Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Kembali Ke Desa


__ADS_3

Sore hari itu, Mia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhnya. Setelah merasa nyaman, dia melihat ayah dan ibunya.


Dia segera beranjak dari posisi berbaringnya dan duduk. "Ibu? Ayah? Kenapa ada di sini?"


"Justru kami yang bertanya, kenapa kau bisa diantar ke sini?" tanya Lilian.


Mia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tiba-tiba napasnya tercekat dan ketakutan menyergapnya begitu saja. "Siapa yang membawaku ke sini?"


Alex dan Lilian mengangkat kedua bahu mereka. "Seorang pria,"


Mia menelan salivanya dengan kasar. "Pria? Siapa pria itu?"


Gadis itu berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Dia sedang bermain di taman bersama Willia dan seorang pria datang, kemudian semuanya berubah menjadi gelap dan dia ada di sini, di rumahnya sendiri. Apa yang terjadi? Di mana Finn?


Tanpa memperdulikan Alex dan Lilian yang memanggilnya, Mia berlari secepat dia bisa untuk ke kota. Beruntunglah, seseorang di desa yang mengenalny memberikan tumpangan kepadanya.


"Mia Colton, kau mau kemana?" tanya wanita itu sambil menarik tali kekang kuda yang membawanya.


"Oh, Nyonya Penny. Aku ingin ke kota," jawab Mia dengan napas terengah-engah..


Wanita tua yang memakai bonnet di kepalanya itu bergeser dan menepuk kursi di sampingnya. "Naiklah, kuantar kau ke sana. Aku akan ke pasar di kota sebelah. Ayo, naiklah,"


Mia pun menaiki gerobak kemah itu. "Terima kasih, Nyonya Penny,"


Nyonya Penny mengajak Mia berbincang-bincang. "Apa kau sedang menjenguk orang tuamu, Mia?"


Mia mengangguk. "Iya," jawabnya singkat. Saat ini, gadis itu sedang tidak fokus. Kepalanya penuh dengan tanda tanya, ditambah lagi, dia tidak bisa mengingat apa yang baru saja terjadi di rumah Finn? Ke mana Finn? Kenapa dia terbangun di rumah orang tuanya? Jantungnya terus berdebar kencang.


"Bagaimana kabarmu dan suamimu? Kau belum mengandung?" tanya Nyonya Penny lagi penuh selidik.


"Kami baik-baik saja." kembali Mia menanggapi pertanyaan wanita tua itu dengan singkat.


Tak lama, mereka sudah sampai di perbatasan kota. "Nah, silahkan. Salam untuk suamimu, Mia,"


"Akan kusampaikan salam darimu, Nyonya Penny. Terima kasih untuk tumpangannya," sahut Mia. Dia pun segera berlari kembali menuju rumah Finn.


Sesampainya di sana, hari mulai malam dan para pengawal berbaris dengan rapi dalam formasi. Mia menurunkan kecepatan berjalannya. "Halo, aku mau masuk. Permisi,"


"Anda mau bertemu siapa?" tanya salah seorang pengawal.

__ADS_1


"Saya Mia Walter. Ini rumah saya, kenapa saya harus izin untuk masuk ke dalam rumah saya sendiri?" tanya Mia heran. Ingin sekali dia berteriak memanggil Josh, tetapi dia ingat kalau Josh sudah tidak ada lagi di sana.


Pengawal itu berbisik-bisik kepada pengawal lain yang berada di sebelahnya dan pengawal itu mengangguk. "Suruh dia masuk!"


Setelah berada di dalam, Mia memanggil Finn. "Finn! Kau di mana Finn?"


Mia mengintip kamar mereka, tetapi dia tidak menemukan suaminya di sana. Mia berjalan lagi menuju kamar para pelayan. "Willia, kau di sana?" bisiknya.


Seorang gadis berjingkat-jingkat mendekatinya. "Nona Walter. Masuklah,"


Mia pun masuk ke dalam. Para pelayan yang mengenalnya membungkukkan badan kepada dengan hormat. Mia membalas salam mereka.


"Apa yang terjadi di sini, Willia? Ke mana semua orang? Kenapa sepi sekali?" tanya Mia menuntut. Dia melihat dan mengecek para pelayan satu per satu dan menghembuskan napas lega saat mereka masih lengkap.


Willia menjawab dengan berbisik. Wajahnya ketakutan. "Nyonya Parker sekarang tinggal di sini, Nona. Dia mengambil alih semuanya. Semua pelayan dan para pengawal Tuan Walter diganti dengan pelayan serta pengawal miliknya,"


"Apa! Lalu, di mana Finn? Apa dia baik-baik saja? Dan ke mana Ronald?" tanya Mia lagi lebih mendetail. Dia benar-benar ingin berkeliling ke rumah itu dan berbicara empat mata dengan Beth Parker.


"Tuan Ronald Walter dipulangkan, Nona. Tuan Finn, kami belum melihatnya sedari tadi," jawab salah seorang pelayan.


Air mata Mia mendesak untuk turun, tetapi sekuat mungkin Mia menahannya. Dia tidak ingin menjadi seorang wanita cengeng di saat orang-orang berjuang untuk dirinya.


"Aku akan keluar dan mencari Finn. Apakah kalian aman? Kalian baik-baik saja?" tanya Mia lagi.


Mia menatap Willia. "Kau baik-baik saja?"


Willia mengangguk. Gadis pelayan itu meneteskan air matanya. Mia dapat merasakan ketakutan di dalam diri gadis itu. "Semua akan baik-baik saja, Willia,"


"Setelah kepergian Tuan Winston, semua menjadi kacau dan menakutkan," katanya.


"Aku tau, Willia. Aku berjanji semua akan baik-baik saja dan kembali seperti semula," janji Mia. Dia berharap dalam hati, apa yang dia ucapkan akan menjadi kenyataan.


Dia pun keluar dan mencari Finn di ruang kerjanya. Dia mengetuk ruangan itu. "Finn? Apa kau di dalam?"


Mia membuka pintu itu, tetapi pintu itu terkunci. Gelombang ketakutan kembali menerpanya. "Finn, apa kau di dalam? Tolong buka, Finn. Kau membuatku takut, apa yang terjadi?"


Sementara itu di dalam ruangan kerja Finn. Beth Parker sedang menawan Finn. Dia mengikat pria itu. "Kalau kau bersuara, aku tidak akan menjamin gadis itu berumur panjang. Diam dan turuti kata-kataku!"


Finn mengangguk. "Aku akan turuti kata-katamu. Jika kau mengingkari setiap janjimu, aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!"

__ADS_1


"Silahkan," kata Beth mengejek.


Maka saat mereka mendengar suara Mia yang ketakutan, Beth memandang tajam ke arah Finn untuk memastikan pria itu menepati janjinya. Dia tersenyum senang saat melihat Finn tunduk padanya.


Tak puas sampai disitu, Beth melucuti pakaian yang menempel di tubuh Finn.


"Apa yang kau lakukan, Jallang!" tanya Finn memberontak.


Sebilah pisau lipat menancap di bawah dagunya. "Diamlah! Pisau ini cukup tajam untuk menggores leher istri kecilmu, Walter!"


Finn menelan salivanya kasar. Napasnya memburu, dia memejamkan matanya sesaat dan membiarkan Beth melakukan apa yang ingin dia lakukan.


"Buka pintu itu, dan katakan kepadanya kalau kau mencintaiku." bisik Beth sambil menggigit kecil cuping telinga Finn.


"Aku tidak mungkin keluar dalam keadaan seperti ini, Parker!" tukas Finn.


Beth tersenyum liar. "Justru kau harus keluar seperti ini, berpura-pura saja kita sedang melakukan hubungan badan yang dahsyat dan menggairahkan,"


"Atau, suruh istrimu masuk dalam keadaan aku sedang bergoyang di pangkuanmu! Hihihi, itu ide bagus. Memikirkannya saja sudah membuatku bergairah. Kau juga, 'kan, Walter?"


"Kau gila! Sungguh gila!" ucap Finn tajam.


Beth tak kenal putus asa, dia mengecup ceruk leher Finn dan menyesapnya kuat sampai meninggalkan tanda kemerahan di sana. "Aku sudah menandaimu, apa perlu aku membuat tanda di dadamu juga? Oh, aku rasa itu bagus! Berbaringlah!"


Beth memaksa Finn untuk berbaring dan dia segera menyesap dada Finn dan membuat tanda merah di sana. Finn melenguh tanpa sadar. Beth terkikik. "Mendessahlah lebih keras, Sayang,"


Mia mendengar suara lenguhan itu. Dia kembali memanggil suaminya. "Finn! Kumohon, jawab aku. Aku tahu, kau ada di dalam! Izinkan aku masuk, Finn!"


"Masuklah!" terdengar suara kunci berputar dari dalam ruangan itu.


Mia segera membuka pintu dan menemukan Finn dalam keadaan setengah telanjang dengan Beth berada di atasnya dalam keadaan yang sama.


"F-, Finn. Kau! Apa yang kau lakukan?" tanya Mia, dia mengalihkan pandangannya kala Beth bergerak di atas tubuh Finn dan melihat bagaimana suaminya itu menikmati gerakan Beth di atasnya.


"Kembalilah, Mia. Pulanglah ke tempat orang tuamu. Mulai saat ini, kau bukan tawananku lagi. Aku membebaskanmu, Mia. Aaahhh, Parker, itu nikmat sekali! Percepat gerakanmu!" ucap Finn sambil menggerakkan lutut Beth dengan cepat.


"Ta-, tapi, ..."


"Sudah jelas, Mia. Pergilah! Kau mengganggu!" tukas Finn, dia memejamkan matanya, menikmati Beth yang kini bergerak dengan berputar.

__ADS_1


Mia berjalan keluar dan menutup pintu ruangan itu. Masih terdengar jelas suara erangan dan dessahan Finn dari dalam. Hatinya seakan tertusuk pedang yang sangat tajam. Malam ith juga, Mia kembali ke desa dengan perasaan yang tak menentu.


...----------------...


__ADS_2