
Mendengar pekik nyaring Grant, Finn memberanikan diri untuk melawan James. Dia menyikut hati-hati perut penyenderanya dan dengan cepat mengunci lengan sang penembak.
Anak buah James mengerang kesakitan. James menembak membabi buta ke arah Finn. Namun, tembakannya melesat ke segala arah. Semua orang meringkuk ketakutan, mereka takut terkena peluru nyasar.
Pat menarik tangan Gwen. Wajah wanita itu tampak pucat karena paksaan James serta takut terkena tembakan peluru liar itu.
Setelah melumpuhkan empat orang sekaligus, Finn berlari keluar. James mengerahkan seluruh pasukannya untuk keluar dan berlari berpencar ke segala arah untuk mengecoh pergerakan Finn.
Tak hanya Finn, Luigi pun ikut berlarian mengejar pelaku penculikan Mia. Dia melihat Finn tengah menyalakan mesin kendaraannya dan segera saja, dia menerobos masuk ke dalam melalui kaca jendela mobil yang sengaja dibuka oleh Finn.
"Baru kali ini aku merasa penting seumur hidupku dan baru kali ini juga aku merasa menjadi pahlawan. Adrenalinku berpacu sangat cepat," kata Luigi terbata-bata sambil tersenyum. "Apa kau sudah menemukan mobilnya?"
Finn menggelengkan kepalanya. "Mobil depan itu milik Wilson, bukan? Aku mengikuti dia!"
Dugaan Finn tersebut tepat. Namun, Wilson kehilangan jejak Mia. Dia melihat mobil Finn mengekor di belakangnya dan dia menepikan mobil itu di tepi jalan.
"Kenapa kau berhenti!" seru Finn, keluar dari mobilnya dan menghampiri Grant.
"Mereka cepat sekali, Walter," jawab Grant. "Aku sudah mengingat nomor polisinya. Kita tinggal minta bantuan polisi untuk melacak nomor polisi tersebut. Itu tidak sulit seharusnya," sambung pria yang senang memakai vest itu.
Finn berkacak pinggang. "Tidak! Aku menolak keterlibatan polisi!"
"Ini menyangkut nyawa seorang gadis, Walter! Ayolah, jangan main-main!" balas Grant tegas.
"Kali ini aku setuju dengan Walter. Begitu mereka tau ada keterlibatan polisi, mereka bisa memindahkan Mia dan mengganti kendaraan yang mereka pakai. Jadi kukatakan di sini, aku tidak setuju denganmu," kata Luigi yang ikut berpendapat bersama mereka.
Tiga pria itu berdiri di pinggir jalan dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kita tetap lanjutkan pencarian Mia dan kita akan berpencar. Luigi, aku akan memberikanmu pengawal, kemungkinan snipper karena kau tidak memiliki kemampuan menembak yang baik," kata Finn kepada Luigi.
Luigi menghela napas lega, wajahnya tak sepucat tadi. Pria itu merasa aman karena ada orang lain yang menjaganya. "Aku memang tidak suka keributan. Tapi untuk Mia, aku akan melakukan segalanya,"
"Lalu, bagaimana denganku?" tanya Grant. "Aku juga tidak memiliki kemampuan menembak. Apa kau akan memberikanku seorang snipper juga seperti dia?"
"Tidak. Kau akan tinggal bersama Mia, jadi anggap saja ini sebagai arena latihan," jawab Finn santai dan tanpa berpikir.
Grant menendang pintu mobil Finn dengan kesal. Dia memberengut dan mengoceh. "Kau pikir aku kucing yang memiliki sembilan nyawa? Aku juga bisa mati, Walter! Kau memiliki banyak penjaga dan pengawal, kenapa kau tidak memberikanku satu pengawal yang pandai menembak atau bertarung? Kenapa kau pelit sekali!"
Finn menatap Grant, sesekali dia menggaruk telinga seolah-olah ucapan Grant mengganggu indera pendengarannya. Setelah Grant selesai bicara dia bersiul, "Huuh! Sudah selesai? Baik, aku jelaskan. Aku hanya akan menjelaskan dengan singkat, padat, dan tepat,"
"Katakan!" titah Grant gusar. Dia masih kesal terhadap Finn, menurutnya Finn adalah pria berperangai buruk.
Finn tersenyum. "Itu ... Urusanmu,"
"Kita bertemu di tempat Wilson besok pagi!" perintah Finn lagi. Kali ini dia mengambil alih kepemimpinan.
Malam hari itu, tidak ada yang pulang ke rumah masing-masing. Mereka semua menginap di tempat Wilson. Pat dan Gwen cukup lega karena ada Finn di sana. Paling tidak, ada yang melindungi mereka di rumah sebesar itu.
"Aku sudah mengirim pengawalku ke rumah ini. Dan, ah yah, kenalkan ini Dave, dia asistenku. Sekarang asistenku, tadinya hanya seorang penjaga," kata Finn memperkenalkan seorang pria yang pernah dekat dengan Josh itu.
Dave menyeringai lebar. "Jangan merendahkanku seperti itu, Tuan. Tidak enak didengar rasanya,"
__ADS_1
Gwen membantu pelayan di rumah itu untuk menghidangkan makan malam. "Apakah kalian sudah tau di mana Mia?"
Dave membentangkan sebuah peta. "Kalau mereka melewati jalanan ini, mereka akan ke desa atau Selatan. Mereka tidak mungkin ke Utara atau mengambil resiko untuk pergi ke Barat."
"Kenapa tidak ke Barat?" tanya Luigi.
"Biasanya, mereka tidak akan datang ke tempat yang sama dua kali dalam waktu yang berdekatan," jawab Dave.
Luigi dan yang lainnya mengangguk. "Besar kemungkinan, mereka akan ke desa,"
"Desa? Kenapa?" tanya Gwen, dia memperhatikan tanda silang dan lingkaran yang dibuat oleh Dave di atas peta.
Pat ikut bergabung bersama mereka. "Kau pintar sekali, Dave,"
Wajah Dave kemerahan. "Ahahaha, te-, terima kasih, Nona,"
"Haish! Cepat lanjutkan analisamu!" tukas Finn.
"Ehem! Baiklah, Rufus berasal dari desa itu. Walaupun bukan berasal dari desa yang sama, tapi jajahan wilayah Arthur di desa ini cukup luas. Begitu pula dengan Rufus, setauku dia memiliki beberapa hektar tanah serta rumah lebih dari dua di desa," jawab Dave.
Finn mengambil peta itu dan berusaha memahami semua analisa yang dijabarkan oleh Dave. "Bagaimana dengan pasangan Colton? Apa berita ini sudah sampai di telinga mereka?"
"Sepertinya belum dan kurasa mereka juga tidak peduli kecuali kalau putri mereka mempunyai harta segudang, baru mereka akan peduli. Miris sekali orang tua seperti itu," kata Dave prihatin.
Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali dan mematangkan rencana yang sudah mereka susun kemarin malam.
"Walter, kau sungguh-sungguh akan membiarkanku seorang diri?" protes Grant. Pria itu tidak pandai menembak atau bertarung. Sama seperti Luigi, dia tidak suka keramaian yang membahayakan.
"Jangan dengarkan dia, Tuanku itu memang memiliki sifat yang sangat buruk, dia pria pencemburu. Maklumi saja. Aku akan ikut bersamamu, Tuan Wilson," jawab Dave, memotong kalimat Finn.
Finn memandang sahabt Josh itu dengan tatapan menghina. "Cih! Akan kupotong gajimu bulan ini!"
"Kau akan bekerja denganku, Dave dan akan kunaikan gajimu lima kali lipat," balas Grant berjanji.
"Cih!" Finn kembali berdecih dan menggerutu kesal.
Setelah tenang, mereka memutuskan untuk memperkecil pasukan. Dave dan Grant akan ke Selatan. Sedangkan, Finn dan Luigi akan pergi ke desa.
Tak lama, Finn sudah menjelajah di desa. Dia mengira-ngira di mana mereka menyembunyikan Mia. Mereka juga bertanya ke penduduk desa tentang rumah dan tanah milik Rufus. Tentu saja, Finn mengutus salah seorang pengawalnya.
"Oh, Tuan Rufus? Tuan Rufus memiliki gudang besar yang sudah lama tak terpakai, biasanya dia akan menggunakan gudang mengeringkan tembakau," jawab salah satu warga.
Mereka pun menyusuri desa itu untuk mencari sebuah gudang besar.
"Oh, itu dia!" seru Luigi.
Finn mempercepat laju kendaraannya dan meminta para penembaknya untuk bersiaga.
"Kalian kepung tempat ini. Atas dan bawah, jangan ada celah! Lima dari kalian ikut denganku, lindungin Tuan Luigi ini. Jangan sampai pecah formasi barisan!" bisik Finn setelah mereka sampai di gudang Rufus.
Para pengawal itu mengangguk paham dan masing-masing dari mereka menarik pelatuk senapannya. Suara kokangan senjata terdengar seperti sebuah alunan nada yang bersahutan..
__ADS_1
Finn melihat ke arah Luigi. "Kau yakin ingin ikut?"
Luigi mengangguk mantap. "Ya!"
"Oke, jangan berjalan sendiri dan jangan pasang wajah takutmu. Kita harus mengintimidasi mereka, paham?" ucap Finn lagi.
Luigi kembali mengangguk dan memberikan anggukan sebagai jawaban darinya.
Finn dan Luigi pun berjalan mendekati gudang itu. Beberapa mobil van berwarna hitam serta satu buah jeep army terparkir dengan rapi di depan gudang tersebut.
Finn menganggukkan kepalanya dan seketika itu juga, salah seorang pengawal menembaki anak kunci pintu besi itu hingga terbuka.
"Parker?" ucap Finn. Dia tidak menyangka akan ada Beth disana. Kemarahannya kembali menggelegak saat dia melihat Mia terikat lemas pada sebuah tiang dengan hanya memakai pakaian dalam serta rok yang biasa dia pakai untuk menari.
"Walter, apakah karena cinta kau sanggup menemukan kami? Atau apakah bau Gadis Sialan ini sangat menyengat sehingga kau bisa mengendus kami? Hahaha!" sahut Beth. Dia menarik rambut Mia dan mengguncangnya.
Nampak sekali gadis itu sudah sangat lemas. Di kening Mia terdapat lebam, begitu pula di pelipisnya. Lengan Mia pun seperti terkena luka bakar. "Kau apakan istriku, Parker?"
"Kami hanya bermain-main dengannya. Tenang saja, dia tidak akan mati kalau dia kuat, ya, 'kan? Hahaha!" ucap Beth keji. "Oh, tapi sepertinya Mia kita butuh istirahat. Dia lelah setelah bermain dengan Rufus dan James bersamaan,"
Finn mengepalkan kedua tangannya. Dia mengambil sebuah benda berbentuk lonjong. "Kau lihat ini, Parker? Apa yang terjadi jika aku melemparkan benda ini ke wajahmu?"
Suara tembakan bergaung di sekitar gudang itu. Luigi yang sedari tadi dikawal, mulai gemetar. Tapi dia ingin menyelamatkan Mia. Maka ketika barisan pengawal terpecah dan Finn sedang bertarung, dia memberanikan diri keluar barisan untuk melepaskan Mia.
Dia berlari dengan mengendap-endap sambil menghindari peluru yang beterbangan. "Mia, ini aku! Sadarlah! Kau harus kuat, Sayang. Kumohon bangunlah,"
Dengan lemah, Mia mengerjap-ngerjapkan matanya. "Lui? Kau di sini? Kau menyelamatkanku?"
"Ssst! Bantu aku, Sayang," ucap Luigi. Sambil terus melepaskan ikatan Mia, Luigi tetap berusaha waspada.
Finn melihat Luigi dalam misi penyelamatan dan dia mengalihkan perhatian musuh untuk fokus hanya kepadanya dan usahanya itu berhasil bertepatan dengan Mia yang berhasil digendong oleh Luigi.
Luigi berlari, menembus kericuhan yang terjadi. Finn memerintahkan pengawalnya untuk mengawal dan menjaga Luigi. Namun sayang sekali, satu peluru mengenaii tubuh Luigi.
"Luigi! Kawal dia! Tutupi dia! Ambil Mia dan bawa dia masuk ke dalam mobil!" Finn berlari ke arah Luigi dan melihat pria itu mengeluarkan darah yang sangat banyak dari dadanya.
Finn berlutut, dia merobek pakaiannya dan membalut luka Luigi. "Terus tahan, Lui! Jangan kau lepaskan!"
Beruntunglah bantuan segera datang. Dave dan Grant tiba tepat pada waktunya. Dave meminta Grant untuk mengambil alih Mia dan membawanya masuk ke dalam mobil sementara Dave berusaha untuk menutupi Finn supaya pria itu tidak tertembak.
"Pergilah! Bawa segera dia ke rumah sakit, aku akan menahan mereka!" ucap Dave.
Finn mengangguk dan kemudian, dia menggendong Luigi ke dalam mobil. Dengan kecepatan tinggi, dia melarikan Luigi ke pusat kesehatan terdekat. "Lui, kumohon bertahanlah,"
"Wa-, Walter. Berjanjilah, ji-, jika aku pergi n-, nanti. La-, lanjutkan rumahku d-, dan jaga Mia se-, serta gadis-gadis i-, itu untukku," pinta Luigi terbata-bata. Dia pun terbatuk-batuk dan mengeluarkan sejumlah darah kental.
"Aku tidak mau menjaga gadismu! Kau tidak akan mati, bahkan kau akan tetap hidup sampai ulang tahunmu yang ke seribu! Bertahanlah, Lui! Kumohon!" isak Finn, dia tidak ingin ada orang lain lagi pergi meninggalkannya.
...----------------...
__ADS_1