
"Bagaimana? Aman?" tanya Josh. Dia menjulurkan kepalanya ke kanan dan kiri jalan.
Beberapa pengawal menganggukan kepala mereka. "Aman, Bos!"
Josh mengangguk. "Oke, kawal kami!" Josh mengulurkan tangannya kepada Mia. "Ayo,"
Mia menyambut uluran tangan itu dan tersenyum. "Ayo!"
Baru saja mereka berjalan keluar gerbang, pekik suara seseorang terdengar. "Tunggu! Tunggu! Aku ikut!"
"Finn? Katanya tadi kau tidak ikut," tanya Josh.
"Ah, aku berubah pikiran. Ayo, jalan! Mia, kemarilah!" Finn mengambil alih Mia dari Josh.
Akhir-akhir ini, Josh selalu meminta izin pada Finn untuk mengajak Mia berjalan-jalan atau sekedar berbincang-bincang.
Selain itu juga Josh lebih senang menyendiri dan mengurung diri di kamarnya. Hanya Mia yang dia perbolehkan untuk masuk ke dalam. Itu semua terjadi sejak pertemuannya dengan Beth.
Seperti pagi ini, dia sudah siap di ruangannya untuk menunggu Mia.
"Pagi, Josh," sapa Mia..
"Hai, kau sudah siap rupanya?" tanya Josh.
Mia mengangguk kecil. "Ayo, kita jalan sekarang. Finn belum bangun, dia akan mengamuk kalau tau aku jalan berdua denganmu, hihihi," ucap Mia terkikik.
Josh tersenyum. "Oke, ayo!"
Di malam sebelumnya Josh sudah mengajak Mia untuk lari pagi di keesokan harinya. Hatinya bersuara gembira kala Mia mengiyakan ajakannya.
Pagi-pagi sekali dia sudah terbangun bahkan sebelum semua orang di rumah itu membuka mata mereka. Dia menyusun rencana akan berjalan ke mana, makanan yang akan dia bawa atau yang akan dia beli, dan apa yang akan dibicarakan dengan Mia nantinya.
Begitu dia melihatmu yang muncul di hadapannya, dia sudah lupa dengan rencananya dan dia membiarkan segalanya mengalir begitu saja di pagi hari itu.
"Kita akan berjalan sedikit jauh, kau tidak lelah, 'kan?" tanya Josh.
Mia menggeleng. "Tidak. Aku senang berjalan-jalan bersamamu. Vin tidak pernah mau berjalan jauh seperti ini tapi kalau bersama denganmu, aku bisa mengajakmu ke mana saja,"
Josh mengacak-acak rambut Mia dengan kasar sehingga beberapa rambut yang sudah terjalin dengan rapi keluar begitu saja.
"Kita duduk di taman yang berada disana, bagaimana?" tanya Josh.
__ADS_1
Mia mengangguk. Tak Hanya mereka berdua yang berlari saat itu, beberapa orang pengawal mengawal mereka di bagian depan dan di bagian belakang lengkap dengan membawa senjata api.
"Terima kasih, Mia karena kau telah hadir dalam hidupku. Walaupun aku tidak bisa memilikimu tapi aku sudah bahagia kan aku bisa mengenalmu," ucap Josh tiba-tiba.
"Kenapa, sih, kau selalu mengatakan kalimat perpisahan seperti itu? Kau sudah berjanji kepadaku untuk tidak berbicara seperti itu lagi, karena kesan yang kutangkap dari kalimatmu adalah kau seakan pergi jauh dan kita tidak akan bisa bertemu kembali," sahut Mia sedikit kesal. Ada rasa sakit di dadanya saat Josh mengucapkan kalimat itu.
Josh menghembuskan napasnya. "Kita tidak akan pernah tahu Berapa lama umur seseorang, Mia. Selagi aku masih bisa bernapas dan melihatmu, aku akan mengatakan itu setiap hari bahkan sampai kau bosan dan muak. Hahaha!"
"Ah, Josh Bodoh! Kalau kau sampai mati atau pergi jauh, lalu, aku harus bagaimana, Josh?" tanya Mia. Matanya mengunci netra kecokelatan pria yang ada di sampingnya itu.
"Aku tidak akan pernah benar-benar pergi darimu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, Mia. Kalaupun misalkan aku harus pergi dan kita tidak akan pernah bisa bertemu kembali, yakinlah kalau aku tetap tinggal di dalam sini. Aku akan selalu menemanimu," kata Josh sambil menunjuk dada Mia.
Mia memberengutkan bibirnya. "Tapi kalau kau benar-benar pergi, aku tidak bisa menangis, aku tidak bisa tertawa, aku tidak bisa menggenggam tanganmu yang hangat, dan aku tidak bisa bermain lagi bersamamu, Josh. Maka dari itu, aku mohon jangan pergi dan jangan pernah tinggalkan aku sendiri,"
"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Josh.
Mia mengangguk. "Boleh, kita teman, 'kan?"
Josh memasukan Mia ke dalam pelukannya. Dia mendekap erat gadis yang saat ini bersamanya itu. Entah kenapa, dia berharap supaya waktu berhenti sehingga dia tidak perlu melepaskan pelukan itu selamanya. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap masuk begitu saja di dalam diri Josh dan rasa takut itu sulit sekali ya jelaskan atau ungkapkan kepada siapapun.
"Kalau aku diizinkan, aku ingin memelukmu selamanya. Aku ingin selalu berada di sisimu walaupun kau bukan milikku tapi paling tidak aku bisa melihat senyummu setiap hari atau bahkan aku akan dengan senang hati mendengar tangisanmu," ucap Josh. "entah perasaan apa ini, tapi aku takut. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi dan aku akan kehilanganmu selamanya,"
Mia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak, Josh. Kau tidak akan pernah kehilangan aku dan tidak ada seorang pun yang bisa mengambilmu dari sisiku. Kita harus terus bersama bagaimana pun kondisinya. Begitu, 'kan janjimu kepadaku? Kau harus menepati janjimu itu, Josh!"
Mia mengangguk dan gadis itu menautkan jari-jarinya pada jari-jari Josh.
Baru saja mereka memasuki gerbang rumah Finn, beberapa orang pria berbadan tegap mengepung rumah Finn. Sontak saja, Josh segera berlari masuk ke dalam dan dia meminta seluruh pengawal untuk mengawal Mia sedangkan dia masuk ke dalam tanpa pengawalan sedikit pun.
"Josh!" Mia memekik dan ikut berlari bersamanya.
Namun, dia mendengar suara asing yang berteriak dengan panik. "Mia! Tetap di tempatmu! Apa pun yang kau dengar atau apa pun yang terjadi jangan pernah kau langkahkan satu langkah kaki pun masuk ke dalam! Aku mohon,"
"Oh wow! Mia, kau dilindungi sekali oleh banyak pria ternyata ya? Aku cemburu," suara cemoohan Beth terdengar manja. Dia membawa sebuah senapan api laras pendek dan dia mengacungkan senapan itu ke udara.
Begitu Beth mendekat, Josh meminta pengawal membuat barisan untuk melindungi Mia. "Bentengi Mia! Jangan sampai ada celah!"
Suara kokangan senjata terdengar mengerikan di telinga Mia, karena dia dikepung oleh barisan pengawal yang semuanya mengacungkan senjata ke segala arah. "Finn, apa yang terjadi?"
"Kau aman, Mia. Kau aman. Jangan khawatir, aku akan menepati janjiku untuk selalu melindungimu," Josh yang menjawab pertanyaan Mia karena dia melihat Finn tidak akan bisa menjawab pertanyaan istrinya itu di saat tangannya dibekuk oleh dua orang pengawal dan mulutnya disumpal dengan sehelai saputangan.
"Parker, apa yang kau mau?" tanya Josh, perlahan dia mendekati Beth.
__ADS_1
"Dia mati!" jawab Beth menunjuk kepada Mia yang sedang dikelilingi oleh barisan pengawal.
Josh mendengus. "Dia tidak akan pernah mati, Parker. Dia punya aku dan dia punya Finn, bahkan aku dapat memastikan kalau dia berumur sangat panjang,"
Beth tertawa liar. "Kau mengancamku? Ini semua karena ulahmu juga, Winston! Kau menjebakku dan kau membuat segalanya berantakan!"
"Tidak ada kebohongan yang tertutup sempurna, Parker. Semua akan terbongkar pada waktunya. Cepat atau lambat," balas Josh. Suaranya terdengar sangat tenang. "Ayolah Parker, menyerah sajalah. Kita bisa hidup damai dan kita bisa menjadi teman baik,"
Beth menggelengkan kepalanya. "Hoho, tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menyerah dan sampai kapan pun aku tidak ingin berteman baik dengan kalian!"
"Lalu, apa tujuanmu kesini?" tanya Josh lagi.
Beth mengarahkan senjatanya ke barisan pengawalnya dan menarik pelatuk senjata api itu. Suara ledakan dan suara larangan segera terdengar diiringi dengan darah yang mengalir dari salah seorang pengawal yang terjatuh karena tembakan Beth.
"Tidak! Finn! Apa kau baik-baik saja? Josh!" pekik Mia. Tubuh gadis itu gemetar ketakutan begitu pula dengan suaranya.
"Jangan bergerak, Mia! Tetap di tempatmu!" titah Josh.
Barisan pengawal itu merapatkan barisan. Namun, serentetan peluru mengenai para pengawal. Satu per satu mereka berjatuhan, dengan segera darah mereka mengalin dan menganak sungai.
"Aku bisa melakukan apa yang aku mau, Winston! Tujuanku hanya satu, serahkan gadis itu dan tidak akan ada darah lagi," ucap Beth dingin.
Seorang pria dengan topi koboi berwarna hitam turun dari langit-langit. Senjatanya mengarah tepat ke Mia. Josh menggelengkan kepalanya. "Jangan Mia, Parker! Jangan dia! Kau bisa minta segalanya tapi kumohon jangan dia!"
Namun, Beth hanya tersenyum keji dan dia memberikan isyarat kepada pria koboi itu.
Suara ledakan terdengar kembali, alih-alih menyingkir, Josh justru melemparkan dirinya menghadang peluru itu untuk Mia. Tak hanya satu tembakan, tapi 2 sampai 3 tembakan susulan mengenai tubuhnya.
"Josh! Josh!" pekik Mia.
Dalam kondisi sekarat, Josh mengambil salah satu senapan milik pengawal yang sudah mati dan menembakkan peluru ke arah pria bertopi koboi itu berkali-kali hingga pria itu terjatuh dan terkapar dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.
Beth berteriak, dia berusaha menembak Mia dan Josh, tetapi lagi-lagi, Josh masih sempat melumpuhkan Beth, hingga wanita itu terjatuh.
Rumah Finn kini dipenuhi darah segar yang mengalir kemana-mana dan dari segala arah serta suara isak tangis Mia. Para pelayan yang sudah ditarik bersembunyi segera berlari untuk membantu Finn melepaskan ikatannya.
"Jangan mati, Josh! Kau bilang kau tidak akan pergi meninggalkan aku," tangis Mia. Air matanya menetes ke pipi Josh yang berada di pangkuannya.
"Aku sudah menepati janjiku untuk melindungimu, Mia dan sekarang aku akan berada di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Berbahagialah, Mia dan jangan lupakan aku. Aku menyayangimu," sambil terbata-bata, Josh berusaha menyelesaikan kalimatnya sebelum dia mengatupkan kedua mata untuk selamanya.
"Josh! Josh! JOSSSHHH!"
__ADS_1
...----------------...