Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Bantuan Pat


__ADS_3

Selama berhari-hari Finn memikirkan tawaran yang diberikan oleh Pat. Apakah dia yakin akan menyerahkan tubuhnya kepada gadis penari itu hanya untuk mencari Mia. Kepala fins terasa dipukul-pukul karena terlalu banyak memikirkan hal itu.


Sampai akhirnya pada suatu malam, seluruh keringat dingin Fin keluar dari tubuhnya dan dia merasa sangat kedinginan malam itu. Dia meriang dan sama sekali tidak dapat memejamkan matanya sedetikpun.


Dia merasakan kerinduan yang sangat kepada Josh maupun Mia. Andai saja saat ini Josh masih hidup atau Mia ada di sisinya, paling tidak dia tahu ke mana dia akan meminta tolong dan meminta bantuan.


"Eerrgh, ...!" Finn meringkuk dan terus mengerang kesakitan.


Seorang pelayan yang menjaga kamar Finn khawatir. Dia memberitahukan hal itu kepada Willia. "Sepertinya, Tuan Walter sakit. Apa yang harus kita lakukan, Willia?"


"Biar aku yang mengeceknya. Mintalah pada supir untuk menjemput Tuan Ronald Walter di Utara. Paling tidak, ada seseorang yang bisa diajak bicara oleh Tuan Walter," ucap Willia.


Pelayan itu mengangguk setuju. "Baiklah, aku jalan sekarang,"


Willia pun segera mengambil baskom air dan mengisinya dengan air hangat Kemudian dia mencari selembar kain handuk kecil untuk mengompres kening Finn.


Gadis itu pun masuk ke dalam Finn. Dia melihat Finn berbaring dengan tubuh meringkuk dan selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga leher.


"Tu-, Tuan. Maafkan saya, tapi saya kompres hangat dulu supaya demamnya turun," kata Willia.


Finn mengangguk dan dengan pasrah, dia membalikkan tubuhnya untuk memudahkan Willia mengompres keningnya.


Seluruh kulitnya meremang saat kain handuk basah Willia mengenai keningnya. Willia juga menyalakan penghangat ruangan serta membuatkan jahe madu hangat untuk Finn.


"Apakah saya perlu memanggilkan dokter?" tanya Willia.


Finn menggelengkan kepalanya. "Aku hanya butuh Mia. Aku butuh gadis itu di sini." Finn mulai terisak dan menangis. Dia meremmas ujung selimutnya dan membenamkan wajahnya di sana.


Willia menautkan kedua alisnya. Dia paham sekali Apa yang membuat Tuannya sakit dan menderita seperti itu. Finn terkena penyakit rindu akut yang bisa disembuhkan jika seseorang yang dirindukannya datang menemui dia.


Willia terus menunggu Finn sampai pria itu tertidur dan demamnya turun. Sekitar 30 sampai 35 menit barulah Willia meninggalkan kamar Finn dan membiarkan pintu kamar itu terbuka sedikit.


Gadis pelayan itu tidak tertidur sama sekali dan terus menunggu di depan kamar majikannya. Ketika subuh tiba, seorang pria dengan tongkatnya berjalan menghampiri Willia.

__ADS_1


Pria itu menyentuhkan lengan Willia dengan memakai tongkatnya. "Hei! Hei! Mana putraku? Orang-orangmu datang dan memberitahukanku kalau putraku sakit. Di mana dia?"


Willia terbangun dan segera merapikan pakaian pelayannya. "Oh, selamat pagi, Tuan Walter." sapanya membungkukkan badan. "Tuan Finn Walter masih tidur. Tapi demamnya sudah turun makanya supaya saya tidak mengganggu Tuan Walter, saya menunggu Tuan di luar sini supaya Tuan bisa tidur,"


"Sakit apa?" tanya Ronald.


William menjulurkan kepalanya ke dalam kamar Finn dan dia melihat pria itu masih tertidur dengan nyenyak. Maka Willia menutup dan merapatkan pintu kamarnya. "Mungkin kelelahan. Beberapa minggu terakhir ini Tuhan Walter sering sekali bolak-balik ke suatu tempat dia selalu berkata Dia akan membawa pulang Mia dari tempat itu, tapi setiap hari juga dia kembali tanpa nona Mia bersamanya."


"Apa dia mengatakan di mana Mia berada?" selidik Ronald lagi.


Willia berusaha mengingat-ingat kemudian dia mengangguk. "Ya, sepertinya Nona Mia berada di Kota Barat, di salah satu tempat menari atau seperti itu. Karena saya juga kurang tau. Tuan Walter tidak menjelaskan kepada saya dia hanya mengatakan kalau saat ini Nona Mia bekerja di sana sebagai seorang penari,"


"Penari? Ada-ada saja! Ya sudah kau boleh beristirahat. Aku tahu kalau telah menunggunya semalaman. Sekarang, beristirahatlah," kata Ronald. "Biarkan aku yang menunggui putraku,"


Selepas kepergian Willia, Ronald masuk ke dalam kamar Finn dan menyeka keringat yang membasahi tubuh serta kening pria itu.


"Apa yang terjadi padamu, Finn? Kau lepaskan satu persatu orang yang kau sayang hanya untuk memenuhi permintaan seorang wanita yang seperti ular! Aku tidak tau siapa yang lebih bodoh dari kau! Berkali-kali juga sudah kukatakan, untuk tidak terlalu mencintai seorang wanita. Sisakan cintamu itu untuk dirimu sendiri." kata Ronald perlahan. Tangan tua itu sedari tadi memijat-mijat tangan serta kaki putranya, dan berkali-kali juga dia merapikan selimut Finn walaupun selimut itu tidak bergerak sama sekali.


Suatu hari ketika Finn sudah kuat berjalan, dia mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu pada kertas itu. Setelah selesai menulis pria itu memberikan surat yang telah dia tulis kepada Willia.


"Willia, tolong pergi ke alamat ini dan katakan kalau kau mencari seorang wanita bernama Pat. Bawa dia kesini serta katakan kepadanya aku sekarat dan nyaris mati." titah Finn, wajahnya tampak serius.


Willia menanggapi keseriusan Finn dengan sungguh-sungguh. "Apa Tuan benar-benar sekarat? Saya panggil dokter da-,"


"Tentu tidak, Gadis Bodoh! Aku hanya melebih-lebihkan supaya dia mau datang! Pergilah!" tukas Finn, air mukanya tampak sedikit kesal. Tetapi, sudut bibirnya tertarik ke atas sedikit. Dia mengingat kenangan bersama Mia. Gadis itu cocok sekali berteman dengan Willia. Ternyata, mereka memiliki sifat yang sama.


"Ba-, baiklah, Tuan," jawab Willia. Dia pun berlarian kecil untuk mencari supir pribadi Finn.


Sore hari, wanita yang dicari oleh Finn pun datang. Wanita itu sangat tercengang melihat betapa besar dan mewahnya rumah Finn. Dia tidak mengatupkan sedetikpun mulutnya, karena setiap tempat dan ruangan yang dia lewati membuatnya terpana.


"Tuan, Nona Pat sudah datang," kata Willia.


Finn membukakan pintu untuknya. "Masuklah. Willia, katakan kepada siapapun, mulai detik ini sampai besok pagi, aku tidak bisa diganggu,"

__ADS_1


Willia mengangguk. "Baik, Tuan,"


Selepas Willia pergi, Pat masuk ke dalam ruangan Finn. Dia tersenyum. "Kupikir kau benar-benar akan mati, ternyata kau hanya menginginkanku,"


Tanpa menunggu lama, Finn membuka pakaian tidurnya, dan kemudia dia memagut bibir Pat dengan panas. Pat pun sudah siap menerima serangan dari Finn. Dia membuka mulutnya sedikit dan membiarkan lidah Finn masuk ke dalam celah mulutnya.


Mereka saling menyesap, menggigit, dan menghisap. Suara ruangan itu dipenuhi dengan suara cecapan. Tak sampai satu menit, suara cecapan itu kini semakin berisik dan disertai dengan suara dessahan saat tangan Finn memainkan bola bulat dan penuh sempurna milik Pat dan membuat wanita itu menggelinjang hebat di atas pangkuannya.


Tak mau membuang waktu, Finn membaringkan tubuh Pat di ranjang dan menguasai tubuh sintal wanita itu. Penyatuan pun terjadi, Finn terus bergerak maju mundur, menghujamkan dalam-dalam rudalnya.


"Katakan kepadaku, di mana aku bisa bertemu Mia?" tanya Finn terengah-engah.


Pat mendorong ceruk leher Finn dan dipagutnya dengan liar bibir merah itu sambil membalikkan posisi mereka. Kali ini, Pat menguasai tubuh Finn. Dia mempercepat gerakannya dan membuat pria yang berada di bawahny itu mengerang kenikmatan.


"Kau terlambat, Walter. Mia sudah pergi dari rumah menari itu," kata Pat sambil mengarahkan tangan Finn untuk memainkan gunung kembarnya.


"Di mana dia? Katakan padaku! Atau, setelah kau menikmati tubuhku, aku akan menembakmu!" ucap Finn tersenyum licik.


Pat mengerang dan mendessah hebat saat tangan Finn bermain di bongkahan kembar nan padat miliknya. "Ahhh, aku sudah mau sampai,"


Finn merasakan hal yang sama, tetapi dia ingin menyiksa Pat lebih lama. Dia kembali membalikkan posisi mereka dan melepaskan penyatuan.


"Ke-, kenapa, Walter?" tanya Pat, dia sungguh tinggal seinci lagi sampai dan Finn melepasnya.


"Katakan padaku, di mana Mia!" tukas Finn, dia menghampiri Pat dan memberikan rangssangan kepada wanita itu.


Pat bergerak liar. "Mia ada di Utara, bersama dengan seorang pria bernama Grant Wilson," jawab Pat menyerah.


Finn meminta Pat untuk membelakanginya dengan posisi menungging. Tanpa ragu, pria itu menghujamkan benda pusakanya dari belakang dan membuat Pat mengerang hebat. Finn cepat-cepat mengeluarkan benda berurat itu dan meminta Pat membersihkannya. "Itu hadiah untukmu karena telah menepati janjimu!"


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2