
Prosesi pemakaman sore itu berlangsung dengan khidmat. Peti berwarna putih dengan mawar putih tersemat di atas peti dan foto Josh yang tersenyum, membuat Mia merasakan pedih yang luar biasa.
Baru tadi pagi, dia berjalan pagi bersama pria tampan itu. Baru sesaat dia bisa memeluknya dan menggenggam tangan Josh yang selalu hangat.
"Josh, kau pembohong! Kau belum menepati janjimu!" isak Mia di sisi peti mati Josh. Gadis itu menelungkupkan wajahnya dan memeluk foto Josh erat.
Finn berdiri di sampingnya tanpa bersuara. Hanya sesekali mengusap punggung istrinya yang saat itu sama-sama terluka.
"Josh, bangun! Ayo, kita jalan-jalan lagi, Josh! Jangan tinggalkan aku sendirian, Josh! Bangun!" isak Mia, dia memukul-mukul peti putih itu, semakin lama pukulannya semakin kencang.
Tak tahan mendengar isak tangis istrinya, Finn mengambil tangan Mia dan memeluknya. "Dia tidak akan bangun, Sayang. Dia sudah pergi. Jangan kau sakiti tanganmu."
Mia memeluk Finn dan menangis di bahunya. "Finn, aku tidak mau dia pergi. Dia temanku satu-satunya, Finn. Bangunkan dia! Bangunkan Josh!"
Finn semakin mengeratkan pelukannya. "Nanti kita akan bangunkan dia, Sayang. Nanti kita akan bangunkan,"
Karena terlalu banyak menangis dan menahan kesedihan, akhirnya Mia pun rubuh. Dia terjatuh dan tak sadarkan diri. Finn segera membopong tubuh mungil gadis itu dan meminta Willia serta beberapa pengawal untuk mengawal mereka.
Willia membantu Finn memberikan beberapa rempah-rempah untuk membuatnya sadar. Tak lama, Mia mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Hai, Sayang. Kau baik-baik saja?" tanya Finn, nada suaranya terdengar sangat khawatir.
Lagi-lagi, cairan bening mengalir membasahi pipi gadis itu. "Finn, berjanjilah untuk selalu ada disampingku. Saat ini, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain dirimu. Aku tidak mau pulang ke rumah orang tuaku,"
Finn mengangguk sambil mengusap air mata Mia. "Aku berjanji, Sayang. Aku juga tidak akan mengizinkanmu untuk kembali ke sana. Kau juga harus berjanji untuk tetap di sisiku,"
Kali ini, Mia yang mengangguk. "Ya, Finn. Aku berjanji."
Sementara itu di kota lain, Beth Parker sedang di rawat di rumah sakit. Dia berhasil melewati masa kritisnya karena sempat kehabisan darah cukup banyak.
"Kalian mengamputasi kakiku? Bohong! Itu tidak mungkin! Aku masih bisa merasakan nyeri dan gatal di kakiku, kok! Kalian menakutiku!" tukasnya saat dokter mengatakan salah satu kaki Beth harus diamputasi karena peluru yang bersarang di kaki Beth merobek otot dan merusak jaringan sarafnya.
Salah seorang perawat membukan selimut Beth dan memperlihatkan kaki kiri Beth yang hanya tersisa setengah. Beth pun berteriak, "Aaaaaaaaa! Kakiku! Mana kakiku, Dokter? Di mana?"
Dokter dan perawat itu tertunduk, mereka tidak tega memberitahukan Beth kenyataan yang sesungguhnya. "Maafkan kami. Hanya itu yang dapat kami lakukan untuk menyelamatkan nyawa Anda,"
"Siapa yang menandatangani surat persetujuan itu?" tanya Beth kesal, dia menahan tangisnya.
__ADS_1
"Seorang pria dengan topi koboi yang menandatangani surat persetujuan itu, Nona," jawab dokter itu.
"Frank! Di mana dia?" tanya Beth memburu.
"Maaf, kami tidak tau di mana dia saat ini, Nona," jawab si perawat.
Beth memukul-mukul ranjang rumah sakitnya. Air mata menggenangi kedua matanya. "Aarggh! Sialan!"
Satu bulan kemudian,
Finn dan Mia membiasakan diri mereka tanpa kehadiran Josh. Biasanya, Josh selalu mengetuk kamar mereka setiap pagi hanya untuk menghentikan kegiatan mereka di pagi hari.
"Sekarang kita bisa berlama-lama di ranjang tanpa takut pria brengsek itu menganggu kita," bisik Finn.
Mia tersenyum kecil. "Apa yang ingin kau lakukan, Finn?"
Finn mengecup benda kenyal Mia yang tampak seperti ceri pagi itu. "Aku sudah lama tidak bermain di sini,"
Mia mengeluarkan suara aneh saat jari Finn memilin, memutar, dan memainkan tanpa henti pucuk bukit kembarnya.
"Finnnn ...." Mia mengizinkan bibirnya memanggil nama Finn saat bibir Finn mengulum ujung bongkahan padat miliknya.
Sentuhan demi sentuhan berhasil membuat gadis cantik itu melupakan sejenak kesedihannya. Kini dia disadarkan pada kenyataan, pria yang sedang bergerak di atasnya itu menjadi pusat kehidupannya. Dia tidak sendiri dan dia tidak akan kesepian karena selalu ada Finn.
"Jangan pernah pergi dariku, Mia. Sama sepertimu, aku hanya memiliki kau dalam hidupku," bisik Finn saat mereka melakukan pelepasan bersama pagi itu.
Sang Fajar mengantarkan Mia dan Finn beraktivitas dengan damai siang itu. Mereka seperti tak dapat dipisahkan. Ke manapun Mia pergi, disitu akan ada Finn. Begitu pula sebaliknya.
Suatu hari, di saat Mia sedang bersama Willia di taman. Seseorang menyekapnya dan memberikan obat tidur kepada Willia.
"Bagus! Letakan saja pelayan itu di sana dan bawa gadis kecil itu masuk ke dalam!" sahut seorang wanita. Dia memimpin di depan, berjalan dengan suara nyaring. Suara ketukan tongkatnya menggema di seluruh ruangan itu.
"Tunggu di sini! Aku akan masuk ke dalam!" Dia memandang berkeliling, pasukan pengawalnya sudah menempati tempat-tempat yang wanita itu perintahkan. Dia mengangguk puas.
Dengan penuh percaya diri, wanita itu mengetuk pintu ruangan Finn. "Walter! Aku punya kejutan untukmu!"
Finn membuka pintu dengan kasar. "Parker! Kupikir kau sudah mati, ternyata Tuhan ingin kau mengumpulkan dosa sebanyak mungkin setelah itu Dia akan menjemputmu dan tanpa ragu, Dia akan memasukanmu ke dalam neraka paling dalam,"
__ADS_1
"Justru Dia sayang padaku, Walter. Dia memberiku kesempatan untuk mendapatkanmu, hohoho!" jawab Beth Parker.
"Apa maksud dan tujuanmu datang ke sini, Parker?" tanya Finn tajam.
Beth meminta orang suruhannya untuk membawa Mia. Pria bertubuh besar dan tegap itu, membopong tubuh Mia seperti membawa sekarung beras.
"Letakan di sofa itu!" tukas Beth.
Dengan serta merta, Finn menerobos keluar dan menghampiri Mia. "Mia! Mia! Bangunlah, Sayang! Mia!"
"Dia akan bangun, tenang saja. Aku tidak akan membunuh gadis itu, bahkan menyentuh seujung rambutnya pun tidak." ucap Beth. Dia berjalan mendekati Finn, jari-jarinya dia larikan ke sekeliling tulang selangka pria yang tampak panik itu, kemudian dia berbisik di telinga Finn. "Dengan satu syarat, Sayang,"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Beth. "Kau gila, Parker! Apa maksudmu dengan semua ini?"
"Tentu saja, kau, Finn!" jawab Beth lantang.
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti tentang kau, Parker! Pergilah, kumohon!" pinta Finn, suaranya terdengar lelah dan putus asa.
Jauh di lubuk hatinya, dia takut sekali kehilangan Mia. "Sayang, bangunlah. Jangan tinggalkan aku, Mia!"
Suara tongkat Beth terdengar mendekat. Wanita itu duduk di tepi sofa. Dia mengangkat dagu Finn dan mengecup bibirnya. "Sudah kukatakan kepadamu, dia hanya tertidur dan dia akan bangun. Aku akan memastikan dia tidak mati, Walter."
"Katakan padaku, apa syaratnya?" tuntut Finn. Dia tidak ingin merasa tersiksa lebih lama lagi. Matanya terus menatap Mia yang tertidur.
Beth tersenyum puas dan penuh kemenangan. "Pulangkan dia ke desa dan kembalilah padaku, Walter. Aku akan memastikan keselamatan gadis kesayanganmu ini."
"Aku menolak!" tukas Finn.
"Mudah saja, penawar obat itu ada padaku. Aku akan membiarkan dia tertidur selamanya. Keputusan ada di tanganmu, Finn Sayang," ucap Beth lagi.
Finn memejamkan matanya sesaat. Dia menyapukan bibirnya pada bibir Mia. "Aku akan segera menjemputmu, bertahanlah sedikit lagi, Mia," bisik Finn di sela-sela ciumannya.
"Kembalikan dia pada orang tuanya. Biar Dave yang mengantarkan dia ke sana. Sesuai janjimu, suntikan obat penawarnya!" tukas Finn lagi kepada Beth.
Senyum Beth semakin terkembang. Dia meminta pria tadi untuk menyuntikan obat penawarnya ke tubuh Mia.
"Dalam satu jam dia akan terbangun. Antar dia sekarang kepada orang tuanya dan kau, akan menikah denganku, Walter!" ucap Beth penuh kemenangan.
__ADS_1
...----------------...