Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Rahasia Finn


__ADS_3

Beberapa Waktu Yang Lalu,


"Mia, aku kembali. Aku membawakan beberapa helai pakaian dan aku menemukan cokelat kesukaanmu. Mia?" Josh mengerenyitkan keningnya saat dia dapat membuka pintu dengan mudahnya. "Mia?"


Firasatnya mengatakan sesuatu telah terjadi di rumah itu. Dia mengambil pita yang dipakai oleh Mia. Alas kaki Mia masih berada di tempatnya semula. Josh pun berlari menuju tempat Finn.


"Finn! Di mana Finn? Finn! Keluar kau!" tukasnya begitu sampai. Napasnya tersengal-sengal karena panik dan berlari dengan jarak yang cukup jauh.


Seorang pengawal berbadan tegap menghadang langkah Josh. Pria itu memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari pengawal itu. "Aku butuh bertemu dengan Finn sekarang!"


"Maaf, Tuan Winston. Saya mendapatkan perintah untuk melarang siapa pun yang masuk ke rumah ini," kata pengawal itu.


"Kenapa? Sejak kapan? Apa yang terjadi?" tanya Josh bertubi-tubi.


Pengawal itu menggelengkan kepalanya. "Tolong, Tuan. Turuti perkataanku,"


Alih-alih menurut, Josh justru berteriak. "Finn! Finn! Di mana kau sembunyikan Mia! Berikan dia padaku!"


Tak lama, Finn keluar dan meminta pelayan itu untuk melepaskan. Josh mengibaskan lengannya dari pengawal itu. "Di mana Mia?"


"Masuklah!" jawab Finn dingin.


Josh mengikuti Finn sambil melihat ke segala arah, berharap dia akan menemukan Mia atau paling tidak, mendengar suara gadis itu.


"Di mana Mia?" tuntut Josh, dia menatap lekat manik cokelat Finn.


"Ada apa lagi dengan gadis itu? Bukankah kau pergi bersamanya?" tanya Finn santai. Namun, wajahnya tampak sekali kesal.


"Ya, memang. Aku tinggalkan dia di rumahku dan begitu aku kembali, dia sudah tidak ada," ucap Josh, dia menenggelamkan wajahnya. "Seharusnya aku tidak meninggalkan dia, Finn. Seharusnya kuajak dia bersamaku!"


Gigi geligi Finn menggeletuk, dia mengeraskan wajah, dan mengepalkan kedua tangannya. Kemudian dia beranjak dari kursinya, dengan sekuat tenaga dia melayangkan satu buah tinju ke pipi Josh.


Josh pun terpelanting, jatuh dari kursinya. Finn menarik kerah baju Josh dan tinjunya kembali melayang. Pria itu sama sekali tidak memberikan kesempatan Josh untuk menyerang balik.


Posisi Josh kian melemah. Dia tak berdaya di bawah kuasa Finn. Pukulan demi pukulan dilayangkan ke arah Josh. "Sudah berkali-kali kukatakan kepadamu, Josh untuk tidak ikut campur urusan kami! Dia istriku! Cari dia atau kau mati di tanganku!"


Finn berdiri dari atas tubuh Josh dan membiarkan pria itu untuk berdiri. Langkah Josh terhuyung, pandangannya mulai kabur, dia menyeka darah dari hidung dan sudut mulutnya. "Kalau kau mencintai dia, kau tidak akan membiarkan wanita jallang itu masuk ke dalam ruanganmu dan bersenggama denganmu, Brengsek!"


Begitu Finn lengah, Josh menghantam Finn seolah membalas dendam. Finn pun terhuyung dan dengan cepat dia membalas tinju Josh.

__ADS_1


"Apa maumu, hah! Malam itu, aku tak sadarkan diri! Di mataku, dia adalah Mia! Aarrgghhh, sialan!" Finn kembali melampiaskan kekesalannya, kali ini tidak pada Finn tetapi pada dinding yang tak memiliki kesalahan.


Darah menetes pada buku jari Finn. Namun, rasa perih dan sakit di buku jarinya tidak dapat mengalahkan rasa sakit di hatinya.


"Di mana Wanita Sialan itu sekarang?" tanya Josh.


"Aku berharap dia mati, Josh! Mati dimakan oleh seekor paus pembunuh! Aku tidak peduli padanya!" jawab Finn keji.


Josh memejamkan matanya sesaat. "Arthur! Aku yakin, Mia ada pada Arthur! Aku akan menyusulnya kesana!"


Tanpa memperdulikan Finn, Josh kembali melesat keluar dan mencari James.


"James? Kemarin wanita Tuan Walter mengajaknya berbicara, setelah itu kami tidak melihat Arthur lagi sampai hari ini," jawab seorang pria yang merupakan kolega James Arthur untuk bekerja bersama Finn.


"Beth! Kalian tau kemana mereka?" tanya Josh lagi. Sayangnya, pria itu tidak mengetahui ke mana Beth dan James pergi.


Josh memijat-mijat keningnya. Dia berusaha mengingat apa yang pernah diceritakan oleh Mia tentang sebuah pasar. Mungkinkah Mia di pasar itu? Jangan-jangan, James berniat menjual Mia? Gila! "Apa kau tau, di mana Pasar Budak yang berada di desa?"


Pria itu mengangguk. "Tentu saja aku tau. Pasar itu terkenal dengan gadis-gadis cantik yang masih perawan yang diperjualbelikan atau dilelang. Letaknya tak jauh dari sini. Kau bisa terus lurus sampai pintu desa kemudian di sana ada tempat seperti panggung-panggung kecil, di sanalah mereka biasa dipamerkan,"


Tanpa menunggu penjelasan lebih panjang lagi, Josh kembali berlari ke pasar yang dimaksud. Dia tidak peduli seberapa jauh dia berlari dan berapa jarak yang sudah dia tempuh saat itu.


"Mia Walter, begitu katanya," ucap salah seorang pria.


"Dia sudah berganti nama? Apakah dia menikah dengan pria kaya yang berada di kota itu?" sahut yang lain.


"Mungkin, aku penasaran seperti apa rasanya gadis itu. Dia cantik sekali," ujar yang lain lagi sambil terkikik.


Tangan Josh terkepal, ingin rasanya dia memberikan tinju mautnya kepada pria-pria itu. Tetapi keinginan itu dia tahan. Dia harus mendapatkan informasi.


"Maaf, tadi Anda menyebut Mia Walter? Di mana dia?" tanya Josh sopan.


"Kau orang baru? Penasaran juga rupanya kau dengan Mia? Hahaha, dia memang cantik dan aku menyebutnya sempurna," jawab orang itu tanpa menjawab pertanyaan Josh.


Josh tersenyum kecut. "Ya, aku penasaran dengannya. Di mana dia? Aku ingin melihat wajahnya,"


"Oh, James Arthur belum mengeluarkan dia. Licik Arthur itu, dia simpan yang terbaik di akhir sampai peminat Mia sebanyak ini." ucap pria itu lagi.


"Simpan? Mia Walter ini akan diapakan?" tanya Josh menyelidiki.

__ADS_1


Pria itu memperhatikan Josh dari atas sampai bawah. "Kau dari kota, yah? Terlihat dari penampilanmu yang necis? Ada apa dengan wajahmu?"


"Tidak perlu pedulikan aku. Aku bertanya tentang Mia Walter," jawab Josh lagi kesal.


"Sepertinya James Arthur tidak akan menjualnya, mungkin dia akan melelang Mia Walter," jawab pria itu. "Wah, harganya bisa lebih tinggi dan hanya pria kota yang sanggup membayar dengan harga tinggi,"


Kepala Josh penuh dengan bayangan acara pelelangan manusia itu. Tidak mungkin mereka tega melelang seorang gadis, 'kan?


Belum selesai Josh memikirkan hal itu, tiba-tiba sorak sorai orang-orang itu. Josh pun menyeruak di antara keramaian dan dia dapat mendengar suara James Arthur. Josh memincingkan kedua matanya untuk melihat Mia lebih jelas.


Josh sesaat terpana saat melihatnya tampak begitu cantik dan anggun dalam balutan gaun yang mewah serta rambut yang panjang dan tergerai dengan indah.


Saat Mia mulai membuka harga, serentetan papan-papan harga segera terangkat. "Shitt! Harga mereka tinggi-tinggi sekali! Aku tidak punya uang sebesar itu!"


Di tengah keputusasaannya, seseorang menepuk pundak Josh. "Hei, selamatkan gadisku! Berikan harga tertinggi dan jangan katakan kepada gadis itu kalau aku yang membuka harga tinggi untuknya,"


"Finn? Tidak! Ini urusanku, aku yang akan menyelematkannya dan itu sudah janjiku kepadanya!" tolak Josh.


"Kalau kau punya uang, silahkan lakukan itu. Saat ini, kau tidak memiliki uang sebanyak itu, 'kan? Harganya semakin naik. Anggap saja kau pahlawannya, Josh! Tawar dia dua puluh dollar, itu sudah harga mati," bisik Finn dan dia menyelipkan dua lembar uang ke dalam kantung belakang celana Josh. "Aku pergi, selamatkan gadisku, Josh dan ingat, kau yang berhutang kepadaku!"


Josh memejamkan matanya sesaat. "Sialan! Naikan gajiku, Pria Kikir Brengsek! Aku benci tak berdaya karena uang!" tukas Josh balas berbisik.


Finn tertawa. "Akan kupikirkan setelah kau berhasil menyelamatkan gadisku, Winston."


Josh melihat kepergian Finn dari sudut matanya. Kini, dia harus bertarung untuk menaikan penawaran. Josh mendengar James mengatakan penawaran tertinggi di lima ribu dollar. Tanpa ragu, Josh mengangkat tangannya. "Sepuluh ribu dollar!"


Semua pelelang menoleh ke arahnya dan memandang Josh dengan tatapan iri, sampai James memberikan Mia kepadanya.


"Ka-, kau?"


"Ya, Arthur. Serahkan Mia kepadaku!" titah Josh.


James mengangkat kedua tangannya. "Santai, kita bersenang-senang disini, Winston. Sekarang, gadis bekas Walter menjadi milikmu, hehehe!"


Mia segera berlari ke dalam pelukan Josh dan tak henti-hentinya gadis itu mengucapkan terima kasih kepada penyelamatnya. "Kau menepati janjimu, Josh. Terima kasih,"


"Bukan aku, Mia. Finn yang menyelamatkanmu," balas Josh tertunduk. Dia tidak mungkin mengkhianati sahabat yang benar-benar sedang jatuh cinta itu. "Berterima kasihlah kepada Finn. Ayo, aku antar kau ke sana,"


Hati Mia kembali ringan, senyum cantiknya terkembang di wajahnya. Dia menyambut uluran tangan Josh dan mengangguk. "Ayo,"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2