Tawanan Cinta Mr Cool

Tawanan Cinta Mr Cool
Harvey Dan Luigi


__ADS_3

Mia terbangun karena cicit suara burung serta seseorang yang menyentuh pundaknya lembut. Malam sebelumnya, Mia melarikan diri dari tempat Rufus karena pria gempal itu berniat jahat padanya. Dia terus berlari hingga sampailah dia di sebuah emperan di pasar. Kakinya merasa lelah, sehingga Mia beristirahat di emperan tersebut dan tanpa terasa dia tertidur.


"Hei, bangunlah! Aku tau kau tidak mati! Aku mau membuka toko!" ucal suara itu.


Perlahan, Mia bangun dan menatap orang itu. "Selamat pagi, Tuan. Maafkan aku, tadi malam aku kelelahan. Niatku hanya ingin beristirahat sebentar tapi aku ketiduran. Maafkan aku, Tuan,"


"Kau, tunggu! Aku seperti mengenalmu! Siapa yah?" pria itu berpikir dan menusukkan jari ke pelipisnya. Tak lama, wajahnya berubah menjadi ceria. "Oh! Kau! Mia Walter! Masuklah, masuk. Istirahatlah di dalam, Sayang,"


Mia tersenyum kecut. "Darimana Anda mengenal saya?"


"Tentu saja semua orang mengenalmu. Kau terkenal sekali di kalangan pria. Namamu terdengar di mana-mana. Tidak hanya di desa. Apa kau tau sekarang kau berada di mana?" tanya pria itu.


Mia menggelengkan kepalanya. Tadi malam, dia hanya terus berjalan tak tentu arah. Begitu dia tiba di tempatnya sekarang, dia baru merasakan lelah.


"Kau berada di Selatan, Mia," kata pria itu tersenyum riang. Dia mempersilakan Mia untuk masuk dan duduk di salah satu kursinya.


"Kota di Selatan? Apa ini jauh dari desa?" tanya Mia lagi. Dirinya tidak menyangka kalau dia bisa jalan sejauh itu.


"Tentu saja. Ah, kenalkan, namaku Harvey. Panggil saja aku dengan Harv. Orang-orang sini memanggilku seperti itu. Kurasa teh hangat akan sanggup memulihkan letihmu," pria bernama Harv itu kemudian menghilang ke belakang dan dalam waktu lima menit, dia sudah kembali dengan membawa secangkir teh hangat serta macaroon. "Silahkan dinikmati. Kalau kau mau menu utama, kau harus membeli. Aku tidak mungkin memberikannya secara cuma-cuma,"


Mia tersenyum. Kedua tangannya dia lingkarkan ke pinggiran cangkir untuk mendapatkan kehangatan sesaat darinya. "Aku akan membelinya. Apa yang kau punya?"

__ADS_1


Harvey tersenyum lebar. "Aku punya berbagai macam olahan roti serta kentang. Apa yang kau inginkan?"


"Bawakan saja semua yang terbaik yang bisa kau buatkan untukku," jawab Mia..


"Mammamia! Semua masakanku itu enak, Mia. Baiklah khusus untukmu aku akan membawakan roti yang terbaik serta kentang yang terbaik," kata Harvey, kemudian dia menghilang kembali ke dapur.


Suara kelontrang-kelontreng yang berasal dari belakang toko Harvey terdengar nyaring sekali. Tampaknya Harvey benar-benar berusaha untuk membuatkan yang terbaik untuk Mia.


"Silakan kau cicipi masakanku, Mia. Jangan salahkan aku kalau kau ketagihan dan akan terus kembali lagi ke sini," ucap Harvey tersenyum. Pria setengah botak itu berkacak pinggang dan menunggu penilaian atas masakannya dari Mia.


Mia mengambil sesuatu kentang tumbuk yang berisi bacon serta telur setengah matang yang ditempatkan di atas kentang itu. "Hmmm, ini sempurna, Harv,"


"Hahaha!" hidung Harvey kembang kempis. Dia membusungkan dadanya dan membanggakan dirinya sendiri.


Wajah Harvey merah padam. "Ah, hahahaha! Itu karena faktor kau lapar juga, 'kan?"


Mia tersenyum. "Tapi, ini sungguh enak."


Matahari mulai meninggi. Mia tidak punya tujuan sama sekali. "Emm, Harv. Bisakah aku bekerja di sini?"


"Boleh saja. Aku bekerja berdua dengan kakakku. Namanya Luigi. Biasanya dia akan datang siang hari. Oh, sebentar lagi dia akan datang." jawab Harvey, melirik jam tangannya.

__ADS_1


Tak lama, seorang pria tampan dengan kumis tipis menghiasi wajahnya datang, memasuki toko makanan tersebut. Suaranya yang berat serta dalam mengingatkan Mia pada Finn.


"Hei, sudah ada tamu rupanya," sahut pria itu.


Jantung Mia berdegup kencang. Pria itu benar-benar serupa sekali dengan Finn.


"Ha-, halo,"


Pria itu menoleh ke arah Mia dan sama seperti Harvey, dengan cepat dia mengenali Mia. "Wow, kau gadis yang saat itu dilelang oleh Arthur. Di mana pria yang membelimu?"


'Tidak! Dia berbeda dengan Finn!' ucap Mia dalam hati.


"Dia sudah mati!" jawab Mia dengan ketus.


Pria itu duduk di samping Mia dan melihat wajah gadis itu tanpa bisa melepasnya. "Aku akan menjadi pembelimu, ikutlah denganku, Gadis Cantik,"


"Ya, benar. Ikut saja dengan kakakku ini. Dia memiliki usaha yang sedang tumbuh dengan pesat. Dia bisa membantumu untuk mencarikan pekerjaan dan pendapatanmu akan lebih tinggi daripada kau bekerja bersamaku," sahut Harvey.


Mia menimbang-nimbang dan berpikir. "Baiklah, aku akan ikut denganmu!"


Luigi tersenyum puas, penuh kemenangan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2