Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Grant Wilson


__ADS_3

Saat itu di sebuah rumah bernuansa putih dengan hiasan kepala rusa tertanam di dinding rumah, sebuah mobil van berhenti di depan rumah megah itu.


Tak lama, keluarlah seorang gadis cantik bertubuh mungil dengan atasan crop top berwarna biru laut serta celana harem dengan warna senada. Di atas kepala gadis itu dipasangkan sebuah veil biru laut sepanjang sikut.


Di belakang gadis itu, seorang pria tampan mengikutinya. Dia kemudian memberikan lengannya untuk dipeluk oleh si gadis. Mereka pun masuk ke dalam rumah putih megah itu dengan bergandengan tangan.


Beberapa orang pengawal mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.


"Silahkan duduk. Tuan Wilson akan segera datang," kata salah seorang pelayan.


Gadis dan pria itu pun duduk di sebuah kursi rotan panjang. Di belakang sofa itu terdapat air terjun kecil yang mengalir pada sebuah dinding batu. Suara gemericik airnya membuat suasana rumah itu damai dan asri.


"Kenapa aku harus menari di sini? Kenapa tidak dia saja yang datang?" tanya gadis itu, berbisik. Di rumah itu hanya ada mereka berdua. Namun entah mengapa, Mia berbisik.


"Dia membayarku lebih besar daripada seluruh tamumu dalam satu hari," jawab Luigi berbisik.


Mia memandang manik Luigi dan menguncinya dengan emosi. "Bagaimana aku mau mendapatkan bayaran besar, setiap kali kau melihatku menari, kau menarikku dan aku harus melayanimu!"


Luigi mengecup pipi Mia dengan gemas. "Karena kau cantik dan menggemaskan, Mia. Lagipula, kau belum melayaniku karena kau melarangku untuk masuk ke dalam sana,"


"Loh, itu sudah perjanjian kita, 'kan? Yang di bawah sana milik seseorang dan tidak boleh sembarang orang masuk ke sana," balas Mia tak mau kalah.


"Cih! Cepat atau lambat, aku akan memasukan milikku ke dalam sana. Tunggu saja, Mia!" tukas Luigi lagi.


Tak lama, seorang pria lain menghampiri mereka. "Selamat datang, Mia Walter dan Luigi. Apa kabar?"


Mia menjabat tangan pria itu. "Kami baik-baik saja. Rumah Anda indah sekali, Tuan Wilson," kata Mia berbasa-basi.


Grant Wilson sosok pria pendiam. Penampilannya sederhana sekali, berbeda jauh dengan Finn. Seperti hari ini, dia hanya memakai kemeja putih dengan sebuah vest berwarna abu-abu serta celana panjang hitam. Tidak ada broche atau dasi atau jas. Hanya vest rajutan sederhana.


Pria itu terus memperhatikan Mia dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Boleh kita mulai saja?"


"Tentu saja belum bisa, Tuan Wilson. Anda harus membayar lima puluh persen di muka," ucap Luigi tanpa malu.


"Jangan khawatir, aku sudah menyiapkannya. Kali ini aku mengajukan syarat," ucap Grant.

__ADS_1


"Dan, apa itu?" tanya Luigi. "Selama kau tidak memaksakan untuk melakukan hubungan badan dengan penariku, aku akan mengabulkan semua permohonanmu,"


Grant tersenyum. "Kau ikut masuk, Luigi,"


"Apa! Kau gila! Tidak! Aku tidak bisa masuk dan melihat kalian berdua, .... " Luigi menggerakan kedua tangannya, lalu mengibaskan kedua tangannya lagi. "Tidak, Wilson!"


"Maka, aku akan membayar setengah dari kontrak tersebut," ancam Grant tenang.


Wajah Luigi memerah, dia menggeram kesal. "Aargh! Baiklah! Berikan dulu padaku lima puluh persen!"


Grant memberikan sebuah amplop cokelat tebal kepada Luigi. "Hitung ulang kalau kau tidak percaya,"


Setelah memberikan amplop itu, Grant segera merangkul pinggal kecil Mia. "Susul kami, Luigi. Jika sampai kau ingkar, aku tak akan sudi membayar sisanya!"


"Iya!" jawab Luigi. Dengan langkah yang berat, Luigi mengikuti Grant dan Mia untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.


Ruangan itu menyerupai studio dengan lantai terbuat dari vinyl bercorak kayu berwarna coklat dan terdapat sebuah cermin yang besar di dalam ruangan studio tersebut.


Grant meminta Luigi untuk menunggu di luar ruangan studio itu. Di sana ada beberapa buah kursi dan sebuah sofa panjang. Ruangan itu kedap suara dan tidak dapat dilihat dari luar. "Kau, tunggu saja di situ. Nanti ada beberapa pelayan yang akan menjamumu. Katakan saja apa yang kau inginkan kepadanya maka dia akan mengabulkan seluruh keinginanmu,"


Dia mengagumi ruangan studio itu dan dia mulai berlari-lari kecil pada awalnya, kemudian setelah itu dia menapakkan kaki dan dia menari mengikuti irama yang keluar dari mulutnya.


"Kau senang menari rupanya?" tanya Grant yang dari tadi mengawasi Mia tanpa gadis itu sadari.


Mia berhenti dengan wajah merah merona. "Awalnya aku tidak tahu menari itu akan seasyik ini. Teman-temanku di rumah menari Luigi mengajariku untuk menari dan kemudian mereka memintaku untuk menikmati setiap gerakan dan irama dari musik itu,"


Grant gangguan kepalanya dan tersenyum kepada Mia. Pria itu menepuk pahanya, meminta Mia untuk duduk di pangkuannya. "Duduklah,"


Dengan takut-takut, Mia menghampiri Grant dan duduk di pangkuannya. "Luigi bilang, aku hanya akan menari disini dan tidak melakukan apa pun selain menari,"


Grant kembali tersenyum. "Aku punya sebuah rahasia. Aku tidak tertarik dengan seorang gadis atau seorang wanita atau bahkan bekas istri orang, "


Secara spontan Mia menghela napas lega. "Syukurlah, tapi berarti kau suka dengan pria? "


"Hahaha! Tidak begitu! Hanya saja aku memiliki sebuah alergi jika berdekatan dengan lawan jenis." ucap Grant tersenyum. "Aku akan berkeringat dingin, mual, dan bahkan pingsan jika aku berdekatan dengan seorang wanita,"

__ADS_1


Mia menautkan kedua alisnya. "Tapi sekarang, kau baik-baik saja dekat denganku. Apakah berarti aku tidak menarik di matamu?"


Lagi-lagi Grant tertawa. "Hahaha! Kau lucu dan menarik. Saat pertama kali aku berjumpa denganmu, aku merasakan hal yang sama. Berdebar-debar, berkeringat dingin, tapi aku tidak mual dan aku tetap sadar,"


"Jadi, apa maksudnya itu?" tanya Mia. Rasa tenang yang tadi dimilikinya, kini berubah menjadi rasa panik dan takut. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang.


Grant mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau apa maksudnya. Aku mengunjungimu setiap hari hanya untuk melihatmu. Lama kelamaan, aku menikmati cantiknya wajahmu serta keindahan tubuhmu. Tak hanya itu, aku semakin penasaran denganmu setiap harinya,"


"Aku seperti orang gila. Bayanganmu selalu muncul di kepalaku. Aku ingin lebih mengenalmu tak hanya namamu saja, tapi semua tentangmu," sambung Grant lagi.


"Lalu? Apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Mia. Dia akan melakukan apa saja untuk pria yang sedang menatapnya itu, asal tidak untuk melayaninya.


"Kita hanya akan mengobrol saja." jawab Grant singkat.


Mia berusaha memahami jalan pikiran Grant Wilson, tetapi rasanya sulit sekali. "Lalu, untuk apa kau meminta Luigi untuk ikut bersama kita?"


"Karena ada sesuatu yang ingin aku lakukan setelah kita berbincang-bincang dan jika saatnya nanti dia harus masuk, kita akan panggil dia untuk masuk ke dalam," jawab Grant lagi.


Mia masih belum paham. "Dan apa itu?"


Grant melepaskan veil yang jatuh di bahu Mia. Dia juga melepas kunciran gadis itu. Kemudian, dia menurunkan lengan baju Mia.


Gadis itu bisa merasakan debaran jantung Grant yang meningkat. Keringatnya berjatuhan saat tangan pria itu menyentuh Mia secara langsung.


Mia menangkap tangan Grant. " Pejamkan matamu dan santai saja," ucapnya. Kali ini, Mia yang bergerak. Gadis itu mengecup kening Grant. Kecupannya semakin menurun, kening, kedua kelopak mata, hidung, pipi, dan terakhir dengan lembut sekali, Mia mengecup bibir Grant. "Kau baik-baik saja?"


Grant membuka matanya perlahan. Dia membalas kecupan singkat Mia satu per satu, sama seperti Mia lakukan tadi. Pria tampan itu merasakan gelenyar menyenangkan saat dia melakukan itu.


"Mia Walter, .... "


"Cukup Mia saja!" potong Mia, dia mengalungkan lengannya di pundak Grant.


"Mia, apakah kau mau menikah denganku? Aku rasa, aku jatuh cinta padamu dan tak hanya itu, aku membutuhkanmu dalam hidupku?" tanya Grant sungguh-sungguh.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2