
Pagi-pagi sekali, seorang pria datang ke kediaman Finn. Pria itu berjalan tertatih-tatih dengan tangan memegangi crutch-nya.
Pria tua itu disambut ramah oleh para pengawal serta beberapa pelayan sudah bersiap di depan pintu masuk untuk menyambut dan membantu pria itu untuk berjalan.
"Selamat pagi, Tuan Walter," sapa para pelayan.
Salah seorang pelayan wanita muda berlari kecil untuk mengambil alih Walter Tua. "Tolong siapkan susu hangat serta roti dengan telur,"
"Baik," kata pelayan yang lain.
"Aku mau sup asparagus juga," pinta Tuan Walter.
Pelayan muda itu mengangguk dan kembali berbisik pada pelayan yang lain. "Ada tambahan sup asparagus untuk Tuan Walter,"
"Baik, saya akan sampaikan pada kepala koki," sahut pelayan itu.
Tuan Walter menepuk punggung tangan sang pelayan yang menuntunnya. "Willia, antar aku ke ruangan kerja Finn. Ada yang ingin aku bicarakan padanya sebelum sarapan,"
"Mari, Tuan," kata pelayan yang bernama Willia itu. Dia pun mengantarkan Tuan Walter ke ruangan kerja Finn. "Sepertinya, Tuan Muda Walter belum bangun,"
"Tidak apa-apa, aku akan menunggu dia di dalam. Tolong, ambilkan aku kopi hangat dan bawakan ke sini," pinta Tuan Walter sambil tersenyum.
Willia mengangguk dan membiarkan pria paruh baya itu menunggu putranya di dalam. Selagi berjalan menuju dapur, Willia mengetuk pintu kamar Finn. "Tuan, apakah Anda sudah bangun?"
Finn membukakan pintu, pria itu masih mengenakan pakaian tidurnya. "Baru saja bangun. Ada apa?" tanya Finn gusar.
"Ayah Tuan menunggu di ruang kerja dan apakah ada yang ingin Anda makan pagi ini?" tanya Willia. Gadis itu biasa melayani Mia dan permintaan pada makanan sangat banyak, jadi Willia menggunakan memorinya untuk menghapal semua pesanan majikannya.
Finn menggaruk rambut belakangnya. "Apa sajalah, sesukamu,"
Willia mengangguk dan bergegas pergi ke dapur untuk menyampaikan pesanan Finn dan ayahnya. Sedangkan Finn, dia bersiap-siap untuk bertemu dengan ayahnya.
"Hei," sapa Finn.
__ADS_1
"Kau baru bangun?" tanya Ronald. Dia sedang asik menyesap kopi hangatnya dan pria itu juga menawarkan kopi untuk Finn. "Minumlah bersamaku,"
"Kau darimana?" tanya Finn. "Apa kau tadi malam tidak tidur disini?"
Ronald menggeleng dan kemudian dia menyandarkan punggung tuanya pada kuris kerja Finn. "Aku menemukan Grant Wilson,"
Kedua bola mata Finn membesar. "Apa? Kau menemukannya? Benarkah itu? Di mana dia sekarang?"
"Sabarlah dulu. Kita belum pernah berbicara dengan intens berdua saja denganmu seperti pagi ini. Aku servisnya meluangkan waktuku untuk meminta sedikit waktumu supaya kita bisa berbicara dengan santai layaknya ayah dan anaknya," ucap Ronald. Kerutan di wajahnya semakin bertambah berbisik dan terakhir kali Finn melihatnya.
Finn melipat kedua tangannya. "Lalu, apa yang ingin kita bicarakan?"
"Mungkin aku akan sedikit menghakimimu, tapi aku hanya ingin kau tidak mengulangi kesalahanmu," jawab Ronald. "Willia menceritakanku tentang segalanya dan kupikir ada kesalahanku di sana."
"Apa maksudmu?" tanya Finn.
Ronald memejamkan matanya dan dia menghela napas panjang. Tak lama, dia kembali membuka matanya. "Aku terlalu melihat manusia dari luarnya saja. Aku begitu menggilai Beth Parker karena dia seorang wanita muda yang terhormat dan kaya raya. Sedangkan, Mia hanyalah seorang gadis biasa dan kau membelinya. Untuk kaum seperti kita, gadis yang dijual itu sama seperti seorang budak,"
Finn terdiam. Tatapan matanya mengandung banyak arti. "Kesalahanmu hanya secuil, sedangkan kesalahanku hampir seratus persen. Aku bodoh dan kupikir dengan cara itu aku bisa menyelamatkannya dan membuat dia tetap hidup. Tapi, justru aku yang tersiksa."
"Dari awal seharusnya aku bersikap tegas pada Parker. Kalau perlu, aku melenyapkan dia dengan segala kekuatan yang aku punya. Tapi, aku justru menikmati moment itu. Aku merasa hebat karena aku diperebutkan dua orang wanita. Aku gila!" ucap Finn.
Dirinya mulai merasa lemah saat dia dapat mengungkapkan perasaannya. "Dalam waktu singkat, aku kehilangan dua orang yang kusayangi. Padahal aku selalu berkata pada Josh, kalau dia boleh mati saat aku membunuhnya tapi ternyata, dia pergi lebih dulu,"
Tetesan bening seperti kristal jatuh dan membasahi pipinya. Dia tak kuasa menahan kesedihan dan kemarahannya. Emosi yang selama ini dia pendam, kini perlahan turun bersamaan dengan air mata yang sering dia sembunyikan itu. "Saat ini, aku merindukan Mia. Seperti mati rasanya hidup tanpa dia disisiku."
Ronald bangkit dari duduknya dan memeluk putranya sambil menepuk punggung lebar Finn. "Menyesal selalu datang terlambat, Nak. Paling tidak, kau tau letak kesalahanmu dan aku harap, kau semakin pintar untuk tidak mengulangi kesalahanmu lagi,"
Setelah Ronald berbicara seperti itu, ruangan kerja Finn mendadak sunyi. Hanya terdengar suara isak tangis Finn di dalam pelukan ayahnya.
Setelah Finn tenang, Ronald kembali duduk. "Seperti kukatakan tadi, aku menemukan Grant Wilson,"
"Siapa dia? Kau tau rumahnya?" tanya Finn dengan suara sengau. Wajah dan matanya sedikit sembab sehabis nangis tadi.
__ADS_1
Ronald mengangguk-angguk. "Aku mengetahui segalanya. Saranku, kau jangan bergerak terburu-buru untuk menemui Mia. Aku khawatir, langkahmu terbaca oleh Tuan Penari itu dan dia akan membawa Mia semakin jauh,"
"Grant Wilson, seorang pria yang memiliki sebuah penyakit yang sulit disembuhkan. Aku tidak tau dia sakit apa. Dia orang baik dan dermawan. Itulah yang aku dengar." sambung Ronald lagi.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Finn sedikit mendesak.
Ronald mencondongkan kepalanya dan merendahkan suara seolah-olah takut ada orang yang mendengar percakapan mereka. "Biarkan aku yang mendatangi mereka. Tidak ada yang mengenaliku. Aku akan membuka jalan untukmu supaya kau bisa bertemu Mia sekaligus mengajaknya pulang bersamamu,"
Kedua alis mata Finn saling bertautan. "Ide bagus. Aku suka idemu itu,"
Ronald tampak puas dan tersenyum lebar. "Besok pagi, aku akan ke sana dan menemuinya. Sabarlah dan tunggu kabar dariku,"
Di suatu tempat yang jauh dari tempat Finn dan Ronald. Seorang wanita dan seorang pria tampak berbicara dengan serius di sebuah restoran mewah.
"Nyonya, suatu kebanggaan kau memanggilku kembali," kata si pria menyeringai lebar dan memperlihatkan gigi-giginya yang kuning seperti emas.
Wajah wanita tua itu tampak malas menanggapi pemujanya. "Kau dengar kabar tentang Gadis Budak itu? Namanya semakin merajalela di setiap tempat yang aku datangi. Sulit sekali menyingkirkan gadis itu!"
"Mia? Hahaha! Dia cantik, Nyonya dan kuakui serba bisa." jawab pria dekil. Hari itu, dia memakai satu set tuksedo mewah yang tampak dipaksakan.
Tatapan tajam wanita itu menghentikan seringai di wajahnya. "Aku memanggilmu bukan supaya aku bisa mendengar pujianmu untuknya, Arthur,"
"Ma-, maaf, Nyonya," jawab pria yang kini terdiam itu.
"Aku mau kau cari Gadis Sialan itu dan bawa dia pergi dari sini! Terserah mau kau apakan anak ingusan itu! Berikan aku laporan secara berkala tentang tugasmu! Aku akan membayarmu setelah kau memberikanku laporan pertamamu!" titah wanita itu dengan wajah bengis.
James Arthur membungkukkan kepalanya sangat rendah sampai menyentuh meja. "Baik, Nyonya Parker. Saya akan memberikan laporan kepada Anda secepatnya,"
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengar percakapan mereka secara tidak sengaja. 'Tidak akan kubiarkan kau mencelakai Mia!'
...----------------...
__ADS_1