
Malam itu, Mia berjalan dengan menenteng tas di bahunya. Dia berjalan tak tau arah. Dia tidak tau kemana dia harus bermalam. Kedua kakinya sudah lelah berjalan dan meminta pemiliknya untuk beristirahat. Namun, Mia masih belum menemukan tempat aman untuk dia bermalam.
Mia terus berjalan sampai ke arah kota. Dia melewati sebuah bar kecil dengan cahaya kampu temaram dan kemudian gadis itu memutuskan untuk mengistirahatkan kakinya di sana.
Dia menghitung uang yang dia miliki. "Tolong bawakan aku minuman apa saja. Aku sedikit lelah,"
"Baik, Nona. Panas atau dingin?" tanya bartender itu.
"Hangat," jawab Mia singkat.
Selagi dia menunggu, seorang pria dengan suara berat memanggilnya. "Mia Colton! Hehehe!"
"Tuan Rufus? Selamat malam," ucap Mia sopan.
Pria gempal itu menghampiri Mia dan duduk di samping gadis yang sedang menunggu minuman pesanannya itu. "Kau mau ke mana malam-malam seperti ini?"
"Aku sedang mencari penginapan dekat sini," jawab Mia singkat.
Rufus mengerutkan dahinya. "Penginapan? Kau kabur dari rumah? Kenapa?"
Mia tersenyum. "Orang tuaku dan aku berbeda prinsip. Mereka memaksaku untuk menikah, kau tau ada beberapa pria yang datang ke rumah kami dan orang tuaku mau aku menikah dengan salah satu dari mereka,"
"Menginap saja di rumahku." ucap Rufus tiba-tiba. "Kau masih tetap bekerja bersamaku, 'kan?"
Mia mengangguk. "Tapi, rumahmu masih dekat dengan rumah orang tuaku. Aku takut nanti mereka tau dan menyuruhku untuk pulang,"
Rufus mendengus. "Kau pikir rumahku hanya satu? Anak Bodoh! Rumahku banyak! Aku mengatur uang James Arthur itu dengan baik. Kukelola uang itu sampai menghasilkan untukku dan untuk Arthur," kata Rufus lagi membanggakan diri.
"Bolehkah aku tinggal di rumahmu untuk sementara?" tanya Mia.
"Silahkan saja, Mia. Aku tidak melarangmu. Aku juga tinggal sendirian, kadang aku merasa kesepian. Anggap saja kau menemaniku," jawab Rufus sambil memilin-milin kumis lebatnya.
Mia mengangguk. "Terima kasih, Tuan,"
"Ayo, kuantar kau sekarang supaya bisa cepat-cepat beristirahat. Malam ini memang dingin sekali, 'kan?" Rufus berjalan sambil merangkul pundak Mia.
Namun kemudian, dia berbalik dan berbicara kepada bartender. "Hei, minuman gadis ini tadi masukan saja ke dalam tagihanku!"
Bartender itu mengacungkan kedua jempolnya dan segera mencatat sesuai instruksi Rufus.
Sementara itu, Rufus mengajak Mia masuk ke dalam mobil tuanya. Tak sampai beberapa menit, Rufus sudah memarkirkan roda besinya di sebuah rumah kecil. Rumah itu ditumbuhi banyak pohon-pohon buah, seperti rumah Rufus yang lainnya.
__ADS_1
"Masuklah. Rumah ini jarang aku tempati. Biasanya kupakai untuk menyimpan barang yang akan aku jual di pasar." ucap Rufus sambil mempersilahkan Mia untuk masuk.
Dalam rumah Rufus hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dan satu sofa panjang kecil. Tidak ada televisi atau bak mandi seperti di rumah Mia.
"Terima kasih, Tuan, karena kau telah mengizinkanku untuk tinggal disini sementara," ucap Mia. Dia membungkukkan badannya dengan hormat.
Rufus tertawa. "Hahaha! Tidak perlu kau pikirkan. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri, Mia!"
"Terima kasih, Tuan," kata Mia lagi.
Pria paruh baya itu membantu Mia untuk meletakkan barang yang tadi dibawanya. "Nah, istirahatlah, Mia. Kalau ada yang kau butuhkan, kau bisa bangunkan aku. Aku akan tidur d sofa ini,"
"Aku saja yang tidur di sofa ini, Tuan dan Anda bisa tidur di kamar," tutur Mia.
Akan tetapi, Rufus tersenyum dan menggeleng. "Tidak! Tidak! Kau tamu disini jadi sudah sepantasnya kau mendapatkan tempat yang layak,"
Setelah mengucapkan terima kasih, Mia pun beristirahat di dalam kamar. Ranjang itu berderit pelan saat Mia naiki. Walaupun begitu, Mia tetap bisa tidur nyenyak sepanjang malam itu.
Hari berganti hari, Mia masih tinggal bersama dengan Tuan Rufus. Setiap hari juga, Mia bekerja dengan pria itu. Rufus sangat pandai menyembunyikan Mia.
Pagi hari, Mia akan membuat sarapan untuk mereka berdua. Siang hari, Mia menbantu Rufus di pasar. Rufus memakaikan Mia topeng dan topi untuk menyembunyikan gadis itu supaya tidak dikenali. Malam hari, Mia akan menemani Tuan Rufus untuk minum atau sekedar berbincang-bincang.
Mia menjalani hari-harinya dengan positif, tidak ada pikiran buruk dalam benak gadis itu. Walaupun di luaran sana, ramai orang membicarakan seorang gadis yang tinggal bersama Rufus.
"Kurasa itu bukan istrinya. Kalau Rufus menikah, sudah pasti dia akan mengadakan pesta besar-besaran selama tujuh hari penuh dan dia akan memamerkan istrinya, bukan ditutup-tutupi seperti itu!" sahut yang lain, menimpali.
"Benar juga. Mencurigakan sekali kalau ditutup-tutupi seperti itu? Apa jangan-jangan, gadis itu simpanan Rufus? Supaya tidak ketahuan, maka Rufus menutupi gadis itu!" ucap pedagang lain tak kalah seru.
Begitulah, bisik-bisik serta gumaman tak jelas, ramai sekali saat Mia dan Rufus berkunjung ke pasar. Namun, Rufus selalu menghibur Mia. "Kau punya dua tangan, tutup kupingmu dengan kedua tanganmu kalau kau tidak suka mendengar mereka,"
Mia menganggap Rufus sebagai pengganti ayahnya. Dia baik, dan sangat menjaga Mia. Akan tetapi, ada satu hal yang sedikit membuat Mia tidak nyaman. Rufus senang menyentuh dan memeluknya.
Terkadang, Mia harus menghindar cepat-cepat jika tangan Rufus mulai terentang lebar atau hendak menyentuhnya. Ingin sekali Mia menyampaikan keberatannya ini pada Rufus, tetapi dia takut Rufus akan tersinggung.
Suatu sore, Rufus meminta Mia untuk menemaninya di bar. Pria itu ingin minum dan dia ingin Mia ikut dengannya. Maka, Mia pun menurut dan ikut dengan Rufus.
Sore itu sepertinya Rufus sedang senang. Dia berteriak dan mengajak semua pengunjung bar itu untuk memesan sesuatu.
"Aku yang bayar! Tenang saja! Pesan apa pun yang kalian mau, jangan ragu, dan jangan malu-malu! Hahahaha!" tukasnya.
Sontak saja, saat itu juga para pramusaji disibukkan dengan pesanan orang-orang yang tiada henti. Semua mengucapkan terima kasih kepada Rufus tak terkecuali, Mia.
__ADS_1
Rufus menggila hari itu. Dia minum bergelas-gelas bahkan berbotol-botol minuman. Semua orang tampak sangat menikmati malam itu.
"Tuan, aku mau pulang duluan, boleh?" tanya Mia. Dia tidak suka keramaian atau suara bising..
"Pulang? Kenapa? Aku juga pulang!" kata Rufus.
Dia kemudian berpamitan dan menyerahkan kartu kreditnya kepada bartender untuk membayar semua makanan dan minuman.
Setibanya di rumah, Mia membantu Rufus untuk berbaring setelah itu, dia masuk ke dalam kamar dan ikut berbaring. Malam itu, dia merasa sangat lelah.
Sejak hari pertama tinggal bersama Rufus, Mia tidak pernah mengunci kamar karena dia berpikir Tuan Rufus tidak akan berbuat macam-macam kepadanya.
Sayang sekali, malam itu kepercayaannya pada Rufus lenyap seketika. Saat Mia sudah tertidur, Rufus terbangun. Dia mengambil segelas air karena merasa haus sekali.
Setelah itu, dia kembali berjalan ke sofa. Namun, dia berhenti di depan kamar Mia. Dia membuka perlahan pintu kayu itu. Gairahnya meningkat saat melihat Mia tertidur dengan menggunakan gaun tidur.
Gaun itu tersingkap ke atas, hingga kedua kaki Mia terlihat jelas. Rufus berjingkat-jingkat mendekati gadis itu dan sepelan mungkin duduk di tepi ranjang.
Ranjang itu berderit sebentar. Rufus menahan napasnya kemudian dia melihat apakah Mia terbangun atau tidak? Dia bernapas lega saat dilihatnya gadis cantik itu masih terlelap dengan nyenyak.
Dengan tangan gemetar, Rufus menyentuh kulit mulus Mia. Napasnya mulai memburu karena dia sudah dikuasai hawa nafsu. Diusapnya kaki Mia dengan lembut, mulai dari pangkal paha sampai mata kaki.
Mia terbangun dan begitu dia melihat Rufus, gadis itu segera menarik kedua kakinya. "Tuan! Apa yang Anda lakukan!"
"Mia, kau cantik sekali! Aku hanya ingin menyentuhmu sebentar saja," kata Rufus dia merangkak mendekati Mia yang menutupi tubuhnya dengan selimut.
Rufus menarik selimut itu dan menerkam Mia. Namun, Mia tak kalah cepat, dia menghindar dan melompat dari ranjang. "Kenapa kau lakukan itu padaku, Tuan? Kukira kita sudah menjadi teman baik!"
"Aku butuh pelampiasan untuk hasratku, Mia Sayang. Anggap saja kau membayarku dengan tubuhmu. Ayolah, tidak akan sakit. Apalagi mengingat kau seorang janda, pasti pernah melakukan itu dengan suamimu, 'kan?" ucap Rufus, berusaha menarik tangan Mia.
Mia berlari keluar kamar, tetapi Rufus tetap mengejarnya seperti seekor binatang liar yang kelaparan dan sedang melihat mangsa menggiurkan di hadapannya.
"Mia! Ayolah! Sebentar saja!" paksa Rufus, dia berhasil menangkap tangan Mia dan dia berusaha mencium bibir Mia dengan mulutnya yang masih bau alkohol serta rokok.
"Lepaskan aku! Lepas!" Mia memberontak, dia mendorong wajah Rufus dengan tangannya.
Tak patah semangat, Mia menginjak kaki Rufus kuat-kuat dan mencari sesuatu. Dilihatnya sebuah gunting rumput dan dipukulnya kepala Rufus dengan gunting itu
"Aargghh! Gadis Sialan! Kemari kau!" Rufus memegangi kepalanya, dan dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari luka bekas pukulan Mia.
"Maafkan aku, Tuan!" ucap Mia, kemudin dia membawa tas ranselnya dan berlari meninggalkan Rufus yang terluka.
__ADS_1
...----------------...