
Sebelum fajar menyingsing, sepasang pria dan wanita sedang bertarung dengan hasrat mereka. Peluh membasahi tubuh mereka. Ruangan itu dipenuhi dengan suara napas yang tersengal-sengal.
Pekikan nikmat terdengar dari kedua manusia itu. Tak lama, keduanya pun berbaring di ranjang yang sudah sangat berantakan.
"Aku jadi malas pergi, hehehe," ucap sang gadis.
Kekasihnya tampak mengecup kening sang gadis. "Kita harus bersiap-siap! Ayolah,"
"Kau belum pernah bercerita kepadaku kenapa kau bisa alergi pada wanita, padahal kau pria yang lembut, Grant," sahut si gadis terkesan menuntut.
Pria yang bernama Grant itu pun kembali ke tempat pembaringannya dan memeluk si wanita dengan erat. "Apa kau ingin aku menceritakannya sekarang?"
Gadis cantik itu mengangguk. "Aku penasaran sekali, karena kau begitu lembut dan begitu baik. Rasanya aneh sekali kalau kau memiliki trauma terhadap wanita, bahkan sampai kau tidak bisa berhadapan dengan mereka,"
"Kau yang menyembuhkanku, Mia," ucap Grant.
"Ya, tapi, ...."
Grant tertawa kecil. "Baiklah, akan aku ceritakan,"
Sebelum Grant memulai ceritanya, seorang pelayan mengetuk pintu kamar mereka dan mengantarkan sarapan pagi, berupa roti, semangkuk besar sup, berbagai macam selai, keju lapis, daging asap, telur mata sapi, sepoci teh, sepoci kopi, dan dua gelas susu putih hangat. "Terima kasih,"
Mia kemudian merayap kembali ke atas tubuh Grant dan berbaring di lengan kekar pria tampan itu. "Lanjutkan,"
"Tidak mau sarapan dulu?" tanya Grant.
"Ayo, sambil bercerita!" ucap Mia.
Grant tertawa. "Hahaha! Baiklah,"
Mereka pun sibuk mengisi perut dan Mia asik mendengarkan cerita Grant.
"Aku pernah memiliki seorang kekasih dan aku sangat mencintai kekasihku itu. Hubungan kami sama seperti hubunganku denganmu saat ini. Awalnya, dia wanita yang baik sampai suatu hari, dia mengatakan kalau dia ingin memutuskan hubungan kami dengan alasan dia menemukan pria lain yang lebih baik dariku. Sejak saat itu, aku patah hati dan menganggap setiap wanita itu sama." kata Grant sambil menggigit roti selai blueberry-nya.
__ADS_1
Tatapan laki-laki itu nanar dan tampak kosong. "Awalnya, aku menghindar dari wanita karena aku benci sekali dengan mereka. Ya, hanya karena mantan kekasihku itu. Lama kelamaan, ada rasa jijik, kesal, takut disakiti, sampai akhirnya alergi itu muncul. Seperti yang pernah kuceritakan kepadamu,"
Mia tak pernah tau, pria sebaik dan selembut Grant pernah dikhianati sampai sesakit itu. "Kupikir, hanya aku saja yang merasakan sakit saat itu, ternyata kau juga sakit,"
"Tapi, kau berhasil menyembuhkanku, Mia. Aku bisa berbaur kembali dengan teman-temanku yang wanita tanpa harus pingsan dan aku bisa bercinta denganmu setiap waktu tanpa ada darah menetes dari hidungku, hahaha!" timpal Grant.
"Kau juga menyembuhkan kesepian dan kesedihanku, Grant. Aku bisa membuka hatiku lagi dan melihat dunia dengan indah, selain duniaku dengan Finn, itu luar biasa," balas Mia. Matanya berbinar-binar, memancarkan sinar cinta kepada Grant.
Pria itu memperkecil jarak di antara mereka dan mengecup bibir Mia. "Kau manis strawberry,"
"Kau juga, hehehe! Rasa blueberry," sahut Mia tak mau kalah.
Kecupan lembut itu dengan cepat berubah menjadi sebuah pagutan yang dalam dan semakin menuntut. Sehingga mereka berakhir dengan pelepasan yang memuaskan.
Siang hari itu, mereka berniat untuk merayakan hubungan mereka dengan pergi ke suatu tempat untuk menginap beberapa hari di sana. Tentu saja, dengan segala macam pengawalan serta Willia yang terus ikut menempel dengan mereka.
Tadinya Mia hendak mengajak Nyonya Clark ikut serta. Namun, Grant menjelaskan kalau perjalanan ini merupakan liburan romantis mereka.
"Kalau kau mengajak Nyonya Clark ikut bersama kita, siapa nanti yang akan menemaninya di sana, Mia?" tanya Grant dengan suara setengah dongkol setengah geli.
"Kau tau, aku bisa memastikan kalau kita tidak akan keluar dari kamar dan bahkan kau tidak akan sanggup berjalan keesokan harinya," ucap Grant sambil tertawa.
Kedua mata Mia membulat, seperti seekor kelinci kecil yang lucu. "Benarkah? Memangnya apa yang akan kita lakukan?"
Grant memeluk Mia dan mengecup bibir merahnya, seakan tidak pernah bosan dengan benda kenyal itu. "Sedikit ini dan sedikit itu,"
Begitulah pada akhirnya, mereka memutuskan untuk tidak mengajak Nyonya Clark. Namun, sebelum hari keberangkatan mereka, Mia sempat mengunjungi Nyonya Clark dan berjanji akan membawakan oleh-oleh untuk wanita tua itu.
"Oh, Tiffany, kau benar-benar menggemaskan sekali. Baiklah, aku akan menunggumu," kata Nyonya Clark.
Tibalah saat mereka pergi. Perjalanan yang mereka lakukan memakan waktu 2-3 jam. Setelah perjalanan panjang yang menurut Mia membosankan itu, akhirnya tibalah mereka di sebuah penginapan yang besar dan indah, dengan pantai menjadi pemandangan utama penginapan itu.
"Waaahh! Ini indah sekali, Grant! Aku akan berenang nanti," ucap Mia sambil bersiap-siap mencari pakaian renangnya.
__ADS_1
Namun, Grant menariknya dengan cepat. "Kau mau mati tenggelam? Di dalam ada kolam renang, ayo!"
Mia pun berlarian kecil mengikuti langkah Grant. Dan gadis itu takjub saat melihat betapa luas dan megahnya di dalam penginapan itu.
Mereka menikmati waktu mereka di penginapan itu. Grant benar-benar tidak mengizinkan Mia keluar dari kamar. Malam itu, Grant melengkapi keindahan malam tersebut dengan pertunjukan kembang api serta makan malam romantis yang membuat Mia terharu.
"Ini indah sekali, Grant. Terima kasih," ucap Mia.
Grant menutup malam itu dengan membiarkan Mia menikmati suasana malam.
Keesokan harinya, Grant mengajak Mia untuk berjalan-jalan di sekitar pantai. Mereka bermain di tepi pantai dan karena Mia membawa bola, mereka pun memainkan bola itu di tepi pantai.
Saat hari menjelang sore, mereka keluar dari pantai dan kembali ke penginapan mereka. Sebelum mereka kembali, Mia mengajak Grant untuk berbelanja di sebuah toko kecil yang berada di dekat pantai.
"Bolehkah aku masuk sebentar? Aku ingin mencari oleh-oleh untuk Nyonya Clark," tanya Mia.
Grant mengangguk. "Silahkan. Apa yang akan kau berikan pada Nyonya Clark?"
Mia mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tau. Apa yang disukai oleh seorang nenek tua seperti Nyonya Clark?"
Mereka pun masuk ke dalam toko dan di toko itu menjual berbagai macam pernak-pernik bertema laut. Seperti hiasan dinding yang berisi berbagai macam hewan laut, pakaian pantai yang bermotif ramai, syal, dan jaket rajut yang berwarna biru laut.
Mia mengambil topi anyaman dengan hiasan kerang dan bintang laut di pinggir topinya serta dua helai jaket rajut berwarna biru dan merah muda. "Ini akan cantik sekali dipakai oleh Nyonya Clark, bukan begitu, Grant?"
Mia menoleh mencari Grant, tetapi Grant tidak ada di sebelahnya. "Grant? Grant? Kau di mana?" Gadis itu berjalan mencari kekasihnya dan tak jauh dari situ, dia melihat Grant sedang menatap pada seorang wanita. "Grant? Kau sedang apa?"
Grant tak menjawab Mia dan tiba-tiba saja wanita itu tersenyum dan menghampiri mereka. "Hai, Grant. Lama tak jumpa denganmu,"
Wajah Grant tampak ketakutan, dia menelan salivanya kasar. "Je-, Jenna?"
Wanita bernama Jenna itu tersenyum, wajahnya sangat cantik saat dia tersenyum. "Hai, tak kusangka, kita bisa bertemu lagi,"
Grant berdiri mematung. Matanya terus menatap wanita itu tanpa ekspresi. Mia pun tidak tau harus bagaimana di situasi yang canggung itu?
__ADS_1
...----------------...