
Beberapa hari setelah Grant dan Mia kembali ke rumah, Grant benar-benar tampak berubah. Seperti ada yang dia pikirkan. Dia sering termenung dan terkadang menulis sesuatu dengan tersenyum.
Padahal Mia sudah yakin akan meletakkan hatinya pada pria yang selalu mengenakan vest itu.
Satu hari sebelum hari kepulangan mereka, Grant meminta izin pada Mia untuk bertemu dengan Jenna. "Aku ingin menuntaskan rasa sakitku, Mia. Kalau aku tidak menggunakan kesempatan ini, aku akan selalu ketakutan kalau sewaktu-waktu aku bertemu dengannya lagi,"
Itulah alasan yang dipakai oleh Grant untuk bertemu Jenna malam itu. Mia yang sudah jatuh cinta akut pada Grant pun mengizinkan kekasihnya untuk bertemu dengan Jenna. "Baiklah, tapi jangan terlalu lama bersamanya,"
"Tidak akan, Sayang. Percayalah kepadaku, aku pasti akan kembali kepadamu," ucap Grant dan mengecup bibir Mia dengan lembut.
Akhirnya, Grant pun pergi. Benar dia tidak pulang malam, tetapi dia pulang keesokan harinya. Tentu saja ini membuat Mia menjadi over thinking semalaman.
Begitu Grant masuk ke dalam rumah saat subuh, Mia segera saja mencecarnya dengan ratusan pertanyaan. "Kenapa pagi hari kau baru kembali? Apa yang kau lakukan dengan wanita itu? Kenapa kau mengingkari janjimu? Apa kau tidak tau waktu saat bersamanya? Apa kau melupakanku? Jawab, Grant!"
Grant tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dia terdiam dan berlalu begitu saja meninggalkan Mia yang sedang kesal.
Sejak hari itulah sampai saat ini, Grant benar-benar menjadi orang yang berbeda. Dia lebih senang menghabiskan waktu di dalam ruangan pribadinya.
"Grant, aku akan pergi sebentar ke rumah Nyonya Clark. Kau ingin titip sesuatu?" tanya Mia suatu hari.
"Tidak perlu, Sayang. Kalau ada sesuatu aku akan mengabari pelayanku sendiri," jawab Grant tanpa mengalihkan fokusnya.
Mia menghela napas. "Grant, kau tidak mau menemaniku?" tanya Mia lagi. Gadis itu berharap, kekasihnya akan melihat ke arah dirinya.
"Oh, tidak. Kau sendiri tidak masalah, 'kan?" sahut Grant.
"Ya, tidak masalah," jawab Mia singkat. Dia pun bergegas keluar dari ruangan Grant dan menutup pintu itu perlahan. Dia berharap, Grant akan mengejarnya atau sekedar membuka pintu lagi untuk mengatakan kalau dia berubah pikiran dan akan ikut dengannya.
Sebenarnya, Mia hanya mencari alasan untuk bisa mengambil perhatian Grant. Namun ternyata, usahanya itu gagal. Grant tetap tidak memperdulikan dia.
"Nona, Anda mau ke mana?" tanya Willia saat Mia melewatinya begitu saja.
Mia terperangah. "Eh, oh, Willia! Ayo, temani aku ke tempat Nyonya Clark,"
Willia pun mengangguk. Baru saja mereka hendak keluar, Grant sudah mendahului mereka dengan tergopoh-gopoh dan bersenandung riang.
__ADS_1
"Grant! Grant! Kau mau ke mana? Aku ikut!"
Namun, teriakan Mia tidak didengarkan oleh Grant. Pria itu pergi begitu saja tanpa mengindahkan teriakan Mia. "Ck! Kenapa sih manusia itu?"
Berniat melupakan kesedihannya, Mia pun mengajak Willia keluar. Mereka berkunjung ke toko bunga Nyonya Clark dan membantu wanita tua itu untuk berjualan.
Kesibukan membantu Mia melupakan kekesalannya sejenak. Sore hari, Mia mengajak Willia untuk berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan makan di sebuah restoran dekat situ.
"Nona Tiffany, apakah Anda tidak bermain terlalu jauh?" tanya Willia, khawatir.
Mia mengibaskan tangannya. "Menurutku ini tidak terlalu jauh, Willia. Lagipula aku sedang bosan di rumah. Rumah itu terlalu besar untuk kutinggali,"
"Ta-, tapi, Nona, ...." Willia tak habis pikir, apa yang terjadi pada nona-nya itu. Dia tidak ingin, nona kesayangannya itu mendapatkan masalah nantinya.
Namun, Mia tetap menarik tangan gadis muda itu dan merangkul lengannya erat. Baru kali ini, Mia merasakan memegang uang miliknya sendiri dan dia merasa menjadi pemilik dunia ini.
"Hei Willia, pilihlah gaun yang kau suka, aku akan membelikannya untukmu," ucap Mia bersemangat.
"Ah, andai saja Pat dan Gwen ada di sini dan ikut bersamaku, mereka pasti akan senang sekali," kata Mia bermonolog. Tangannya aktif menggeser helai demi helai gaun sambil membayangkan gaun mana yang cocok untuk kedua temannya itu.
Setelah puas membelanjakan uangnya, gadis itu mengajak pelayannya untuk makan di sebuah restoran. "Aku lapar Willia. Ayo, temani aku makan!"
Mia menyeret Willia untuk ikut bersamanya. Pelayan kecil itu hanya pasrah mengikuti perintah majikannya. Sesampainya mereka di sebuah restoran, mereka mencari tempat duduk dan memesan makanan.
"Hei, aku ingin ke kamar kecil sebentar. Tunggu di sini," bisik Mia.
"Nona! Apakah tidak apa-apa Anda pergi sendiri? Aku akan menemani Anda, Nona," ucap Willia. Gadis itu segera bangkit dari kursinya.
Namun, Mia mendorongnya untuk kembali duduk. "Aku bisa sendiri, Willia,"
Mia pun segera berlalu dan berlari kecil menuju kamar kecil. Langkahnya tampak riang sampai dia melihat seorang pria yang sudah tidak asing lagi baginya. Pria itu tampak asik bercumbu dengan seorang wanita yang dia kenal juga.
Langkahnya terhenti, wajahnya seperti tertampar oleh sesuatu yang sangat keras. Dia berlari kembali ke tempat duduknya dan menarik tangan Willia. "Kita pulang saja,"
"Nona? Kenapa, Nona? Anda menangis?" tanya gadis pelayan itu. Namun, Mia hanya memberikan gelengan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan pelayannya itu.
__ADS_1
Di lain tempat,
"Pat! Ikut aku!"
Seorang pria menarik tangannya begitu saja saat wanita itu sedang menari. "Hei, ada apa, Walter?"
Pria itu menarik bahkan setengah menyeret wanita itu dan membawanya ke ruangan sepi di lantai tiga.
"Walter, hmmmpphhh, ...." kata-kata wanita itu hilang begitu saja saat pria bernama Finn Walter melummat panas bibir semerah ceri itu.
"Aku menginginkanmu sekarang, Pat. Puaskan aku!" pinta Finn.
Pat mengalihkan wajahnya saat bibir Finn hendak mendarat lagi di bibirnya. "Ini jam kerjaku, aku tidak bisa melayanimu,"
Namun, lelaki itu seakan tuli. Tangannya tetap meremmas bukit kembar Pat yang menyembul indah dari balik baju menarinya.
"Lima belas menit, tak akan lama," ucap Finn, segera saja dia menurunkan pakaian itu dan menyesap pucuk bukit Pat yang sudah mengeras.
Finn membiarkan Pat mendessah dan menggelinjang di dinding rumah penari itu. "Menarilah untukku, Pat,"
Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Finn dan gairahnya yang sudah dibangkitkan oleh pria itu, maka Pat menuruti keinginan Finn Walter untuk bermain. Dia membiarkan Finn duduk di sebuah sofa besar sedangkan dia berada di pangkuan Finn.
Lagi-lagi, wanita itu memberikan izin pada Finn serta tangan dan lidahnya untuk menjelajah semua bagian sensitif di tubuhnya.
"Kau benar-benar kurang ajar, Walter! Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu lagi!" ucap Pat seraya merapikan pakaiannya.
"Kita berteman, Pat. Kemarin, kau seenaknya datang ke rumahku dan bergerak di atasku di saat aku masih tertidur pulas. Kau membuatku bangkit, Pat," kata Finn, masih belum puas menyesap benda kenyal kemerahan yang berada di depannya itu.
"Hubungan yang aneh memang. Tapi, aku cukup menikmatinya. Bagaimana denganmu?" tanya Pat tersenyum.
"Aku juga menikmatinya," balas Finn, mengerlingkan sebelah matanya.
...----------------...
__ADS_1