
"Kau membeli gadis itu? Bukan Winston?" tanya Beth terkejut. "Mengapa kau selalu menyelamatkan dia, Walter? Apa bagusnya gadis itu?"
"Kurasa aku mencintainya. Hanya itu, tidak ada alasan yang lain lagi. Aku yakin, sebentar lagi dia akan mendatangiku dengan langkah berisik dan celotehannya yang riang," jawab Finn, tampak sekali raut bahagia di wajahnya.
Berbeda dengan Beth, dia seperti tersambar petir di siang hari yang terik. "Cinta? Kau mencintainya? Lalu, bagaimana denganku, Walter?"
"Aku tidak tau apa tujuanmu datang kesini. Hubungan kita sudah selesai sejak lama, Parker. Kurasa saat itu sudah cukup menjelaskan kalau di antara kita tidak ada cinta sama sekali. Ini berbeda dengan apa yang kurasakan saat ini," jawab Finn lagi. Pria itu memutuskan sudah saatnya dia untuk mengungkapkan kejujuran. Dia tidak ingin lari dari perasaannya lagi.
"Tentu saja, aku ingin kembali kepadamu, Walter! Aku akan melakukan apa pun supaya kita bisa kembali seperti dulu lagi. Kumohon, terima aku lagi sebagai kekasihmu dan kita lanjutkan rencana masa depan kita," pinta Beth memohon.
Ingatannya kembali ke masa lalu, di saat dia dan Finn memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Saat itu, mereka berdua saling jatuh cinta, setidaknya itu yang Finn rasakan. Sampai suatu hari, Finn pergi ke luar kota dan Josh memergoki Beth jalan dengan pria lain. Awalnya Finn tidak percaya dan dia menyewa seorang detektif untuk menyelidiki kebenaran itu.
Ternyata apa yang dikatakan Josh benar. Tanpa menunggu kembali, Finn memutuskan pertunangannya dengan Beth begitu saja tanpa penjelasan atau alasan. Namun saat itu, Beth menerima keputusan itu dan hubungan mereka benar-benar berakhir.
Oleh karena itu, Finn tidak mengerti mengapa Beth datang kembali dan meminta mereka untuk kembali. "Aku tidak bisa. Aku bukan pria yang senang meminang masa lalu, aku tidak pernah menengok ke belakang. Seharusnya, kau mengenal aku lebih dari ini, 'kan, Parker?"
Beth terisak. "Ta-, tapi Walter, di hatiku masih ada sisa cinta untukmu,"
Finn mendengus. "Sisa? Terima kasih kalau begitu, tapi aku tidak ada sisa cinta sama sekali untukmu, Parker. Silahkan pergi dan kuharap kau tidak mengganggu aku atau Mia. Dia istriku!"
Cairan bening keluar dari sudut mata Beth dan dia tidak berusaha untuk menutupinya. "Aku masih ingin bersamamu, Walter. Aku masih mencintaimu."
"Aku tidak akan meminta maaf karena aku tidak mencintaimu, Parker. Oh, itu dia! Josh dan Mia!" ucap Finn bersemangat saat dia melihat pengawalnya datang bersama dengan seorang pria dan wanita.
Dia berdeham, merapikan pakaian dan rambutnya, kemudian dia memasang wajah dingin, seperti biasa. Benar saja, suara derap langkah kaki berisik segera memenuhi aula kediaman Finn.
"Parker, pergilah. Tempatmu sudah bukan lagi disini," ucap Finn lembut. Dia tidak ingin emosi menguasainya hari itu, dia sudah menyusun rencana dan dia tidak akan merusaknya.
Beth pergi dari ruangan itu dan melihat Josh dan Mia yang berjalan dengan bergandengan tangan. Dia segera menghampiri mereka dan mencengkeram lengan Mia kencang. "Ikut aku,"
"Parker! Kau tidak bisa menyakiti dia lagi! Lepaskan atau kau akan berhadapan denganku!" sentak Josh sambil menjauhkan tangan Beth dari Mia.
"Ck! Kau pengawalnya? Apa sekarang aku dilarang untuk berbicara disini? Begitu!" tukas Beth kesal.
__ADS_1
Mia menggandeng tangan Beth. "Aku akan berbicara denganmu," kemudian gadis itu menoleh kepada Josh. "Aku akan baik-baik saja, Josh,"
"Awasi mereka!" perintah Josh kepada salah satu pengawal.
Beth mengajak Mia ke taman belakang dan dia menawari sebatang rokok kepada gadis itu. "Aku tidak merokok, terima kasih,"
Beth mengembalikan rokoknya dan kemudian dia menyulut batang tembakau miliknya dan dihisapnya dalam-dalam setelah itu dia keluarkan perlahan seolah dia sedang mengeluarkan permasalahan hidupnya.
"Kapan kau akan menyerah?" tanya Beth tanpa basa basi.
"Aku? Apa maksudmu menyerah?" Mia balik bertanya. Dia sungguh tidak paham apa yang akan dikatakan oleh Beth.
Beth menghembuskan asap rokoknya ke wajah Mia dan membuat gadis itu mengibaskan tangannya serta terbatuk-batuk. "Entah apa yang dilihat oleh Walter pada dirimu, sampai dia jatuh cinta padamu,"
"Kau masih sangat kecil sedangkan Walter, pria dewasa. Apa kau sanggup menandinginya?" tanya Beth lagi. "Mantan kekasih Walter semua dewasa dan cantik, sedangkan kau? Entahlah, tidak ada kata yang bisa kuucapkan kepadamu saat ini."
"Kau memang sudah dewasa, Nona Parker. Tapi, orientasimu tentang Finn hanya sebatas pria kaya yang tampan, semua kebaikan Finn, kau anggap sebagai bonus. Berbeda denganku, aku menyukai segala yang ada padanya. Cintanya, hatinya, perhatiannya, kebaikannya, bahkan semua sifat kenakannya, aku suka." jawab Mia.
"Cih! Tau apa kau tentang cinta? Aku berharap nasibmu tidak seperti aku yang diputuskan tanpa alasan yang jelas!" sanggah Beth, dia kembali menyalakan rokok yang kedua.
Beth melengos pergi sambil mengguman. "Cih! Cinta Sialan!"
Mia memberengutkan bibirnya, memandang saingan cintanya itu pergi. Setelah puas, dia kembali ke dalam dan mengetuk ruangan Finn.
"Masuklah," terdengar suara Josh dari dalam.
"Hai, maaf aku akan keluar jika kalian sed-,"
"Masuk saja, Gadis Bodoh!" ucap Finn ketus.
Josh menepuk pucuk kepala Mia dan bergegas keluar. "Semoga sukses, Mia,"
Mia mengerutkan keningnya dan bertanya di dalam hati, 'apa maksudnya sukses?'
__ADS_1
"Ada urusan apa kau kesini?" tanya Finn. Kedua maniknya fokus pada sesuatu yang sedang dia kerjakan.
"Terima kasih, kau telah membeliku lagi," jawab Mia takut-takut.
"Hmmm," gumam Finn singkat.
Mia terdiam. Ruangan itu mendadak sunyi dan hanya terdengar berbagai macam suara mesin di dalam ruangan Finn yang seperti rumah itu.
"Ya, sudah kalau begitu. Aku pergi," kata Mia akhirnya. Dia pun berbalik dan bersiap untuk keluar ruangan.
Sampai tiba-tiba, Finn memeluknya dari belakang. "Jangan pergi ke manapun dan tetaplah disisiku, Mia,"
"F-, Finn? Kenapa?" tanya Mia. Dia takut Finn akan mendengar suara jantungnya yang berdegup kencang seolah akan mendobrak pintu.
"Aku merindukanmu, Mia. Aku sungguh-sungguh," jawab Finn.
Kali ini, Mia tak hanya dapat merasakan debaran jantungnya sendiri, tetapi dia juga dapat merasakan debaran jantung Finn. "Bagaimana dengan malam itu, saat kau bersama dengan Beth?"
"Malam itu, aku rasa Parker memberiku semacam obat, aku merasakan kepanasan yang amat sangat saat aku menenggak minumanku. Yang ada dibayanganky saat itu adalah kau, Mia. Bukan Parker atau siapa pun. Hanya kau," tegas Finn.
"Tapi, kenapa kau selalu terlihat bersama Beth?" tanya Mia lagi, seolah tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Finn.
Finn mengeratkan dekapannya. "Itu karena dia mengikutiku. Aku berani bersumpah kepada Dewa sekalipun, kalau aku berselingkuh darimu," jawab Finn, sekarang dia mengecup kening Mia dengan sayang. "Aku takut, aku hampir saja kehilanganmu, Mia."
"Aku masih disini berkat pertolonganmu, Finn. Kenapa kau tidak datang sendiri dan menjemputku?" tuntut Mia. Sebenarnya, pertanyaan itu sudah ada di kepalanya daritadi.
"Kalau aku melakukan itu, aku akan kehilangan wibawaku, hehehe!" jawab Finn tersenyum.
Senyum yang dapat membuat wanita manapun meleleh. "Kau tampan kalau tersenyum, Finn."
Finn menyapukan bibirnya ke bibir Mia yang masih menyimpan senyumnya, dan dia memagut bibir penuh itu dengan lembut. "Mia, maukah kau menikah denganku? Kita akan lakukan ini sekali lagi dengan cinta," tanya Finn di sela-sela ciumannya.
"Tentu saja, aku mau," jawab Mia tersenyum.
__ADS_1
...----------------...