Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Putus Asa


__ADS_3

Keputusan Luigi untuk memindahkan Mia ke tempat Grant Wilson cukup berhasil. Dugaan Pat benar, karena keesokan harinya Finn datang lagi ke rumah menari Luigi. Namun, saat itu Finn tidak diizinkan masuk karena rumah itu sangat penuh sesak dengan para pengunjung yang datang. Padahal hari itu masih sore.


Tak menyerah, Finn datang lagi di hari-hari berikutnya. Hampir setiap hari dia datang ke tempat Luigi. Jangankan Mia, bahkan dia tidak diperkenankan bertemu dengan Gwen atau Pat.


"Maaf, Tuan. Jadwal penari kami sangat padat, jika Anda ingin bertemu dengan salah satu dari penari kami apa pun urusannya, Anda harus membuat janji terlebih dahulu. Lihat saja, dari siang orang-orang sudah mengantri," kata gadis kecil penerima tamu.


Finn berdecak kesal. "Aku hanya ingin melihat sebentar. Mengintip kalau kau izinkah. Aku mencari seorang gadis, kumohon, izinkan aku masuk. Lima menit saja,"


Namun, si gadis penerima tamu itu cukup tegas. Dia kebal terhadap tatapan memohon Finn. "Kalau kubilang tidak, ya, tidak!" tegasnya.


Fin mengacak-acak rambutnya kasar. "Ya sudah katakan kepadaku bagaimana caraku membuat janji dengan salah seorang penari di sini!"


Gadis kecil penerima tamu itu membuka sebuah buku besar dan mengambil sebuah alat tulis. "Siapa nama Anda, Tuan?"


"Walter, Finn Walter," jawab Finn tidak sabar. Yang mentah-mentahkan kakinya seolah-olah menari di jalanan


"Anda ingin menyaksikan penari atas nama siapa?" tanya gadis penerima tamu itu lagi sambil bersiap untuk menulis.


"Mia Colton atau Mia Walter atau Mia saja! Bisakah aku bertemu dengan dia malam ini?" tanya Finn sedikit mendesak.


Gadis penerima tamu itu mencari jadwal Mia sambil membolak-balikkan halaman buku besarnya. "Hmmm, mohon maaf, Tuan. Antrian pengunjung Mia kebetulan sudah penuh sampai akhir bulan ini,"


Finn membulatkan kedua matanya. "Apa! Ini baru awal bulan dan kau mengatakan antrian pengunjung dia sudah penuh sampai akhir bulan. Itu mustahil sekali!"


"Kalau Anda tidak percaya kepada saya, silakan lihat buku saya dan di situ sudah jelas tertulis nama-nama penari dan jumlah pengunjung per harinya," kata gadis kecil berpakaian harem dengan menggunakan lilitan sari itu.


Finn menyambar buku besar yang dipegang oleh si gadis penerima tamu dan kemudian dia membacanya. Dia terus membalikkan lembar per lembar dengan kasar sambil terus mencaci. "Gila! Ini benar-benar gila!"

__ADS_1


Kemudian dia menutup buku besar tersebut dan mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. "Masukkan aku ke dalam jadwal untuk malam ini dan untuk malam berikutnya!"


Lagi-lagi gadis penerima tamu itu menolak uang dari Finn. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maaf, Tuan. Tapi peraturan tetaplah peraturan mau sebanyak apapun Anda mengeluarkan uang, Anda. Tuan harus tetap mengantri sesuai dengan daftar antrian,"


Menghembuskan nafasnya dengan sedikit diiringi teriakan kesal. "Aarrgghh! Baiklah! Baiklah! Kali ini, aku akan mengantri. Berikan aku antrian pertama di 3 malam berturut-turut setelah akhir bulan ini. Katakan pada bosmu kalau dia membuatku sulit untuk bertemu dengan istriku maka aku tidak akan segan membakar tempat ini!"


"Baik, Tuan, berarti setelah akhir bulan ini, Anda akan saya jadwalkan untuk menjadi tamu prioritas Mia." jawab Si Gadis penerima tamu tersebut. Setelah dia menulis nama Finn di dalam buku besar, dia memberikan sebuah pembatas buku bergambar Mia dengan memakai pakaian tarinya. "Ini souvenir dari kami, Tuan. Semoga anda menyimpannya dengan baik dan sampai bertemu di akhir bulan nanti,"


Mengambil pembatas buku itu dan melihat foto Mia yang sedang tersenyum dengan cantik. Tiba-tiba saja rasa rindunya memuncak keluar seakan tumpah. Mulai detik itu juga dia menjadikan pembatas buku bergambar Mia tersebut sebagai hartanya yang berharga melebihi apapun di dunia ini.


Sementara itu di dalam rumah menari Luigi, Mia masih sibuk bekerja tanpa mengetahui ada Finn Walter yang menunggunya di luar dan bahkan memaksa untuk masuk ke dalam.


Berkat perjanjian yang telah dibuat antara Luigi dengan Grant Wilson, hari itu Mia bekerja namun dia akan kembali pulang ke rumah Grant. Tentu saja pria tampan dan kaya itu berada di sana dan menunggu kekasih pura-puranya bekerja.


"Hei, Mia. Apakah kau sekarang tidak tinggal di sini lagi?" tanya Gwen saat mereka beristirahat.


"Huh, Walter. Dia pria tampan yang menyenangkan dan menurutku dia lucu. Kami berdua menggodanya hanya untuk mengalihkan pikirannya darimu tapi ternyata dia pria yang cukup keras kepala. Aku iri padamu, Mia karena sepertinya dia benar-benar memperjuangkanmu," ucap Gwen sambil membenarkan tali rumit pada pakaiannya.


"Aku justru iri padamu, Gwen. Kau seorang wanita yang bebas dan bisa menentukan ke manapun arah tujuan hidupmu tanpa ada yang mengekangmu. Sedangkan aku, orang tuaku mengatur hidupku bahkan mereka berdua menjualku hanya untuk melunasi hutang dan di situlah aku bertemu dengan Walter di sana pun aku tidak bisa hidup bebas karena kedua orang tuaku tetap mengawasiku dari jauh dan kemudian aku kabur dan tibalah aku di sini," balas Mia, mengambil segelas air putih dan menenggaknya sekali habis.


Gwen tersenyum dan memeluk gadis itu. "Mulai saat ini kok bebas menentukan jalan hidupmu, Mia. Lakukanlah apa yang benar-benar kau suka dan tinggalkanlah jika itu menurutmu itu tidak baik untukmu. Jangan jadikan hidupmu rumit hanya karena masalah-masalah sepele."


Mia membalas pelukan Gwen. Di dalam hatinya dia bersyukur bisa bertemu dengan kedua wanita yang sekarang menjadi tonggak pegangan hidupnya. "Aku belajar darimu dan Pat. Terima kasih karena kau selalu mendukungku,"


Tak lama mereka berdua pun kembali ke panggung masing-masing dan melanjutkan tugas mereka. Pertama kali dalam hidupnya Mia merasa bebannya terasa ringan. Dia pun mulai menikmati pekerjaannya sebagai seorang penari dan sebagai seorang penghibur. Tidak ada salahnya menjadi seorang wanita penghibur selama kau melakukannya dengan sebuah prinsip yang kuat. Itulah pelajaran yang diambil dari Gwen dan Pat.


Sementara Mia dan Gwen sedang bekerja, pet baru saja mengantar seorang tamunya keluar dan kemudian dia melihat seorang pria lagi memanggilnya dan melambaikan tangan ke arahnya.

__ADS_1


"Hei! Hei! Wanita, jangan masuk dulu!" pekik seru pria itu kemudian dia berlari menghampiri Pat.


Pat memincingkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas siapa pria itu dan kemudian dia berkacak pinggang saat dia mengenali sosok pria tersebut. "Walter? Kau di sini rupanya? Apakah kau merindukan permainan tangan kami atau permainan mulut kami?"


"Bisakah kau panggilkan Mia sebentar? Sebentar saja. Atau biarkan aku melihatnya dari tangga spiral itu. Aku sungguh-sungguh merindukan dia, kumohon tolong aku," pinta Finn. Rasanya dia sungguh putus asa sekali, beribu penyesalan datang menyerbu hatinya.


Finn sadar, jika dia melihat Mia dia tidak akan puas hanya dengan waktu lima atau sepuluh menit. Dia pasti ingin membawa gadis itu pulang bersamanya.


Pat melihat jam tangannya. "Kurasa tidak bisa karena Mia pasti sudah berada di atas panggung saat ini,"


"Kenapa kau bisa keluar tapi Mia tidak bisa keluar?" desak Finn.


"Karena aku mempunyai tamu khusus yang membayarku lebih hanya untuk menemaninya," jawab Pat.


"Kumohon tolonglah aku ... bicaralah sebentar pada Mia dan katakan aku menunggunya di bawah," ucap Finn lagi.


Pat berpikir. Dia sudah berjanji kepada Mia untuk melarang Finn masuk ke dalam apapun yang terjadi dan Pat termasuk tipe wanita yang sangat memegang prinsip dan janjinya dengan kuat. Dia tidak akan mengingkari janjinya itu apalagi, mendengar kabar yang disebarkan oleh orang-orang kalau Finn yang mengusirnya dan memilih wanita lain daripada Mia.


"Aku bisa membantumu hanya saja tetap dengan syarat," jawab Pat. Dia yakin kali ini Finn akan menolaknya.


"Apa itu?" tanya Finn.


Pat lipat kedua tangannya di depan dada dan kemudian dia berjalan perlahan mengitari Finn. Kemudian dia mendekat ke belakang ceruk leher Finn dan berbisik, "Bercintalah denganku," katanya tersenyum lalu dia berlalu sambil melambaikan tangannya kepada pria yang sedang berdiri mematung itu.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2