Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Harapan --- Part 2


__ADS_3

Suatu sore, di saat kebanyakan pria membentuk barisan dengan mata berbinar gembira. Mereka saling berbicara satu sama lain tentang para penari favorit mereka. "Aku lebih suka dengan Ellisa. Dia hebat sekali dan dia senang jika ada yang mengajaknya jalan,"


"Yang mana Ellisa itu?" tanya seorang kepada yang lain.


"Yang berbadan kecil dan memakai celana harem berwarna kuning itu. Rambutnya dikepang satu ke belakang," jawab yang lain lagi sambil menunjuk pada seorang gadis cantik yang sedang asik melambaikan tangannya ke arah para tamu.


Di tengah riuh rendah suara musik, beberapa orang datang dengan menembakkan senapan dalam beberapa kali tembakan ke udara.


Sontak saja, suara riuh rendah itu berubah menjadi pekik histeris para tamu serta penari yang berada di dalam.


"Pat, dia datang!" sahut Gwen.


Pat tersentak. "Arthur? Benarkah? Siapkan para pengawal itu, cepat!"


Gwen menjulurkan kepalanya dari tepi jendela. "Sepertinya mereka sudah berada di posisinya masing-masing. Kurasaz Walter pria baik dan menepati janjinya."


Pat tersenyum, dia mengingat bagaimana Finn Walter memperlakukan dia saat dia berada di rumah itu. "Ya, aku pun menganguminya,"


"Mengagumi dan menyukai itu berbeda tipis, Pat. Kau menyukainya?" tanya Gwen dengan senyum menggoda.


Wajah Pat dipenuhi semburat merah menutupi kulit putih mulusnya. "Dia milik Mia, begitu pula hatinya. Sulit sekali untuk masuk ke dalam dan mengalahkan Mia,"


Sementara di lantai bawah mereka, suara hingar bingar terdengar semakin ricuh. Sepertinya James berhasil menerobos masuk atau dia diizinkan masuk.


"Sepertinya kita harus ke bawah." ucap Pat. Gwen pun setuju dengan usul itu. Sebelum mereka melewati tangga spiral, James Arthur sudah berada di balkon lantai tiga, tempat mereka.


Seringai lebarnya nampak puas. "Ohohoho! Ada banyak gadis cantik di sini. Aku suka! Aku suka!"


"Tidak ada orang yang kau cari di sini! Pergilah, jangan ganggu kami!" titah Pat, dia memberanikan dirinya untuk menghadapi James seorang diri.


Tubuh Pat yang tinggi semampai, serta rambutnya yang saat itu sedang terurai, dan pakaiannya yang minim, membuat pria dekil itu meneguk salivanya.

__ADS_1


"Kenapa kau mengusirku, Sayang. Aku rasa aku memiliki punya banyak waktu dan lagi, saat ini aku tidak mencari Mia. Aku bisa mengesampingkan Mia sementara," tangan kotor serta kuku-kuku James yang hitam kehijauan membelai wajah mulus Pat, membuat wanita itu bergidik ngeri.


Dia menepiskan tangan James. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!"


James semakin mendekati Pat dan dia mencengkeram kedua pipi wanita itu, berusaha untuk mencumbunya. Namun, Pat terus mendorong wajah dekil James. "Jangan!"


"STOP!" seru Gwen. "Kami tidak suka kekerasan dan tolong, jangan paksa kami! Kami berkerja dengan sukarela tanpa paksaan. Jadi, jika Anda ingin kami layani maka, berbaik hatilah pada kami. Anda tidak perlu membayar!"


Pat dan James menoleh ke arah gadis berkuncir dua itu. Dia memiringkan kepalanya dan tersenyum licik. Tatapan matanya lapar dan liar. "Benarkah? Aku akan diam kali ini. Kalian boleh melakukan apa pun sesuka kalian, hahaha! Setelah itu, kita akan berbincang-bincang tentang Mia. Kalian pasti kenal dengan nama itu, 'kan? Aku melihat di daftar tamu, wooow! Dia sangat luar biasa,"


Gwen mulai menyalakan musik dan menari. Dia mengajak Pat menari dengannya. "Ikuti saja musiknya dan jangan takut,"


Pat mengangguk. "Ya, aku berusaha untuk tidak takut,"


Mereka berdua pun mulai menari sambil sesekali jari-jari mereka bermain-main mengitari sekitaran leher pria itu. Dessahan keluar dari bibir James yang tersembunyi di balik kumis lebatnya. "Hahaha! Aku suka ini, aaaahhhhh! Nikmatnya! Aku sudah tidak sabar, hahahaha!"


Baik Gwen dan Pat saling berpandangan, mereka memejamkan kedua mata mereka saat mereka bergantian duduk di pangkuan James.


James tampak kecewa karena tidak bisa memanjakan kedua tangannya itu. "Baiklah,"


Pat menutup mata James juga dan dia mengizinkan pria itu menyesap permukaan bukit padat Pat yang menggoda. Cecapannya sangat kuat membuat Pat mengerang kesakitan. Namun bukannya berhenti, James justru semakin bersemangat menyesap kedua permukaan bukit itu.


"Apakah ini termasuk dalam layanan kalian?" tanya James yang kini sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi.


Gwen memeluk pundak James dari belakang dan menggigit kecil telinganya. "Ya, Sayang. Kau hanya dia dan nikmati tarian kami di atas tubuhmu,"


Gwen dan Pat bergerak semakin liar dan cepat. Permainan tangan mereka yang lihai membuat James tak berkutik. "Kalau kau dapat menahan hasratmu, maka kami berdua akan masuk ke dalam dirimu. Bagaimana, Tuan?"


James menggigit bibirnya untuk menahan semua gelombang gairah yang telah dipompakan oleh Pat dan Gwen. "Aarrgghh! Kalian benar-benar jallang! Sialan! Aku sudah tidak kuat menahan lagi!"


"Kalau begitu, keluarkan saja," jawab Pat sembari mengecup batang berurat James. Setelah itu, dia berkumur berkali-kali dan membersihkan mulutnya tanpa henti.

__ADS_1


James pun tidak dapat menahan hasratnya lagi, maka dja mengeluarkan segala yang telah dia tahan sepanjang tadi. Cairan kenikmatan yang merindukan kehadiran sosok seorang wanita di hidupnya.


"Hehehe, maafkan aku. Aku benar-benar sudah tidak dapat menahannya lagi. Tapi, rinde berikutnya, aku berjanji kali ini aku akan menahannya," janji James. Namun sayangnya, dia hanya berbicara kepada dirinya sendiri. Pat dan Gwen sudah melarikan diri sedari tadi, meninggalkan James terikat dan tertutup. Hanya celananya yang dia biarkan terbuka.


Sementara itu,


"Ayo, Walter sepertinya sudah menunggu di bawah!" tukas Gwen, dia menarik tangan Pat, mempercepat gerakannya.


Mereka berdua segera melarikan diri begitu James melakukan pelepasan.


"Aku merasa seperti mencium arang. Pahit dan kasar! Uyyuuh!" seru Pat sambil terus membersihkan mulutnya. "Aku takut ini akan infeksi,"


Gwen tertawa, tapi kemudian dia teringat kalau dia sempat melakukan hal yang sama seperti Pat tadi. "Aku pun demikian, Pat. Ah, mengerikan sekali pria itu! Dibayar mahal pun, aku tidak mau melayaninya!"


Mereka berdua pun tertawa bersama dan begitu melihat mobil Finn, Pat melambaikan tangannya dengan semangat. "Itu dia, Gwen! Ayo!"


Tak lama, mereka sudah berada di mobil Finn. "Bagaimana dengan kawanmu yang lain?"


"Luigi yang akan mengamankan mereka dan terima kasih atas bantuan pasukanmu. Mereka benar-benar membantu. Gwen juga, dia hebat sekali. Memberikan ide di tengah-tengah kepanikanku," ucap Pat bersemangat. Dia benar-benar terselamatkan oleh Gwen, maka sebagai hadiah, dia memeluk sahabatnya itu dengat sangat erat.


Finn tersenyum. Dia senang sekali dapat membantu teman kesayangan Mia. Kemudian, dia teringat sesuatu. "Hei, aku akan mengajak kalian berkunjung ke rumah Wilson. Mia ingin bertemu dengan kalian sebelum dia pergi jauh,"


"Pergi? Pergi kemana? Dia tidak akan ke mana-mana, Walter! Kita sudah membuktikan kalau kita cukup solid melawan Arthur!" tukas Gwen.


"Itu karena dia bodoh dan belum bergabung dengan Parker. Aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi untuk kesekian kalinya," kata Finn muram.


Saat ini, dia hanya bisa berharap, semoga segala sesuatunya akan baik-baik saja.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2