
"Hei, bersiaplah! Dalam waktu dekat ini, aku akan memakai jasamu," ucap Beth pada seorang pria.
Pria yang memiliki perawakan tinggi, kekar, dan seram itu mengangguk. "Baik, Nyonya! Saya siap!"
Setelah berbicara dengan pria itu, Beth masuk ke dalam rumahnya. Dia berjalan mondar-mandir, keningnya terus berkerut. Tanda dia berpikir dengan keras.
"Gadis Desa sialan! Sampai kakek tua itu sekarang memihaknya! Brengsek! Aargghh! Sial!" gumam Beth pada dirinya sendiri sambil meninju sebuah bantal yang ada di hadapannya.
Sementara itu, Finn dan Mia sedang menikmati perang pagi mereka di ranjang. Jari-jari pria itu sibuk memilin pucuk bukit Mia yang tampak keras dan menegang.
Mia yang berada di bawah kungkungan Finn, melengkungkan tubuhnya dan melenguh. Dia menjambak rambut Finn dan seolah meminta Finn untuk memainkan lidahnya di sana.
Gayung pun bersambut, bibir Finn yang sedari tadi sibuk di atas, kini berpindah ke bawah, ke tempat yang ditunjukkan oleh jari-jarinya.
Dessahan Mia semakin kencang tatkala lidah Finn memainkan pucuk bukitnya. Mendengar erangan dari sang istri, membuat Finn terbuai dan semakin bersemangat. Jari-jarinya berseluncur semakin ke bawah, hingga dia menemukan sebuah lembah hangat yang basah.
"Aah, Finn!" erang Mia dengan napas tertahan saat jari Finn mulai bermain di bawahnya.
Bosan bermain di atas, Finn melarikan lidahnya, menyusul jari-jari nakalnya yang sedang asik mengulik di pusat inti Mia. "Ya, Mia. Mendessahlah, keluarkan suaramu," bisik Finn dari posisinya yang berada di antara kedua kaki Mia.
Benar saja, Mia tak berhenti mendessah ketika lidah pria sekssi itu bermain di ujung lembahnya, sementara jarinya tak berhenti keluar masuk di liang kenikmatan milik Mia.
"Oh, Finn. Aku sudah tidak kuat lagi! Aah!" pekik Mia.
Bukannya berhenti, justru Finn semakin menaikan tempo lidahnya sampai dia merasakan semburan hangat yang keluar dari lembah istrinya.
Finn merayap ke atas, dia menciumi setiap jengkal tubuh Mia. "Mau lagi?"
Semburat merah menyala menjalar di wajah gadis cantik itu. Dia mengangguk. "I-, iya,"
"Oke," sahut Finn bersemangat.
Tak perlu menunggu lama, liang kenikmatan Mia masih terasa hangat dan basah. Finn segera menghujamkan inti tubuhnya dan bergerak maju mundur, membuat Mia bergerak tanpa arah.
Namun kali ini, Finn meminta Mia untuk mengambil alih tubuhnya. "Ikuti nalurimu dan bergeraklah sesuai yang kau mau,"
Finn membalik posisi mereka dan mulai menjamah tubuh Mia untuk memberikan stimulus pada gadis itu. Wajah Mia sudah semerah tomat dan dia tidak tah harus bagaimana.
"F-, Finn, kalau tidak enak bagaimana?" tanya Mia takut-takut.
__ADS_1
"Hahaha! Bergeraklah, ikuti kata hatimu," bisik Finn, dia menarik ceruk leher Mia dan melummat benda kenyal nan menggemaskan milik istrinya itu.
Mia bergerak perlahan, berusaha memompa gelombang gairah untuk sang suami. Semakin lama, dia semakin menikmati gerakannya.
Di bawah, Finn mulai merasakan gerakan Mia. Dengan sedikir bantuan, Finn menggerakkan tubuh gadis kecil itu ke depan dan ke belakang dengan cepat.
Hingga Mia kembali menegang dan mencapai puncak untuk kedua kalinya. Finn mengubah posisinya lagi, kini dia menguasai tubuh istrinya.
Tak sampai beberapa lama, mereka pun melakukan pelepasan bersama-sama. Ketiga kalinya untuk Mia.
"Hehehe, terima kasih kau sudah mau mencoba. Gerakanmu nikmat, Sayang," bisik Finn, menggigit kecil telinga istrinya.
Setelah saling membersihkan diri yang diakhiri penyatuan dan pelepasan kembali di dalam bath up, mereka pun keluar dari kamar.
"Bagaimana rencanamu, Josh?" tanya Finn.
"Aku akan mengajaknya keluar malam ini. Doakan aku," sahut Josh.
Hari itu, Josh meminta izin kepada Finn untuk meminta Mia menemaninya di ruangan.
"Kenapa harus Mia?" tanya Finn.
Josh mengedikkan bahunya. "Aku hanya sedang ingin di sampingku, Finn. Hari ini saja, sebelum aku menjalankan rencana itu,"
"Siap!" balas Josh.
Maka seharian itu, Josh memonopoli Mia. Dia mengizinkan gadis itu untuk menyentuh apa pun yang ingin dia sentuh. Josh juga mengajaknya jalan-jalan keluar rumah dan membeli permen kapas yang berada di perbatasan antara desa dan kota.
Petang hari tiba dan senja pun menyapa. "Aku harus menjalankan tugasku. Doakan aku, Mia,"
"Apa tugasmu? Bolehkah aku ikut?" tanya Mia.
Namun, Josh menggelengkan kepalanya. "Untuk saat ini, aku tidak bisa mengajakmu. Tapi, nanti kau akan tau apa yang kukerjakan."
Jawaban Josh semakin membuat Mia penasaran. "Apa itu?"
Tiba-tiba saja, Josh mengecup bibir Mia. "Kau tau, saat kita pertama kali bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu, Mia. Matamu bulat dan cantik. Kau pemberani dan tak kenal kata menyerah. Detik itu juga, aku bersumpah akan menjaga dan melindungimu. Walaupun kini, kau milik sahabatku, Mia."
Mia terdiam dan mengusap bibirnya. "Josh, benarkah itu? Maafkan aku karena saat itu aku tidak membalas perasaanmu,"
__ADS_1
Josh menggeleng. "Bukan masalah buatku. Aku mau kau selalu mengingatku, Mia. Satu lagi, ingatlah bahwa aku akan selalu mencintaimu,"
"Kenapa kau seperti ingin bepergian jauh? Aku takut kau benar-benar akan pergi, Josh," ucap Mia, memeluk pria tampan itu erat-erat.
Josh tertawa. "Kalau kau terus seperti ini, aku akan menculikmu dan akan kujadikan kau milikku selamanya, Mia. Hahaha!"
Mia mencubit lengan Josh dengan lembut. "Makanya jangan ucapkan kata-kata seolah kita berpisah!"
"Oke! Ayo, kuantar kau kembali!" sahut Josh, dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Mia seolah tak akan pernah dia lepaskan.
Malam itu, Josh menunggu Beth di sebuah bar di pusat kota.
"Ada apa kau mengajakku kesini? Aku sedang mengandung, seharusnya aku istirahat dan tidur, tapi kau menggodaku dan berkata kau akan memberitahukanku sebuah rahasia. Apa itu? Cepat katakan!" titah Beth panjang.
Josh memberikan Beth segelas minuman. "Santai saja. Kita nikmati malam ini,"
Tanpa ragu dan curiga, Beth menyesap minuman itu. Josh mengulur waktu dengan mengajak Beth terus berbicara dan menenggak gelas demi gelas minuman.
Sampai akhirnya, Beth mulai meracau. Dia tertawa sendiri. "Kau tau? Sulit sekali saat ini mendekati Finn Water, eh? Water? Hahahaha!"
Josh menanggapinya sesekali dengan senyum atau anggukan.
Beth menyingkapkan gaunnya dan mengeluarkan sebuah bantalan perut dari dalam gaun itu. Apa yang dilakukan oleh Beth itu membuat Josh terperangah. "Ka-, kau benar-benar tidak mengandung?"
Beth mengangguk-angguk sambil tertawa tidak jelas. Dia sampai-sampaikan bantalan perut itu ke udara dan sesekali dia menari-nari. "Aku tidak ingin punya anak! Tapi, aku mau Finn!"
Josh membawa Beth yang sedang mabuk kembali ke tempat Finn. Beth terus berteriak-teriak dengan suara yang lantang.
"Mana calon suamiku! Mana dia!" pekik Beth ketika mereka sampai di rumah Finn. Dia tertawa terkikik dan jalannya sempoyongan.
"Ada apa ini? Josh! Parker?" Finn membuka pintu kamarnya dan dia melihat Beth menggila bersama Josh.
Beth berlari. Dia menggendong bantalan perut itu seperti menggendong seorang bayi. "Finn Junior, ini anak kita Finn Water, ... Hihihi! Finn Water Junior. Hahahaha!"
"Kau penipu, Beth! Sudah jelas sekarang semuanya! Pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" tukas Finn tajam.
Dua orang pengawal, menggandeng lengan Beth dan menyeretnya keluar. Beth terus berteriak-teriak. "Water! Water!" racaunya.
"Akan kubunuh gadis laknat itu! Akan kubuat kau menjadi milikku! Ingat itu, Water! Hahahaha!" ancamnya..
__ADS_1
Finn dan Josh meminta lima pengawal mengawasi Mia mulai malam itu. "Jaga istriku. Ikuti ke manapun dia pergi, seperti seekor kutu kucing! Jangan lengah!"
...----------------...