Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Ancaman Untuk Josh


__ADS_3

Setelah diizinkan keluar kamar oleh Finn, Mia segera saja berlarian dengan bahagia. Awalnya, dia masih sempat menanyakan tentang orang tuanya.


"Di mana ayah dan ibuku?" tanyanya pada Finn.


Finn menatapnya. Dia heran sekali kepada gadis yang ada di sampingnya itu. Finn berpikir, Mia akan bertanya tentang arti ciuman yang baru saja mereka lakukan, tetapi ternyata dia bertanya tentang kedua orang tuanya.


"Ayah dan ibumu? Sudah kusuruh untuk kembali dan mereka mendapatkan perintah untuk menjauhimu, karena saat kau melihat mereka, tatapan matamu menjadi seram." ucap Finn santai. Entah mengapa, dia sedikit kesal karena Mia tidak bertanya tentang ciuman itu.


Tujuan Mia hanya satu hari itu, Josh! Maka, setelah Finn memasuki ruangan kerjanya, dia melongok untuk mencari Josh.


Karena dia tidak menemukan Josh di manapun, Mia pun mengetuk ruangan Finn. "Finn! Finn!"


"Berisik sekali, sih! Ada apa?" tanya Finn geram. Dia tidak suka diganggu di saat jamnya bekerja.


"Di mana Josh?" tanya Mia lagi sambil menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan Finn.


Finn merangkulnya dan mengajaknya masuk ke dalam. "Masuk saja!" Setelah mereka berada di dalam, Finn mengunci pintu ruangan kerjanya.


"Di mana Josh?" tanya Mia lagi.


"Kenapa kau mencari yang tidak ada? Lagipula, apa urusanmu dengannya?" tanya Finn, nada suaranya terdengar kesal. "Dan, satu lagi! Hanya kau di rumah ini yang berani memanggilku, Finn! Panggil aku dengan Tuan Walter!"


Mia menatap tajam dengan wajah memerah ke arah Finn. "Aku istrimu, wajar saja kalau aku memanggilmu memakai nama kecilmu! Baiklah, aku keluar!"


Finn menahan pintu ruangan kerjanya. "Aku baru sadar satu hal, kau istriku." pria itu mendesak Mia sampai batas pintu dan menciumi wangi rambut Mia, kali ini harum vanila.


"La-, lalu?" tanya Mia, dia mulai ketakutan.


"Ciuman tadi baru sebatas kecupan, Mia Sayang. Seperti tadi kau katakan, kau adalah istriku, jadi, aku bisa memintamu lebih dari tadi," tangan Finn membelai lembut lengan Mia dan membuat seluruh kulit gadis itu meremang. Setelah itu, Finn melarikan jari-jarinya ke punggung belakang Mia dengan satu tangan memeluk pinggang ramping gadis itu.


"Lepaskan aku!" tukas Mia, dia memberontak dan membelakangi Finn.


Posisinya kini justru menguntungkan Finn. Pria itu mendekap erat tubuhnya dan menyingkap rambut cokelat Mia. Dengan lembut, dia mengecup perlahan leher Mia dan masih terlihat warna merah di sana.


Tangannya mulai merayap naik ke atas, dan, ....

__ADS_1


"Aaaarrggghhhh!" Tiba-tiba, Mia berteriak dengan kencang. Tak sampai sedetik, suara gemuruh langkah kaki mendekati ruangan kerja Finn.


Finn memejamkan matanya, menahan emosi yang tumpah ruah akibat gadis yang mengaku sebagai istrinya itu. "Kau! Tunggu pembalasanku!" bisik Finn tajam.


Dia merangkul Mia erat, membuka pintu, dan tersenyum. "Ada apa? Kami hanya sedang-,"


"Josh!" Mia segera melepaskan diri dari rangkulan Finn dan berlari ke arah Josh.


"Kau baik-baik saja? Ada yang terluka atau tidak?" tanya Josh bertubi-tubi sambil membolak-balikkan tubuh Mia dan memeriksa gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Mia menggelengkan kepalanya dan melihat tajam ke arah Finn yang kini menatapnya dengan sangat kesal.


Setelah keadaan rumah itu kembali tenang, Mia meminta Josh menjelaskan siapa dia sebenarnya. "Ceritakan segalanya tentangmu,"


Josh tersenyum. Mereka berdua duduk di sebuah ayunan yang berada di dalam taman. "Baiklah, aku teman baik Finn. Itulah mengapa, Finn percaya sekali kepadaku. Saat ini, kami hanya memiliki satu sama lain. Keluarga kami sudah entah dimana. Tapi belakangan ini, aku dan dia berbeda pendapat. Kami sering bertengkar,"


"Kau ada di pihaknya?" selidik Mia. Karena jika itu terjadi, dia tidak akan mengandalkan Josh lagi. Dia akan merancang rencana untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Biasanya, iya. Tapi seperti kukatakan tadi, akhir-akhir ini kami selalu bersitegang." jawab Josh.


"Dia hanya seorang pesuruh, Mia." kata Josh lagi menjelaskan.


Mia dapat melihat kejujuran di mata Josh. Apakah itu berarti dia bisa mempercayainya? Setelah mengambil keputusan akhir, Mia mengulurkan tangannya. "Hai, Josh. Aku, Mia dan rasanya aku akan melepas nama Colton dibelakangku. Jadi, Mia saja. Mohon bantuanmu,"


Josh tersenyum kecil. "Hai juga, Mia. Senang mengenalmu,"


Sejak saat itu, hubungan Mia dengan Josh menjadi lebih dekat. Mereka sering menghabiskan waktu berdua, mulai dari pagi hingga malam menjelang. Bahkan, Josh mengantarkan Mia ke kamar setiap malam sebelum gadis itu tidur.


Sementara Finn, saat dia melihat Mia dengan Josh, dia merasakan ada monster yang meraung di dalam hatinya dan meminta dirinya untuk mencabik-cabik Josh menjadi potongan kecil-kecil.


Mia kini bisa melihat dan merasakan sikap Finn yang menutup diri, seperti yang pernah diceritakan oleh para pelayan. Namun Mia tidak peduli, selama dia berada diluar dan bisa menghirup udara selain di kamar.


"Finn! Finn!"


Suatu hari, Mia mengetuk ruangan kerja Finn dan membuka pintu itu. Dia melihat Finn masih sibuk dengan entah apa. Secara otomatis, Mia berjinjit dan berbisik, "Finn, aku ingin berbicara denganmu. Tapi, kau memakai pakaian yang sama dari kemarin? Apakah kau mengurung diri disini?"

__ADS_1


"Hmmm," jawab Finn singkat.


"Kau tidak makan?" tanya Mia lagi, kini hatinya diliputi rasa bersalah karena dia melupakan Finn.


"Apa keperluanmu?" tanya Finn tanpa menatap Mia, kedua matanya masih fokus dengan sesuatu yang tampak lebih menarik dibandingkan Mia.


"Aku ingin menjadi pelayanmu. Anggap saja aku membayar hutang kedua orang tuaku. Aku sudah bertanya kepada Willia, berapa bayaran untuk menjadi pelayanmu dan kupikir itu cukup untuk membayar hutang kedua orang tuaku selama beberapa tahun," kata Mia masih berbisik.


Finn menatap gadis itu dan mengunci manik biru yang berkilauan di hadapannya. "Lalu, kau menurunkan status sosialmu? Apa nanti reaksi orang jika tau aku menjadikan istriku sebagai budak?"


Mia menunduk. Hal itu tidak pernah terpikirkan olehnya. "Maaf, aku tidak berpikir sampai kesana,"


"Keluarlah! Kau menggangguku!" titah Finn dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Sesaat Mia keluar dari ruangannya, dia meminta salah seorang pengawal untuk memanggil Josh. Tanpa menunggu lama, Josh sudah datang dengan wajah sumringah.


"Ada perlu apa kau memanggilku, Finn?" tanya Josh tanpa basa basi. Dia melihat Mia sambil tersenyum dari balik jendela ruangan Finn.


Ruangan kerja Finn lebih tepat dikatakan sebagai rumah kecil karena ruangan itu sangatlah besar dan dilengkapi dengan peralatan pribadi milik Finn. Sama seperti sebuah rumah. Begitu juga dengan jendela, sama seperti sebuah rumah, ruangan kerja Finn memiliki jendela besar yang dapat melihat ke arah taman dan bangunan utama.


"Sama seperti sebelumnya, Josh. Jauhi Mia! Kau sudah terlalu jauh berhubungan dengannya! Aku tidak suka!" jawab Finn ketus.


Josh tertawa. "Hahaha! Kau cemburu? Baru kali ini aku melihat seorang Finn Walter cemburu. Kau benar-benar jatuh cinta kepadanya, Finn," goda Josh.


"Dia istriku," ucap Josh singkat.


"Lalu? Seisi rumah ini tau, dia hanya mainan untukmu," bantah Josh dan kali ini dia menatap mata Finn dengan pandangan tajam.


Finn berjalan menjauhi Josh dan kemudian dia melemparkan dua buah pisau ke arah Josh dengan cepat. Josh mengelak dan pisau-pisau itu menancap di dinding.


"Apa-apaan kau, Finn! Kau ingin membunuhku?" tanya Josh, napasnya tersengal-sengal karena melihat pisau yang tiba-tiba terbang ke arahnya.


"Itu peringatan untukmu, Josh. Lain kali, aku benar-benar akan mengarahkannya kepadamu. Pergilah!" ancam Finn dengan suara sedingin es.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2