
"Hei, kau hanya memakaiku sekali?" tanya Pat pagi itu. Dia berpikir, Finn akan mengajaknya bermain sepanjang malam. Namun pada kenyataannya, mereka hanya bermain satu kali dan setelah pria itu mendapatkan apa yang dia mau, dia tidak pernah menyentuhnya lagi. 'Dia benar-benar membuatku penasaran!' tukas Pat dalam hati.
Finn menguap dan merentangkan tubuhnya. "Kau butuh berapa kali? Katamu kau bukan wanita sembarangan yang akan menyerahkan milikmu begitu saja pada orang lain, tapi kau menagihku. Huh, lucu sekali!"
Pat mencebik. Jantungnya sedikit berdebar saat melihat Finn menyugar rambutnya yang cepak dan acak-acakan itu. Dia berusaha tetap tersadar dan menguatkan diri untuk tidak jatuh ke dalam pesona Finn Walter. Sekuat itu pesonanya. Selain dia kaya raya, dia tampan juga.
"Ya sudah, aku kembali," kata Pat, dia memakai kembali pakaiannya yang mulai tampak lusuh.
Namun tiba-tiba, Finn menarik pakaiannya. "Ganti pakaianmu dan temani aku sarapan setelah itu kau boleh pulang. Aku akan mengantarmu,"
Finn memanggil seorang pelayan dan pelayan itu membawakan sebuah gaun berwarna biru langit dengan tulle halus berwarna putih di depannya. Finn melemparkan gaun itu kepada Pat. "Pakai itu!" setelah itu, dia keluar kamar dan membiarkan Pat berganti pakaian.
Tak lama, Willia mengetuk kamar Finn. "Nona, Anda ditunggu sarapan bersama Tuan Walter,"
Dengan malu-malu, Pat membuka pintu kamar itu. "A-, aku tidak biasa memakai ini. Apakah aku terlihat aneh?"
Willia menggelengkan kepalanya. "Anda sangat cantik, Nona. Mari kubantu merapikan rambut Anda," dengan cekatan, Willia menyisir rambut Pat yang ternyata sangat panjang dan ikal. "Rambut Anda panjang sekali seperti rambut Nona Mia. Akan sangat indah jika sesekali Anda membiarkannya tergerai,"
Pat mendengus, tiba-tiba saja suaranya terdengar muram. "Pekerjaan kami mengharuskan kami untuk selalu mengikat rambut atau mengepangnya. Kalau tidak, leher kami akan terjerat di tiang, hahaha!"
Willia membalas kalimat Pat dengan senyuman. "Apa Nona Mia, baik-baik saja? Dia sehat, 'kan?"
"Mia, semua orang menginginkannya. Mungkin dialah yang paling sejahtera di antara kami. Nasibnya beruntung sekali. Tapi, andai seseorang memintaku untuk bertukar nasib dengan Mia, aku tidak mau. Hidupnya rumit walaupun keberuntungan selalu menaunginya," jawab Pat.
"Anda benar, Nona. Nona Mia memang beruntung. Dia selalu bisa lepas dari nasib yang kurang baik," sambung Willia lagi.
Percakapan itu terpaksa mereka hentikan karena kepala koki sudah membunyikan lonceng tanda sarapan sudah siap untuk dihidangkan.
Dengan diantar oleh Willia, Pat berjalan menuju ruang makan dengan gugup. Di sana sudah menunggu dua orang pria.
__ADS_1
Willia berbisik kepada Pat. "Yang duduk di hadapan Tuan Walter adalah Tuan Ronald, ayah Tuan Walter,"
Pat mengangguk. Dia menyapa Ronald dengan sopan. "Halo, Tuan Ronald Walter,"
"Heeei! Siapa kau?" tanya Ronald ketus.
"Saya-,"
"Dia teman Mia, Ayah. Aku meminta dia datang kesini untuk memberitahukanku di mana Mia berada. Duduklah, Pat. Duduk saja di mana kau suka," ucap Finn, memotong kalimat Pat.
Pat duduk dengan ragu di samping Finn dengan mengosongkan satu kursi tepat di sampingnya. Seusai makan, Finn memberitahukan rencananya pada Ronald.
"Kau meminta bantuanku?" tanya Ronald.
Finn mengangguk. "Berdasarkan keterangan Pat, Mia berada di Kota Utara di tempat Grant Wilson. Bukankah kau di Utara juga?"
"Ya, tapi Utara itu luas, Finn. Kau tidak bisa mencarinya dengan gegabah dan asal seperti itu. Tapi, kenapa menantuku dipindah-pindahkan seperti itu? Kenapa pula dia menjadi penari? Pekerjaan kotor!" ucap Ronald.
Finn merasakan itu. "Mia dan wanita di sebelahku ini tidak seperti bayanganmu. Aku percaya tidak semua seperti itu,"
Pat memandang Finn dengan tatapan berterima kasih. Hatinya semakin terbuka untuk Finn. Dalam lima tahun terakhir, baru kali ini dia ingin menangis. Tak lama, dia tertunduk untuk menahan tangisannya.
Wanita itu menguatkan hatinya dan memandang lurus Ronald. "Luigi, bos kami, dialah yang menolong Mia. Saat itu, dia menemukan Mia tertidur di depan toko adik Luigi. Dia meminta pekerjaan pada adik Luigi, tapi Luigilah yang menerimanya,"
"Mia cukup cepat beradaptasi dan tidak sulit untuknya mendapatkan uang dari menari. Dia tidak pernah menawarkan tubuhnya pada pria hidung belang, begitu pula dengan kami," sambung Pat lagi. Dia ingin meluruskan persepsi yang ada pada Ronald.
Ronald mengusap-usap dagunya. "Hmmm, aku tidak pernah tau tentang nama orang-orang yang kau sebutkan tadi. Termasuk Grant Wilson. Tapi, aku pernah mendengar nama Wilson sesaat. Dia terkenal karena dia kaya raya dan kekayaannya tak akan habis sampai sepuluh turunan,"
"Maukah kau membantuku bertemu dengan Wilson? Aku akan ikut denganmu. A-, Ayah," tanya Finn dan dengan wajah memerah dia berusaha memanggil ayah kembali untuk Ronald.
__ADS_1
Ronald terdiam sesaat, menahan haru. "Ehem! Kau merayuku! Aku tahan terhadap rayuan!"
Pat mengulum senyumnya. Nyaman sekali berada di lingkungan keluarga Finn. Pantas saja Mia sakit hati sekali saat dia diusir dari sini. Tetapi sekali lagi, Pat mengangumi keberuntungan Mia. Suaminya masih mencarinua bahkan rela menyerahkan segalanya hanya untuk dia.
"Baiklah, aku akan membantumu mencari menantuku. Dan kau, wanita! Kau tidak punya tujuan?" tanya Ronald pada Pat.
"Oh, saya ingin kembali ke tempat Luigi, Tuan," jawab Pat.
"Aku akan mengantarnya, Ayah. Mungkin saja hari ini aku beruntung bisa bertemu dengan Mia di sana," kata Finn.
Sementara itu, Mia sedang khawatir. Luigi seperti seorang anak kecil yang takut kehilangan mainannya. Dia benar-benar mengecek Mia setiap menit. Terkadang, dia duduk di barisan terdepan dan setelah Mia selesai menari, dia cepat-cepat menurunkan Mia dari panggung dan menyerahkannya pada Grant Wilson.
"Kau ketakutan, aku pun ikut stress, Luigi! Bisakah kau tenang?" tanya Mia suatu hari saat dia mendapatkan kabar kalau Pat berada di rumah Finn.
Pria itu berjalan mondar-mandir di depan panggung. Disaksikan oleh Gwen dan Mia yang sama cemasnya dengan Luigi. "Tidak! Tidak! Aku tidak bisa tenang! Aku rasa, aku akan menggila sebentar lagi!"
"Pat tidak mungkin memberitahukanku kalau aku berada di rumah Wilson, lagipula baik Gwen maupun Pat tidak ada yang tau di mana rumah Wilson. Ayolah, Luigi. Pakai logikamu!" tukas Gwen.
Luigi berhenti kemudian dia berkacak pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. "Tetap saja, dia bisa mencari di mana rumah Wilson, 'kan? Tidak! Tidak! Aku tidak akan membiarkan penariku diambil orang! Apalagi Mia! Tidak! Tidak! Tidak bisa!"
Gwen dan Mia saling bertatapan, mereka tidak tau bagaiman menenangkan bos mereka itu. Kedua wanita itu sekarang terdiam dan tiba-tiba saja, Luigi berseru girang. "Ah! Ini keputusanku! Untuk sementara, kau tidak boleh menari lagi, Mia! Ayo, pulang sekarang!"
"Ta-, tapi, ...."
"Pulang sekarang! Wilson! Bawa Mia-ku kembali dan jangan izinkan dia keluar rumah! Bahkan batang hidungnya jangan sampai terlihat menyembul keluar! Paham? Bawa dia sekarang!" tukas Luigi. Hatinya terasa ringan sekarang karena berhasil menemukan jalan keluar dari masalahnya.
Keputusan Luigi itu tampaknya tepat, karena setelah Mia pergi, sebuah mobil terparkir rapi di depan rumah itu. Kedua bola matanya membesar saat sang pemilik kendaraan mewah itu keluar dari roda besinya dan menyapa Luigi dengan hangat.
"Tuan Luigi,"
__ADS_1
...----------------...