter! Tadi dia datang ke sini mencari Mia,"


"Apa? Walter? Tau darimana dia tempat ini?" tanya Luigi.


Pat dan Gwen saling berpandangan dan kemudian mereka menggelengkan kepala mereka. "Kau yang terlalu menjual Mia dengan mulutmu! Kau katakan kepada semua kerabatmu kalau Mia ada bersamamu. Begitu, 'kan?"


Kedua bola mata Luigi berputar ke atas, dia berusaha mengingat-ingat, kapan dia pernah mengatakan seperti itu. Beberapa saat kemudian, dia sadar dan kembali mengusap-usap dagunya. "Ya, mungkin aku pernah berkata seperti itu. Tapi, aku tidak, ...."


"Orang akan membicarakannya sepanjang waktu, Luigi! Kau benar-benar seorang kakek tua!" tukas Gwen, mencaci bos-nya.


Pat berkacak pinggang, kedua alisnya saling bertautan. "Kita harus melindungi Mia. Aku tau dari beberapa orang tentang Beth Parker. Dia wanita pendendam dan obsesif,"


Luigi menelan salivanya. Sekarang dia sadar apa yang telah dia perbuat. Rasa cinta dan tingkat kepemilikan Luigi terhadap Mia sudah tumbuh sangat besar. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu. Dia juga tidak ingin mengembalikan Mia kepada Finn Walter.


"Apa yang Finn Walter lakukan tadi?" tanya Luigi lagi.


Gwen dan Pat tersenyum nakal. "Kami mengerjai dia dan dja cukup nikmat,"


"Tentu saja tidak! Kau menempatkan kami di level senior, karena kami pandai menjaga daerah ini," jawab Gwen sambil menunjuk bagian bawahnya. Dia mendekati Luigi dan duduk di pangkuannya kemudian dia bergerak, membuat Luigi mengeluarkan dessahan kecil. "Ini hanya untukmu, Sayang," bisik Gwen tersenyum.


Luigi mengibaskan tangannya kepada Pat, meminta gadis itu keluar. Pat berdecak kesal dan berjalan keluar. Dia menemui Mia yang sedang menerima para tamu. "Hei," sapanya.


"Hai, Pat. Di mana Luigi?" tanya Mia.


Jari Pat menunjuk pada bilik tempat dia keluar tadi. "Di sana itu, bersama dengan wanita pelampiasannya,"


"Sepertinya kau kesal sekali, Pat? Ada apa?" tanya Mia lagi.


Pat menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Oh, tadi mantan suamimu datang mencarimu,"


Sembilu yang sempat hilang, kini muncul lagi dan bersemayam di jantung Mia. "A-, apa maksudmu?"


"Finn Walter," jawab Pat sambil mengambil samosa di atas meja tamu dan memakannya. "Dia mencarimu dan kami katakan kau bersama Luigi sedang keluar kota,"

__ADS_1


Mia menghembuskan napasnya lega. "Syukurlah, terima kasih karena kau tidak mengatakan di mana aku berada,"


"Tapi aku rasa tempat ini sudah tidak aman lagi untukmu. Aku sudah mengatakan itu kepada Luigi, karena bisa saja suamimu datang menemuimu kembali dan kau sedang berada di sini," ucap Pat. "Tenang saja, aku dan Gwen akan menghadangnya untukmu. Kau tidak perlu khawatir, Mia. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri,"


"Tidak! Aku akan membawa Mia ke tempat aman," sahut Luigi, dia keluar sambil mengancingkan kembali kemeja yang tadi dia pakai. "Aku punya rencana hebat walaupun aku sendiri keberatan dengan rencanaku ini,"


Mau tidak mau, Luigi akan menyetujui permintaan Grant Wilson. Di sanalah tempat teraman untuk Mia. Luigi mulai menulis surat perjanjian. Dia tidak bodoh dengan menberikan Mia begitu saja kepada lelaki kaya itu.


Setelah selesai dengan surat itu, Luigi meminta Mia untuk ikut dengannya lagi.


"Kenapa aku harus ikut denganmu? Kita baru saja sampai," tolak Mia.


"Ikut saja!" jawab Luigi sambil menarik tangan Mia.


Luigi pun kembali memasuki mobil dan meminta supir pribadinya untuk mengantar mereka ke tempat Grant Wilson.


"Untuk apa kita ke sana lagi?"! tanya Mia.


Namun, Luigi tidak menjawab pertanyaan Mia itu. Dia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Setibanya mereka di tempat Grant Wilson, Luigi meminta Mia menunggu di dalam kendaraan beroda empat itu.


Sementara dia bertemu dengan Grant Wilson secara pribadi. "Wilson, maafkan kedatanganku yang mendadak ini,"


"Ada apa?" tanya Grant.


Luigi membuka surat yang tadi dia tulis dan dia bentangkan kertas surat itu di atas meja. "Setelah aku berpikir-pikir, aku mengabulkan permohonanmu untuk menikah dengan Mia. Dengan syarat yang sudah aku sebutkan di dalam surat ini,"


Grant membaca surat itu dengan seksama. "Syarat yang kau ajukan adalah aku tidak boleh menikah sungguhan dan aku dilarang untuk berhubungan dengan Mia?"


Luigi mengangguk-angguk puas. "Betul. Bahkan aku tidak meminta bayaran kepadamu,"


"Berarti, apa tujuanmu?" tanya Grant lagi. Aneh baginya, jika seorang Luigi tidak meminta bayaran.


"Mia sangat berharga untukku dan aku tidak mau kehilangan gadis itu. Mia adalah hidupku sekaligus aset utamaku. Ada sesuatu hal tidak bisa kami ceritakan, tapi Mia butuh tempat yang aman dan disinilah satu-satunya tempat yang bisa kupikirkan," jawab Luigi.


Melihat kesungguhan Luigi, Grant tersenyum. Dia mengambil sebuah pena yang tampak seperti sehelai bulu ayam, kemudian dia menorehkan tanda tangan di surat itu. "Aku setuju! Deal?"


Luigi menjabat tangan Grant untuk menggenapi perjanjian mereka. "Deal!"

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2