
Sejak hari itu, Mia membuka hatinya untuk Grant. Perlahan, dia membiarkan pria itu masuk ke dalam hidupnya. Dia berusaha menerima Grant sebagai satu-satunya pria yang dia miliki saat ini.
Suatu hari, Mia sudah mencapai titik jenuhnya. "Bolehkah aku bekerja?"
"Bekerja? Di mana? Kau mau bekerja bersamaku?" tanya Grant. Pagi itu, dia sedang mengerjakan sesuatu yang cukup penting, tetapi karena Mia mengatakan dia ingin bekerja, Grant memastikan kemampuan Mia.
Mia menghampiri Grant dan duduk di atas meja kerja pria itu. "Aku ingin bekerja di toko bunga Nyonya Clark. Kami sudah cukup dekat dan aku sudah pernah menanyakan ini padanya. Nyonya Clark berkata kalau aku bosan, aku boleh bermain di sana,"
Sontak saja Grant tertawa. "Itu ajakan bermain, Sayang, bukan untuk bekerja. Kau sudah bekerja untukku dengan sangat baik, kenapa harus bekerja di luar juga?"
Rona merah menjalar di pipi Mia. "Kalau bekerja bersamamu, itu berbeda,"
"Apa tidak terlalu berbahaya jika kau seharian berada di luar? Maksudku, jika, ...."
Mia memegang kedua pipi Grant dan mengecup bibir pria itu. "Hei, aku akan baik-baik saja. Kalau terjadi sesuatu kepadaku, orang-orang pasti akan menolongku dan tidak diam saja. Lagipula, mereka tidak akan berani terang-terangan menangkapku, 'kan?"
"Kau sudah mulai pintar, Sayang. Aku tau, tapi aku khawatir." ucap Grant lagi. Namun melihat wajah Mia yang mencebik, Grant tersenyum dan akhirnya menggangguk pasrah. "Baiklah kalau itu yang kau mau. Willia dan satu orang pengawal akan menjagamu,"
"Oke," jawab Mia.
Setelah mendapatkan izin bekerja dari Grant, maka pagi hari itu Mia diantar oleh Grant ke tempat Nyonya Emily Clark, sang pemilik toko bunga tersebut.
"Oooh, selamat pagi, Tuan Wilson. Apakah Anda akan membeli bunga untuk istri cantik Anda? Di mana dia?" tanya Nyonya Clark hangat.
Mia turun dari mobil dan menyapa wanita tua itu dengan ramah. "Pagi, Nyonya Clark,"
"Emily saja! Kau ini selalu lupa!" ucap Nyonya Clark, wajahnya memberengut, pura-pura marah.
Grant tersenyum, dia memberikan sekotak donat kayu manis yang masih hangat untuk wanita bertopi lebar itu dan memberitahukan maksud kedatangan mereka.
__ADS_1
"Terimalah ini, Nyonya. Anggap saja, kami membayarmu. Hehehe. Istriku ingin bekerja denganmu dan kupikir, dia tidak mungkin kubiarkan untuk bekerja sendirian. Mungkin ini akan membuat Anda tidak nyaman, andaikan Anda mengizinkan Tiffany bekerja di sini, saya juga meminta izin untuk membawa pelayan pribadi Tiffany serta satu orang pengawal." tutur Grant. Kemudian, pria itu mendekat ke arah Nyonya Clark. "Istri saya pernah diculik dua kali, jadi saya tidak ingin kasus itu terulang kembali," tambahnya.
Nyonya Clark menutup mulutnya, terkejut. "Ya Tuhan, saya tidak pernah tau, Tiff pernah diculik. Astaga! Silahkan, Tuan Wilson. Kita lakukan yang terbaik untuk istri Anda,"
Grant bersyukur sekali ternyata Nyonya Clark mengerti kondisi mereka. "Baiklah, kalau begitu, Nyonya. Saya titipkan istri saya pada Anda dan maaf kalau ke depannya nanti kami akan sering merepotkan Anda,"
"Hahaha, tidak seperti itu, Tuan Wilson. Kehadiran Tiffany disini membawa berkat tersendiri untuk saya," ucap Nyonya Clark.
Setelah berpamitan, Grant pun bergegas pergi dan Nyonya Clark mengajak Mia untuk masuk ke dalam. Willia ikut masuk bersamanya, sedangkan pengawal Grant menjaga di depan toko kecil bertuliskan Emily's Florist itu.
"Baru kali ini aku berbicara dengan suamimu, Tiff. Dia pria tampan dan kelihatannya juga baik," kata Nyonya Clark.
Mia tersenyum dan tertunduk tersipu. "Dia memang baik, Nyonya,"
"Pantas saja kau cantik karena kau bahagia. Wanita yang bahagia biasanya kecantikannya memancar dari dalam hati mereka dan kau seperti itu," sambung Nyonya Clark lagi.
Mia memang sedang merasakan sesuatu yang aneh saat dia berdekatan dengan Grant. Tetapi, dia tidak tau apakah itu cinta atau bukan? Berbeda sekali rasanya saat dengan Finn.
Lagi-lagi wajah Mia memerah. Dia sama belum bahkan tidak memikirkan untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Grant apalagi sampai memiliki seorang anak. "Belum, kami belum ada terpikirkan masalah itu. Kami mengalami banyak hal yang terjadi dan belum ada terpikirkan soal anak, Nyonya,"
Nyonya Clark tersenyum. "Tidak masalah. Kalian masih sangat muda dan masih banyak yang harus kalian lakukan,"
Sepanjang hari itu, Mia bekerja dengan baik. Dia melayani para pembeli yang datang untuk membeli bunga, dia belajar merangkai bunga-bunga itu menjadi sebuah buket bunga yang indah, dan bahkan dia mengantar buket bunga ke tempat yang diinginkan oleh para pembeli.
"Wah, kau luar biasa, Tiff," puji Emily.
Mia tersenyum. "Aku sudah biasa bekerja, Nyonya," jawabnya. Dia teringat rumah penari Luigi dan tiba-tiba saja dia merindukan rumah itu. Bagaimana kabar mereka?
Sore hari pun tiba, sambil menunggu Grant, Nyonya Clark membuatkan teh chamomile untuk Mia dan Willia. Tak lama, Grant pun datang menjemput. Entah kenapa, ada rasa yang tak biasa saat Mia melihat Grant sore itu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Grant. "Daritadi kau melihatku terus. Apa ada yang salah dariku?"
Mia kembali tersipu. "Tidak apa-apa,"
Jantung gadis itu berdebar saat Grant menatapnya. Padahal di hari sebelumnya, mereka berciuman pun tidak masalah, kenapa saat ini berdebar?
Mia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. 'Tidak! Tidak! Aku tidak jatuh cinta kepadanya!' Mia terus menolak perasaan itu.
"Mia, kau baik-baik saja? Aku khawatir kalau kau tiba-tiba sakit." tanya Grant, telapak tangannya dia tempelkan di kening Mia dan membuat wajah gadis itu panas dan memerah. "Raut wajahmu tidak baik-baik saja. Aku akan panggilkan dokter untukmu,"
Mia cepat-cepat menahan tangan Grant. "Ti-, tidak perlu. Aku baik-baik saja,"
"Lalu, kenapa kau sedari tadi diam saja dan wajahmu memerah?" tanya Grant.
"I-, itu karena, ... Ah, aku tidak bisa mengatakannya!" ucap Mia lagi.
Grant tersenyum dan dia mendekati wajahnya ke arah Mia. "Ada sesuatu yang kau inginkan?"
Wajah Mia semakin memerah ketika Grant mendekatinya. Seketika itu juga, Grant seolah mendapatkan suatu pencerahan. "Apa kau berdebar-debar karenaku? Kau sudah membuatku sembuh dari alergiku, Mia dan aku berterima kasih untuk itu. Kupikir, aku hanya ingin aku sembuh tapi ternyata, aku serakah. Aku ingin lebih dan aku menginginkanmu. Aku tau kau sulit ditembus sampai beberapa waktu lalu, kau akhirnya membuka hatimu untukku dan aku senang sekali,"
"Apakah kau merasakan hal yang sama denganku?" tanya Grant.
Mia menelan salivanya. Semua tebakan Grant tepat sekali. Saat ini, dia hanya tinggal mengakuinya saja. Namun, ada sesuatu yang membuatnya sulit untuk mengakui rasa itu.
Alih-alih menjawab, Mia menarik leher Grant mendekat dan mengecup bibir pria itu. Tanpa ragu, Grant mengambil alih ciumannya dan dengan cepat merubah situasi canggung itu menjadi panas.
"Sepertinya, aku menyukaimu, Grant," bisik Mia lembut di sela-sela ciuman mereka.
"Aku tau," balas Grant.
__ADS_1
...----------------...